Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Kesombongannya Akan Hancur


Pusaran air berhenti secara perlahan. Ia kembali ke putaran normalnya. Cahaya juga mulai meredup. Bahkan lama kelamaan menghilang.


Pimpinan tetua membeku di tempatnya. Ia menatap kosong ke arah guci itu. Dalam pikirannya saat ini guci itu rusak.


Memang benar garis keturunan Bo Minghao sangat baik. Namun bukankah Chen Lin hanya orang biasa? Bagaimana bisa Ling memiliki garis keturunan begitu baik? Bahkan garis keturunannya sangat sempurna. Dari siapa dia mewariskan hal itu?


Ekspresi Bo Hongyun tak jauh beda dengan pimpinan tetua. Begitu juga para murid lainnya. Mereka tak menyangka akan mendapat hasil seperti ini. Padahal sejak tadi mereka menyombongkan darah mereka. Namun mereka sangat jauh jika dibandingkan dengan Ling.


Bagaikan langit dan bumi.


"Anakku memang hebat," ucap Bo Minghao begitu bersemangat. Ia menghampiri Ling dan menepuk pundaknya.


"Chen Ling, garis keturunan dara berwarna ungu," ucap seorang tetua yang bertugas melihat guci. Sebenarnya tanpa dikatakan, semua orang bisa melihatnya sendiri. Bahkan cahaya itu sampai keluar dari atap rumah Keluarga Bo.


Hal ini tentu akan menggemparkan Kota Bayangan.


Pimpinan tetua dan Bo Hongyun tak bisa lagi berkata-kata. Mereka masih saja diam di tempat. Bahkan mereka tak bergerak karena sangat terkejut.


Melihat hal ini, Bo Shin menyadarkan mereka berdua. Ia tahu mereka tak suka dengan Ling.


"Pimpinan tetua," tegur Bo Shin pelan.


"Bo Hongyun," panggilnya juga pada Bo Hongyun.


Dengan segera mereka tersadar. Bahkan pimpinan tetua hampir jatuh karena tak siap dengan hal ini. Tubuhnya bertumpu pada pembatas.


"Apa benar itu berwarna ungu?" tanya pimpinan tetua yang masih syok.


"Benar," jawab Bo Shin tenang. Ia tersenyum hangat sambil melihat ke arah Ling.


"Bukankah sudah selesai?" tanya Ling malas. Ia sudah menjauh dari tengah aula.


Sebenarnya ia juga cukup takjub dengan hal ini. Peralatan seperti ini menang sangat langka. Apalagi ia juga baru tahu peraturannya. Ia sedikit bangga pada dirinya sendiri.


"Tuan Muda, Anda sudah bisa mengikuti tes selanjutnya," ucap wakil pimpinan tetua yang sekarang merasa hormat dengan Ling. Walau awalnya tidak percaya hal ini, tapi ia lebih tidak percaya jika guci itu rusak. Jika rusak, maka hasil tes-tes sebelumnya juga memiliki hasil yang salah.


Ling memasuki ruangan lain. Ruangan ini berada di sebelah aula. Di tengah ruangan itu terdapat enam batu yang berbaris rapi. Batu itu berwarna putih cerah. Jika diperhatikan lebih detail, batu itu merupakan giok salju. Keluarga Bo memang sangat kaya. Batu seperti ini malah dijadikan sebagai alat penguji.


Seorang pria berambut putih menyambut Ling. Dia adalah salah satu dosen yang ada di Universitas Internasional Kota Bayangan. Dia diundang khusus untuk memberikan pertanyaan untuk tes Ling.


"Apa kau adalah anak Tuan Besar Bo?" tanya dosen itu dengan ramah. Apalagi saat melihat Bo Minghao di belakang. Sebelum datang, ia sudah mendengar desas-desus tentang Ling. Jadi sebenarnya, ia tak ingin datang ke sini. Namu saat Rektor Xiang yang menyuruhnya secara langsung, ia hanya bisa menurut perintah.


Selain itu, ia juga melihat Ling memiliki garis keturunan berwarna ungu. Ia pasti memiliki itu bukan karena kebetulan.


"Benar," jawab Bo Minghao mewakili Ling. Ia mendorong Ling untuk duduk di kursi yang telah disiapkan. Saat ini Bo Hongyun tak jadi ikut tes kecerdasan dengan Ling. Ia sudah dilarang keras oleh Bo Minghao.


"Silahkan duduk," ucap dosen itu lagi. Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas dari lacinya.


"Di dalam kertas ini ada beberapa pertanyaan. Mulai dari yang paling mudah hingga yang paling susah. Kau bisa memilih beberapa pertanyaan. Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kau pilih, kau bisa memasukkan kertas itu ke dalam batu. Nanti batu itu akan memberikan hasil. Jika batu nomor satu yang bersinar, maka nilai jawaban itu adalah E. Jika batu nomor enam yang bersinar, maka nilai jawaban adalah S. Tidak ada kategori yang tercatat. Jadi tidak akan ada yang tahu mana mudah mana sulit," jelas dosen itu panjang lebar. Meski ia terlihat sangat tua, tapi penjelasannya cukup jelas. Ia juga menjelaskan hal itu dengan lancar.


Para murid yang ada di aula telah berpindah ke ruangan tes kecerdasan. Mereka berbondong-bondong ingin melihat idola baru mereka. Warna ungu bukan warna sembarangan. Orang yang memiliki warna itu tak bisa dianggap remeh begitu saja.


"Apa kau sudah siap?" tanya dosen itu melihat Ling yang hanya diam sejak tadi.


"Iya," jawab Ling tenang. Ia memutar pena yang ada di jarinya.


Dosen itu menyerahkan setumpuk kertas pada Ling. Semua kertas berisi pertanyaan yang dibuat sendiri oleh dosen itu. Ling melihat-lihat semuanya.


Ling membaca dengan cepat. Ia berpindah dari satu soal ke soal lain. Beberapa kali ia memisahkan kertas yang akan dijawab.


Dosen mengawasi di depan meja. Setiap orang yang ada di luar menonton dengan gugup. Sekarang hanya ada Ling, batu, dan dosen di dalam ruangan.


Setelah beberapa menit, Ling sudah memegang lima kertas. Ia mulai membaca pertanyaan kertas itu. Saat ia mulai menulis jawaban, timer yang ada di mejanya berjalan. Hitungan mundur dimulai dari satu menit.


Satu persatu soal dijawab Ling dengan tenang. Pertanyaan ini mudah saja baginya. Ia pernah berguru dengan Rektor Xiang. Ia sudah kenyang mendapat pertanyaan sulit dari Rektor Xiang. Jadi pertanyaan dari bawahannya pasti tak sebanding dengannya. Namun dosen ini sudah dianggap hebat di universitas.


Setelah lima menit berlalu, Ling menyerahkan kertas itu pada dosen. Sang dosen tak membaca terlebih dahulu jawaban Ling. Ia langsung memasukkannya ke batu penguji.


Saat ia membuat soal, ia sudah menyiapkan enam jawaban. Yaitu untuk nilai E, D, C, B, A, dan S. Untuk tingkat yang lebih tinggi, ia berdiskusi dahulu dengan dosen lain. Sehingga jawaban dengan nilai S akan benar-benar berkualitas.


"Meski memiliki darah berwarna ungu tetap saja pengetahuannya tak seluas itu. Kakak Pertama belum tentu bisa menjawab soal-soal itu," ucap Bo Hongyun yang juga ada di kerumunan.


"Dia bukan dosen abal-abal. Pertanyaan darinya pasti sangat sulit. Tenang saja, kesombongannya akan hancur sebentar lagi," ucap pimpinan tetua menambahkan. Ia masih juga meremehkan Ling meski sudah tahu garis keturunannya. Ia tetap tak terima karena Ling mempunyai ibu yang merupakan orang biasa.


"Baik langsung saja dimulai," ucap dosen itu sambil mengklik satu tombol di atas mejanya.


Bip!


Bip!


Bip!


Kertas pertama diproses. Batu giok salju itu mulai mengeluarkan cahaya. Awalnya batu pertama bersinar, kemudian lanjut batu kedua, masih lanjut ke batu ketiga. Sinar itu terus merambat tanpa jeda. Lalu sinar itu berhenti di titik paling akhir.


Nilai S.


Setiap orang tak sempat terkejut. Mata mereka hanya bisa mengikuti gerakan kertas yang tetap berjalan. Kertas kedua juga meluncur dengan lancar ke batu ke enam.


Jawaban kedua juga mendapat nilai S.


Kali ini gerakan kertas semakin cepat. Batu itu sampai berguncang karena prosesnya. Cahaya semakin terang karena menampung tiga jawaban sekaligus. Kini tiga kertas meluncur dengan lancar menuju batu keenam.


Lagi-lagi mendapat nilai S.


Nilai sempurna untuk lima jawaban. Apakah masih ada yang meragukannya?