
Maaf mengecewakan kalianπππ
Author akan terus berusaha lebih keras lagiπππ
***
Beberapa saat kemudian suara deru helikopter terdengar. Saat ini di luar ruangan, rumah Keluarga Bo telah dikepung oleh pasukan Zhuo Xia. Sedangkan di dalam ruangan, para murid sudah kacau dan tidak berdaya.
Para wartawan palsu itu ingin kabur tapi ditahan oleh pasukan Zhuo Xia.
Zhuo Xia melangkah ke arah Ling. Tatapannya lurus tanpa melihat jalan. Ia hanya memperhatikan Ling. Meski begitu, semua orang tetap membuka jalan untuknya.
"Xia?" ucap Chen Lin yang sudah tidak asing dengan wajah Zhuo Xia.
"Halo, Bibi," ucap Zhuo Xia sambil membungkuk. Ia tersenyum hangat pada Chen Lin.
Bo Minghao membeku di tempatnya. Mengapa Zhuo Xia bisa begitu akrab dengan Chen Lin?
"Ayo kita makan malam setelah masalah ini selesai," ucap Chen Lin ramah.
"Dengan senang hati, Bibi," jawab Zhuo Xia sambil tersenyum.
Matanya beralih ke Ling. Ling menaikkan sedikit alisnya. Ekspresi Zhuo Xia tidak dapat dibaca. Padahal sedetik lalu ia tersenyum hangat pada Chen Lin. Namun sedetik kemudian dia menjadi sangat dingin.
"Selamat," ucap Zhuo Xia sambil mengulurkan tangan.
Ling berpikir sambil mengerutkan kening. Kemudian dia mengerti. Ia membalas jabatan tangan Zhuo Xia dan menjawab, "Terimakasih."
Zhou Xia menggenggam tangan Ling yang dingin. Ia sedikit merasa sengatan listrik mengalir ke tubuhnya. Masih menatap matanya, bibir Zhuo Xia membentuk senyum manis.
Ling merasa tidak asing melihat hal ini.
Bo Minghao tambah terkejut. Ia dapat merasakan sesuatu dari tatapan Zhuo Xia pada Ling. Ia juga jadi mengerti mengapa Chen Lin akrab dengannya. Saat ini ia berkali-kali menerima kejutan dari Ling.
Polisi datang. Rombongan polisi itu dipimpin oleh Wei Lang. Wei Lang berjalan ke arah Ling. Kali ini Bo Minghao benar-benar akan gila. Semua orang penting ada di rumahnya.
Bo Minghao tak tahu harus berbuat apa. Saat ini ia masih bisa bertahan karena dikuatkan oleh Chen Lin. Meski Chen Lin tidak tahu siapa mereka, tapi ia bisa mengerti keadaan. Jika Bo Minghao yang dianggap orang besar saja bisa sampai linglung, pasti orang-orang ini lebih hebat darinya.
"Tangkap orang itu," ucap Wei Lang menunjuk Bo Hongyun dengan jijik. Tadi ia juga menonton siaran langsung. Saat ia mengetahui hal ini, ia langsung berangkat ke kediaman Keluarga Bo.
Para anggota Wei Lang segera maju dan membawa Bo Hongyun. Sepertinya ia akan dikirim ke rumah sakit lebih dulu karena tubuhnya benar-benar mengalami luka parah.
Ling tak memberinya ampun.
"Tuan Muda Chen, apa ada hal lain lagi?" tanya Wei Lang. Ia terlihat sangat bersemangat saat bertemu dengan Ling.
"Tidak ada," jawab Ling seadanya.
"Baiklah. Aku akan kembali lebih dulu," ucap Wei Lang. Ia membalikkan badannya.
Namun saat melihat sosok wanita di samping Chen Lin, ia tersandung kakinya sendiri. Untungnya asistennya menahannya jadi ia tidak jatuh dan tidak malu.
Melihat tatapan tajam Zhuo Xia, Wei Lang buru-buru pergi. Ia tak berani menatap Zhuo Xia apalagi melawannya.
"Ayo kita semua masuk ke ruang makan," ucap Bo Minghao setelah mengembalikan kesadarannya.
"Pelayan, siapkan semua makanan kesukaan Tuan Muda Chen. Siapkan juga makanan kesukaan Nyonya Chen Lin," ucap Bo Minghao. Kemudian ia menatap Zhuo Xia dengan ragu.
"Aku bisa makan apapun," ucap Zhuo Xia yang mengerti arti tatapan Bo Minghao.
"Baiklah. Pelayan siapkan makanan yang paling enak," ucap Bo Minghao lagi. Ia memimpin mereka jalan ke ruang makan.
Para wartawan palsu di sana sudah bersih. Para murid juga sudah dikembalikan ke akademi. Yang tersisa hanya para kepala keluarga besar.
Setelah sampai di meja makan, Bo Minghao tak ikut duduk. Ia berdiri di sebelah Chen Lin dan berkata, "Aku akan menemui kepala keluarga besar."
"Katakan pada mereka dan media jika itu adalah pembiasan cahaya dari danau buatan Keluarga Bo," ucap Ling sebelum Bo Minghao pergi.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Bo Minghao terkejut. Proyek danau buatannya hanya diketahui oleh beberapa anggota keluarga. Tidak semua orang tahu, tapi Ling bisa mengetahuinya.
"Lakukan saja atau masalah ini tidak akan selesai. Jika melakukan proyek danau itu secara terbuka, itu juga akan menguntungkanmu," ucap Ling sambil sedikit menjelaskan.
"Baiklah," jawab Bo Minghao. Setelah melihat kejadian-kejadian hari ini, ia tahu Ling sangat hebat. Tidak mungkin ia mengenal orang hebat jika dia sendiri tidak hebat. Apalagi ada Zhuo Xia di sisinya. Bo Minghao tidak hanya terlampau jauh dari Zhuo Xia, tapi juga anaknya.
Bo Minghao meninggalkan mereka bertiga. Suasana antara Ling dan Zhuo Xia cukup canggung. Namun antara Chen Lin dan Zhuo Xia malah terlihat hangat. Chen Lin bersikap seperti ibu yang baik. Ia bertanya dan bercerita banyak hal pada Zhuo Xia. Zhuo Xia sendiri tak keberatan dengan hal ini. Ia juga merespon dengan baik apa yang dikatakan Chen Lin.
Setelah beberapa menit berbincang, makanan mulai datang. Semua makanan itu kesukaan Ling, Chen Lin, dan satu lagi makanan bebas untuk Zhuo Xia.
Ling mulai makan dengan lahap. Ia benar-benar lapar setelah bertarung tadi. Apalagi sejak awal tes darah hingga tes pertarungan ia tidak menyentuh makanan sama sekali.
Zhuo Xia juga ikut makan. Ia mengambil makanan Ling dan meletakkannya di piring. Ia mulai makan sambil sesekali bicara dengan Chen Lin.
Setelah makanan di satu piring habis, Zhuo Xia mengambil lagi makanan milik Ling. Ia kembali makan dengan tenang.
"Bukankah kau mempunyai makanan sendiri?" tanya Ling masih makan dengan lahap.
"Aku ingin milik Ling. Apakah tidak boleh Bibi?" Zhuo Xia bertanya pada Chen Lin. Ia memasang raut wajah memelas.
"Tentu saja boleh. Ayo makan lagi. Ling kau harus berbagi ya," ucap Chen Lin sambil sedikit melotot ke arah Ling. Jika sudah begini Ling hanya bisa pasrah. Ia tak ingin melawan ibunya sendiri.
Saat makan, Zhuo Xia menyelipkan senyum kemenangan ke arah Ling.
Mereka kembali makan dengan tenang di meja makan.
Piring-piring di meja mulai kosong. Hampir semua makanan habis. Karena bagian Ling berkurang, ia memilih makan makanan yang dibuatkan untuk Zhuo Xia. Karena melihat Zhuo Xia hanya diam, ia menghabiskan semuanya.
"Ibu, aku akan ke kamar," ucap Ling setelah minum.
"Tunggu Ling," ucap Bo Minghao dengan nada serius. Ia telah kembali setelah menemui para kepala keluarga. Ia juga telah menyelesaikan masalah sesuai dengan yang dikatakan Ling.
"Kita harus membicarakan warisan," ucap Bo Minghao melanjutkan.