
Keadaan Keluarga Zhuo sangat kacau. Saat Tuan Tua Zhuo mendapat telepon dari Su Wen Ai, mereka segera mempersiapkan diri untuk menjemput Liam.
Namun persiapan mereka tak berjalan lancar. Terjadi sedikit pertengkaran antara tetua keluarga dan Tuan Tua Zhuo.
"Aku sudah pernah bilang. Jangan pernah izinkan Liam bergaul dengan anak dari Keluarga Chen itu. Lihat apa hasilnya? Dia masuk ke penjara!" ucap tetua pertama.
"Jika dia hanya mempermalukan diri sendiri aku tak akan peduli. Namun kali ini ia mempermalukan Keluarga Zhuo," ucap tetua kedua menambahkan.
"Cukup Tetua. Aku bukan bermaksud kurang ajar. Dia dan Chen Ling adalah teman. Wajar jika saling membantu. Apa Anda tidak tahu mengapa ramuan Keluarga Zhuo diterima di Kota Bayangan? Itu adalah ramuan buatan Chen Ling. Ramuan dia memiliki kualitas sangat bagus. Jika tidak, mana mungkin Kota Bayangan menerima kembali sampah yang telah mereka buang. Sadarilah kemampuan kalian sudah tertinggal jika dibandingkan Ling," ucap Nyonya Zhuo emosi.
Ia tahu plakat Dewa Tabib adalah milik Ling. Karena ia sendiri sudah merasakan perubahan pada anak dan ayahnya. Apalagi saat pertama kali Ling memberinya resep ramuan. Mungkin inilah saat yang tepat untuknya membalas budi.
"Cukup, putriku. Biarkan saja jika mereka menentang kita. Biarkan saja mereka menjadi orang yang tidak tahu berterimakasih seperti Keluarga Luo. Kehancuran akan segera mereka hadapi," ucap Tuan Tua Zhuo.
"Ayo pergi," Tuan Tua Zhuo keluar dari rumah. Ia pergi bersama Zhuo Fan dan Nyonya Zhuo. Sedangkan para tetua masih terbengong-bengong saat mendengar pernyataan dari Nyonya Zhuo.
*
Kediaman Yu.
Yu Bin uring-uringan saat mendengar kabar Ling masuk penjara. Ia tahu ini misinya juga. Ia tak ingin Ling terlibat lebih jauh. Apalagi sampai membuatnya masuk penjara. Jelas saja pasti akan ada yang memanfaatkan kesempatan ini.
"Nona Zhuo, Tuan Muda Chen ditangkap," lapor Yu Bin setelah panggilannya terhubung.
"Jelaskan dengan lengkap," ucap Zhuo Xia. Nada suaranya sangat dingin sekarang. Yu Bin tetap merasa ngeri walau jarak mereka jauh.
"Kabar ledakan telah sampai ke Kota Bayangan. Saat mendengar ada ahli ramuan yang meninggal di sini, mereka langsung mengamuk. Begitu juga dengan Keluarga Zhao. Padahal ahli ramuan itu sudah diselamatkan oleh Tuan Muda Chen dan sekarang ia masih bersembunyi di sini. Aku tidak tahu alasan Tuan Muda Chen tak membiarkan publik tahu Zhao Ran masih hidup. Untungnya Zhao Ran bisa mengirim pesan rahasia kepada Keluarga Zhao, sehingga Keluarga Zhao sudah lepas tangan dari masalah ini. Namun sepertinya ada yang mengambil kesempatan untuk menjatuhkan Tuan Muda Chen," Yu Bin menjelaskan semuanya.
Ekspresi Zhuo Xia setenang biasanya. Namun aura di sekitarnya sangat dingin.
"Tetap dengarkan Tuan Muda Chen dan selidiki orang di belakang itu," jawab Zhuo Xia. Ia segera mematikan telepon.
Yu Bin menenangkan diri. Ia harap masalah ini akan segera selesai.
"Ayo pergi," ucap Yu Bin pada bawahannya.
*
Di kantor polisi.
"Siapa di antara kalian Chen Ling yang asli?" teriak seorang petugas polisi.
"Aku!" jawab ketiga pemuda itu. Setelah sepuluh kali bertanya, jawaban mereka masih sama. Petugas polisi semakin kesal pada mereka.
"Jangan salahkan aku jika memakai kekerasan!" bentak petugas polisi. Ia menepuk-nepuk kayu panjang di tangannya.
"Lakukan jika kau berani. Kami akan menuntutmu melakukan kekerasan saat interogasi kepada anak di bawah umur," jawab Yuan santai.
"Hanya petugas biasa sepertimu berani bertindak lebih jauh? Coba saja," Liam semakin menantang.
Ling menunduk untuk menyembunyikan ekspresinya. Ia sedikit terenyuh saat melihat kegigihan Liam dan Yuan.
"Ada apa ini?" tanya seorang atasan petugas itu, Liang Cho.
"Kepala pemimpin," ucap petugas itu hormat.
"Mereka bertiga mengaku sebagai Chen Ling. Sebelumnya kami tidak tahu wajahnya jadi kami tidak tahu mereka yang mana," jawab petugas gelisah.
"Hm? Berbohong ya?" Liang Cho mengangkat dagu Liam.
"Sepertinya aku harus membuat mulut ini berbicara sendiri," ucap Liang Cho tersenyum licik. Ia mengelus cambuk di tangannya.
"Anda baru saja masuk ke departemen kepolisian. Mungkin Anda lupa jika anak di bawah umur tidak boleh disiksa," ucap pemimpin polisi mengingatkan.
Sebenarnya, Liang Cho masuk ke departemen kepolisian dengan bantuan Keluarga Lu. Dia adalah adik dari Liang Qing, ibu kandung Wuzhou. Para polisi itu paling tidak suka dengan orang yang bermain jalur belakang. Selain itu, ia juga langsung mendapat jabatan kepala pemimpin. Padahal kekuatannya biasa-biasa saja. Ia hanya pandai omong besar.
"Ada apa, Paman?" tanya Wuzhou dari telepon.
"Cepat datang ke kantor polisi. Ada tiga orang yang mengaku sebagai Chen Ling," jawab Liang Cho.
Setelah itu, ia lanjut menginterogasi.
"Jika kalian tidak mau mengatakannya, kami juga akan tahu sebentar lagi," ucap Liang Cho menyeringai.
Seringaiannya dibalas oleh Ling. Saat ia menatap mata Ling, ada dorongan untuk mundur. Ia sedikit membeku sekarang.
"Kau sangat mirip dengan Kakakmu," ucap Ling menjeda ucapannya.
"Sama-sama sampah!" lanjut Ling ketus.
Liang Cho sangat marah. Ia tak bisa menahannya lagi. Lagipula darimana bocah kecil ini tahu tentang keluarganya? Ia juga terang-terangan menghinanya. Liang Cho mengarahkan pistol ke kepala Ling. Namun saat ia akan menekan pelatuknya, sebuah suara menghentikannya.
"Hentikan, Paman!" teriak Wuzhou saat tiba di sana.
Liang Cho langsung menjatuhkan pistol. Ia hampir saja lepas kendali. Jika sampai ia membunuh hari ini, kehidupannya hanya akan menjadi mimpi buruk.
"Aku tidak ingin dia mati dengan mudah. Aku masih ingin melihat penderitaannya," ucap Wuzhou melihat ke arah Ling.
"Dia adalah Ling!" Wuzhou menunjuk Ling yang berdiri di tengah Liam dan Yuan.
"Baik jika begitu. Kau mau mengaku atau tidak?" tanya Liang Cho. Saat ia ingin memegang dagu Ling, dengan kasar Ling menepisnya.
Ling kembali diam. Ia tak akan lagi berbicara. Wuzhou yang melihat ini semakin geram. Harusnya Ling sudah memohon padanya untuk melepaskannya. Namun mengapa Ling malah terlihat sangat tenang?
"Paman, siksa dia! Namun jangan sampai mati!" perintah Wuzhou.
Liang Cho menyeringai. Ia berkata, "Bawa dia ke ruangan dingin untuk diinterogasi!"
"Ling tidak bersalah," ucap Liam memberontak.
"Lepaskan Ling!" Yuan juga ikut memberontak.
Para polisi itu sedikit kewalahan. Tenaga Liam dan Yuan terasa semakin kuat. Tubuh mereka meronta-ronta tanpa henti.
"Siapa suruh dia meledakkan ahli ramuan dari Kota Bayangan," ucap Wuzhou licik. Ia menempelkan suatu kertas yang bisa membius.
Liam dan Yuan mulai tenang. Wuzhou berjalan ke ruangan dingin.
"Hey! Apa yang kau lakukan pada Cucuku? Apa kalian ingin kuracuni sampai mati? Lepaskan cucuku!" teriak seorang pria tua berambut putih. Itu adalah Tuan Tua Zhuo.
Para polisi itu terkejut. Keluarga Zhuo merupakan bangsawan yang bergerak dalam bisnis ramuan. Saat mereka mendengar kata 'racun' mereka yakin Keluarga Zhuo bisa melakukan itu.
"Tenang, Tuan Tua. Cucu Anda baik-baik saja," jawab Liang Cho. Wuzhou pernah memberitahunya jika Keluarga Zhuo ini sebentar lagi hancur. Jadi dia tak perlu takut pada mereka.
"Bawa Liam dan Yuan," ucap Tuan Tua Zhuo pada Zhuo Fan dan Nyonya Zhuo.
"Dimana Ling? Aku ingin menemuinya," ucap Tuan Tua Zhuo.
"Kakek tua. Ini bukan wilayahmu. Dia adalah tersangka kami yang tak bisa sembarangan ditemui. Jika kalian menerobos, kalian bisa melanggar hukum dan kami masukkan penjara," ucap Liang Cho menyeringai.
Tuan Tua Zhuo menatapnya jijik. Kemudian ia berkata dengan dalam, "Dimana kalian menginterogasinya?"
Liang Cho mengumpulkan keberanian untuk menjawab. Ekspresinya tetap dibuat percaya diri.
"Tentu saja di ruangan dingin," setelah mengatakan itu, ia melihat ekspresi marah Keluarga Zhuo. Ia tertawa terbahak-bahak saat melihatnya.
"Bajingan kau!" teriak Tuan Tua Zhuo. Namun dia ditahan oleh banyak polisi. Beberapa ada yang menodongkan pistol padanya.