
Ling kembali berjalan ke rak lain. Ia ingin meminjam buku lagi, tapi ia sadar itu terlalu merepotkan jika tiap bulan dia harus ke sini. Akhirnya ia memutuskan untuk membeli buku saja.
"Aku harus mulai darimana Ling?" tanya Liam saat melihatnya duduk.
"Setiap pagi saat kau jogging, letakkan karung pasir di kakimu. Berlari beberapa putaran. Itu dapat meningkatkan kekuatan ototmu. Dan juga jangan lupa melatih napasmu. Aku akan memeriksa perkembanganmu dalam satu bulan," jawab Ling.
Liam menganggukkan kepalanya patuh.
"Apakah ini berarti kau sudah mau menjadi guruku?" tanya Lim dengan mata berharap.
Ling meliriknya. Ia berkata cuek sambil mengangkat bahu, "Mungkin."
Mata Liam berbinar. Setelah sekian lama ia menunggu, akhirnya Ling mau menjadi gurunya. Sepertinya ia menghabiskan keberuntungan seumur hidupnya untuk hari ini.
"Terimakasih," ucap Liam tak mampu membendung rasa gembiranya.
Tadi malam saat mengurung diri seharian, Ling sudah menembus tingkat ke delapan. Ia juga telah memikirkan hal ini. Karena ia butuh partner yang kuat, ia harus melatih teman-temannya. Ia harus secepatnya menyelesaikan masalah Chen Company dan membawa perusahaan itu ke Kota Bayangan.
Yuan yang dari tadi hanya memperhatikan percakapan mereka, akhirnya mengerti. Mereka sedang membicarakan kultivasi. Orang biasa sepertinya tak pernah melakukan hal ini. Jangankan itu, untuk makan saja mereka bersyukur sehari bisa tiga kali.
"Ling, teknik kuno apa yang cocok untukku?" tanya Yuan. Ia ingat Ling dengan mudah mengambil uangnya dan menjatuhkan Sheng Man saat itu. Bukan hanya itu, bahkan ia membuat Sheng Man berlutut. Jadi Ling pasti juga telah mempelajari beberapa teknik.
Ling mengeluarkan sesuatu dari tas sekolahnya.
"Ini," ucap Ling sambil memberikan Yuan buku matematika.
"Apa ini? Aku juga ingin berkelahi!" ucap Yuan protes.
"Ling kau tak boleh pilih kasih. Liam kau beri teknik kuno, sedangkan aku kau berikan buku matematika. Aku minta keadilanmu!" Yuan kembali protes.
Ling mengabaikannya.
"Kau tahu aku tidak suka belajar. Mengapa masih saja kau memberikanku ini? Kau sangat menyebalkan," ucap Yuan tambah kesal saat Ling mengabaikannya.
Ling berdiri. Ia memakai jaketnya dan menarik resleting sampai setengah. Kemudian ia menunduk untuk menatap Yuan yang sedang duduk. Ia berkata tegas, "Diam!"
Itu hanya satu kata sederhana. Yuan baru kali ini merasa sangat ketakutan. Ia hampir saja terjatuh karena keterkejutannya. Dulu, ia tak percaya saat Ling bilang jangan memprovokasinya. Sekarang, tanpa Ling suruh, mungkin ia akan mengubah cara bicaranya saat bersama Ling. Ia akan lebih menjaga hubungannya dengan Ling dan tak akan memprovokasinya.
*
Sekolah Menengah Guxian. Pagi hari, mata pelajaran Pendidikan Jasmani.
"Ling ... aku ... aku tidak sanggup lari lagi," ucap Yuan. Ia mengatur napas sambil membungkukkan badan dan menyentuh lutut.
"Kau lari saja dulu," lanjutnya bicara.
Walau matahari pagi ini sangat terik, tapi tatapan Ling terlihat dingin. Ia berkata dengan tenang, "Tetap lari."
Hanya dua kata mampu membuat Yuan meningkatkan tekadnya. Dengan susah payah, ia menegakkan tubuh dan mulai berlari.
"Ling!" panggil Liam dari ujung lapangan. Ia berlari mendekati Ling dan Yuan.
"Apakah aku bisa bergabung?" tanyanya sambil mengimbangi langkah. Kebetulan pelajaran Pendidikan Jasmani hari ini kelas mereka mendapat jadwal yang sama.
"Tentu," jawab Ling. Kini mereka lari bertiga. Ekspresi sumringah muncul di wajah Liam. Ia sangat bersemangat pagi ini.
Ling berlari sambil mencatat batasan Yuan.
Ling melemparkan botol air pada Yuan. Yuan menangkapnya dengan tepat. Ia langsung meneguk habis isi botol itu.
Ling juga memberikan botol air pada Liam. Liam tahu isi botol ini masih sama seperti sebelumnya, yaitu ramuan tingkat tinggi. Ia pun segera meminumnya.
Saat matahari semakin tinggi, mereka berhenti berlari. Yuan dan Liam duduk di bawah pohon rindang. Mereka mengatur napas dan menyeka keringat. Setelah minum ramuan Ling, tubuh mereka tidak selelah tadi. Namun Yuan tidak tahu kalau itu adalah ramuan.
"Wah rasa hausku sudah hilang. Aku tidak terlalu lelah sekarang," ucap Yuan sumringah.
"Oh kalau begitu kau bisa lari lagi," ucap Ling. Liam yang mendengar itu segera bangkit. Ia sangat semangat karena Ling yang membimbing mereka langsung. Sedangkan Yuan malah merosot ke tanah.
"Ling, ampuni aku. Aku sudah tidak tahan," ucapnya dengan tatapan memohon.
"Aku jarang mengajar orang lain. Kau adalah murid keduaku setelah Liam. Aku tidak pernah main-main dalam hal ini," ucap Ling dengan ekspresi serius.
"Perlu kau ingat bahwa metodeku akan lebih kejam dari hari ini. Jika kau ingin tetap melanjutkan beritahu aku," lanjut Ling berbicara.
"Tentu saja aku akan lanjut," ucap Yuan bersemangat sambil bangkit dari tidurnya.
"Jangan terburu-buru. Aku memberikanmu waktu seminggu untuk berpikir," jawab Ling tertawa kecil. Ia menunduk dan mengambil tas. Kemudian ia pergi meninggalkan sekolah.
Yuan yang masih duduk di bawah pohon dan Liam yang masih berdiri, mereka menatap kosong ke arah punggung Ling yang semakin menjauh.
*
"Apakah kau yakin Keluarga Zhuo mengirimkan semua ini?" tanya Chen Qi heran saat melihat puluhan ramuan di depannya. Ia berharap ini adalah mimpi.
Keluarga Zhuo paling misterius diantara keluarga lain di Kota Urban. Mereka tidak pernah melihat Keluarga Zhuo memiliki hubungan baik dengan seseorang sebelumnya. Apalagi sampai mengirimkan sesuatu? Mungkin ini pertama kalinya.
Paman Qian mengangguk kemudian berkata, "Benar sekali. Orang yang mengirim ini juga terlihat sangat menghormati kita."
Chen Qi kembali terdiam. Ia belum terbiasa dengan kejutan yang diberikan Ling. Kali ini ia telah menaklukkan Keluarga Zhuo. Entah ini kabar baik atau buruk, Chen Qi hanya berharap yang terbaik untuk cucunya.
Saat itu, Ling masuk ke rumah.
"Kakek, Paman," sapanya. Ling menatap mereka yang terlihat bingung. Kemudian ia paham setelah melihat ramuan di lantai.
"Apakah Keluarga Zhuo yang mengirimkannya?" tanya Ling tenang.
Chen Qi semakin heran melihatnya. Ling bertanya seolah ia memang tahu Keluarga Zhuo akan mengirimkan itu. Ling bertanya dengan tenang seolah ramuan itu adalah hal biasa baginya.
"Ya, Tuan Muda. Ini adalah kiriman dari Keluarga Zhuo," jawab paman Qian saat melihat Chen Qi yang masih membeku.
"Tolong bawa itu ke kamarku," perintah Ling.
Dengan segera, beberapa penjaga membawa ramuan itu ke atas. Ling memastikan mereka benar-benar memasukkannya ke kamar.
"Ling apa kau berhubungan baik dengan Keluarga Zhuo?" tanya Chen Qi penasaran.
Ling mengangguk. "Mereka baik padaku," jawab Ling yang sudah membuat Chen Qi mengerti.
Setidaknya, Ling bisa memiliki relasi dengan salah satu keluarga bangsawan. Ia merasa cucunya memiliki kemajuan. Ia tidak perlu terlalu khawatir sekarang.
"Oh ya, Kakek. Aku ingin bertanya tentang Proyek L Luo Company," ucap Ling. Chen Qi melotot saat mendengarnya.