Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 181 Masih sakit


Karena virus semakin merajalela, mari kita ingatkan diri kita sendiri. Virus tidak memandang siapa kau, banyak duit atau tidak. Tetap jaga jarak, kesehatan keluarga yang utama.


Happy reading guys ❤️


*


David terbaring di UGD, karena asam lambungnya naik. Karena permintaan tidak ingin pulang, David dipindahkan kekamar rawat inap.


"Mas, apa yang sakit ?" tanya Mayang.


"Ini ." David menunjukkan hulu hatinya.


"Mas, benar-benar sakit ?" tanya Mayang dengan suara yang pelan, takut tiba-tiba Dama masuk kedalam kamar. Karena Mayang menyuruh Dama untuk membeli air mineral.


"Serius May, benar-benar sakit. Mungkin mas ini sakit jantung ," kata David dan mengelus perutnya.


"Mas! jantung itu disini. bukan disini ," kata Mayang.


"Mas tahu, tapi perut ini juga sakit. Lapar !" David menunjukkan wajah memelas.


Dama masuk kedalam kamar, dengan membawa minuman dan makanan.


"Dam, ada makanan ?" tanya David.


"Ini Paa." David memberikan bungkusan kepada Mamanya.


"Mada sudah tahu kita dirumah sakit ?" tanya Mayang.


"Sudah Maa, tadi Dama hubungi Mada. Dia masih berada dirumah temannya ," kata Dama.


"Pergi jemput adikmu." titah David.


"Mada bisa pulang sendiri Pa." tolak Dama untuk menjemput Mada.


"Ini sudah malam ," kata David.


"Mas, sudahlah. Jangan mikir kan Mada, anak itu sudah besar. Dia bisa jaga diri." ingatkan Mayang.


"Walaupun umurnya 50 tahun, dan Papa masih bernapas. Papa akan tetap mengkhawatirkan anak-anak ku," kata David.


"Baiklah Boss, Dama akan menjemputnya." Dama berjalan menuju kearah pintu, ketika tangannya ingin membuka pintu. Pintu terbuka dari luar, terlihat wajah Richard dan Aisha. Dan belakangan muncul, wajah Vely.


"Mau kemana Dam ?" tanya Richard.


"Jemput Mada Om, perintah Boss besar ," kata Dama.


"Kak Dam, ikut ya ." tangan Vely bergelayut dilengan Dama.


"Malas! kakak mau cepat, nanti kalian berdua ngumpul. Pasti akan ada permintaan kalian yang aneh-aneh," kata Dama.


"Dam, bawa saja. Kasihan Vely, tidak ada kawan disini ," kata David.


"Baiklah, ayo. Jangan nakal ." ingatkan Dama.


Sepeninggal keduanya, Richard mendekati ranjang David. Sedangkan Aisha duduk di sofa bersama dengan Mayang.


"Ini serius sakitnya ?" tanya Richard.


"Mas besan! ini serius sakit mas, tidak bohong ." balas David dengan setengah berbisik.


"Benar? aku curiga dengan mu," ujar Richard.


"Serius! kali ini benar-benar sakit, ini sakit ." David menunjuk hulu hatinya.


"Akhirnya, kau kena karma." celetuk Richard.


Richard berbincang dengan David, Mayang dan Aisha duduk di sofa. Membahas perihal sakitnya David.


"Sakit apa David?" tanya Aisha.


"Aku belum bertemu dengan dokter, mas David bilang. Dokter mengatakan dia tidak boleh stress." cerita Mayang.


"Apa yang di stress kan David ?" tanya Aisha.


"Aku tidak tahu, selama ini dia baik-baik saja ," jawab Mayang.


"Apa dia masih khawatir, Mada ingin kuliah diluar negeri?" tanya Aisha.


'Mungkin saja, David terlalu menyayangi putrinya," kata Mayang.


"Siapa yang tidak sayang anak May, apalagi ini anak perempuan. Kita harus ekstra hati-hati menjaganya, apa kau lupa. Apa yang ku alami ," kata Aisha.


"Maaf Aish, aku mengungkit kenangan burukmu dahulu," ujar Mayang.


"Tidak apa-apa, aku sekarang ini sangat takut. Vely mengalami kejadian seperti aku dulu, ada orang yang selalu membullynya di sekolah," kata Aisha.


"Vely tidak pernah ada yang ganggu, kalau ada yang menganggunya. Pasti Mada tidak akan berdiam diri ," kata Mayang.


"Aku juga tidak khawatir Vely ada yang ganggu, Vely anak yang pemberani. Mungkin karena Vely anak gadis sendiri, dan punya kakak laki-laki tiga," kata Aisha lagi.


"betul, sama seperti Mada. Mada lebih mirip anak laki-laki, dari pada anak gadis." sambung Mayang.


***


Dalam perjalanan menjemput Mada, seperti biasa. Vely selalu mendominasi suasana, mulut Vely seperti burung murai. Tidak berhenti berkicau.


"Baru kelas 12 saja sudah gembira, kakak ini sudah kerja, biasa saja," sahut Dama.


"Hih..kak Dama nggak asik ." gerutu Vely, terlihat wajahnya cemberut.


"Baru kelas 12, kenapa harus bangga. Sudah tamat universitas dan sudah terjun kedalam masyarakat, itu yang harus dibanggakan," kata Dama.


"Kak Dama seperti orang tua bicaranya ," ujar Vely.


"Kak Dama lebih tua dari Vely ya ." Dama melirik Vely, sedangkan yang dilirik. Menatap suasana yang sudah memasuki waktu malam.


"Vely !" panggil Dama.


"Iya" sahut Vely.


"Apa Vely tahu, kita di jodohkan sebelum ada didunia ini?" tanya Dama seraya menatap wajah Vely.


"Kak Dam, tidak mungkin Vely nggak tahu. Om David manggil Vely terkadang menantu," ujar Vely dan terus tertawa.


"Vely nggak marah atau nolak ?" tanya Dama.


"Nggak, kenapa harus marah? Vely sudah kenal dengan kak Dama lama. Vely nggak khawatir, kak Dama akan menyakiti hati Vely. Seperti cerita drama di televisi," kata Vely.


"Anak kecil !" Dama mengacak-acak rambut Vely.


"Hih.. berantakan ini kak !" Vely menjauhkan duduknya dari Dama.


"Kak Dama, apa kak Dama mau bawa Vely ke KUA sekarang?" tanya Vely, senyum jahil terlukis dibibirnya.


"Apa!?" kaget Dama.


"KUA kak." ulang Vely.


"Anak kecil, sudah tahu KUA ." jidat Vely disentil Dama.


"Aduhh..!" Vely mengelus jidatnya, yang terkena jemari Dama.


"Vely sudah 16 tahun, sebentar lagi 17 tahun. Kakak perasaan sudah tua, kakak saja baru mau 20 tahun !" ledek Vely.


"Dewasa itu tidak ditentukan oleh umur, pengalaman membuat kita menjadi dewasa ," kata Dama.


"Vely juga begitu, umur baru 16 tahun. Tapi pengalaman hidup Vely sudah banyak," kata Vely.


"Pengalaman yang mana, pengalaman menjadi detektif itu?" tanya Dama.


"Jangan ingatkan lagi itu kak Dam, pengalaman yang tidak mengenakkan. Mau menjadi detektif, jadi tukang cuci piring." gerutu Vely.


"Makanya, jangan lakukan hal-hal yang tidak-tidak. Kalian waktu itu mau mengintai Om Richard kan ?" tanya Dama.


"Kak Dama tahu? pasti kak Keane yang bilang?"


"Om Richard tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan keluarganya," kata Dama.


"Daddy tidak, wanita itu. Vely tidak percaya !" ketus Vely.


"Apa Vely kenal wanita itu?" tanya Dama.


"Vely tidak kenal, tapi ciri-cirinya sudah kelihatan suka dengan milik orang," jawab Vely.


"Ciri-cirinya bagaimana?"


"Baru kenal, sudah main cipika-cipiki. Sedangkan dengan orang yang sudah kita kenal lama saja, kita juga tidak melakukan hal itu," kata Vely.


"Apa kak Dama juga begitu, baru kenal. Langsung cipika-cipiki ?" tanya Vely.


"Nggak," jawab Dama.


"Tante itu main nyosor saja."


Perbincangan keduanya berhenti, saat tiba didepan rumah teman Mada.


***


Pintu terbuka dari luar, dengan kemunculan Mada. Diikuti oleh Dama dan Vely.


"Papa!" Mada langsung menubruk Papanya, dan memeluknya sambil menangis.


"Kenapa Papa sakit lagi? Mada sudah tidak mau pergi sekolah keluar negeri!" seru Mada, dan air matanya berderai dipipi Mada.


*


*


*


Bersambung 😘


**Maaf jika ada typo..


Badan author kurang fit, maklum baru vaksin.


Ayo kita vaksin, jangan takut**.