
Zhuo Xia menghidupkan ponselnya. Setelah mengetik sesuatu, ia menunjukkan layar ponselnya pada Tuan Chu.
"Ini nomor telepon Lin Tian. Apa kau ingin bertanya dia keberatan atau tidak jika aku membunuhmu?" ucap Zhuo Xia.
Lin Tian adalah orang yang paling diagungkan di pulau golongan 2. Tuan Chu hanya orang biasa di pulau golongan 2. Tidak mungkin dia kenal dengan orang seperti Lin Tian.
Hanya sedikit orang yang mengenal Lin Tian. Para kepala keluarga itu juga tidak tahu orang seperti apa Lin Tian. Namun mendengar perkataan Zhuo Xia, mereka tahu jika Lin Tian adalah orang paling berkuasa di pulau golongan 2.
Ketika orang biasa di pulau golongan 2 takut dengan Lin Tian, tapi Zhuo Xia malah mengenalnya bahkan memiliki nomor teleponnya.
"Tuan, siapa orang ini? Mengapa dia bisa kenal dengan Komandan Pulau? Bahkan jika Anda ingin bertemu dengannya saja masih harus melakukan banyak prosedur. Apa dia benar-benar memiliki nomor telepon Komandan Pulau?" tanya bawahan Tuan Chu yang tidak bisa melihat layar ponsel Zhuo Xia.
"Katakan padaku mengapa kalian ingin membawanya ke pulau golongan 2?" tanya Zhuo Xia pada Tuan Chu. Ia masih tenang seperti biasa.
"Dia? Dia telah menghancurkan binatang mutasi dari pulau kami. Bagaimana kami bisa melepaskannya? Kami harus membunuh dia untuk dikorbankan pada arwah binatang mutasi kami," jawab Tuan Chu yang melirik ke arah Ling.
"Binatang mutasi? Tidak heran bom besar 2 sampai harus dikeluarkan," ucap Zhuo Xia sambil melihat A Shui.
"Jika kau sudah tahu, kau harus melepaskan kami. Kau lihat pria berjubah hitam itu? Dia adalah keturunan keluarga Lin, Lin Guxi. Kau jangan banyak bicara lagi," ucap Tuan Chu yang mulai mendapat sedikit keberanian.
"Keturunan Lin? Melepaskan kalian? Tidak ada yang bisa keluar dari sini hari ini," Zhuo Xia tertawa kecil.
"Yu Bin, tutup seluruh Kota Bayangan. Katakan pada orang luar negeri yang ada di sini, Kota Bayangan akan kembali dibuka setelah aku membereskan orang-orang ini," ucap Zhuo Xia memberi perintah.
"Siap, Nona!" jawab Yu Bin.
"Baik, Nona!" jawab yang lainnya.
Semua orang bergerak dengan cepat saat mendengar perintah Zhuo Xia.
Zhuo Xia melirik Ling. Ia menarik tangan Ling saat melihat darah di telapak tangannya. Kini matanya memerah. Zhuo Xia pun meremas kuat tangan Ling.
Wajah Ling mengernyit. Meski marah, Zhuo Xia tetap mengendurkan genggamannya. Kini, Tuan Chu lah yang harus menanggung kemarahannya.
"Aku akan memberimu waktu 30 menit untuk menghubungi orang di pulaumu, termasuk komandan pulau. Jika kau masih berani menyentuh orang-orangku, kau hanya akan mendapat satu hasil, yaitu kematian!" ucap Zhuo Xia menatap Tuan Chu.
*
"Tuan Muda Lin, ini adalah panggilan dari kepala keluarga," ucap salah satu bawahan Lin Guxi.
Ekspresi Lin Guxi berubah. Ia pun mengambil ponsel dan mendekatkannya ke telinga. Dari panggilan itu ia mendengar suara kepala keluarga yang sangat marah, "Apa kau sedang berada di Kota Bayangan sekarang?"
"Iya," jawab Lin Guxi. Jantungnya berdegup kencang sekarang.
"Bagus sekali! Kau berani menyentuh wilayah pemilik plakat phoenix? Kau mencari mati?" suara Lin Tian sangat kuat seperti telah memakan mikrofon.
Bagaimana mungkin dia tidak marah?
Zhuo Xia tidak hanya terkenal karena ia menerima plakat phoenix. Ia juga terkenal karena kekejamannya di medan perang tahun lalu. Ia membuat orang-orang bergetar karena aksinya. Bahkan orang seperti Lin Tian saja harus sopan dan hormat padanya, tetapi bawahannya malah menyinggung Zhuo Xia.
Mendengar ini, Lin Guxi melirik ke arah Zhuo Xia.
"Aku lupa memperkenalkan diri. Aku dari Keluarga Zhuo," ucap Zhuo Xia santai.
Tuan Chu yang masih bisa mendengar pembicaraan Lin Guxi dari telepon juga berpikir sejenak. Sebenarnya tidak masalah jika dia bermarga Zhuo. Namun, plakat phoenix itu bukan hal biasa.
Tuan Chu menelan ludah. Sebelum dia datang, dia sudah diperingatkan oleh atasannya agar tidak menyinggung pewaris plakat phoenix. Karena itu, dia harus sesegera mungkin membawa Ling agar tidak bertemu dengan Zhuo Xia.
Namun ternyata semua terasa kebetulan. Ia belum sempat membawa Ling dan dia bertemu Zhuo Xia. Jika dilihat lagi, Ling sepertinya mengenal Zhuo Xia.
Seluruh tubuh Tuan Chu lemas. Ia tidak punya tenaga lagi untuk berdiri. Ia sangat pasrah dan bertanya, "Nona Zhuo, mengapa Anda bisa ke sini?"
Tuan Chu menatap Ling dan Zhuo Xia yang sedang menatap Ling. Kini perasaannya campur aduk. Melihat tatapan Zhuo Xia pada Ling, ia tahu jawabannya.
Kakak ipar?
Kali ini harapan Tuan Chu benar-benar pupus. Ia merasa tidak ada lagi yang bisa menyelamatkannya.
Namun Zhuo Xia tak berniat melepaskan mereka. Ia membuka ponsel dan menghubungi satu nomor. Ia menyeringai dan berkata pada Tuan Chu, "Katakan padaku kau ingin mati dengan cara apa?"
Bahkan Lin Tian tidak berani ikut campur dengan Zhuo Xia. Jika dia ikut campur, dia juga akan mati seperti yang lainnya.
Kini semua orang hanya bisa mengangumi Ling dan Zhuo Xia. Apalagi Yu Bin. Dia berasal dari kota yang sama seperti Ling. Sejak ia mengenal Ling, ia menjadi lebih hormat.
"Tuan Muda, Nona, mari kita bicarakan sesuatu," ucap pimpinan tetua pada Zhuo Xia dan Ling.
*
"Tuan Muda, kenapa kau datang? Jika saja Nona Zhuo tidak datang tepat waktu, kau pasti akan ...," ucap pimpinan tetua. Kini mereka sudah masuk ke ruang keluarga. Tidak ada orang lain lagi yang berani masuk, termasuk tetua lain dari Keluarga Bo.
"Jika aku tidak kembali, apa Anda pikir Anda masih hidup?" tanya Ling pada pimpinan tetua. Ia tersenyum dan mengeluarkan kotak dari tasnya.
"Tidak apa-apa jika aku mati. Selama Tuan Besar belum kembali, tugasku adalah melindungimu sampai akhir," jawab pimpinan tetua.
Ling membuka kotak itu dan mengeluarkan sebilah pedang. Ia mengangkat pedang itu dan berkata, "Pimpinan tetua, apa Anda mengerti?"
Itu adalah sebuah pedang panjang.
Saat melihatnya, pimpinan tetua bisa merasakan aura kuat menguar dari pedang itu. Pimpinan tetua melebarkan matanya? Apa yang harus ia mengerti? Ia hanya tahu jika itu adalah sebuah pedang. Ia tidak mengerti hal lain lagi.
Ling tidak menjelaskan. Ia hanya tersenyum.
Ling menunduk dan membuka tas. Matanya menyimpan kilatan tajam. Ia mengeluarkan sebuah topeng dan jubah.
Kemudian, ia memakai topeng dan jubah itu.
Seketika auranya berubah.
Ia berkata pada pimpinan tetua, "Apa Anda sudah mengerti sekarang?"
Pimpinan tetua tidak mengalihkan pandangannya sama sekali. Ia memang mengerti sekarang. Namun apakah ini benar-benar nyata? Bagaimana mungkin ia tak mengenali topeng dan jubah itu?
Raja Legendaris tidak pernah menunjukkan wajah aslinya. Di depan orang-orang, topeng dan jubah menjadi ciri khasnya.
"A Shui, beritahu yang lain untuk menungguku di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya," perintah Ling pada A Shui dari telepon.
Setelah itu, Ling membuka jendela dan melompat meninggalkan rumah Keluarga Bo.
Yang tersisa di ruangan ini hanya pimpinan tetua yang terpaku dan Zhuo Xia. Pimpinan tetua benar-benar tidak bisa percaya. Ia berkata, "Nona Zhuo ... itu ... benarkah ... Tuan Muda, dia ...."
Zhuo Xia menatap pimpinan tetua. Ia tidak terkejut dan wajahnya juga sangat datar. Zhuo Xia tidak menjawab dan keluar ruangan. Ia menatap sekelompok orang yang masih berdiri di luar.
Saat melihat Zhuo Xia keluar sendiri, mereka semua bertukar pandang. Kemudian Tuan Besar Zhuo bertanya, "Di mana Tuan Muda?"
"Dia punya urusan lain," jawab Zhuo Xia.
"Karena kalian semua masih ada di sini, mari kita bahas masalah luar negeri," ucap Zhuo Xia melanjutkan.
Mereka semua patuh. Tidak ada yang berani menolak Zhuo Xia.
"Nona, Lin Guxi masih menunggu Anda," ucap Ketua Dai yang baru saja masuk.
"Katakan padanya, jika dia tidak ingin mati, maka pergilah," ucap Zhuo Xia dingin. Dia menarik kursinya dan duduk.