
Lu Yan masih membeku di tempat. Ada getaran aneh saat ia menatap Ling. Ada perasaan aneh saat Ling lewat di sampingnya. Awalnya ia ingin menghina Ling, tapi kata-kata yang sudah ia siapkan tersangkut di tenggorokan.
Apalagi ia teringat percakapan dengan Wuzhou kemarin. Kejutan yang diberikan Ling, kecerdasan yang tiba-tiba, membuat mereka semua linglung. Bagaimana bisa sampah berubah dalam satu malam? Bahkan melampaui terlalu jauh. Bagaimana bisa mereka kalah dengan orang yang tak berguna?
"Lu Yan, mengapa kau memakai baju yang sama dengan Ling?" tanya teman wanitanya.
Lu Yan melotot terkejut. Benar. Ini adalah baju yang dibelikan oleh Chen Lin untuk mereka berdua. Memang baju untuk pasangan. Ia tanpa sadar mengambil baju ini tadi pagi. Padahal ia memiliki banyak baju olahraga lainnya. Tangannya seolah bergerak sendiri.
Ia menatap Ling yang ada di kelas. Pria itu tampak menidurkan kepalanya di meja. Ling juga tak menyadari bahwa itu baju pasangan. Lu Yan segera pergi ke toilet.
"Aku akan berganti pakaian," ucap Lu Yan lari begitu saja.
*
Kemarin Ling kurang tidur. Setelah berolahraga, dia belajar dan membuat ramuan lagi. Ia sudah menyetok untuk diminum dan untuk mandi selama sebulan. Energinya terkuras habis. Ia memilih tidur sebelum nanti mulai pelatihan fisik.
Sekelompok orang mendatangi meja Ling. Liam yang melihat ini menghela napas kasar. Apa mereka ingin berulah lagi?
Kelompok itu dipimpin oleh pria berambut keriting. "Ling kupikir kau hanya sampah yang tidak berguna. Aku tidak menyangka kau memiliki hati yang begitu busuk diusia muda," pria itu menatap Ling dingin. "Wuzhou selalu membantumu, tapi kemarin kau mempermalukannya? Apa kau tak tahu cara berterimakasih?"
Ternyata mereka mengungkit masalah kemarin. Menurut mereka, Ling mempermalukan Wuzhou saat ia menang kemarin. Mereka benar-benar hanya menganggap kejeniusan Ling sebagai lelucon.
Ling bergerak. Ia mengangkat kepalanya malas. "Kau mungkin iri."
Pria itu mengepalkan tangan. "Iri? Apa kau pikir kami iri terhadap sampah? Kau bekerjasama dengan orang dari Kota Bayangan dan memenangkan tes itu untuk menyingkirkan Wuzhou dari Keluarga Chen. Bukankah itu benar?"
Ling menoleh ke arahnya. Tatapan matanya terlihat sayu. Ia masih mengantuk.
"Pergi." Kemudian ia menundukkan kepalanya. Kilatan tajam muncul dari matanya. Liam memperhatikan Ling. Ia tidak dapat melihat jelas ekspresinya karena Ling menunduk. Yang ia tahu, Ling sudah mengepalkan tangannya erat saat ini. Ia benar-benar kesal karena tidurnya terganggu.
Sekelompok pria menatapnya dingin. Pria dengan rambut keriting itu kembali menghina. "Pergi? Kami di sini untuk memperingatkanmu. Sampah harus bertindak seperti sampah. Jangan lagi kau mempermalukan Wuzhou dengan trik licik atau kami tidak akan mengampunimu."
Liam menggeram kesal. "Apa kau gila? Jelas-jelas Ling yang membuat kalian bisa ikut tes, tapi kalian yang tidak tahu terimakasih?"
Pria berambut keriting itu tersenyum mengejek. "Dia? Kami tidak perlu sampah. Orang yang hanya mengandalkan uang untuk memperoleh kekuasaan bagi kami adalah sampah. Wuzhou adalah jenius yang sebenarnya."
Ling memutar matanya kesal. Sedangkan Liam sudah sedikit mundur. Ada aura mengerikan keluar dari tubuh Ling. Kini ia menatap kumpulan orang di depannya dengan menyedihkan. Mereka mungkin lupa dengan kejadian di hari pertama.
Ling berdiri dari kursinya. Pria berambut keriting itu sudah mengepalkan tangan untuk memukul Ling.
Pak!
Pria itu cepat. Namun Ling sudah sering berendam dengan ramuannya dan berkultivasi. Penglihatan dan kekuatannya meningkat drastis. Ia mengangkat tangan untuk mencengkram kepalan pria itu hingga tubuh pria itu bergetar.
Semua terkejut melihat pemandangan ini. Ling mencengkram kepalan tangan pria itu dengan tangan kanan. Sedangkan tangan kirinya ada di saku.
Pria itu juga terkejut dan kesakitan. Ia tak menyangka tenaga Ling sekuat ini.
Ling melepas cengkramannya. "Satu lagi. Jangan pernah membuatku memukulmu. Karena hanya akan ada dua hasil," Ling kembali ke tempat duduknya. "Salah satu hasilnya adalah kematian."
Nada suaranya santai. Namun kehadirannya yang mendominasi membuat kumpulan pria itu menegang saat mendengar kata 'kematian'.
"Yang kedua adalah kau akan berakhir seperti orang mati," ia menyipitkan matanya dan menatap dingin kumpulan pria di depannya. Kemudian kembali duduk.
Bel berbunyi. Suara ini menyadarkan mereka yang membeku. Setelah pulih dari keterkejutan, mereka menatap kosong satu sama lain.
Benarkah orang dengan kehadiran kuat ini adalah Ling? Sampah yang beberapa hari lalu tiba-tiba menjadi jenius? Dan hari ini menjadi sangat kuat?
Mereka kembali ke tempat duduk masing-masing. Saat itu Tuan Yuan sudah masuk dan juga menggunakan pakaian olahraga.
"Selamat pagi," sapa Tuan Yuan terlihat bersemangat.
"Selamat pagi Tuan," jawab para siswa serempak.
"Hari ini kita akan melatih kekuatan fisik. Jadwal sudah saya tempel di dinding. Kalian bisa membacanya sendiri. Saya akan menunggu kalian di lapangan," ucap Tuan Yuan menjelaskan. Ia keluar dari kelas.
Setelah mendengar ini, para siswa berbondong-bondong maju ke depan kelas. Mereka membaca jadwal yang tertera.
Setelah keluar dari kelas, mereka akan melakukan senam yang dipimpin langsung oleh Tuan Yuan. Setelah itu, mereka melakukan beberapa latihan fisik. Kemudian mereka akan melakukan tugas per tim untuk menentukan bintang mereka.
Terlihat raut sumringah di wajah mereka. Sepertinya akan terjadi hal menyenangkan. Setelah selesai membaca, mereka keluar ruangan dan menuju lapangan.
Mereka langsung berbaris dengan rapi. Mereka merentangkan tangan untuk membuat jarak. Tuan Yuan sudah menghidupkan musik dengan pengeras suara di sebelahnya. Mereka mulai senam selama beberapa menit.
Pertama mereka melakukan pemanasan. Di bawahnya terik matahari, gerakan mereka masih kompak. Lalu melakukan gerakan inti. Di sini sudah banyak yang kelelahan. Bahkan ada yang tidak ikut senam lagi. Terakhir mereka melakukan pendinginan.
Semua bernapas lega setelah selesai senam. Mereka minum air yang sudah disediakan. Tuan Yuan tidak mengizinkan mereka istirahat. Kini mereka harus melakukan latihan fisik.
"Aku akan membagi kelompok berpasangan. Aku tidak terlalu mengingat nama kalian jadi aku akan menunjuk orangnya saja," ucap Tuan Yuan.
"Kau dan kau," ia menunjuk pria berkacamata dengan perempuan berkacamata.
"Kau dan kau," ia menunjuk Liam dan Su Qiang. Su Qiang membelalak kaget. Tanpa sadar ia menatap Liam yang juga sekarang sedang menatapnya.
"Kau dan kau," ia menunjuk Wuzhou dan Ye Xuang. Kali ini giliran Lu Yan yang melotot. Ia melirik sinis ke arah Ye Xuang yang sudah tersipu malu. Siapa yang tidak senang jika berpasangan dengan si jenius Wuzhou? Lu Yan hanya bisa menggeram marah di tempatnya.
"Kau dan kau," ia menunjuk pria berambut keriting dengan perempuan yang dikepang. Ia terus menunjuk sampai semua siswa mendapat pasangan.
"Kau dan kau," ia menunjuk dua orang terakhir. Kali ini bukan hanya dua orang itu yang terkejut, tapi seluruh siswa.
Bagaimana tidak? Pasangan terakhir yang ditunjuk Tuan Yuan adalah Ling dan Lu Yan.