Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 222 Kemarahan


Cerita hanyalah untuk hiburan semata.


Happy reading guys ❤️.


***


Vely mundur dari depan jendela, tangannya masih memegang bibirnya. Vely berjalan menuju tempat tidur, kemudian merebahkan tubuhnya. Jendela kamarnya masih terbuka lebar, angin malam meniup tirai. Tapi Vely belum sadar juga, matanya nyalang menatap langit-langit kamarnya.


Udara dingin dari pendingin ruangan dan juga dari udara yang masuk dari jendela kamarnya, belum juga bisa melepaskan rasa dari bekas bibir Dama dibibirnya tadi.


Rasa sakit dan gatal gigitan nyamuk, membuat Vely tersadar.


Plok..


Vely menampar pipinya yang terasa ada yang nemplok.


"Aduh..!" Vely melihat telapak tangannya, dan ada nyamuk yang sudah kenyang menghisap darahnya.


"Ah...!" teriak Vely kencang.


Tok...tok...


"Vely... Vely...!" suara Rodrick dan ketukan dipintu kamarnya, membuat Vely menghentikan teriakkan nya.


Vely bergegas bangkit dari ranjang, sebelum Rodrick membuat keributan. Dan membangunkan seisi rumah.


Cklek...


Vely membuka pintu kamarnya, dan berpura-pura baru bangun tidur.


"Apa kak ?" tanya Vely sembari menguap.


"Hoamm..!" Vely menutup mulutnya saat menguap.


"Kenapa teriak? ada apa?" Rodrick sedikit Memasukkan kepalanya kedalam kamar adiknya tersebut.


"Tidak apa-apa kak, tadi Vely lagi nonton film. Vely ketiduran, lupa untuk mematikan televisi. Suara teriakan itu dari film yang Vely tonton," ujar Vely memberikan alasan.


"Betul?"


"Betul" sahut Vely.


"Itu jendela kenapa tidak ditutup?"


Rodrick melihat jendela kamar Vely terbuka.


"Hehe.. lupa, ketiduran" ujar Vely.


Rodrick berlalu dari hadapan Vely, dan masuk kedalam kamar. Yang letaknya depan kamar Vely.


"Selamat!" Vely menghela napas, kemudian menutup pintu kamarnya.


"Kak Keane dan kak Dama ini, mau kemana mereka lagi mereka membawa tangga." gumam Vely.


Vely melihat keluar dari jendela kamarnya, dia tidak melihat keduanya. Dan tangga juga tidak ada lagi.


*


Keane masuk kedalam kamar Mada, sedangkan Dama masuk kedalam kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Mada.


Sebelum masuk kedalam kamarnya, Dama mendengar apa yang dilakukan Keane dalam kamar Mada. Tetapi Dama tidak mendengar atau suara dari dalam kamar adiknya tersebut, sepertinya Keane tidak membangunkan Mada.


Keane berjalan perlahan menuju ketempat tidur Mada, Keane melihat Mada terlihat sudah tidur dengan pulas.


Mada berjalan menuju meja disamping tempat tidur, Keane mengambil bungkusan. Dan melihat apa isi bungkusan tersebut.


"Vitamin, obat tidur!" Keane melihat isi bungkusan plastik itu, vitamin dan ada obat tidur.


Keane meletakkan bungkusan tersebut, kemudian dia duduk dipinggir ranjang.


"Apa saat ini, kau mengkonsumsi obat itu?" Keane menggeserkan helaian rambut yang menutupi wajah Mada.


"Aku harus menceritakan ini kepada Dama"


Keane memberikan kecupan disisi rambut Mada, karena Mada tidur dengan menyamping. Tangannya memeluk guling kecil yang sudah lusuh, Keane tahu. Guling itu adalah guling kesayangan Mada, seperti Vely yang tidak bisa tidur jika tidak memeluk boneka panda. Sedangkan Mada, tidak bisa tidur jika tidak memeluk guling masa kecilnya.


Keane keluar dari kamar Mada, dan masuk kedalam kamar Dama.


"Cepat sekali? apa Mada tidak terbangun saat kau masuk ?" tanya Dama, yang sibuk dengan laptopnya.


"Tidak, Mada tidur nyenyak. Sepertinya dia minum obat tidur, untuk tidur." beritahu Keane.


"Apa? obat tidur! kenapa Mada membutuhkan obat tidur?" tanya Dama, dia menutup laptopnya.


"Ada yang tidak aku ceritakan kepada Papa David" kata Keane.


"Apa?" Dama menatap wajah Keane dengan insten.


"Keane, ada apa. Ini mengenai peristiwa itu?"


Keane menganggukkan kepalanya.


Keane akhirnya menceritakan apa yang dialaminya Mada saat dia baru tiba, pria yang tidak lagi memakai baju. Dan pakaian Mada yang sudah terbuka.


"Mada sepertinya menemui psikiater" Keane menceritakan saat dia mengikuti Mada kerumah sakit.


"Kenapa dia tidak mengatakan bahwa dia trauma." Dama merasa kesal, karena lalai menjaga adiknya.


"Besok kau tanyakan Dam, jangan dia mengkonsumsi obat tidur terus menerus. Tidak akan bagus dengan kesehatannya," kata Keane.


"Jangan bilang, kau tahu mengenai obat yang dikonsumsinya dari aku. Pura-pura saja kau masuk kedalam kamarnya, dan tanpa sengaja melihat obat yang dikonsumsinya" sambung Keane lagi.


"Baiklah, apa perlu kita beritahu kepada Papa dan Mama?" tanya Dama .


"Jangan! apa kau mau melihat Papa masuk rumah sakit lagi? cukup kita saja yang tahu," kata Keane.


Keane bangkit dan berjalan menuju pintu.


"Mau kemana?" tanya Dama.


"Pulang, apa kau butuh teman curhat?"


"Kau kira aku wanita, suka curhat!" ujar Dama.


**


Pagi tiba, seperti yang diajarkan oleh Keane. Dama pura-pura membutuhkan bantuan Mada.


Tok...tok...


Dama mengetuk pintu kamar Mada, tidak terdengar suara Mada.


Dama memegang handel pintu kamar Mada, kemudian membukanya sedikit.


"Mada..!" panggil Dama.


"Kamar mandi." Dama mendengar suara gemericik air dikamar mandi.


Dama masuk kedalam kamar, dan menunggu Mada keluar dari dalam kamar mandi.


Mata Dama awas menatap kearah meja, dia melihat bungkusan obat. Dama mengambil obat tersebut, seperti yang dikatakan oleh Keane. Obat itu adalah obat tidur.


Cklek..


Pintu kamar mandi terbuka, Mada keluar. Dan terkejut melihat Dama berada dalam kamarnya, ditangannya ada obat tidur.


"Apa ini ?" tanya Dama seraya menunjukkan obat tidur yang diambilnya dari atas meja.


"Vitamin" sahut Mada.


"Kakak bisa baca Mada! disini tertera obat tidur, untuk apa obat ini?" tanya Dama .


Mada tidak menjawab pertanyaan Dama, dia mengalihkan pandangannya dari tatapan mata Keane.


"Mada?" panggil Dama.


"Untuk apa obat ini?" tanya ulang Dama.


Mada duduk dikursi yang ada didalam kamarnya, sedangkan Dama berdiri didepannya. Tangannya masih memegang obat tidur yang diketemukannya.


"Jawab!" keras suara Dama.


Mada kaget mendengar suara Dama, karena selama ini. Dama tidak pernah berkata keras terhadapnya, sehingga Mada menjadi takut. Kedua tangannya berada diatas pangkuannya.


"Mada ."


"Mada tidak bisa memejamkan mata kak, wajah pria itu selalu melintas. Setiap Mada memejamkan mata" ucap Mada.


"Dengan mengkonsumsi obat tidur apa bayangan pria itu tidak muncul?" tanya Dama.


"Tidak, obat tidur membuat Mada bisa langsung tertidur," jawab Mada.


"Sampai kapan? sampai kapan Mada mengunakan obat untuk tidur. Mengkonsumsi obat tidur dengan jangka panjang akan menyebabkan ketergantungan, dan jika tidak mengkonsumsi obat itu tidak akan bisa tidur. itu tidak bagus untuk kesehatan," kata Dama.


"Apa Mada tidak sayang dengan tubuh sendiri? bagaimana jika ini semua diketahui oleh Papa, apa Mada mau melihat Papa kena serangan jantung lagi. Ingat Mada, sekarang jantung Papa itu lemah. Jangan dia mendengar hal yang bisa menggoncang pikirannya, Papa tidak pasti tidak akan kuat. Papa itu ceria. Dan suka bercanda, tapi menyangkut orang-orang terdekatnya. Papa tidak akan sanggup."


Mada hanya bisa menunduk, dia memikirkan apa yang dikatakan oleh Dama.


"Ingat, jangan konsumsi obat ini lagi" Dama memasukkan obat itu kedalam saku celananya.


"Mulai besok, kakak akan menemani ke psikiater"


Ucap Mada sebelum keluar dari dalam kamar adiknya tersebut.


*


*


*


Bersambung 😘


Maaf jika ada typo ya 🙏🙏