Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Kau Menakutiku


Keesokan harinya.


Setelah pelatihan selesai, Ling pergi ke sekolah seperti biasa.


Ia mengenakan seragam sekolahnya dan menatap cermin. Kali ini ia sedikit merapikan rambutnya. Ia menatap bayangannya di cermin. Wajah yang masih asing baginya ini akan selamanya menjadi wajahnya. Ia tak mungkin hidup lagi seperti dulu. Ia harus menjalani kehidupan sekarang.


Wajah ini sangat bersih, indah seperti giok, juga sedikit polos. Namun matanya hitam, tatapannya tajam dan menakutkan. Dengan sekejap mata, ia merubah tatapan sinis itu menjadi santai.


Ponselnya menyala. Itu adalah pesan dari Liam yang mengatakan bahwa ia sudah menunggu di bawah.


Ia membalas, "Tunggu di sana."


Di lantai bawah, Liam memeriksa ponselnya yang bergetar. Ia membaca pesan balasan dari Ling. Meskipun hanya tulisan, ia sedikit menahan gemetar. Dalam pikirannya, ia memvisualisasikan tiga kata dari Ling.


"Tuan Muda, aku sudah mendaftarkan rekeningmu di bank bursa. Ini adalah akun perdagangan internasional," ucap paman Qian yang ada di belakang Liam.


Liam membalikkan badan dan melihat Ling turun dari tangga. Dia dengan lihai melompat ke bawah.


Setelah sampai bawah, ia membenarkan tasnya. Ia melirik paman Qian. "Terimakasih, Paman."


Di Kota Bayangan, pasar saham sangat terbuka dan banyak orang dari berbagai negara berinvestasi di dalamnya. Biasanya, mereka yang sudah paham saham akan mendaftarkan akun internasional, tapi hanya sedikit yang berani berinvestasi melewati batas negara.


Itu karena pasar saham di setiap negara berbeda. Karena itu banyak yang lebih memilih berinvestasi di pasar saham negara sendiri. Mereka lebih paham dengan negaranya. Taktik yang digunakan di negara mereka mungkin tidak berguna di negara lain.


Namun para jenius saham akan menantang diri mereka dan berinvestasi di pasar saham asing.


"Ayo pergi," ucap Ling. Ia dan Liam pun berangkat ke sekolah.


*


Sekolah Menengah Guxian, Kota Urban. Pagi, pukul tujuh.


Sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang dan pintunya terbuka. Sepasang kaki panjang menjulur keluar dari mobil. Kaki panjang itu melangkah dan turun seorang pria berwajah tampan, dengan rambut dibiarkan tidak terlalu rapi.


Ling memainkan ponsel dengan sebelah tangan dan tangan lainnya berada di saku. Dia mengangkat kepalanya kemudian menatap gedung sekolah. Ia menelusuri ingatan yang di dapat, kemudian bertanya, "Di sini?"


"Tentu saja. Ling apa kau benar hilang ingatan? Untuk apa lagi bertanya?" jawab Liam kelihatan bingung. Ia melirik Ling sambil mengernyitkan dahi.


Mereka pun berjalan menuju gedung sekolah.


Siswa kelas tiga memiliki gedung terpisah. Kelas Ling berada di lantai ketiga sedangkan kelas Liam berada di lantai kedua. Saat mereka menaiki tangga, Liam dengan sengaja mengeraskan volume suaranya saat berbicara dengan Ling.


Kini semua orang tahu. Pria tampan yang ada di sebelah Liam adalah orang yang mereka juluki sampah. Tatapan yang awalnya kagum berubah menjadi menghina. Mereka tidak tahu apapun tentang arena pelatihan karena mereka orang biasa. Jadi mereka belum tahu bahwa Ling tidak seperti yang dulu lagi.


Ling mengabaikan tatapan itu dan masuk ke kelasnya.


Kelas ke sembilan dari lantai tiga adalah kelas terburuk diantara semua kelas tiga. Itu adalah kelas yang dipenuhi dengan siswa pemalas dan nakal. Harusnya mereka sudah mulai persiapan ujian, tapi kelas itu masih terdengar sangat ribut.


Namun ketika Ling masuk kelas itu tiba-tiba senyap. Seperti ada orang yang menekan tombol pause.


Ling menyapu pandangannya ke seluruh kelas. Wajahnya putih, bulu matanya terlihat panjang, dengan rambut yang berantakan. Matanya terlihat dingin dan malas pada waktu bersamaan.


Brak!


Cara ia meletakkan tas, mengagetkan teman sebangkunya, Qi Yuan, yang sedang memainkan game di ponselnya dengan semangat.


Diantara keduanya, yang satu adalah tuan muda yang dijuluki sampah tidak berguna, yang satunya lagi adalah orang biasa dari Keluarga Qi. Satu kelas meremehkan mereka, jadi saat melihat mereka duduk berdua, dianggap cocok.


Yuan mengangkat kepalanya. Ia menatap lebar-lebar orang di depannya. "Apa kau salah tempat duduk?"


"Jika ini adalah tempat duduk Chen Ling," ia menjeda sebentar sambil mengeluarkan buku-bukunya. Ia melirik Yuan dan melanjutkan "Maka aku tidak salah."


Ketika ia mengatakan itu, semua orang menarik napas dengan susah payah. Sedangkan Ling tak peduli dengan tatapan mereka. Ia masih mengeluarkan buku-bukunya.


Yuan tambah melotot saat melihat tindakan Ling. Ia memiringkan kepalanya dan melihat Ling. "Ling apakah kau sudah memutuskan untuk belajar dan tidak ingin menjadi temanku lagi?" tanyanya dengan nada terluka.


Ling masih tidak mempedulikannya. Ia kemudian duduk dan menidurkan kepalanya. Matanya terpejam perlahan. Ia sibuk membuat ramuan dan berkultivasi tadi malam, jadi ia hanya bisa tidur sebentar.


Yuan mengelus dadanya merasa lega. "Jadi kau ingin tidur? Huh kau menakutiku. Aku pikir kau ...,"


"Diam," Ling membuka matanya dan menatap dingin Yuan. Kata-kata Yuan segera tertelan kembali. Ia memilih untuk diam setelah mendengar nada tak bersahabat dari Ling.


Ia kembali memainkan game di ponselnya. Ponsel itu tak terlihat buruk, tapi tak terlihat terlalu bagus seperti ponsel Ling. Sesekali ia melirik Ling saat memainkan game. Hingga beberapa waktu, ia terlalu asyik main game dan tak mempedulikan Ling. Bahkan kata-kata kasar mulai keluar dari mulutnya.


Setelah mati dalam game, ia membenturkan kepalanya ke meja. "Sial! Sial! Kenapa aku mati lagi? Yuan bodoh!" ucapnya merasa frustasi. Ia memukul meja dengan keras untuk meluapkan emosinya.


Ling mengerutkan dahinya. Matanya kembali terbuka karena terganggu dengan suara Yuan. Dia mengangkat kepala dan menatap Yuan dengan tatapan dingin. Kemudian ia mengambil ponsel Yuan dan memainkan game.


Yuan masih berceloteh marah saat Ling mengambil ponselnya. Kemudian ia menatap Ling bingung.


Jarinya terlihat sangat lihai memainkan game, seperti ahli.


Ting!


Ling melewati level dimana Yuan terjebak dengan mudah. Yuan tertegun. Ia mahir dalam memainkan game. Namun game yang ia mainkan kali ini adalah buatan orang dari Kota Bayangan. Setelah levelnya sedikit tinggi, game itu menjadi lebih sulit. Bahkan hanya sedikit orang yang bisa melewati level itu.


Dan Ling melewati level itu dengan mudah?


Tidak hanya sampai di level itu. Ia juga melewati level berikutnya. Hingga ia sampai di level terakhir. Level dimana hanya ada beberapa orang di negara ini yang berhasil melewatinya.


Astaga! Apa yang akan dia lakukan? batin Yuan semakin heran.


Saat berhasil melewati level terakhir, Ling melemparkan ponsel itu ke arah Yuan. "Bisakah kau berhenti mengangguku tidur?"


"Hah?" Yuan masih linglung saat melihat Ling melewati level terakhir.


"Tentu," jawabnya setelah mengumpulkan kesadaran.


Ia menatap hampa ponselnya. Jadi Ling membantunya menyelesaikan game hanya karena dia mengangu tidurnya?