
Ling meregangkan tubuhnya. Kemudian ia berkata kepada pimpinan tetua, "Kalian bicarakan dulu hal penting itu. Aku akan kembali."
Setelah itu, Ling berbalik pergi.
Sebenarnya orang-orang di sana ingin menahannya untuk bertanya. Siapa sebenarnya orang besar yang ada di belakangnya? Mengapa Ling begitu dihormati?
Namun, mereka tak menghentikan Ling.
*
Ling kembali ke kediaman Keluarga Chen. Saat ini, Chen Lin sedang dirawat Lingxi di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Jadi, Ling berjalan ke area belakang untuk menemui Liam.
"Sial! Ling kau sangat keren! Bahkan kata keren saja tidak cukup! Aku menyesal mengapa aku memilih membuat ramuan hari ini. Jika tidak, aku pasti bisa melihat aksimu," ucap Liam dengan mata berbinar saat melihat Ling.
Suara Liam sangat keras hingga menusuk telinga. Ling dengan santai melempar sepotong apel ke mulut Liam. Dia berkata, "Diam!"
Liam mengeluarkan apel itu. Ia melihat Ling yang ekspresinya sangat tenang. Ia memakan apel dan menarik napas dalam.
"Ling, mengapa kau bisa sesantai itu? Sekarang semuanya meledak," ucap Liam yang masih merasa sangat gembira.
Ling menghela napas. Ia berkata, "Ya, baiklah. Jadi ada apa kau menemuiku?"
"Ah, hampir saja aku lupa," jawab Liam. Kini ekspresinya menjadi serius.
"Tuan Besar Keluarga Lu memberikan ramuan ini padamu. Ia bilang ini sebagai permintaan maaf. Dan adalagi seorang wanita berjubah coklat datang ke sini untuk bertemu denganmu. Dia adalah guru Bo Hongyun. Wanita itu sangat kuat," Liam menjelaskan dan memberikan ramuan dari Tuan Besar Lu.
Ling menerima ramuan itu dan melihat isi di dalamnya. Setelah mencium aromanya, ia tersenyum tipis. Ia bergumam, "Menarik."
Kemudian, ia meletakkan ramuan itu dan menatap Liam, "Bo Hongyun memiliki guru? Apa ia belajar ramuan?"
Dari awal Ling sudah menebak ini. Ia sudah menghancurkan energi di dalam tubuh Bo Hongyun hingga dia tidak bisa lagi menjadi kultivator. Jika dia memaksa, maka dia akan mati.
Jika sekarang Bo Hongyun belum mati, berarti ia tidak berlatih menjadi kultivator lagi, melainkan ramuan.
"Sepertinya begitu. Saat ia datang dengan wanita itu, ia tampak lebih sehat. Sepertinya ia selalu mengonsumsi ramuan," jawab Liam.
"Baiklah, abaikan saja mereka," ucap Ling.
Ling jarang tersenyum hangat, tapi saat Liam melihatnya kali ini, ia malah merinding.
*
Keesokan harinya, di Keluarga Bo.
"Apa? Ada seorang kultivator yang mencari Tuan Muda? Apa yang akan dia lakukan?" tanya pimpinan tetua terkejut saat mendengar laporan penjaga.
"Pimpinan tetu, itu adalah ahli level 7 dari pulau golongan 2," jawab penjaga itu. Ia gemetar karena ketakutan.
"Nona Shin mencoba menghentikan ahli itu. Namun sia-sia saja. Bahkan tatapan orang itu langsung menjatuhkan Nona Shin," ucap penjaga itu lagi.
"Apa?" pimpinan tetua sangat terkejut. Ia pun bangkit dan menuju pintu.
Sedangkan di depan pintu, ahli level 7 itu hanya mengamati pimpinan tetua. Kemudian, ia berkata, "Chen Ling menghancurkan binatang mutasi kami. Aku akan membawanya ke pulau dan Tuanku akan menanganinya."
"Anda ingin menyerahkannya pada mereka? Tuan Chu, binatang mutasi itu ingin menghancurkan Kota Bayangan kami. Jadi, tidak salah kami menghancurkan binatang itu," jawab Tuan Besar Wei yang ada di sana.
"Tidak ada yang namanya kerjasama! Tuan Muda menyelamatkan kami tapi Anda ingin kami menyerahkannya pada kalian? Itu tidak mungkin!" ucap Tuan Besar Zhuo yang juga ada di sana.
"Benar! Apa Anda pikir orang-orang di Kota Bayangan sudah mati?" ucap Tuan Besar Zhao yang baru saja datang.
Orang-orang dari pulau golongan 2 memang sangat sombong. Mereka menganggap diri merekalah yang paling kuat. Jadi, mereka tidak akan merasa bersalah saat membuat binatang mutasi menghancurkan sebuah pulau atau negara.
Tuan Besar Zhao awalnya sangat takut. Namun ia tak menyangka jika kepala keluarga lain juga datang ke sini. Ia melihat mereka tersenyum dengan tulus.
"Aku belum pernah merasa sangat bersemangat seperti ini," ucap Tuan Besar Zhuo. Walau ia tahu peluang hidupnya kecil, tapi ia tidak goyah sama sekali.
"Hey, Tuan Wei. Aku tidak pernah melawan orang dari pulau golongan 2. Sekarang aku memiliki kesempatan itu dan aku tidak akan menyia-nyiakannya," ucap Tuan Zhuo lagi.
"Benar sekali," jawab Tuan Wei. Ia mengeluarkan senjatanya dan tertawa.
"Karena kalian sangat bersemangat untuk mati, maka aku akan mewujudkannya," ucap Tuan Chu. Ia mengeluarkan gas dari dalam jubahnya dan menyemprotkan ke seluruh ruangan.
"Kau mencariku, kan? Lalu mengapa kau menyakiti orang yang tidak bersalah?" muncul sebuah suara yang mendekat.
Sekarang, semua orang melihat sosok berpakaian hitam itu berjalan ke arah mereka. Pimpinan tetua berseru, "Tuan Muda, mengapa kau ada di sini?"
Tuan Chu berhenti menyemprot gas, tapi Tuan Besar Wei sudah terluka. Ia mengeluarkan seteguk darah. Dengan tenaga yang masih tersisa, ia berkata, "Tuan Muda kau sangat berbakat. Dengan bakatmu yang dikembangkan, suatu saat kau bisa pergi ke pulau golongan 2 untuk membalaskan dendam kami."
"Benar! Jika sesuatu terjadi padamu, Zhuo Xia pasti akan menguliti kami hidup-hidup," ucap Tuan Besar Zhuo.
Tuan Chu masih mengamati Ling. Kemudian, Ling mengangkat kepala dan matanya langsung bertemu dengan Tuan Chu.
*
Sementara itu di atas langit, di dalam sebuah jet tempur.
"Tuan, apa Anda yakin dia adalah orang yang kita cari?" tanya seorang pemuda.
"Aku sangat yakin. Apa kau lihat di sana? Itu adalah Tuan Besar Zhuo. Ia salah satu ahli terbaik di Kota Bayangan," ucap pria berjubah hitam.
"Ahli terbaik? Ahli terbaik di Kota Bayangan hanya penjaga biasa di pulau kita," ucap pemuda itu angkuh.
"Senjata nuklir biasa? Sistem keamanan yang lemah? Mereka bahkan tidak tahu kita ada di sini, tapi mereka sangat sombong saat menghancurkan binatang mutasi kita," ucap pria berjubah hitam itu penuh ejekan.
Yang lain juga ikut tertawa saat melihat ke bawah. Mereka menatap penuh dengan rasa jijik. Bagi mereka yang kebanyakan ahli level 5 dan 6, orang-orang di Kota Bayangan mereka anggap enteng.
"Tuan Chu, apakah pria itu?" tanya pemuda yang baru saja lompat dari jet tempur. Ia langsung menghampiri Tuan Chu.
"Benar. Bawa dia dan biarkan dia bertanggungjawab pada Tuan kita," ucap Tuan Chu yang sudah malas melihat ke arah Ling.
"Kau dari pulau mana?" tanya Ling. Dia berjalan menghampiri pimpinan tetua dan kepala keluarga lainnya. Ia menatap wajah Tuan Chu dengan tenang.
"Kami? Kau hanya orang biasa dan tidak berhak tahu asal kami. Lebih baik kau ikut dengan patuh. Kalau kita bertarung, siapa yang tahu berapa banyak lagi orang tak bersalah akan terluka?" ucap pemuda itu yang sudah tidak sabar. Ia mengeluarkan auranya dan membuat kepala keluarga lainnya mundur.
"Pergi dengan kalian?" tanya Ling. Kini ia berjalan ke arah pemuda itu. Ekspresinya sangat tenang, tapi orang-orang yang sudah mengenalnya tahu betapa mengerikannya ekspresi ini.
"Lebih baik kau berperilaku baik. Kau sendiri yang memintaku untuk tidak sabar," ucap pemuda itu semakin meremehkan Ling. Ia langsung menyerang Ling dengan gerakan secepat angin.