Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 224 Tanggung jawab


Happy reading guys..


****


Mada sangat kaget, saat tubuhnya melayang dari atas sofa. Dan berakhir diatas pangkuan Keane. Tangan Keane melingkar di pinggang Mada.


"Kak Keane!" sontak Mada ingin berontak, untuk turun dari pangkuan Keane.


"Jangan bergerak, kalau tidak ingin menanggung akibatnya" ancam Keane.


"Akibat? akibat apa?" Mada melirik wajah Keane.


Keane membisikkan sesuatu ketelinga Mada.


Wajah Mada langsung memerah, Mada gugup. Badannya mematung. Dia takut untuk menggerakkan tubuhnya sedikit pun juga, untuk bernapas pun Mada takut akan membangunkan macan muda bangun.


Keane tersenyum dalam hati, karena ancamannya berhasil membuat Mada untuk tidak melarikan diri dari atas pangkuannya.


"Kenapa diam, hemh..?" embusan napas Keane menerpa samping wajahnya.


Senyum jahil terlihat disudut bibir Keane.


"Bergeraklah" bisik Keane.


"Kak.." suara Mada sangat pelan, sepertinya Mada benar-benar takut untuk melakukan apapun juga.


"Apa?" sahut Keane lembut, seraya mengelus-elus lengan Mada.


"Lepaskan" ucap Mada dengan suara sangat pelan, sampai Keane tidak bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Mada.


"Apa?" Keane memegang dagu Mada, untuk menatap kearahnya.


Deg....


Wajah keduanya saling berhadapan, hanya sejengkal jarak kedua wajah Keane dan Mada.


Mata Mada bersirobok dengan pandangan mata Keane, Mada merasa malu. Dia menundukkan kepalanya.


Keane mengangkat wajahnya Mada yang menunduk, sedikit demi sedikit wajah Keane mendekati wajah gadis yang sudah hampir dua Minggu halal untuk disentuhnya.


Keane memangut bibir merah muda Mada, tangan Keane memegang tengkuk Mada. Mata Mada terbelalak, begitu merasakan bibir hangat Keane melekat di bibirnya. Tetapi Mada tidak bisa menghindar, Karena tangan Keane memegang tengkuknya. Sehingga wajah keduanya melekat.


Keane melerai bibirnya dari bibir Mada, melihat wajah Mada bengong dengan mata terbuka lebar. Membuat Keane ingin tertawa, tapi dia sekuat mungkin menahan untuk tidak tertawa. Dia takut Mada sadar.


Saat Mada belum sadar, Keane menarik tengkuk Mada kembali. Bibirnya kembali beraksi, kecupan Keane kali ini semakin semangat.


Bibir Keane yang hangat, mengecap dan menghisap bibir bawah Mada dengan lembut. Sehingga Mada yang matanya tadinya terbuka lebar, kini menutup. Dia mulai meresapi apa yang baru saja dialaminya dengan seorang pria, dan pria itu sudah bergelar sebagai suaminya.


Tiba-tiba, bayangan saat dia hampir dilecehkan Nando melintas didalam benaknya. Mada sontak kaget, dan sekuat tenaga mendorong Keane. Mada langsung loncat dari atas pangkuan Keane, dan berlari merapat ke dekat lemari dibelakangnya.


"Jangan!" teriak Mada.


"Jangan menyentuhku!" Mada menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tubuhnya bergetar.


"Mada?" Keane kaget melihat reaksi Mada, Keane mengira. Bahwa Mada hanya tidak bisa tidur malam saja, dia tidak mengira. Sentuhannya bisa membuat Mada mengingat kembali apa yang dialaminya.


"Jangan! tolonglah lepaskan aku."


"Mada!" Keane menatap Mada, yang berdiri dengan tubuh yang bergetar.


Keane melihat, air mata sudah membasahi pipinya. Terlihat dari raut wajah Mada yang ketakutan.


Keane secara perlahan-lahan, mendekati Mada yang berdiri disamping lemari.


Mada melirik sekilas kearah orang yang mendekatinya.


"Jangan dekat." lirih terdengar suara Mada.


"Mada, jangan takut. Lihatlah, ini kak Keane.." Keane mendekati Mada sembari mengajaknya berbincang.


"Ini kak Keane, lihatlah" ujar Keane, agar Mada mau untuk melihat kearahnya.


Mada melihat kearah sumber suara yang mengajaknya berbicara, dari balik rambutnya yang menutupi sebagian pandangan matanya. Dia melihat Keane yang berjalan mendekatinya dengan perlahan-lahan.


"Kak Keane!" Mada menyadari siapa orang yang berada didepannya.


"Iya, ini kak Keane. Suami Mada," ucap Keane dengan hati-hati, dia takut Mada akan takut didekatnya.


Mada langsung berhambur memeluk Keane, Mada menangis didalam pelukannya.


"Maafkan kak Keane ya, kakak sudah membuat Mada takut" kata Keane seraya memeluk Mada erat.


Keane membawa Mada untuk duduk, setelah Mada duduk. Keane mengambil minum dan memberikannya kepada Mada.


Mada meneguk semua isi gelas yang diberikan oleh Keane tadi.


Keane kembali duduk, Keane meraih jemari Mada.


"Sejak kapan Mada mengalami ini semua?" tanya Keane.


"Sejak kejadian itu, setiap memejamkan mata. Bayangan itu terus muncul, Mada terpaksa meminum obat tidur" ucap Mada dengan perasaan yang takut menerima kemarahan Keane, seperti yang dilakukan Dama. Begitu melihat obat tidur yang dikonsumsi Mada.


Keane tidak mengatakan bahwa dia sudah tahu, bahwa Mada mengkonsumsi obat tidur.


"Kita temui psikiater ya, atau kita konsultasi dengan Om Wisnu" kata Keane


"Tidak kak! Mada malu, jika konsultasi ke Om Wisnu" Mada menolak untuk bertemu dengan Wisnu.


"Kita bukan konsultasi dengan Om Wisnu, tapi ke yayasannya. Ada dokter yang menangani kasus seperti Mada."


"Sebenarnya, Mada sudah bertemu dengan psikiater" ucap Mada.


"Kapan?" Keane pura-pura tidak tahu.


"Dua hari yang lalu kak, Minggu depan. Jadwal Mada untuk bertemu psikiater lagi," kata Mada.


"Nanti kita pergi bersama, masalah seperti ini. Jangan dipendam sendiri, ingat. Sekarang Mada itu sudah menjadi tanggung jawab kak Keane" kata Keane.


Mada menganggukkan kepalanya.


"Jangan ada rahasia diantara kita ya, kita kenal bukan baru sekarang ini. Jangan malu untuk bercerita kepada kakak, atau kepada Dama. Tapi kepada Papa David, kakak harapkan jangan. Jantung Papa David tidak kuat lagi menerima berita tidak bagus"


"Maaf," kata Mada, kepalanya terus menunduk.


"Sudah, cuci wajahnya. Nanti dikira orang kakak menganiaya gadis didalam ruang kerja ini, kita pulang saja. Kakak sudah suruh Rodrick menjemput grandpa " kata Keane.


****


Kenway dan Vania berkesempatan untuk pergi bersama, setelah Kenway mendapatkan cuti untuk menikah.


Keduanya pergi ke Mall berjalan-jalan dengan membawa baby Julio, setelah letih keliling mencari baju untuk baby Julio. Kenway membawa Vania kesatu restoran yang ada di Mall tersebut.


"Sini" Kenway mengambil baby Julio, ketika Vania mempersiapkan makanan untuk baby Julio.


"Vania" suara orang menyebut nama Vania.


Vania menoleh ke sumber suara, dan melihat pria berdiri didepannya. Pandangan mata pria tersebut menatap wajah baby Julio.


"Pergi!" ketus Vania mengusir pria tersebut.


"Izinkan aku untuk menggendongnya." pinta laki-laki itu.


Kenway menatap wajah Vania, dan kemudian wajah orang yang berdiri didepan tempat mereka duduk.


"Siapa?" tanya Kenway.


"Orang tidak penting" ujar Vania.


"Aku ayah bayi yang kau gendong " kata laki-laki itu.


"Wow...! setelah begitu lama, dan Corrie juga sudah meninggal. Baru kau datang untuk melihat Julio?" geram Vania.


"Selama ini kemana saja kau? apa kau sibuk menghamili gadis lain lagi?" sindir Vania.


"Namanya Julio?" tanya pria, kekasih Corrie. Yang bernama Andi.


"Namanya saja kau tidak tahu." tertawa mengejek Vania.


"Aku mengaku salah," kata Andi.


"Bro, jangan disini. Kalau kau gentleman, minta maaf. Datang kerumah, jangan disini. Lihatlah, banyak orang yang melihat" kata Kenway.


Setelah melihat, banyak mata yang memandang kearah mereka. Andi pergi, sebelum pergi dia mengatakan sesuatu kepada Vania.


"Aku akan datang kerumah" Andi pergi, keluar dari restoran.


"Orang itu ayah Julio?" tanya Kenway.


"Hanya ayah biologis, Julio tidak punya ayah" kata Vania.


"Dia punya Papa, ingat. Akulah Papanya" tegaskan Kenway.


Apa yang dilakukan pasangan muda, dengan masalah yang akan mereka hadapi. Apakah mereka bisa menyelesaikan sendiri tanpa campur tangan orang tua mereka???


*


*


*


Bersambung...