
Selalu dalam keadaan sehat semua kakak reader, tetap jaga kesehatan keluarga kita.
Happy reading ❤️
*
*
Keane fokus membaca berkas kerja sama dengan PT Nusantara, dia tidak menyadari Presdir PT Nusantara menatap kearahnya terus sedari tadi.
"Kenapa Pak Richard mengirimkan anak kecil untuk mewakilinya?" tanya Livi, menganggap Keane anak yang tidak mengerti apa-apa tentang dunia properti.
Tony mengalihkan pandangannya, dari laptop yang terbuka dihadapannya. Menatap kearah wanita yang ada diseberang tempatnya duduk.
Keane juga mengangkat wajahnya, dan menatap wajah Livi dengan tajam dan terlihat wajah Keane yang dingin.
"Apa maksud anda Nyonya ?" tanya Keane, dengan tangan terangkat. Memberi tanda kepada Tony ingin bicara, tapi di cegah oleh Keane.
Melihat tangan Keane, agar dia tidak berbicara. Tony menutup mulutnya.
"Apa Pak Richard tidak menganggap penting kerja sama ini, sehingga mengirim pegawai yang masih magang untuk membahas kerja sama ini ," ujar Livi dengan suara yang arogan.
"Kenapa? apa anda menganggap saya tidak pantas mewakili Pak Richard ?" tanya Keane dengan dingin.
"Ya, saya Presdir PT Nusantara sendiri yang turun. Sedangkan Presdir PT Hutama karya, tidak turun!" Livi mengeluarkan keberatannya, atas absennya Richard membahas kerja sama dengan perusahaan nya.
"Sebenarnya, Nyonya ingin menjalin kerjasama atau ingin menjalin hubungan dengan Presdir PT Hutama karya ?" tanya Keane dan mendorong berkas yang dibacanya menjauh dari hadapannya.
"Kenapa kau perlu tahu? seorang bawahan, tidak perlu tahu perihal pribadi majikannya. Kau kerja saja, biar kau tidak dipecat oleh majikan mu !" ucap Livi dengan arogan.
Keane tertawa sinis menatap wajah Livi, dan kemudian menatap kedua anak buah Livi yang menunduk.
"Seperti ini orang yang ingin bekerja sama dengan PT Hutama karya!" ketus Keane.
Keane mendorong kursinya, siap-siap untuk berdiri.
Tony melihat apa yang dilakukan Keane, dan mengerti bahwa Keane tidak akan berminat untuk menjalin hubungan kerjasama antara dua perusahaan lagi.
Sifat Richard menurun pada Keane, Tony yang sudah mengikuti Richard sejak perusahaan Richard masih berada diluar negeri sampai kembali ke Indonesia. Tony selalu berada disisi Richard, dan saat ini. Tony lebih sering bersama dengan Keane.
Melihat dari gelagat Keane, sudah bisa diketahui. Keane akan menyingkirkan PT Nusantara, sebagai rekan bisnis.
Keane bangkit dari duduknya, dan mengambil tasnya. Kemudian beranjak menuju pintu keluar.
Didepan pintu keluar, Keane berhenti. Tanpa memutar badannya, Keane berkata kepada Livi.
"Nyonya, Daddy saya pria yang setia. Jangan berani menggodanya !" ketus Keane, tanpa menoleh kelawan bicara.
Kemudian Keane keluar dari dalam ruang pertemuan.
"Daddy ?" heran Livi mendengar perkataan Keane, yang menyebut Richard sebagai Daddy-nya.
Tony juga berdiri, dan memasukkan laptopnya kedalam tas.
"Keane putra Hutama, salah satu dari putra kembar Richard Hutama !" seru Tony, dan kemudian keluar. Meninggalkan Livi dan kedua anak buahnya yang bengong.
"Anak tadi anak Richard ?" tanya Livi kepada asistennya dan sekretarisnya.
"Saya tidak tahu Bu, Tuan Richard. Tidak pernah mempublikasikan keluarganya di publik," kata Asistennya.
"Sial!" umpat Livi.
"Kenapa tidak kalian selidiki, sebelum mengajukan kerja sama !" sergang Livi kepada anak buahnya.
"Untuk apa selidiki keluarga Pak Richard, apa ada hubungannya dengan kerja sama perusahaan." batin asistennya.
"Aku kira anaknya hanya gadis nakal itu !" gerutu Livi.
"Coba cari, istri Richard. Apa secantik aku ." titahnya kepada asistennya.
Asisten dan sekretarisnya, langsung mencari di media sosial. Akhirnya mereka menemukan gambar keluarga Richard Hutama di media sosial Keane putra Hutama, yang sebenarnya media sosial itu juga bukan Keane yang membuatnya. Melainkan Vely. Karena Vely tidak diizinkan mempunyai akun di media sosial, sebelum berusia tujuh belas tahun.
"Ini Bu ." Asistennya memberikan ponselnya kepada Livi.
"Istrinya sangat cantik, dan terlihat masih muda. Dan mirip orang asing ." batin Livi, saat melihat gambar Aisha. Bersama dengan Richard dan keempat anak-anak nya.
"Cantik sekali istri Pak Richard," ucap spontan sekretarisnya.
Livi melotot melihat sekretarisnya memuji istri Richard.
"Hubungi lagi pihak PT Hutama karya, jangan sampai kerja sama ini gagal ." titah Livi.
*
*
Keane duduk bersama dengan Dama didalam kantor Dama yang ada di hotel tersebut.
"Kenapa wajahmu kusut begitu?" tanya Dama.
"Aku tidak suka, jika ada klien yang berniat lain. Selain menjalin hubungan bisnis," kata Keane kepada Dama.
"Begitulah dunia bisnis, ada yang ingin cepat naik keatas ," kata Dama.
"Apa yang kualami, kau juga mengalaminya?" tanya Keane.
Dama menganggukkan kepalanya.
"Papaku tidak pernah tergoda, dengan pemburu cinta sesaat ," kata Dama.
"Oh ya, keduanya dimana ?" tanya Keane.
"Siapa ?" tanya Dama.
"Adikmu dan adikku ," kata Keane.
"Keduanya lagi kuberi tugas ." tertawa Dama, membayangkan keduanya pasti sedang ngedumel sembari cuci piring.
"Tugas apa ?" tanya Keane.
Dama menceritakan, tugas apa yang harus dilakukan oleh Mada dan Vely.
"Apa yang dilakukannya di hotel ini ?" tanya Keane.
"Kata mereka menjalankan misi, sepertinya mereka ingin mengikuti mu ," kata Dama.
"Pasti, Vely mengira. Daddy yang menghadiri pertemuan dengan PT Nusantara," kata Keane.
"Apa Vely tahu, niat terselubung dari pertemuan ini ?" tanya Dama.
Keane menceritakan kepada Dama, apa yang dilakukan Vely kepada Livi.
"Dasar anak nakal ," ujar Dama.
"Ayo kita lihat, apa yang mereka lakukan. Jangan-jangan, piring yang dicuci mereka sudah tidak berbentuk lagi," kata Keane.
Dama membawa Keane menuju bagian belakang, Keane dan Dama melihat Vely dan Mada tidak mencuci piring lagi. Keduanya sudah duduk selonjoran dilantai, dalam keadaan letih. Keduanya memejamkan matanya.
"Lihatlah ." bisik Dama.
Keane mengintai dari balik pintu, dan tersenyum melihat keduanya sudah dalam keadaan kusut.
Rambut keduanya sudah diikat dengan seadanya, dan keringat sudah membasahi wajah Vely dan Mada.
"Hemhm..!"
Vely dan Mada sontak membuka matanya, dan melihat Keane dan Dama berdiri dipintu. Kedua tangan Keane dan Dama berkacak pinggang.
"Kak Keane !" Vely langsung berdiri dan berlari memeluk Keane.
"Kakak! kak Dama jahat, kami disuruhnya cuci piring sebanyak itu ." tunjuk Vely, kearah piring-piring yang sudah mereka cuci sebagian.
"Baguslah, belajar menjadi ibu rumah tangga yang baik ," kata Keane.
"Kak Keane, ayo bawa kami pulang ," kata Mada.
"Kalian bersama siapa kesini ?" tanya Keane.
"Kang Mamat ," jawab Vely.
"Sana pulang dengan kang Mamat, kakak harus balik kekantor ," kata Keane.
"Kak, Daddy tidak ikut pertemuan dengan Tante genit itu ?" tanya Vely.
"Tidak, kakak yang disuruh Daddy. Dan jangan khawatir, perusahaan kita tidak akan bekerja sama dengan PT Nusantara," kata Keane.
"Sudah sana pulang, ingat ! jangan lakukan lagi hal seperti ini ," kata Keane.
"Iya." sahut Vely.
"Weekk..!" ledek Vely kepada Dama, sebelum keluar dari bagian belakang restoran.
Dama hanya tertawa, dia tahu. Pasti Vely jengkel kepadanya.
*
*
*
🌟**Bersambung 🌟**