
**Jumpa lagi dengan author recehan, maaf jika ceritanya nggak asik. karena tidak ada pelakor n pebinor 🙏😀✌️.
***
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Aisha diam. Setelah Richard tidak mengatakan siapa yang sakit.
Richard hanya mengatakan lihat saja, membuat Aisha mengurungkan niatnya untuk menanyakan kembali siapa yang sakit.
Begitu tiba di rumah sakit yang lumayan besar, Aisha segera turun walaupun mobilnya belum berhenti dengan sempurna.
"Asay, hati-hati ." ingatkan Richard, karena Aisha langsung membuka mobil dan meloncat turun. Alana juga mengikuti Aisha dengan cepat.
"Nggak keponakan, nggak istri sama saja. nggak ada sabar-sabar nya ." Richard memaju mundurkan mobilnya, untuk mencari parkir yang pas.
Aisha berlari diikuti oleh Alana, lari mereka berhenti saat dilihatnya nenek dan ibunya duduk diruang tunggu.
"Nek ." Aisha setengah berlari, menghampiri nenek dan ibunya.
"Aish sini ." Nenek memerintahkan Aisha untuk duduk.
"Siapa yang sakit, Mas Wisnu ?" tanya Aisha yang tidak melihat keberadaan Wisnu didekat mereka.
"Bukan, Wisnu ke kota," kata nenek.
"Ayahmu yang sakit" ucap Larasati.
"Ais, maafkanlah Dia. Ibu juga sudah memaafkannya, walaupun sebenarnya berat untuk memaafkannya. Tapi hidup ini singkat, ibu tidak Ingin membawa beban. Jika tiba-tiba Allah memanggil ibu tiba-tiba," ucap ibunya kepada Aisha.
"Bu ." Aisha bersimpuh di depan ibunya, dan kepalanya rebah dipangkuan ibunya.
"Aisha bukan malaikat Bu, Aish manusia biasa. Berat untuk memaafkannya Bu, maafkan Aisha Bu ." Aisha menangis tersedu-sedu.
Adam hanya bisa duduk termenung, pikirannya bercabang kemana, Dia membayangkan Josh yang berada didalam ruangan. Satu lagi memikirkan keluarga Josh yang di jemput Wisnu kekota.
"Ais." Alana jongkok di samping Aisha, dia bingung apa yang harus dikatakannya. Karena dirinya juga tidak pernah berada dalam posisi seperti Aisha.
"Asay ." Richard datang, dan membawa Aisha masuk kedalam rengkuhan tangan kokohnya.
"Jangan nangis." Richard mengeluarkan saputangan, dan mengelap air mata yang mengalir dikedua pipinya.
Pintu ruangan terbuka, dan keluar dokter.
Adam dan Josh bergegas mendekati dokter yang baru saja keluar dari dalam ruang perawatan.
"Keluarga pasien," ucap dokter tersebut.
"Richard !"
"Om Sony !" Richard kaget, begitu melihat siapa dokter yang menangani papa mertuanya.
"Kenapa kau kesini, apa ada yang sakit ?" tanya Sony.
(Yang baca Antara dendam dan cinta. pasti ingatkan dengan dr Sony, teman papa Radit.)
"Papa mertua Richard Om ," kata Richard.
"Papa mertua, kenapa ada kabar gembira Om tidak diberi kabar. Sepertinya Om sudah dilupakan dalam keluarga Hutama ya." seloroh Om Sony.
"Om saja yang hilang tanpa jejak, ketemu disini." balas Richard.
"Pasien yang didalam mertuamu?" tanya dr Sony.
"Iya Om."
"Kenapa semua orang Indonesia jatuh cinta dengan orang asing ," ujar dr Sony.
Mendengar ucapan dr Sony, Richard ingat. kenapa Richard tidak menikah, karena gadis pujaannya menikah dengan orang asing juga.
"Om."
"Ya sudahlah, mertuamu tidak apa-apa. Hanya beban pikiran yang berat, membuat dirinya pingsan. Jantungnya tidak apa-apa," kata dr Sony kepada Richard.
"Apakah bisa dibawa pulang dokter ?" tanya Adam.
"Untuk saat ini belum bisa, biar istirahat satu dua hari."
"Bu ." Richard menoleh kearah Larasati yang masih duduk dan hanya menundukkan kepalanya.
"Ya." mendengar suara Richard, Larasati mendongak.
"Ara !" dr Sony kaget melihat Larasati.
'Mas Sony ?" Larasati juga kaget, begitu melihat Sony.
"Apa... ?" Sony tidak meneruskan ucapannya, hanya tangannya yang menunjuk kearah dalam perawatan.
"Iya, pasien itu mantan suamiku mas," ucap Larasati.
"Mantan ?" ulang Sony, ada kilat kebahagiaan yang terpancar dari matanya.
Dan pancaran itu, tidak lepas dari pengamatan mata Richard.
"Bagaimana keadaannya mas?" tanya Larasati kepada Sony.
"Tidak apa-apa, Dia hanya keletihan saja." ujar Sony, menjawab pertanyaan Larasati.
"Biarkan Dia istirahat sejenak." sambung dr Sony kembali.
Brukk...
Pintu terbuka dari luar, dan seorang pria membawa anak berumur tiga tahun dengan tergopoh-gopoh.
"Sony..Sony, kau tolong dulu anak nakal ini !" teriak laki-laki tersebut.
"Kenapa bang ?" tanya dr Sony dan menghampiri gadis kecil yang digendong laki-laki tersebut.
"Dimasukkannya kelereng kedalam hidungnya!" seru pria tersebut.
"Cepat kau tolong dulu, jangan kau bertanya terus Sony !" seru pria tersebut.
"Iya bang ." Sony membawa pria dan anak yang dibawanya kekamar sebelah, hanya membutuhkan waktu satu menit. keduanya keluar.
"Akhirnya, panik aku Sony. kau tahu Dia duplikat Pamela, bagaimana jika Dia ikut dengan Pamela ."
Bang Togar sabar ya ." tepukan hangat menerpa pundak Togar.
"Nek, kenapa kesini ?" Togar melihat nenek Aisha yang sedang duduk, saat Dia masuk tadi. Dia tidak melihat, karena dia terlalu panik.
"Apa ada yang sakit nek ?" tanya Togar.
"Mantan menantuku," jawab nenek.
Pintu terbuka lagi dengan kemunculan laki-laki yang putih kena tepung.
"Bagaimana dengan Pamela ?" tanya Zul, yang baru mendengar kabar. Bahwa Pamela sakit.
"Sudah tidak apa-apa ," jawab Togar.
"Ayo singgah dirumah nek, minum-minum. Makan roti, Zul baru membuka toko roti disini nek. Nenek rasakan dulu, selama ini hanya sapi dan kambing yang membeli roti buatannya nek ." ledek Togar.
"Kau ini !" seru Zul.
"Tidak usah, kami tunggu disini saja," jawab nenek, sebenarnya. Dia juga ingin berkeliling melihat panti khusus untuk orang tua, tetapi saat ini nenek merasa tidak mood untuk melihat-lihat.
"Bang, jangan kasih Pamela main-main kelereng ya. Dia masih kecil, dia tidak tahu itu berbahaya," kata dr Sony.
"Aku sibuk ngurus kambing-kambing, Dia main sendiri. Aku juga tidak tahu Dia dapat dari mana kelereng," kata Togar.
"Nak, darimana dapat kelereng ?" tanya Togar kepada putranya.
Pamela hanya diam, dan menyembunyikan wajahnya kedada Togar.
"Jawab, apa bang Tigor yang memberikannya ?" tanya Togar.
Pamela tidak menjawab, hanya tangannya yang menunjuk kearah Zul.
"Zul!!"
Zul langsung kabur, nyicing...
"kau...!" Togar mengejar Zul yang kabur sembari mengendong Pamela.
"Mereka siapa Om ?" tanya Richard.
"Mereka pemilik rumah sakit ini juga," jawab Sony.
"Anak kecil itu, tidak punya ibu ?" tanya Richard.
"Meninggal, saat melahirkan putrinya tadi. Sebenarnya sudah dilarang, tapi bagaimana lagi. Dia lebih menyayangi nyawa putrinya," kata Sony.
"Kau sudah ada anak ?" tanya Sony.
"Baru dua hari Om."
"Pengantin baru ." Sony berbicara sembari menatap wajah Larasati yang terlihat pucat.
"Ara, kembali saja. Untuk saat ini biarkan Dia beristirahat dulu," kata Sony kepada Larasati.
Sony teringat dahulu, masa-masa kuliah. Dia diam-diam menyukai Larasati, anak jurusan sastra Indonesia. Tapi Dia mendengar Larasati menikah dengan orang asing, Sony patah hati. Dan memutuskan untuk kuliah keluar negeri.
"Tidak usah mas, biar kami menunggu. Sampai keluarganya tiba," jawab Larasati.
" Ibu dan nenek kembali saja, biar Ais disini dengan mas Richard," kata Aisha.
Aisha berpikir, untuk membuka pintu maaf berat baginya. Tapi Dia tidak ingin dikatakan tidak ada perikemanusiaan, meninggalkan orang yang sedang membutuhkan pertolongan.
**Bersambung....
Maaf jika ceritanya tidak asik..😀✌️🙏**