
Chen Wu masih tidak berdaya dengan pikirannya. Walau begitu, ia tetap membaca dokumen.
Ponsel Ling bergetar. Ia menerima e-mail. Setelah membaca dan memeriksa isi e-mail itu, ia meletakkan ponselnya di meja. Ia tak memasukkan kembali ke sakunya. Tangannya kembali dikaitkan. Ia kembali duduk dengan tenang.
Chen Wu sudah selesai membaca dokumen. Awalnya Chen Wu hanya membaca untuk formalitas. Ia tahu Ling tak pernah belajar bisnis. Bagaimana bisa dia membuat proposal?
Namun ekspresinya berubah setelah beberapa menit. Ia kembali membaca dokumen dengan tangan bergetar.
Liam dan Yuan yang melihat ini kebingungan. Mereka melihat satu sama lain dengan tatapan heran, kemudian mengalihkan pandangannya pada Ling. Mereka semakin terkejut.
Saat Chen Wu ingin membaca yang ketiga kalinya, Ling mengulurkan tangan dan mengambil proposal itu. Kemudian ia menyimpannya ke dalam tas.
Chen Wu kaget dibuatnya.
Ling bangkit dari duduknya dan memakai tas, "Sepertinya Paman telah mengerti isi dokumennya."
Ia kemudian menggeser kursi dan bersiap pergi. Ia melangkah ke arah pintu. Saat jarinya mendarat di pegangan pintu, ia teringat sesuatu. Ia tak berbalik menoleh. Ia hanya mengatakannya dengan santai, "Oh ya, Paman. Aku dengar Anda membuka area baru. Apa Anda ingin membuka bisnis sendiri?"
"Dan kepada siapa Anda berpihak," Ling menoleh sedikit dan tertawa kecil. "Aku pikir Paman akan membuat keputusan yang bijak."
Prang!
Cangkir kopi Chen Wu jatuh. Ia melihat kepergian Ling dengan wajah penuh keterkejutan.
Chen Wu merasa Chen Company akan mengalami kemunduran sejak menolak proposal Wuzhou. Karena itu, ia ingin menyelamatkan diri dan memulai bisnis sendiri. Ia bahkan sudah menyimpan rahasia ini dengan sangat baik. Tidak ada teman atau keluarganya yang tahu. Namun bagaimana Ling bisa tahu?
Dia masih duduk di kursinya mencoba menenangkan diri. Namun gagal, jarinya tambah bergetar hebat.
*
Setelah pergi dari restoran, mereka mampir di sebuah gerai ayam goreng. Tempat itu berada di gang kecil rekomendasi dari Yuan.
"Ayam gorengnya sangat enak," ucap Liam setelah mereka selesai makan. Saat ini mereka jalan pulang.
"Darimana kau menemukan tempat seperti itu?" tanya Liam penasaran.
"Aku sering ke sana," jawab Yuan jujur. Awalnya ia mengira, dua anak bangsawan ini tidak mau makan di tempat kumuh. Namun bahkan Liam meminta untuk ke sana lagi lain kali.
Tiba-tiba Liam teringat sesuatu. "Bagaimana kau bisa membuat pamanmu kebingungan dan ketakutan?" tanya Liam yang melirik Ling masih bermain ponsel.
"Ada tradisi di keluargaku. Anak berbakat akan dipaksa bekerja di Chen Company. Seperti ibuku. Ia bekerja dengan sangat keras," ucap Ling. Ada lanjutan perkataannya, tapi ia memilih diam.
Meski begitu, Liam dan Yuan mengerti maksudnya.
"Kau tidak ingin bekerja di Chen Company?" tanya Yuan membelalakkan matanya.
"Aku tidak bisa bekerja di sana karena aku orang biasa dan bodoh dalam belajar. Sedangkan kau tidak bekerja di sana karena tidak ingin?" protes Yuan.
Ling hanya terkekeh dan tak menjawab pertanyaan Yuan.
Saat itu mereka berjalan dalam barisan. Seketika ada hembusan angin yang melewati mereka. Liam tahu itu adalah manusia yang lewat, "Wow! Dia sangat cepat!"
"Sepertinya dia di kejar seseorang. Sayang sekali itu jalan buntu," ucap Yuan yang sudah hapal dengan gang ini.
Tiba-tiba angin kembali berhembus. Kini orang itu berhenti di depan mereka. Ia adalah seorang pria berusia sekitar 30 atau 35 tahun. Sebelum mereka sempat bergerak, orang itu menarik Ling.
Saat itu juga, orang yang mengejar pria itu tiba.
Dia kembali melihat ke depan. Ia lebih khawatir pada Ling. Pria yang menariknya tadi bukan orang sembarangan. Dia adalah buronan dari Kota Bayangan.
"Xia," ucap Yu Bin sambil melirik Zhuo Xia di sebelahnya.
Wanita itu mengenakan kemeja hitam dengan celana baggy. Ia menundukkan wajah dan menunjukkan senyuman khasnya. Kemudian wajahnya terangkat. Ia menatap tajam pria yang menarik Ling.
"Lepaskan dia," ucap Zhuo Xia dingin.
"Lepaskan dia?" pria itu berteriak marah.
"Apa aku bodoh? Jika aku melepaskannya maka kalian akan menangkapku," lanjutnya bicara.
Zhuo Xia masih menatapnya intens. Gerakan dan postur tubuhnya sangat elegan. "Bahkan kau tidak akan bisa pergi jika kau tak melepaskannya."
Suasana berubah menjadi hening. Ketegangan terjadi diantara mereka. Namun tiba-tiba suara tawa lembut terdengar.
"Tunggu dulu," ucap Ling santai meskipun pria itu mengapit lehernya. "Apakah kau mencoba menjadikanku sandera?"
Suasana kembali hening. Mereka tidak berpikir bahwa pemuda itu sangat tenang. Apakah ia terlalu bodoh atau terlalu percaya diri?
Yu Bin dan wanita berjas di belakangnya mengerutkan kening. Mereka tidak pernah suka saat mereka menjalankan misi, ada saja orang biasa yang terlibat. Terkadang orang itu tidak tahu membedakan mana yang bahaya atau tidak.
Orang di depannya adalah buronan dari Kota Bayangan. Ia sudah berada di Kota Urban selama beberapa hari. Namun Yu Bin baru bisa melacaknya hari ini. Sudah bisa membayangkan kemampuan pria itu, kan?
"Sial!" Yu Bin mengumpat.
"Apa kau tidak bisa membedakan kapan menyerah dan kapan harus sombong?" tanyanya pada Ling. Wajahnya menjadi suram Begitu juga dengan para bawahannya.
Dalam kelompok mereka, hanya Zhuo Xia yang tak mengalami perubahan ekspresi. Ia mengamati gerak gerik Ling.
Saat itu, energi berkumpul di tangan kanan Ling. Ia berbalik dan melayangkan tinju di dada buronan itu. Dia mengangkat tas kemudian melemparnya dengan keras ke kepala buronan itu.
Gerakannya cepat, tajam, dan akurat.
Dengan cepat, buronan itu mencoba menghindari serangan Ling. Namun sama sekali tak bisa dihindari. Ia pun memilih untuk menerkam Ling.
Secepat gerakan buronan itu, secepat itu pula Ling bicara, "Aku belum memperkenalkan diriku secara resmi."
Ling melanjutkan, "Namaku adalah Ling. Dan nama belakangku adalah X!"
Deg!
Gerakan buronan itu seketika terhenti. Ia hanya berjarak beberapa sentimeter lagi dari Ling. Pria itu membeku sejenak. Beberapa detik kemudian ia segera tersadar dan ingin melarikan diri.
Brak!
Seorang wanita anggun muncul di depan Ling dan menendang buronan itu. Buronan itu terbanting dengan keras.
Wanita di depannya berdiri melawan cahaya matahari. Ling dapat melihat jelas punggungnya yang terlihat dingin dan kesepian, tapi tetap beraura bangsawan.
Ling mengerutkan keningnya. Satu pukulan Ling tak mempengaruhi buronan itu. Namun dengan satu tendangan Zhuo Xia, ia tak menyangka, buronan itu langsung terjatuh dan tak bisa bangkit.
"Aku harap kita bisa bekerjasama dengan baik," ucap Ling. Matanya bertemu langsung dengan mata Zhuo Xia. Ia tersenyum hangat kemudian memuji, "Keterampilanmu cukup bagus."
Zhuo Xia membalas senyuman Ling. Ia memperdalam tatapannya, "Kau juga tidak terlalu buruk."