Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Kecanduan Internet


Mendengar laporan tersebut, ekspresi was-was tetua ketujuh menghilang. Ia menghela napas dan menjawab, "Sepertinya aku memang terlalu banyak berpikir. Tidak mungkin ada yang ketiga selain Bo Minghao dan Bo Shin. Baiklah bawa Tuan Muda ke tempat tinggal di kaki gunung. Biarkan dia istirahat. Dia bisa datang setelah kompetisi seleksi dimulai."


Tetua hanya mendengarkan dan mengangguk.


Bo Shin mengerutkan kening saat diberitahu tentang peraturan ini. Namun, ia tak merasa para tetua itu menargetkan Ling. Jadi, dia menyampaikannya pada Ling, "Memang seperti itulah aturan di Keluarga Bo. Saat pertama kali aku dan Tuan Bo datang, kami juga tinggal di kaki gunung selama beberapa hari. Selama kompetisi seleksi, tak ada yang diizinkan masuk. Namun, melihat kekuatan Tuan Muda, seharusnya ...."


"Baiklah. Di sini adalah tempatnya para pemuda. Kau bisa pergi," ucap Ling mengangguk santai.


Kamar Ling berada di lantai dua. Tempat di mana para pemuda yang ingin mengikuti kompetisi untuk menjadi murid inti di Keluarga Bo. Ada 5 orang di lantai itu.


Salah satu pemuda menghampirinya. Ia bukan berasal dari Keluarga Bo. Kekuatannya juga rata-rata. Berbeda dengan empat pemuda lainnya yang masih memiliki hubungan dengan Keluarga Bo. Salah satu dari mereka, ayahnya merupakan ketua bidang di Keluarga Bo. Satu lagi memiliki kakek yang merupakan manajer penjaga Keluarga Bo. Yang satu lagi telah bekerja di Keluarga Bo selama beberapa generasi. Pemuda terakhir latar belakangnya paling bagus. Kakeknya adalah tetua yang memiliki pangkat tertinggi di Dewan Tetua, serta ayahnya adalah salah satu calon kepala Keluarga Bo.


"Apa kau tidak tertarik?" saat pemuda yang menghampiri Ling menjelaskan semua itu, Ling terlihat cuek.


"Aku heran, mengapa tidak ada Wi-Fi di sini?" Ling menghela napas.


Pemuda yang bernama Luo Qianzhou itu menatap Ling aneh. Ia berkata, "Chen Ling, darimana asalmu? Pulau ini agak terpencil. Dewan Tetua juga tak ingin kita kecanduan internet. Oleh karena itu, hanya Dewan Tetua yang memiliki Wi-Fi. Itu juga hanya di satu ruangan."


Ling tak bisa berkata-kata. Ia menunduk dan mengirim pesan pada A Shui.


Di antara lima orang di lantai dua, selain Ling dan Luo Qianzhou, tiga lainnya jarang meninggalkan kediaman dan terlihat berlatih keras.


Hanya saat Bo Yushen datang, keadaan menjadi cukup ramai. Empat orang yang ada di lantai dua, semua mengenalnya. Bo Yushen baru datang karena kompetisi seleksi akan dimulai besok.


Awalnya ia tak peduli dengan orang-orang di lantai dua. Sampai akhirnya dia melihat Ling, ia berhenti, "Pemuda ini terlihat asing."


Bo Yushen selalu dipuja selama hidupnya. Baru kali ini ia melihat seseorang yang dapat menandingi aura dan pesonanya. Ia merasa, pemuda di depannya adalah ancaman besar.


"Chen Ling," ucap Ling memberitahu namanya.


Bo Yushen menghela napas lega. Ternyata Ling bukan berasal dari Keluarga Bo.


Sedangkan Ling kembali ke kamarnya. Ia mengeluarkan ponsel untuk bermain game.


Luo Qianzhou mengikutinya. Ia berkata, "Itu adalah Bo Yushen. Kau terlihat angkuh ...."


Sebelum ia selesai bicara, Ling menyela, "Ada Wi-Fi di kamar ini. Kata sandinya adalah angka nol delapan kali."


Luo Qianzhou mengeluarkan ponsel dan memasukkan kata sandi Wi-Fi. Ia menatap Ling terkejut, "Chen Ling, darimana kau mendapatkan Wi-Fi ini?"


"Ayo main game," ucap Ling tak menjawab pertanyaannya.


Luo Qianzhou tak bicara lagi. Awalnya ia pikir Ling pemuda sederhana yang beruntung bisa ikut seleksi di Keluarga Bo. Namun, ia jadi penasaran dengannya. Bagaimana ia bisa memasang Wi-Fi di sini?


*


Di keluarga inti Keluarga Bo.


Bo Da Xun melirik putranya, "Aku tak menyangka Bo Minghao memiliki anak lain. Aku pikir hanya Bo Shin yang akan dibawanya. Namun, kelihatannya anaknya ini tidak seambisius Bo Shin. Sepertinya ia kecanduan internet. Dari awal datang, ia sudah meminta orang untuk memasang Wi-Fi."


Nyonya Bo meletakkan gelasnya dan tersenyum, "Yushen, bukankah adik junior perempuanmu yang bermarga Han tinggal di pulau juga? Kali ini, sepertinya Chen Ling beruntung karena bisa bertemu dengannya. Ia mengenalmu, kan?"


Bo Yushen berdiri dengan ekspresi cuek, "Aku tidak peduli. Aku harus mempersiapkan diri untuk kompetisi seleksi besok."


Awalnya ia memang takut dengan putra Bo Minghao karena ia tahu bagaimana kekuatan Bo Minghao. Namun, saat bertemu langsung, sepertinya pemikirannya terlalu jauh. Ling bahkan lebih buruk daripada salah satu pengawalnya.


*


Keesokan harinya, Nyonya Bo benar-benar menepati ucapannya. Ia membawa Han Sese menemui Ling.


"Kau pasti putranya Bo Minghao. Kau memang sangat tampan," ucap Nyonya Bo sambil tersenyum.


"Aku dengar dari tetua, umurmu 20 tahun. Kau seumuran dengan anakku, Yushen. Sese, ini putra Paman Bo Minghao mu. Ayo, berkenalan," ucap Nyonya Bo.


Han Sese hanya melirik Ling sekilas.


Namun, Nyonya Bo sepertinya tidak menyadari itu. Ia berkata, "Aku akan ke kamar sebelah untuk melihat Yushen. Kalian mengobrol lah."


Setelah Nyonya Bo pergi, senyum Han Sese pudar. Ia menatap Ling dingin, "Aku tahu apa maksud Bibi Bo. Walau kau putra Paman Bo, aku tak akan bersikap seperti yang kau bayangkan. Kau mengerti, kan?"


Dengan adanya Bo Yushen yang berbakat, ia tak bisa memikirkan pria lain.


Ling baru sadar maksud terselubung Nyonya Bo.


Ia terdiam sesaat.


Kemudian, ia berkata, "Bukankah aku bilang aku sudah punya pacar?"


Saat Ling terdiam, Han Sese berpikir jika Ling sedih. Sedangkan ucapannya yang mengatakan ia sudah punya pacar, ia menganggap itu hanya alasan. Ia pun menjawab, "Kau tak perlu berkecil hati. Dan juga jangan membandingkan diri dengan kakak senior laki-lakiku. Dia memang luar biasa."


Melihat Ling hanya menatapnya datar, Han Sese malah tak berani menatapnya balik. Ia pun melarikan diri dari Ling.


Setelah Han Sese pergi, Bo Shin menemui Ling.


Melihat banyak orang-orang penting menemui Ling, pemuda-pemuda di lantai dua terkejut. Mereka bertanya, "Chen Ling, siapa tadi yang bicara denganmu? Apa dia pacarmu?"


Ling mengeluarkan ponselnya. Kemudian ia menjawab, "Bukan."


Mereka menganggap Ling tidak berbohong. Lagipula, siapa yang tidak ingin pamer jika pacar mereka seperti itu?


Pemuda-pemuda itu merasa lega.


Ling hanya kembali ke kamarnya.


Para pemuda itu segera berdiskusi saat Ling menghilang dari pandangan. Salah satu dari mereka bertanya, "Apa kau kenal orang itu?"


"Aku tahu orang di sampingnya. Ia adalah penanggungjawab dalam pemilihan kali ini," jawab salah satunya.


Mereka menghela napas berat. Mereka tak menyangka Ling memiliki koneksi seperti itu. Dia benar-benar mengenal Bo Shin.


"Sudah slotnya hanya sedikit, ditambah lagi ada yang mengenal orang dalam," pemuda lainnya menggerutu.


*


Di sebuah ruangan pribadi.


Nyonya Bo duduk di kursi, "Besok Yushen akan mengikuti kompetisi seleksi. Aku ingin segera tahu hasilnya."


"Tuan Muda Yushen pasti akan menempati posisi pertama. Tidak mustahil juga jika ia direkrut Dewan Tetua. Bawahan Nyonya ini ingin memberi selamat," ucap penjaga Nyonya Bo tersenyum.


Nyonya Bo tersenyum. Kemudian ia mengingat sesuatu, "Bagaimana hasil pembicaraan Chen Ling dengan adik junior Yushen?"


"Setelah Nyonya pergi, tak lama Han Sese itu juga pergi. Nyonya tahu jika Han Sese menyukai Tuan Muda. Bagaimana ia bisa menyukai Chen Ling yang tidak bisa dibandingkan dengan Tuan Muda?" jawab penjaga itu tak bisa menahan tawa.


"Ah, ini salahku. Undang Chen Ling ke sini. Aku akan meminta maaf padanya," ucap Nyonya Bo. Meski nada suaranya merasa bersalah, tapi matanya penuh ejekan.


Penjaga itu menangkupkan tangan dan pergi mencari Ling.


*


Saat penjaga itu menemui Ling, Ling sedang ingin menjelajahi pulau. Ketika penjaga itu menyampaikan tujuannya, ia tak menolak. Ia pun menemui Nyonya Bo.


Tanpa diduga, di sana juga ada Bo Yushen. Ketika ia bicara dengan Nyonya Bo, ia mengabaikan Ling. Sedangkan Ling dengan santai mengambil kursi dan duduk, seolah ini adalah rumahnya.


Barulah saat itu Nyonya Bo melihat Ling, "Keponakan, kapan kau datang?"


Ling hanya tersenyum menatap Nyonya Bo.


Nyonya Bo merasa canggung. Ia mengulurkan tangan untuk memegang tangan Ling, "Aku sangat menyesal atas kejadian tadi. Aku tak menyangka gadis dari Keluarga Han itu mempermalukanmu. Ini salahku, keponakanku. Aku akan membantumu menemuinya dua hari lagi. Seleranya benar-benar buruk. Padahal jarang menemui pemuda sepertimu."


Bo Yushen langsung paham apa yang terjadi. Ia menyeruput teh dan menyembunyikan senyum mengejeknya.


Ling hanya tersenyum dan meminum tehnya, "Terimakasih atas niat baik Anda, Nyonya. Namun, jika Anda melakukan ini, aku takut pacarku cemburu dan datang ke sini. Jika itu terjadi, pulau ini tak akan damai."


Nyonya Bo sedikit membeku, "Keponakan, kau salah. Ia tak mungkin bisa datang sesuka hatinya. Tapi ... kau benar-benar punya pacar? Darimana asalnya? Apa pekerjaannya?"


Bo Yushen juga penasaran dengan 'pacar' Ling.


"Aku mengenalnya di Kota Bayangan. Ia juga berada di luar negeri sekarang, tapi dia agak sibuk dan tidak punya waktu untuk keluar," jawab Ling. Ia mengambil sepiring kue sambil tersenyum.


Rasa penasaran ibu dan anak itu langsung pudar. Apa hebatnya berasal dari Kota Bayangan? Sepertinya ia mengandalkan Bo Minghao untuk datang ke luar negeri. Mereka berpikir pacar Ling adalah bawahan Bo Minghao.


Sebenarnya mereka bukan orang yang mudah meremehkan orang lain. Namun, mendengar semua ucapan Ling, mereka tak berniat lagi bicara dengan Ling.


Setelah menghabiskan sepiring kue seolah dia belum makan beberapa hari, Ling pergi.


Bo Yushen berdiri, "Beritahu ayah agar tak merekrut Chen Ling. Lebih baik kita membuat Bo Shin berada di pihak kita."


Nyonya Bo juga memikirkan hal yang sama.


*


Ia lanjut berjalan.


Tak lama setelah ia pergi, lelaki tua berjanggut putih muncul. Ia terlihat bingung, "Itu tadi Tuan Muda Chen?"


"Benar, tetua ketujuh," jawab orang di sampingnya dengan hormat.


Tetua menatap Ling penuh arti.


Saat ia kembali ke kantor Dewan Tetua, ia melihat tetua pertama sepertinya sedang marah. Ia bertanya, "Tetua pertama, apa ada masalah?"


"Itu semua karena badan intelijen! Mereka mengatakan tak akan menjual wilayah di selatan berapa pun kita membayarnya," jawab tetua pertama.


"Anda tak menyinggung perasaannya, kan?" tetua ketujuh heran.


"Berani sekali aku!" tetua pertama menghela napas.


"Aku harus meminta bantuan pada Tuan Muda. Aku dengar badan intelijen itu memiliki hubungan dengan Keluarga Han. Nona Han mengenal Tuan Muda Yushen, kan? Suruh seseorang untuk bicara dengan Tuan Muda Yushen," ucap tetua pertama.


Salah satu orang yang ada di sana segera bergerak.


Setelah itu, tetua pertama kembali bicara, "Tetua ketujuh, Anda benar-benar memasangkan Wi-Fi untuk Tuan Muda Chen? Dia bodoh dan malas, tapi Anda malah mendukungnya?"


Tetua ketujuh tercengang, "Apa? Aku tak pernah memasangkan Wi-Fi untuknya!"


Tetua pertama berpikir jika tetua ketujuh berbohong. Ia berkata, "Jangan berbohong lagi. Untuk kali ini lupakan saja, tapi pastikan tidak ada 'lain kali'."


Tetua ketujuh tak menjelaskan lagi. Hanya dia yang tahu jika benar-benar bukan dia yang memasang Wi-Fi itu. Sepertinya juga bukan Bo Minghao. Ia tak akan peduli dengan hal seperti itu.


Tetua ketujuh bergumam, "Sepertinya Tuan Muda Chen memiliki beberapa rahasia."


Ia meminta seseorang untuk mencari Bo Shin.


*


Besok adalah hari kompetisi seleksi.


Itu adalah salah satu tradisi Keluarga Bo. Tetua ketujuh bertanya lagi pada Ling untuk memastikan. Jika Ling tidak ingin ikut, dia bisa membuat pengecualian.


Namun, Ling tetap ikut.


Kompetisi itu merupakan pertarungan antar tim. Setiap tim beranggotakan dua orang. Anggota tim akan ditentukan melalui undian.


Orang yang satu tim dengan Ling adalah seorang wanita. Saat ia melihat Ling tak memiliki energi kultivasi, ia protes, "Apa kalian memang menargetkanku? Aku lebih suka bertarung sendiri daripada satu tim dengannya!"


Aturan tentang tim tidak dipaksakan. Ling juga tidak memaksa. Ia berkata, "Aku juga akan sendiri."


Melihat Ling sangat santai, wanita itu menatap Ling, "Jangan salahkan aku. Aku tak ingin mempertaruhkan masa depanku."


Ling mengangguk paham.


Peserta lain menonton adegan ini. Bo Yushen yang tak jauh dari sana berkata, "Orang itu tidak salah pilih. Tidak mungkin dia mau menyia-nyiakan kesempatan ini."


Yang lainnya tertawa. Mereka memandang Ling yang sendirian di antara keramaian.


Di sisi lain, Luo Qianzhou mengerutkan kening. Ia mengeluarkan kartu undiannya dan menukar dengan kartu wanita tadi.


Bo Yushen yang satu kelompok dengannya, menatapnya heran, "Kau yakin?"


Luo Qianzhou mengepalkan tangannya dan mengangguk tegas.


Wanita itu terus menatap Liu Qianzhou. Ia berulang kali bertanya apakah Luo Qianzhou benar-benar ingin menukar tim.


Luo Qianzhou selalu mengangguk saat ditanya seperti itu.


Wanita itu pun tersenyum puas. Ia dengan senang hati berjalan ke arah Bo Yushen dengan kartu timnya. Satu tim dengan Bo Yushen artinya menang 100%. Wanita itu memandang kasihan Luo Qianzhou.


Ling juga tercengang melihat tindakan Luo Qianzhou, "Kau benar-benar tukar tim?"


"Lagipula aku juga memakai Wi-Fi mu. Aku bukan orang yang tidak tahu berterimakasih," jawab Luo Qianzhou tersenyum.


*


Undian pertarungan antar tim dimulai.


Saat ini, Luo Qianzhou mulai resah. Tim pertama yang akan mereka lawan adalah tim Bo Yushen.


Tim lainnya memandang mereka dengan kasihan, terutama Luo Qianzhou. Ia melepas Bo Yushen demi Ling yang tidak memiliki energi kultivasi.


Orang-orang menganggap pertarungan ini menarik, tapi tak akan menegangkan. Itu karena level Bo Yushen berada jauh di atas mereka.


Bo Yushen berdiri di area pertempuran dan memperkenalkan diri, "Bo Yushen, tingkat keempat tahap akhir."


Orang-orang merasa takjub dengan Bo Yushen.


"Bahkan lebih tinggi daripada monster-monster di Akademi Bintang!" ucap salah satu pemuda.


Luo Qianzhou menarik lengan baju Ling, "Chen Ling, kita menyerah saja."


Ling meliriknya, "Jangan takut. Kita akan menang."


"Chen Ling ... aku merasa malu," ucap Luo Qianzhou menatap orang-orang yang ada di bawah. Ia merasa ingin turun, tapi ia tak ingin membiarkan Ling malu sendirian.


Sebelum bertarung, setiap orang harus memperkenalkan diri. Namun, belum lagi Ling dan Luo Qianzhou memperkenalkan diri, wasit berkata, "Mulai!"


Luo Qianzhou menghela napas lega, "Huh, setidaknya aku tidak akan mempermalukan diri sendiri."


Ling hanya diam dan menatapnya.


Bo Yushen sangat kuat. Ia segera mengumpulkan energi kultivasi untuk menyerang mereka berdua.


Merasa dalam bahaya, Luo Qianzhou segera berdiri di depan Ling.


"Jangan gegabah. Takutnya kau tidak bisa turun dari arena nanti," ucap Ling dengan ramah mengingatkan Bo Yushen.


Tetua pertama yang melihat pertandingan itu menggelengkan kepala, "Dia Tuan Muda Chen itu? Apa dia tidak malu bicara seperti itu?"


Penonton lainnya juga berkomentar, "Lihat pemuda itu! Tuan Muda Bo sudah bergerak, tapi dia berdiri di sana seperti orang bodoh!"


Apa dia bodoh? Ling terkekeh. Ia mengangkat satu tangan dan tiga belati muncul. Tangan lainnya menarik lengan Luo Qianzhou.


"Perhatikan baik-baik! Beginilah cara menggunakan belati yang benar!" ucap Ling pada Luo Qianzhou.


Kemudian, tiga belati itu terbang.


Semua orang menahan napas. Mereka tak menyangka, Bo Yushen yang mereka anggap kuat, ternyata bisa dikalahkan oleh Ling.


Ling memandang Bo Yushen yang terkapar di lantai. Ia tersenyum lembut, "Aku, Chen Ling. Sepertinya aku berada di tingkat keenam tahap akhir."


Ling memperkenalkan diri karena sebelumnya wasit tak memberinya kesempatan. Yang ia ucapkan juga tak semuanya benar. Setelah ia tinggal di luar negeri, kekuatan seperti itu sudah bisa mengguncang banyak orang.


Seperti sekarang ini. Semua orang langsung terdiam.


Tetua ketujuh berdiri. Ia melihat ke arah Bo Shin, "Bukankah kau mengatakan dia sekitar level empat?"


Tetua memang pernah bertanya padanya dan dia memberitahu yang ia tahu. Bo Shin pun menjawab lembut, "Oh, saat terakhir kali aku di Kota Bayangan, ia memang level segitu."


Tetua tak melihat ekspresi terkejut Bo Shin, seolah ini hal biasa.


Sedangkan yang lainnya masih tercengang, pertarungan tetap dilanjutkan.


*


Pertandingan berakhir.


Han Sese datang terlambat. Namun, ia yakin dengan hasil kompetisi ini.


Namun, ayahnya tiba-tiba menelepon, "Apa kau tahu siapa juara tahun ini?"


"Tentu saja Kakak Yushen, kan?" Han Sese tersenyum.


"Salah. Itu bukan dia," jawab ayahnya.


"Bukan dia? Ada yang lebih kuat dari dia tahun ini? Siapa dia? Apakah Bo Shin? Tapi bukankah dia sudah lulus tahun lalu?" Han Sese tercengang.


Tuan Han tertawa, "Kau pasti mengenal orang ini. Dia adalah Tuan Muda Chen yang saat itu dikenalkan oleh Nyonya Bo, putra Bo Minghao. Oh, kau pernah mengobrol dengannya, kan? Bagaimana obrolan kalian? Apakah menyenangkan?"


Han Sese melihat hasil di arena pertempuran dengan kaget.