
Kedua penjaga kembali ke kediaman Keluarga Chen. Mereka menyerahkan kotak hadiah pada Nyonya Chen dan Chen Kai, "Nyonya dan Tuan Muda mengapa memberikan barang berharga ini pada Chen Ling? Bahkan ia tak tahu benda apa itu."
"Jadi dia tidak menerimanya? Simpan saja batu itu. Mungkin memang dia tak tahu betapa berharganya batu itu. Aku sendiri yang akan menemuinya nanti," tanya Chen Kai mencengkram erat gelasnya. Dia belum menyerah untuk merekrut Ling.
"Baiklah, mari kita bicarakan masalah lain. Aku sudah mengirim seseorang ke Keluarga Gao. Yang terpenting yang harus disiapkan kali ini adalah acara pemotongan batu. Keluarga Cheng menemukan master batu. Aku ingin tahu siapa itu," ucap Chen Kai lagi.
"Untuk apa peduli? Tak ada yang bisa dibandingkan denganmu," ucap Nyonya Chen sambil menuangkan teh.
Chen Kai tersenyum tipis.
*
Asosiasi Dewa Ramuan.
Cheng Rui menemui Zhuo Shiaonian, "Sepertinya Nona Zhuo Shiaonian sama sekali tak terkejut dengan masalah Chen Ling."
Ekspresi Zhuo Shiaonian tetap datar, "Saat aku terkejut, Nona Cheng juga tidak tahu."
"Benar juga," jawab Cheng Rui. Dia berdiri.
"Aku akan pergi ke keluarga lain. Sampai jumpa di acara judi batu," ucap Cheng Rui.
"Baik," jawab Zhuo Shiaonian mengangguk dan tersenyum.
Cheng Rui keluar dari pintu. Senyumnya menghilang dan dia terlihat sedang berpikir. Zhuo Shiaonian seolah tahu hal ini akan terjadi.
"Cheng Lan, Kepala Keluarga Bai berhasil menemui Nona Mei tadi?" tanya Cheng Rui.
"Benar. Aku penasaran apakah Kepala Keluarga Bai memang mengenal Nona Mei," jawab Cheng Lan.
"Chen Ling ini jelas bukan orang biasa," ucap Cheng Rui menatap Cheng Lan.
"Ya, Nona. Anda sudah mengatakannya sekali," jawab Cheng Lan lagi. Namun, apa istimewanya orang dari Kota Urban? Rasanya ia ingin sekali menyadarkan Cheng Rui.
*
Di luar akademi bintang.
Mobil hitam berhenti perlahan. Logo di mobilnya membuat siapa pun gemetar.
Wanita itu tak memiliki penjaga. Ia dengan santai keluar mobil. Ia mengambil ponsel dan mengirim pesan.
[Aku di luar.]
*
Saat Ling menerima pesan itu, ia sedang bicara dengan Gao Feng.
"Tuan Muda Chen, aku ingin datang lebih cepat, tapi banyak sekali orang yang menemuiku. Aku tak berani menolak mereka jadi aku datang terlambat," jelas Gao Feng. Sejak kejadian itu, ia menjadi lebih hormat pada Ling.
"Tak apa. Masalah ini memang masih akan bergantung padamu," jawab Ling santai.
"Aku pasti akan menyelesaikannya untukmu," ucap Gao Feng bersemangat.
Orang-orang berpikir ia bekerjasama dengan Mei Mengyi, tapi hanya Gao Feng yang tahu jika semua senjata itu diberikan oleh Ling.
"Ayo pergi. Aku akan mengantarmu," ucap Ling.
Saat itu, ponselnya berdering. Ia melihat itu adalah Mei Mengyi. Namun, ia tak menjawab panggilannya sehingga ia tak melihat pesan sebelumnya.
"Tuan Muda Chen, aku akan pergi sekarang," ucap Gao Feng.
Namun, Ling tak menjawabnya.
Saat ia sadar, Gao Feng tercengang melihat Ling ada di belakangnya. Bahkan ekspresi Ling terlihat terkejut. Gao Feng menjadi lebih terkejut lagi. Biasanya ia mengenal Ling sebagai orang yang tenang. Saat melihat Ling seperti ini, ia agak penasaran.
Kemudian ia melihat ke arah yang dilihat Ling.
Gao Feng menyipitkan matanya. Dengan pencahayaan yang remang-remang, ia dapat melihat seorang wanita tinggi dan ramping. Ia menunduk sambil memutar-mutar ponselnya.
Seolah merasakan tatapannya, wanita itu menoleh. Ketika mata mereka bertemu, Gao Feng merasa tercekat. Ia merasa wanita itu sangat berbahaya.
Untungnya, wanita itu mengalihkan pandangannya ke Ling.
"Paman Gao, aku masih memiliki urusan. Aku mengantarmu sampai sini saja," ucap Ling sambil tersenyum.
Ling berjalan menuju mobil itu. Ia pun tiba di hadapan wanita itu. Ling berkata dengan lembut, "Xia, kenapa kau tak memberitahuku kalau akan datang?"
Jika Ling tak mengantar Gao Feng, berapa lama Zhuo Xia akan menunggu di sini.
Namun sebenarnya Zhuo Xia telah mengirimkan pesan, tapi ia tak menjawab Ling.
"Ayo pergi ke suatu tempat," ucap Zhuo Xia.
Ling membukakan pintu untuknya.
Di belakang mereka, Gao Feng masih kebingungan. Namun, saat melihat logo yang ada di mobil itu, ponselnya terjatuh.
"Tuan, Anda baik-baik saja?" tanya sopir Gao Feng yang bertugas menjemputnya.
Gao Feng mengabaikannya. Ia mengambil ponselnya dan segera menelepon Chen Zhi. Sebelum Chen Zhi sempat bicara, ia berkata, "Apa Anda tahu jika Tuan Muda Chen kenal orang-orang dari Kota Bayangan?"
Ia baru saja mendengar berita tentang Ling. Ia memulihkan keterkejutannya sebelum menjawab, "Tuan Muda Chen yang mana?"
Ia memikirkan Chen Kai.
"Jadi Anda tahu? Sial! Orang dari Keluarga Chen mengenal mereka!" jawab Gao Feng tercengang.
"Bukankah sudah banyak yang tahu? Aku tak menyembunyikannya darimu," ucap Chen Zhi. Kalau tidak, mengapa orang-orang di akademi begitu takut pada Chen Kai? Ia tahu Chen Kai tak sehebat Bai Xiaoqi. Orang-orang hanya takut dengan orang di belakangnya.
"Saat itu Anda memberiku senjata nuklir. Bahkan tanpa Ahli Bom Mei, siapa yang berani mengganggunya?" Gao Feng tak habis pikir. Saat memikirkan kemungkinan identitas Ling, ia merasa iri pada Chen Zhi. Ling tak hanya mengenal Mei Mengyi, tapi juga orang dari Kota Bayangan.
"Ya, tapi Chen Kai tak mau mendengarkanku," jawab Chen Zhi.
"Tuan Chen, apa yang Anda bicarakan? Aku sedang membicarakan Chen Ling, bukan Chen Kai. Tidak lucu jika hal ini terulang kedua kalinya," ucap Gao Feng. Ia masuk ke mobil dan menyuruh sopir menjalankan mobil.
"Dia kenal dengan orang dari Kota Bayangan? Jangan bohong padaku!" ucap Chen Zhi dengan suara serak.
"Wanita itu masih sangat muda. Sepertinya ia pemilik plakat phoenix," jawab Gao Feng lagi dengan suara bergetar.
Chen Zhi tak menjawab. Ia menutup panggilan dan melihat ke depan. Ke arah Chen Kai.
*
Di sisi lain, Zhuo Xia dan Ling tiba di sebuah rumah yang sangat sederhana. Tidak banyak orang di dalam, hanya ada tiga orang yang masih muda dan pria tua berjanggut putih.
Mereka berempat berdiri di dekat meja seperti sedang melihat peta. Saat melihat Zhuo Xia masuk, mereka menyapanya seperti biasa. Namun, saat melihat Ling, mereka membelalakkan mata.
Nona mereka benar-benar membawa seseorang ke markas? Bahkan itu adalah seorang pria?
"Nona Muda," sapa pria tua. Ia segera menyimpan peta yang ada di meja seolah takut Ling melihatnya.
Zhuo Xia memberitahu Ling jika dia akan membawanya ke markas. Ini pertama kalinya Ling datang ke sini. Ia sangat penasaran dan melihat sekeliling untuk mengetahui keadaan markas Zhuo Xia.
"Nona Muda, dia ...," dua orang pemuda dan satu gadis serta pria tua tak dapat menahan rasa ingin tahunya.
Zhuo Xia menjawab dengan lembut, "Lain kali dan seterusnya panggil dia Tuan Muda."
Zhuo Xia tak peduli dengan bom yang baru saja dia jatuhkan. Karena mereka berdua belum makan, Zhuo Xia mengajak Ling ke ruang makan.
Tiga anak muda itu saling pandang karena terkejut. Gadis itu memandang Ling dan berbisik kepada dua pemuda lainnya, "Sial! Apa itu Kakak Ipar? Aku pikir Nona Muda akan menjadi perawan selamanya."
Dua pemuda itu juga sama terkejutnya seperti si gadis.
***
Perjalanan dari Medan ke Aceh kemarin lumayan melelahkan, jadi gak sempat nulis. Satu bab dulu hari ini, okey😁
Balik ke Aceh \= kesibukan bertambah😶
Padahal belum puas pulang ke rumah😖
But, it's okay, i'll do my best😁
Stay safe, stay healthy all❤️
Makasih untuk semua dukungannya🥰