
Di tempat lain.
Jenderal Qiu segera pergi menemui Liam yang saat ini sedang berada di laboratorium dan meneliti sesuatu bersama Su Yuri.
Ketika ia melihat Ketua Dai masuk bersama Jenderal Qiu, Liam merasa heran, "Jenderal Qiu, mengapa Anda ada di sini?"
Jenderal Qiu terkejut, "Bukankah Tuan Muda Chen menyuruhku untuk mengambil ramuan baru itu padamu? Dia bilang jam 11. Aku hanya takut akan terlambat."
Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkannya pada Liam.
Liam mengernyit, "Ramuan baru? Ling memang memberikan sebuah proposal padaku tadi malam. Namun, aku dan Su Yuri belum membuat ramuan itu."
"Ada yang salah. Jadi, mengapa Tuan Muda Chen menyuruhku datang ke sini?" tanya Jenderal Qiu bingung.
Mendengar ucapan Jenderal Qiu, jantung Liam berdetak kencang. Ia segera meletakkan barang-barangnya dan meraih kerah Jenderal Qiu, "Sial! Di mana dia terakhir kali Anda melihatnya?"
Walau sikap Liam cukup kasar, tapi Jenderal Qiu tak mempermasalahkan hal itu dulu. Ia juga memiliki sebuah dugaan. Ia menjawab, "Itu di salah satu kediamanku. Cepat pergi!"
Ketua Dai dan yang lainnya segera memikirkan kemungkinan terburuk. Mereka langsung menyiapkan jet tempur yang paling cepat.
Saat itu musim dingin. Kediaman Jenderal Qiu terletak di daerah terpencil. Saat mereka baru saja turun dari jet tempur, bau darah yang menyengat langsung menusuk hidung mereka.
Kini, mereka bisa menebak dengan mudah apa yang baru saja terjadi. Liam, Ketua Dai, dan yang lainnya tampak lebih serius.
Terutama Liam.
"Tenang saja. Tuan Muda Chen sangat kuat. Karena dia menyuruhku pergi, kupikir dia pasti bisa ...," Jenderal Qiu mencoba menghibur mereka.
"Apa yang Anda tahu?!" belum selesai kalimat Jenderal Qiu, Liam berteriak dan menatapnya dengan mata merah.
Ini pertama kalinya Jenderal Qiu melihat ekspresi Liam seperti ini. Tidak hanya dia, bahkan Ketua Dai yang melihatnya seperti ini juga agak bingung. Walau dia cemas, ia tahu kemampuan Ling, jadi ia tak terlalu cemas.
Namun, apa maksud Liam?
Tiba-tiba, Ketua Dai teringat sesuatu. Ia ingat dengan ucapan Zhuo Xia sebelum dia pergi. Awasi dan lindungi Ling 24 jam. Saat itu, Ketua Dai tak mengerti mengapa Zhuo Xia menyuruhnya melindunginya. Namun, melihat reaksi Liam, ia agak gelisah.
Liam segera bergegas ke halaman depan.
Ia tak memberitahu orang-orang di sana apa yang dia ketahui. Sebagai ahli ramuan, ia tahu betul kondisi Ling. Ia telah menyelidiki ramuan yang sering diminum Ling. Dosis yang biasa dia minum sangat jauh dari dosis yang diperlukan. Ia berpikir Ling hanya meminumnya ketika dia lelah, tapi lama kelamaan ia menyadari jika Ling meminumnya saat dia gelisah.
Namun, akhir-akhir ini, Ling terlihat menahan diri agar tidak meminum ramuan lagi. Padahal dengan dosis seperti itu, sulit untuk melepaskannya. Tapi, tak peduli bagaimanapun Liam menyangkalnya, ia tahu betul jika Ling mulai perlahan berhenti meminum ramuan ketika Zhuo Xia muncul.
Karena itu, ia sering memperhatikan pergerakan Zhuo Xia.
Liam juga tahu jika Zhuo Xia telah mengirim sekelompok orang untuk melindungi mereka sejak mereka akan masuk ke luar negeri. Jika tidak, bagaimana mereka bisa masuk ke luar negeri dengan begitu lancar? Anak buah Zhuo Xia diam-diam menyingkirkan banyak orang untuk Ling.
Awalnya, Liam tak mengerti mengapa Zhuo Xia mempedulikan orang-orang seperti mereka. Padahal, orang-orang itu bahkan tak layak untuk disentuh Ling. Sampai saat Su Wen Ai yang sedang pergi dengan A Shui mengirim pesan padanya, ia berkata jika dalam setengah tahun ini, Zhuo Xia hampir tidak pernah membiarkan Ling menyentuh setetes darah pun.
Ia hanya pernah bertindak beberapa kali, seperti saat kejadian Jun Ye Li dan guru Yang Yi, itu adalah saat-saat di mana Ling berada di situasi paling emosional. Ia sangat protektif dengan orang-orangnya. Semua orang yang dekat dengannya tahu ini dengan sangat baik.
Liam perlahan menyatukan benang-benang itu.
Lalu, mengapa Zhuo Xia saat itu bergegas ke Keluarga Bo?
Saat ia membuka pintu, jari-jarinya bergetar. Ketua Dai dan Jenderal Qiu juga melihat ke dalam. Pada pandangan pertama, mereka hanya bisa melihat sosok yang agak samar-samar berdiri membelakangi cahaya.
Ia adalah pemuda yang menggunakan kemeja putih. Namun, di sudut kemejanya ada beberapa noda darah merah segar. Tapi, itu terlihat menakjubkan.
Ling melilitkan rantai tajam di tangannya. Ia mengangkat kepalanya dan perlahan memasukkan sebuah botol ke dalam saku.
Liam melihat jelas saat ia memasukkan botol itu. Jantungnya berdetak kencang.
"Tuan Muda Chen, syukurlah Anda baik-baik saja," Jenderal Qiu merasa lega melihat Ling masih berdiri dengan santai.
Namun, saat ia melihat halaman yang penuh dengan mayat, ia merasa sangat ketakutan. Jika terjadi sesuatu pada Ling di wilayahnya, tidak hanya Zhuo Xia, bahkan dia sendiri tidak akan memaafkan dirinya.
Tidak tahu mengapa, Jenderal Qiu tiba-tiba merasa jika Ling terlalu menakutkan. Aura mematikan dari dalam tubuhnya hampir menghanguskannya. Namun, ketika dia berkedip, ia melihat Ling telah kembali seperti biasanya. Bahkan, ia menyapa Liam dengan santai.
Ia merasa lega, "Baiklah."
"Kalian kembalilah dulu," ucap Ling. Ia mengulurkan tangan untuk mengambil jaket dan memakainya.
Liam protes, "Kau akan ke mana?"
"Aku?" Ling menatapnya.
Matanya terlihat sangat dingin. Ia menjawab, "Aku tak menyangka ternyata banyak sekali orang di luar negeri yang ingin membunuhku. Aku menahan diri begitu lama karena Xia. Namun, apa kau pikir, jika aku Chen Ling ... adalah patung?"
Setelah mengatakan itu, dia pergi.
Liam tak bisa mengejarnya dan hanya melihat kepergiannya. Saat ia mengambil ponselnya, ia berkata pada orang-orang yang ada di sana, "Hentikan dia!"
"Tidak apa-apa. Jangan khawatir. Pilot yang mengemudikan jet tempur itu masih ada disini. Tuan Muda Chen tak akan bisa kemana-mana," jawab Ketua Dai menghela napas lega.
Liam berhenti dan menatap Ketua Dai dengan tatapan yang sangat dalam, "Semua orang dari Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya bisa mengendarai jet tempur."
"Orang dari Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya?" Ketua Dai masih kebingungan.
Namun, ketika ia memikirkannya, terdengar suara gemuruh tak jauh dari sana. Mereka melihat jet tempur yang ada di sana pergi menjauh.
*
Di halaman, Jenderal Qiu menyuruh para bawahannya untuk segera membersihkan mayat-mayat di sana dan juga mencari bukti.
Ketika mayat-mayat itu telah selesai dibersihkan, bawahan yang paling dipercaya Jenderal Qiu terlihat sangat terkejut.
Jenderal Qiu mengernyit, "Ada apa?"
Bawahan itu bergetar ketika menatap Jenderal Qiu, "Tuan ... mereka ... orang-orang ini ... semuanya adalah kultivator tingkat kelima."
Jenderal Qiu menjatuhkan walkie-talkienya.
Apa artinya ini? Ling lebih dari level tujuh? Atau delapan?
Orang-orang di sana saling pandang. Mereka memiliki satu kata yang sama dalam pemikiran mereka, yaitu menakutkan.
Sedangkan Ketua Dai dan penjaga lainnya bingung. Mereka belum tahu apa yang sedang terjadi.
Namun, Liam mengabaikan mereka dan kembali berkutik dengan ponselnya. Ia menelepon A Shui untuk memintanya mencari Ling.
Setelah menerima panggilan Liam, A Shui terdiam sejenak sebelum menjawab dengan lembut, "Tidak perlu."
"Nona A Shui ... Ling ...," Liam memijat pelipisnya.
A Shui menyela ucapannya. Ia berkata dengan nada serius, "Liam, itulah dia. Aku tahu sifat Raja dengan sangat baik. Dia juga tahu apa yang ingin kau katakan. Aku pun tahu satu hal. Dia tak akan pernah bersembunyi dan meninggalkan kita sendirian. Itu bukan gayanya. Tak peduli alasan apa pun yang membuatnya marah, Liam jangan ikut campur dalam masalah kali ini."
Setelah menutup panggilan, A Shui beranjak ke depan komputer dan duduk di sana. Ia tetap diam untuk waktu yang lama.
Setelah beberapa saat, ia akhirnya tersenyum.
"Berhenti tersenyum," ucap Bo Xue Ning dengan ekspresi khawatir.
Ia lanjut berkata, "Padahal aku sudah mengingatkan Tuan Muda Chen agar membiarkan mereka pergi. Sekarang, ia benar-benar ingin mengobrak-abrik mereka. Ini bukan hal yang bagus."
"Apa yang salah dengan itu?" ucap A Shui. Ia memperbaiki kacamatanya. Ekspresinya terlihat lebih rileks sekarang.
Ia berkata, "Dia adalah Raja. Jika dia tak memberi pelajaran pada orang-orang di luar negeri, bagaimana mereka bisa tahu jika dia sudah kembali?"