Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Rendah Hati dan Tidak Sombong


Dia adalah seorang Zhuo Shiaonian. Keluarga Shi harus memohon padanya untuk menyelamatkan seseorang. Bahkan, mereka belum tentu akan dibantu. Namun, saat Zhuo Shiaonian berhadapan dengan Ling, Zhuo Shiaonian kelihatannya terpojokkan.


Di luar, tidak hanya Nyonya Shi, tapi orang-orang dari Keluarga Shi yang berada di sana juga ingin tahu. Mereka belum pernah mendengar nama keluarga Chen yang terkenal. Jadi, mereka tidak terlalu peduli. Bahkan Shi Jiu juga tidak. Namun, mereka tidak menyangka ternyata identitas Ling sangat tertutup.


Mendengar pertanyaan ibunya, Shi Jiu hanya menggeleng perlahan. Namun, matanya tak pernah meninggalkan rumah itu. Ia melihat sendiri jika Ling sangat akrab dengan Zhuo Shiaonian. Walau ia tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, ia tak peduli. Sekarang, seluruh fokusnya tertuju pada rumah di depannya.


Tak ada yang tahu apa yang dilakukan Ling di dalam. Namun, mereka tetap menunggunya.


Dua jam kemudian, pintu akhirnya terbuka.


Chen Yuai adalah orang yang pertama maju. Ia menatap Ling dengan cemas dan penuh harap. Ia bertanya, "Tu-Tuan Muda Chen, bagaimana keadaannya?"


Ling sedang menyeka tangannya dengan tisu. Ia menjawab dengan santai, "Sudah hampir selesai. Suruh seseorang untuk datang ke Keluarga Xiao nanti. Katakan pada mereka untuk memberikan virus KKR-9. Jika dia meminumnya, dia bisa bangun tiga hari lagi. Ingat, lebih cepat, lebih baik."


"Ah, aku hampir lupa," setelah Ling memberikan perintah, dia hampir melupakan hal penting. Ia segera mengeluarkan balok kayu dari sakunya dan menyerahkannya pada Chen Yuai.


"Bawa ini dan tunjukkan pada Keluarga Xiao," ucap Ling. Setelah itu, ia berbalik untuk memeriksa pasien.


Setelah memastikan kondisi pasien sangat stabil, ia keluar lagi. Ia berkata, "Aku akan tidur. Ingatlah untuk tidak menggangguku, oke?"


Lalu, ia berbalik dan kembali ke kamarnya. Ada puluhan orang yang hadir, tapi tak ada yang yang berani untuk menghentikannya. Mereka hanya bisa melihat sosoknya berangsur-angsur menghilang dari pandangan mereka.


Setelah Ling benar-benar menghilang dari pandangan mereka, yang lain langsung heboh membicarakan Ling. Karena Shi Jiu dan Chen Yuai yang membawanya kembali dari gunung, mereka bertanya pada dua orang itu.


"Aku tidak tahu," jawab Chen Yuai sambil menggeleng. Ia menatap dengan bingung balok kayu di tangannya.


Ia memang pernah melihat Ling mengukir balok kayu ini saat di gunung. Namun, saat itu ia hanya berpikir jika Ling sedang bosan.


Saat tetua Shi melihat tanda di balok kayu itu, matanya berbinar, "Bukankah Tuan Muda Chen menyuruhmu untuk menemui orang-orang di Keluarga Xiao? Ayo, segera pergi! Mungkin saja orang-orang dari Keluarga Xiao mengenalnya dan dia benar-benar bisa menyembuhkan!"


Shi Jiu juga agak terpengaruh. Ia pun segera bersiap untuk pergi ke Keluarga Xiao. Mereka tak ingin menunda lagi. Bagaimanapun, Ling mengatakan jika semakin cepat, semakin baik.


Para tetua dan penjaga ingin ikut dengannya, tapi ia tidak mau. Hanya boleh seorang tetua dan beberapa penjaga yang menemaninya. Bagaimanapun, Keluarga Shi masih memerlukan orang-orang untuk menjaga mereka.


Karena penolakan ini, orang-orang itu merasa kecewa, tapi di detik berikutnya mereka mencoba menenangkan diri. Situasi Keluarga Shi saat ini memang tidak baik. Jadi, sebaiknya hanya beberapa orang saja yang pergi.


*


Kelompok yang diutus setelah sampai di Keluarga Xiao.


Saat mereka tiba di pintu masuk Keluarga Xiao, orang-orang di sana sedang sibuk bersih-bersih, seolah-olah mereka akan melakukan acara besar.


"Anda pasti Nona Muda Shi," ucap orang-orang dari Keluarga Xiao yang mengenal Shi Jiu sebagai murid tertua Tuan Shangxuan. Nada mereka sangat hormat.


"Orang besar dari Keluarga Xiao akan datang. Kepala Keluarga Xiao memerintahkan kami untuk menyambutnya dengan baik," ucap orang itu.


Jika itu dulu, Keluarga Shi pasti akan penasaran. Namun, saat ini mereka sedang dalam bahaya. Jadi, mereka tidak peduli dengan orang besar itu.


Kelompok itu menemui manajer Keluarga Xiao. Ia sama sibuknya seperti Nona Muda dan Kepala Keluarga Xiao. Ia berada di laboratorium setiap hari. Bagaimana ia bisa punya waktu untuk bertemu orang lain?


Namun, saat mendengar tujuan Keluarga Shi, ekspresi Manajer Xiao langsung berubah. Ia mengerutkan kening dan menatap tajam tetua Shi, "Bagaimana Anda bisa tahu tentang virus KKR-9?"


Itu adalah sesuatu yang baru saja dikembangkan oleh keluarga mereka.


Melihat ekspresi Manajer Xiao, tetua Shi mengerutkan kening. Ini sangat berbeda dengan tindakan Ling.


Tadi, Ling mengatakan ini dengan sangat percaya diri, sehingga dia mengira Ling sangat hebat. Namun, saat ia melihat tatapan tajam Manajer Xiao, dia sepertinya tidak mengenali balok kayu ini. Tetua Shi berpikir keras.


Tidak hanya dia, Shi Jiu juga merasa agak ragu.


Ekspresi Manajer Xiao terlihat semakin serius, "Masalah ini berhubungan dengan rahasia keluarga kami. Nona Shi, tolong tunggu sebentar. Dan untuk pemuda yang memberi Anda informasi itu, segera bawa dia ke Keluarga Xiao."


Terlihat jelas jika masalah ini tidak akan berakhir damai. Tepat saat Shi Jiu akan berbicara, seseorang masuk. Sepertinya itu adalah tetua Keluarga Xiao.


"Bawa seseorang? Apa yang terjadi dengan Nona Shi?" tanya tetua itu.


Manajer yang melihat jika itu adalah tetua keluarga mereka, ia langsung membungkuk dan menjawab dengan hormat, "Tetua, informasi tentang virus KKR-9 kita telah bocor. Orang yang memberikan balok kayu ini adalah dalangnya. Saya bisa menangkap dan menginterogasinya."


Dia mengeluarkan balok kayu yang diberikan tetua Shi sebelumnya.


Saat mendengar jika itu ternyata tentang virus KKR-9, ekspresi tetua berubah serius. Namun, saat menerima balok kayu itu, tangannya gemetar hebat.


"Tetua?" manajer mencoba menyadarkannya.


Tetua melompat mundur karena terkejut. Ia berkata dengan marah, "Apa maksudmu 'tetua'? Cepat ke laboratorium! Ambil virus KKR-9 itu dan langsung serahkan kepada Nona Shi. Menangkapnya? Apa kau masih ingin tinggal di Keluarga Xiao?!"


*


Kelompok dari Keluarga Shi yang diutus ke Keluarga Xiao sudah kembali.


Orang-orang di sana fokus ke kotak kayu yang dibawa Shi Jiu. Di atas kotak itu terukir kata 'Xiao'.


Semua orang terdiam.


Saat ini, orang-orang yang tadinya masih membicarakan Ling, sekarang mereka tidak berani melanjutkan lagi. Ketika mereka melihat ke arah kamar Ling, mereka langsung merasa merinding.


Beberapa saat kemudian.


Undangan dari Keluarga Xiao tiba. Itu adalah undangan yang diantar langsung oleh tetua Xiao. Ada dua undangan. Satu untuk Keluarga Shi dan satu lagi untuk Ling.


"Nona Muda kami masih dalam pengasingan dan tidak bisa menemui Tuan Muda Chen secara langsung," ucap tetua Xiao.


Tetua sudah meminum dua gelas teh. Sebelum ia pergi, ia mempertanyakan hal yang sejak tadi dia tahan, "Nona Muda Shi, di mana Tuan Muda Chen?"


"Dia sedang istirahat. Dia pergi bersama kami tadi malam dan belum ada tidur. Jika Anda ingin melihatnya, saya akan ...," jawab Shi Jiu dengan lembut sambil melirik undangan di atas meja.


"Tidak perlu, tidak perlu. Karena Tuan Muda Chen sedang beristirahat, biarkan dia beristirahat dengan tenang. Jangan ganggu dia," ucap tetua Zhuo. Ketika mengetahui jika Ling sedang beristirahat, tetua Xiao segera berdiri dan melambaikan tangannya. Kemudian, ia pergi.


Shi Jiu sama sekali tidak terkejut.


Saat ia berada di Keluarga Xiao tadi, ia bisa merasakan jika tetua ini sepertinya takut pada Ling.


*


Ketika Shi Jiu berbalik, ia melihat bibinya yang begitu kurus memasuki rumah. Ia berlari lurus menuju kamar Ling seolah-olah dia tidak melihat Shi Jiu.


Shi Jiu pun langsung menarik tangannya, "Apa yang akan Anda lakukan?"


"Tuan Muda Chen bisa menyelamatkan seorang penjaga. Ia pasti juga bisa menyelamatkan anakku. Aku akan memintanya untuk menyelamatkan anakku," ucap bibi Chen meraih tangan Shi Jiu. Matanya penuh harap.


Namun, Shi Jiu tiba-tiba teringat saat pertama kali ia datang ke Keluarga Shi. Ling pernah memeriksa denyut nadi sepupunya.


"Bibi, ketika Tuan Muda Chen ingin memeriksa sepupu, apakah Anda menghentikannya?" tanya Shi Jiu.


Bibi Chen yang mengingat ini langsung membeku.


Memikirkan ini, Bibi Chen menunduk.


Shi Jiu tahu jika tebakannya benar. Ia berkata, "Tunggu sampai Tuan Muda Chen bangun. Aku akan membantu Anda menjelaskan, tapi jangan terlalu berharap."


"Kau adalah sepupunya! Siapa yang tidak ingin menyelamatkan sepupunya?" wanita itu mencengkram lengan Shi Jiu dengan sangat erat.


"Kaulah yang membawanya ke Keluarga Shi. Kalau kau bicara padanya, mana mungkin dia tidak mau menyelamatkan sepupumu! Apa kau ingin sepupu mati jadi kau bisa mewarisi Keluarga Shi?!" ucap wanita itu dengan mata memerah.


"Bibi!" Shi Jiu tidak pernah menyangka akan mendengar ucapan itu dari bibinya sendiri. Orang-orang yang ada di sana yang mendengar ini juga tercengang.


Shi Jiu pun mencoba menenangkan diri dengan menarik napas dalam-dalam. Lalu, ia berkata, "Tuan Muda Chen adalah tamu Guruku. Dia telah menyelamatkan seseorang dan seluruh Keluarga Shi."


Namun, Bibi Chen mengabaikannya. Ia hanya meliriknya dan langsung pergi.


Kejadian ini membuat para penjaga semakin waspada. Mereka langsung mengawasi Bibi Chen karena takut ia benar-benar akan melakukan hal bodoh.


Keluarga Shi dibagi menjadi dua tingkatan. Seluruh Keluarga Shi memiliki identitas yang berbeda. Shi Jiu fokus pada ramuan. Dan kekuatan yang sebenarnya, sebenarnya berada di tangan sepupunya.


*


Saat Bibi Chen kembali ke rumahnya, ia menemui beberapa orang yang dia percayai.


Setelah mendengar cerita Bibi Chen, salah satu dari mereka tak bisa menahan diri. Ia mengerutkan kening dan berkata, "Dia lebih memilih menyelamatkan penjaga Nona Muda kedua daripada menyelamatkan Tuan Muda pertama? Ini keterlaluan! Nona Muda kedua jelas memiliki niat buruk!"


Bibi Chen kembali mencibir, "Mereka masih mencoba menindas kami, janda dan anak yatim."


"Orang itu bernama Chen Ling? Aku belum pernah mendengar tentang dia sebelumnya," ucap seseorang sambil berpikir.


Tak hanya dia, yang lainnya juga tidak pernah mendengar tentang Ling.


"Ayo kita temui pemuda yang sedang kita bicarakan ini. Mengapa kita tidak mengikatnya saja agar mau merawat Tuan Muda kita? Apa dia pikir kami sudah mati?!" seorang pria kekar membanting meja dengan penuh emosi.


Saat yang lain mendengar ini, hati mereka semakin panas. Emosi di kepala mereka semakin meningkat. Jika Tuan Muda pertama mati, maka mereka harus bergantung pada Nona Muda kedua. Ini bukan hal yang mereka rencanakan.


"Jangan," ucap salah satu tetua yang sejak tadi tenggelam dalam pikirannya. Ketika ia mendengar keputusan mereka, ia segera mengangkat tangan.


"Jangan main-main dengannya. Menurutku, masalah ini tidak sederhana. Chen memang bukan nama keluarga besar, tapi apakah kalian lupa insiden besar yang terjadi di Kota Bayangan setahun yang lalu? Takutnya, Tuan Muda Chen yang ini adalah pemuda yang sama," ucap tetua itu menjelaskan kekhawatirannya.


"Kota Bayangan?" yang lain hanya meliriknya dan tidak mendengarkan.


Mereka segera mengumpulkan anak buah mereka dan pergi menuju kamar Ling. Mereka membawa hampir seluruh penjaga yang mereka miliki.


*


Di dalam kamar, Ling sudah bangun.


Saat ini, ia sedang melakukan panggilan video dengan A Shui yang sudah lama tidak dia hubungi.


A Shui berada di Kota Seribu Dharma dengan latar dinding seputih salju di belakangnya. Ia juga sudah mendengar keributan di luar yang berhubungan dengan nama Ling.


Ia mengangkat alisnya dan bertanya, "Apakah seseorang di luar sana mencoba mengganggumu?"


Ling melirik ke jendela yang terbuka. Ketika mendengar pertanyaan A Shui, ia bersenandung santai.


"Apa ada masalah? Apa kau ingin kami bergerak?" tanya A Shui serius.


Namun, sebelum Ling sempat menjawab, Mei Mengyi masuk ke dalam video. Ia mengibaskan rambut indahnya.


"Cih, seseorang benar-benar berani menyinggungmu. Mereka pasti gila!" ucap Mei Mengyi.


Saat Ling pergi tahun lalu, ia menggemparkan seluruh luar negeri. Selama setengah tahun, mereka tak berani terlalu mencolok.


Semua orang sibuk menyelidiki seseorang bernama Ling X, sehingga kepergian Ling tidak terlalu menjadi pusat perhatian.


Ling melambaikan tangannya, "Tidak, tidak. Biarkan mereka melakukan apa yang mereka mau."


A Shui mendorong Mei Mengyi dari depan kamera. Ia tidak peduli dengan orang-orang itu. Sebaliknya, ia bertanya tentang hal lain, "Kapan kau akan kembali? Orang-orang di kota sudah sangat lama menunggumu."


Kemudian, A Shui tersenyum, "Ketika kau kembali nanti, aku pasti akan membawamu mengelilingi kota baru."


"Ngomong-ngomong, aku belum pernah mendengar nama 'Kota Seribu Dharma'. Apakah kalian menjadi rendah hati dan tidak sombong?" tanya Ling mengetuk meja.


"Tidak sesederhana itu. Kami menunggu kau kembali," jawab A Shui menggelengkan kepalanya dan menatap Ling dengan serius.


Ling agak terkejut.


A Shui dengan cepat mengubah topik pembicaraan, "Keluarga Bo mengirim dua orang untuk mengundangmu datang ke pertemuan tahunan, tapi kami menolak mereka. Bo Yushen itu juga mengirim seseorang untuk mengundangmu."


"Tidak hanya itu," suara Mei Mengyi terdengar lagi.


"Mereka juga menertawakanmu karena tidak berani kembali ke Keluarga Bo untuk menerima kenyataan. Cih, apakah kau akan kembali kali ini? Pertemuan itu akan dilangsungkan dua bulan lagi. Keluarga Bo benar-benar terus-terusan mengundangmu," ucap Mei Mengyi melanjutkan.


Ling tertawa kecil, "Karena mereka sudah repot-repot mengundang kita, sudah seharusnya kita datang."


Namun, ia juga sangat menantikan untuk melihat seperti apa Kota Seribu Dharma. Juga, Yuan dan yang lainnya harus menyelesaikan masalah di sana terlebih dahulu.


Memikirkan hal ini, Ling mengakhiri panggilan video. Ia berbalik untuk melihat keributan di luar kamar.


*


Di luar, Chen Yuai yang berhadapan dengan Bibi Chen.


"Biarkan Tuan Muda Chen keluar! Dia hanya perlu menyelamatkan anakku," teriak Bibi Chen dengan keras. Ia menatap Chen Yuai dengan arogan dan mencoba menekannya dengan auranya.


Chen Yuai tinggal di sebelah Ling, tentu saja dia mendengar keributan ini. Ia pun langsung keluar dan menghampiri Bibi Chen.


"Anda pikir Anda siapa? Saat itu, Tuan Muda Chen mau membantumu hanya karena dia tidak tega," jawab Chen Yuai menyeringai.


Tak apa-apa jika Bibi Chen bicara baik-baik, tapi sekarang ia ingin menggunakan senjata untuk memaksa Ling. Chen Yuai tak bisa mengabaikan hal ini begitu saja.


"Karena kau bersikeras, jangan salahkan kami bertindak lebih jauh!" ucap Bibi Chen yang tak ingin lagi membuang waktu untuk berbicara dengan Chen Yuai.


Ia melambaikan tangannya, memerintahkan anak buahnya bergerak.


Chen Yuai mengerutkan kening. Ia bersiap untuk mengeluarkan senjata nuklir di sakunya. Ia tahu, saat benda ini keluar, seseorang akan merasa terintimidasi.


Namun, saat ini pintu terbuka.


Orang dari dalam kamar berjalan keluar melawan cahaya. Saat orang yang yang ingin menyerangnya melihatnya, orang itu segera mengulurkan tangan meraihnya. Namun, seberkas cahaya perak menembus dan membekukan tangannya.


Ling mengulurkan tangan untuk mencekik orang itu. Ia menyipitkan matanya, "Hanya level lima, tapi kau berani sombong di depanku? Apa kau cari mati?"