
Di kediaman Keluarga Bo.
"Pimpinan tetua, mohon maaf sebelumnya. Tuan Muda kalian ... mungkin tidak akan kembali," ucap Rektor Xiang yang datang ke rumah Keluarga Bo secara langsung.
Kemudian, Rektor Xiang langsung melanjutkan, "Aku tahu kalian sudah memiliki beberapa rencana untuk melawan. Namun menurutku, lebih baik tunda saja hal itu lebih dulu. Kekuatan mereka sangat besar bahkan jika dibandingkan seluruh Kota Bayangan."
Saat ini, kepala pelayan sudah tidak bisa lagi menahan air matanya.
"Tuan Muda ... Tuan Muda ...," ucapnya lirih dengan suara serak.
Pimpinan tetua juga menundukkan kepalanya. Ia tidak pernah berharap hal ini akan terjadi. Ia juga tidak pernah memikirkan akan ada masalah sebesar ini.
Melihat mereka seperti ini, Rektor Xiang hanya dapat menghela napas panjang.
"Aku akan pergi ke Keluarga Zhuo dulu," ucap Rektor Xiang dan membalikkan badan.
Bruk!
Rektor Xiang terkejut mendengar suara ini. Saat ia membalikkan badan, ia lebih terkejut lagi
Sekarang, pimpinan tetua sedang berlutut di hadapannya.
"Pimpinan tetua, apa yang Anda lakukan?" tanya Rektor Xiang yang segera membantu pimpinan tetua berdiri.
Namun, pimpinan tetua tetap berlutut.
"Tuan Xiang, aku mohon bantuanmu. Nyonya Bo sedang sakit sekarang. Ia belum sadarkan diri hingga saat ini. Aku mohon, bantu kami temukan dokter yang tepat untuknya," ucap pimpinan tetua sambil tetap berlutut.
Rektor Xiang tetap menyuruh pimpinan tetua berdiri. Ia berkata, "Aku akan mencarikan dokter jika Anda berdiri."
Mendengar ini, pimpinan tetua segera berdiri. Ia menghapus air matanya yang tak disangka menetes. Kemudian ia menatap Rektor Xiang seolah meminta kebenaran atas perkataannya.
"Tenang saja. Aku akan mencarikan dokter. Aku akan kembali dalam beberapa jam," ucap Rektor Xiang.
"Percayalah padaku. Dokter ini juga dipercaya oleh Chen Ling," ucap Rektor Xiang meyakinkan.
Setelah itu, ia keluar dari kediaman Keluarga Bo.
Pimpinan tetua menghela napas lega. Saat ia menemukan Chen Lin, ia hanya bisa menyuruh pelayan untuk membersihkan darah-darah yang ada di tubuhnya. Selain itu, mereka juga hanya bisa mengobati luka luar sebisanya.
Tiba-tiba, penjaga Keluarga Bo menghampirinya dengan tergesa-gesa.
"Ada apa?" tanya pimpinan tetua. Ia baru saja bernapas lega sedetik sebelumnya. Namun sekarang ia dimuat jantungan lagi.
"Akademi ramuan dijatuhkan. Guru dan murid disandera. Semua ramuan diambil," ucap penjaga itu melaporkan. Ia adalah salah satu penjaga yang dikirim dan berhasil kabur.
Pimpinan tetua hampir saja pingsan saat mendengar hal ini. Ia merasakan sesak di dadanya saat ia mendengar semua masalah ini.
"Biarkan aku bernapas lebih dulu," ucap pimpinan tetua yang sudah sangat depresi.
Ia rasanya ingin berteriak saja saat ini.
Beberapa jam kemudian, Rektor Xiang datang dengan seorang wanita. Ia adalah wanita dengan jubah putih khas dokter.
"Di mana Nyonya Bo?" tanya wanita itu yang tidak lain adalah Lingxi.
"Aku akan mengantarkanmu ke kamar," ucap pimpinan tetua. Ia segera berjalan.
Saat melihat Chen Lin, Lingxi sedikit terkejut. Ada aura hitam di seluruh tubuh Chen Lin. Selain itu ia merasa aneh saat Chen Lin tak sadarkan diri.
"Apa yang terjadi pada Nyonya?" tanya kepala pelayan yang melihat Lingxi memeriksa Chen Lin.
"Apa Anda bisa menyembuhkannya?" tanya kepala pelayan lagi.
"Bibi terkena virus," ucap Lingxi setelah secara yakin mendiagnosis.
*
Murid akademi dipindahkan. Chen Lin dipindahkan. Murid Keluarga Bo juga dipindahkan. Semua orang Ling dipindahkan ke Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya agar mereka lebih aman.
Jadi saat ini semua yang ada di Kota Bayangan kosong.
Saat Lu Zhong tiba di akademi ramuan, ia mengamuk. Tidak ada siapapun di sini. Hanya tersisa bangunan mewah yang kosong melompong.
"Sialan!" ucap Lu Zhong dengan emosi memuncak.
"Di mana mereka?" tanya Lu Zhong pada bawahannya.
"Maaf, Tuan. Mereka berada di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya," jawab salah satu bawahannya.
"Mereka sangat licik," ucap Lu Zhong.
Saat ia akan meluapkan amarahnya, seseorang datang dari arah belakang.
"Apa Anda mengincar akademi ramuan ini? Apa di sini kosong juga?" tanya orang itu.
"Benar. Siapa kau? Teman atau musuh?" tanya Lu Zhong terus terang.
"Aku Chen Namgung. Jika kau juga mengincar harta milik Chen Ling dari Keluarga Bo, berarti kita adalah teman. Jika kau mengincar akademi ramuan, maka aku mengincar Chen Company," ucap Chen Namgung dengan bangga. Sekarang, ia sudah berani tampil di depan publik.
Saat ia bertemu dengan Pegasus, ia awalnya ingin bekerjasama untuk menjatuhkan Organisasi Tempur kembali. Namun karena Pegasus tidak ingin mengulang kesalahan yang sama dan mereka tidan mau dirugikan, jadi Chen Namgung dialihkan untuk merebut Chen Company.
"Bagus sekali! Mereka memang lolos kali ini. Jadi ledakkan saja akademi ramuan dan Chen Company itu!" ucap Lu Zhong yang tambah bersemangat saat mendapat aliansi.
Sedetik kemudian, bangunan itu hancur.
Layar besar dari kamera A Shui memperlihatkan ledakan bangunan itu. Semua orang yang ada di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya ikut merasa hancur bersama bangunan itu.
Kerja keras semua Keluarga Chen hancur begitu saja.
Amarah dan kesedihan mereka memuncak sampai ke langit.
Chen Tian tidak bisa menahan diri lagi. Ia hampir saja keluar jika tidak ditahan oleh Mei Mengyi yang sedang menyamar.
"Kau mau ke mana?" tanya Mei Mengyi sambil menahan tangan Chen Tian.
"Mereka melakukan itu untuk memancing kita keluar. Jangan hiraukan mereka," ucap Mei Mengyi melanjutkan.
"Aku tidak bisa lagi membiarkannya. Akademi itu dibangun sendiri oleh Tuan Muda, Chen Company dibawa sampai ke distrik A-1. Semua orang yang ada di sini berasal dari kota kecil. Namun karena Tuan Muda, mereka bisa bertahan hingga saat ini. Namun saat ini semua kerja keras Tuan Muda hancur begitu saja. Daripada aku melihat ini, lebih baik aku mati," ucap Chen Tian dengan keras kepala. Padahal dia baru saja sembuh saat terluka melawan Lu Zhong.
"Chen Tian, Tuan Muda melatihmu untuk menjadi kuat untuk melindungi Keluarga Chen. Apa kau akan menyia-nyiakan kepercayaannya begitu saja?" tanya Paman Qian yang juga berkumpul di satu ruangan.
Sebenarnya Chen Tian bisa saja kabur saat ini. Dengan pelatihan dari Ling, serta ramuan yang selalu rutin diminumnya, ia bisa lari dari pengawasan A Shui.
Namun, karena mendengar perkataan Paman Qian, ia mengurungkan niat.
"Nona A Shui, apa kalian memiliki bom yang bisa meledakkan satu kota?" tanya Paman Qian pada A Shui yang sedang fokus dengan komputernya.
Melihat Paman Qian yang mengatakan hal itu dengan wajah tenang, A Shui terkejut. Ia bertanya, "Paman, apa yang akan Anda lakukan?"
*
Di wilayah kultivasi di ujung jalan.
Zhuo Xia berdiri di depan pintu. Ia menatap sosok yang duduk bersila dengan damai. Ia bergumam sendiri, "Sebenarnya energi apa yang dia serap sampai selama ini?"
Namun ia akan tetap menunggu.
Pada akhirnya, orang di depannya bergerak. Sedetik kemudian, matanya terbuka. Tidak ada cahaya di dalam sini, tapi matanya secerah bintang.
Zhuo Xia bersumpah ini mata terindah yang pernah ia lihat.