
Keesokan harinya, Ling dan ketiga temannya sudah berada di taman sekolah. Hari ini Su Wen Ai tak menjaga Su Qiang lagi karena ia harus terbiasa sendiri.
Ling membaca pesan di ponselnya.
[Pukul tiga sore. Aku mentraktirmu dan temanmu untuk makan di Star Restaurant.]
Ling tersenyum tipis. Ia mengetik balasan.
[Baik.]
Ling melihat teman-temannya yang sibuk membaca buku. Ujian sekolah mereka sudah semakin dekat.
"Aku berbaik hati untuk mentraktir kalian makan. Namun kalian harus lari 20 putaran," ucap Ling pada ketiga temannya. Ia kembali memainkan ponsel.
"Traktir makan? Kau tidak bercanda kan? Hanya 20 putaran saja, kecil," ucap Yuan. Dia segera bersiap untuk berlari.
"Ayo, Liam!" ajak Yuan.
Saat itu, Ling tersadar. Ia segera menanyakan keadaan Tuan Tua Zhuo, "Bagaimana keadaan Kakek? Sudah lebih baik?"
"Ya, terimakasih Ling. Kakek bilang resep itu sangat membantunya. Sekarang aku semakin giat belajar membuat ramuan untuk Kakek," jawab Liam. Wajahnya memang terlihat sangat lelah. Sepertinya ia benar-benar terpukul karena keadaannya kakeknya jadi ia bekerja begitu keras.
"Baiklah," jawab Ling. Ia lanjut memainkan ponsel. Sedangkan ketiga temannya lanjut berlari ke lapangan.
Ling membuka situs web khusus Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Ia kembali memasuki forum pasar gelap. Kemudian ia langsung membaca chat pribadinya dengan dokter.
Setelah beberapa saat membaca, dia cukup puas. Lalu ia kembali mengetik di dalam forum.
Raja : [Sepuluh bunga yang sudah dibekukan duapuluh tahun. Aku akan mengirim keadaan penyakitnya lewat pesan pribadi.]
Dokter : [Sepuluh? Raja, apakah kau yakin?]
Raja : [Tentu. Aku ingin informasi lengkap tentang penyakit ini.]
Ling langsung mengirim keadaan penyakit yang ingin dia ketahui dari dokter. Setelah itu, ia keluar situs web. Ia tak bisa berlama-lama agar tak ada yang bisa melacaknya.
Setelah dia keluar dua pesan masuk yang tak sempat dia baca.
Ahli Bom : [Raja, apa kau tak membutuhkan sesuatu dariku?]
Dokter : [Baik. Aku akan memberi hasil yang terbaik.]
Setelah setengah jam, Liam dan Yuan sudah selesai lari. Mereka bolos pelajaran karena ini. Bagi mereka, traktiran adalah nomor satu. Namun Su Wen Ai sudah kembali 15 menit lalu. Wajar saja, dia anak pintar kesayangan guru.
"Ling, di mana kau akan mentraktir kami?" tanya Liam menyeka keringat.
"Di Star Restaurant," ucap Ling mengingat tempat yang diberikan Zhuo Xia tadi.
"Apa?" Liam berteriak kaget. Sedangkan Ling dan Yuan heran melihatnya.
"Mengapa?" tanya Ling.
"Itu adalah restoran bintang lima di Kota Urban. Letaknya disebuah mall mewah. Aku dengar makanan di sana sangat mahal. Apa kau yakin ingin mentraktir kami?" tanya Liam tak percaya.
Yuan sudah menganga lebar. Sedangkan Ling hanya bersikap santai. Walau ia baru mengetahui hal ini, sepertinya dia juga mampu mentraktir teman-temannya. Bagaimanapun pemasukannya kali ini cukup banyak berkat plakat Dewa Tabib.
"Tenang saja," jawab Ling santai. Namun ia sedikit tertawa kecil. Ia ingin lihat bagaimana reaksi mereka saat tahu bahwa ada Zhuo Xia di sana nanti.
*
Setelah beberapa jam, bel sekolah pun berbunyi. Ling dan ketiga temannya berangkat ke Star Restaurant dengan mobil Liam. Kali ini Su Qiang juga ikut.
Mobil melesat memecah keramaian jalan.
Ketika sampai di mall seorang penjaga mendatangi mereka. Mereka pun dituntun masuk ke dalam restoran yang ada di lantai sepuluh. Mereka menaiki lift khusus untuk pelanggan VIP.
Penjaga membukakan pintu. Zhuo Xia sudah menyiapkan ruangan pribadi untuk mereka. Begitu banyak makanan tersedia. Mulai dati makanan pembuka, makanan utama, dan makanan penutup. Terdapat dua meja terpisah dalam ruangan itu.
Zhuo Xia duduk di meja dengan satu kursi di depannya. Sedangkan Yu Bin duduk di meja bulat dengan empat kursi lainnya.
Karena Ling mengerti maksud Zhuo Xia, ia langsung berjalan ke mejanya.
Keempat orang itu juga menuju Yu Bin, saat Yu Bin memberi kode dengan tangannya. Dengan begitu mereka bisa makan bersama dan mengobrol.
Zhuo Xia menatap Ling. Ia tersenyum dan berkata, "Terimakasih telah membantu misi kami."
Ucapannya serius dan hangat dalam bersamaan. Sebenarnya perbuatan Ling harus mendapat penghargaan militer karena membantu meledakkan markas Pegasus. Namun dia masih seorang siswa sekolah. Maka dari itu, Zhuo Xia hanya bisa mentraktirnya.
Ling sedikit terkejut. Meski begitu, ia kembali tenang. Ia berpikir, bahwa dia juga akan mentraktir Zhuo Xia dan Yu Bin lain kali karena mereka juga sudah membantunya.
Ling hanya menanggapi Zhuo Xia dengan tersenyum. Kemudian ia langsung makan dengan lahap. Ia benar-benar lapar setelah pulang dari sekolah.
Zhuo Xia mengabaikan sumpitnya. Ia hanya menatap Ling makan. Hampir setengah makanan di meja dihabiskan oleh Ling. Melihat Ling yang antusias, dia juga mulai makan.
Selain lapar, Ling tidak ingin berbicara lebih jauh dengan Zhuo Xia. Ia merasa sedikit canggung. Jadi ia memilih makan dengan lahap.
"Aku pikir kau vegetarian," ucap Zhuo Xia tiba-tiba saat Ling melahap habis paha ayam gorengnya.
Ketika itu, Ling berhenti sejenak. Ia menyeka mulutnya dengan tisu.
"Kau salah orang. Aku pemakan segala," ucap Ling. Ia kembali makan paha ayam goreng lainnya.
Di tengah makan, ponsel Zhuo Xia berdering. Tepat satu deringan, dia langsung mematikannya.
"Mengapa tidak kau angkat?" tanya Ling.
"Tidak penting," jawab Zhuo Xia singkat. Kemudian ia lanjut makan.
Setelah itu, ponsel Ling juga berdering. Saat melihat nama penelepon, ia segera permisi dengan Zhuo Xia dan mengangkatnya.
Brak!
Zhuo Xia membanting sumpit. Lima orang di meja sebelah menahan napas. Walau mereka terlihat asik dengan obrolan mereka, mereka tetap mencuri pandang ke meja Ling dan Zhuo Xia.
Yu Bin menghampirinya.
"Kau ingin minum?" tanya Yu Bin memegang segelas anggur.
Zhuo Xia tanpa ragu langsung meminumnya. Ia bahkan meminta satu botol lagi kepada pelayan. Rasanya ia sudah lama tidak minum sejak kejadian itu.
Zhuo Xia sudah menghabiskan satu botol saat Ling kembali. Saat ia ingin meminta botol kedua, Ling menghentikannya.
"Jangan minum lagi," ucap Ling. Ia melihat Zhuo Xia masih tersadar setelah minum satu botol. Ling cukup takjub.
"Kenapa?" tanya Zhuo Xia. Tatapannya pada Ling sulit diartikan.
"Karena aku tidak ingin temanku sakit," jawab Ling.
Zhuo Xia membeku. Ia memainkan jarinya di atas meja.
"Jika aku temanmu, kau harus memanggilku Xia," ucap Zhuo Xia setelah sedikit lama.
"Baiklah," jawab Ling. Kini ia lanjut memakan makanan penutup. Ia mengambil puding yang terlihat sangat lezat.
Sedangkan lima orang di sebelah mereka mulai bisa bernapas lega.