
Setelah Liam menceritakan tentang proposal Wuzhou, Ling terbatuk.
Liam menatapnya, "aku tahu kau pasti terkejut. Bahkan ayah dan kakekku mengakui bahwa proposalnya sangat hebat. Aku telah lama mengikuti pelatihan bisnis, tapi aku tidak pernah mengerti cara kerja otaknya. Aku tidak bisa dibandingkan dengannya dalam aspek itu."
"Hanya itu?" Ling mengernyit, tidak tertarik. "Itu memang ide baru. Memanfaatkan modal Chen Company yang melimpah tidak hanya membuka peluang pasar, tapi juga merupakan keuntungan yang besar. Namun, itu tidak realistis."
"Apa yang kau tahu? Ah Ling, aku seharusnya tidak berdebat denganmu. Kau bahkan tidak belajar bisnis karena tidak akan mewarisi Chen Company," ucap Liam menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Faktanya Ling tak mendengarkan. Ia masih memikirkan perkataan Liam.
Wuzhou jenius dalam bisnis?
Proposal Wuzhou memiliki banyak kekurangan. Bahkan rekan kerjanya dulu yang tidak mengerti bisnis, bisa menunjukkan kekurangan itu. Dan orang di Kota Urban menganggap itu jenius? Seberapa rendah standar di kota ini?
Astaga! Dia lupa bahwa selama ini tinggal di Kota Bayangan. Siapa yang tidak tahu kota itu?
Orang kecil dari Kota Bayangan akan dianggap hebat jika di negara lain. Apalagi perusahaan-perusahaan besar di situ! Semua di isi oleh para jenius! Para pebisnis dari seluruh dunia menginginkan bergabung dengan kota itu. Namun tentu sangat sulit. Yang bisa mereka lakukan hanyalah berwisata di sana.
Kota Urban dan Kota Bayangan tidak bisa dibandingkan dalam beberapa level.
Ling telah lama hidup di Kota Bayangan. Ia sudah melihat banyak proposal hebat sebelumnya. Selain itu cara berpikirnya juga beda dengan orang di Kota Urban. Jadi tentu wajar dia menganggap proposal Wuzhou tak berharga dan banyak kekurangan. Bagaimana sampah seperti itu bisa didukung banyak orang? Jika ada yang mempresentasikan proposal seperti itu di Kota Bayangan, dia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.
Karena itu dia tak bisa melihat apa yang bagus dari proposal Wuzhou.
"Ayo ke rumahku. Hari sudah gelap," ajak Liam. Mereka berjalan masuk ke mobil Liam.
Liam melihat Ling yang hanya santai bermain ponselnya. Cahaya ponsel menyinari wajahnya yang tampan karena di dalam mobil gelap.
"Apa kau tak takut Lu Yan akan mengabaikan mu setelah apa yang kau lakukan tadi sore?" tanya Liam.
Ling mengalihkan pandangannya dan menatap malas, "jadi?"
Jadi? Liam berpikir sejenak, kemudian tertawa hambar. "Di lingkungan remaja siapa yang tidak tahu bahwa Ling sangat tergila-gila pada Lu Yan?"
"Berhenti bicara," perintah Ling. Nada suaranya mendominasi.
Liam langsung menutup mulutnya berhenti berbicara. Awalnya dia berada di pihak Wuzhou karena ketampanan dan kecerdasannya tak ada yang bisa menandingi. Dia juga memiliki etika yang baik serta selalu sopan. Dia tahu betapa jeniusnya Wuzhou.
Di sisi lain, Ling adalah kebalikannya. Bahkan tak bisa dibandingkan dengan aspek manapun.
Jadi ketika Lu Yan berniat untuk memutuskan kontrak pertunangan mereka, Liam sangat setuju. Mana mungkin nona muda keluarga Lu cocok dengan sampah keluarga Chen.
Namun melihat Ling yang sekarang, dia seperti orang yang berbeda. Bukan sampah tak berguna seperti sebelumnya. Liam yakin Ling memiliki banyak rahasia tersembunyi. Jadi dia hanya memakluminya. Bahkan dia sudah berada di pihak yang sama bersama Ling sekarang. Jika Lu Yan ingin memutus kontrak pertunangan, akan sangat disayangkan.
Akhirnya perjalanan mereka sangat damai. Tak ada yang berbicara sama sekali.
Kediaman keluarga Zhuo terlihat sangat gemerlap. Mereka mengadakan acara jamuan makan besar-besaran. Setiap orang yang lewat hanya mampu melirik. Keluarga Zhuo tidak terlalu ramah. Ketika mereka mengadakan jamuan makan besar, tamunya pasti orang besar.
Mobil hitam melambat saat sampai di gerbang keluarga Zhuo. Dua orang pemuda turun dari mobil. Yang satu terlihat tampan dan hangat, satu lagi lebih tampan tapi tatapannya malas. Mereka memasuki rumah dan para penjaga langsung menunduk hormat.
Kediaman Zhuo sangat megah. Dengan penjaga dimana-mana, orang akan tahu mereka adalah orang besar. Ling mengikuti Liam dari belakang untuk masuk ke rumahnya.
"Liam!" panggil ibunya semangat.
"Ini Ling kan? Ya ampun kamu tampan banget. Kamu benar-benar mirip Lin!" ucap ibu Liam memuji Ling.
"Terimakasih bibi," jawab Ling sopan.
"Ayo kita semua makan," ajak ayah Liam.
Mereka berjalan menuju ruang makan. Para pelayan dengan sigap menyediakan makanan. Berbagai macam menu disiapkan karena mereka ingin melakukan yang terbaik untuk Ling. Selain itu mereka tidak tahu selera Ling.
Zhuo Jia menatap Ling kagum. Ia tak henti-hentinya memuji Ling terang-terangan. "Kamu sangat berbakat. Bahkan ahli ramuan dari keluarga kami juga baru tahu resep ini. Bagaiman kamu bisa tahu? Apakah kamu mempunyai guru senior?" tanya Zhuo Jia penasaran.
Ling tersenyum. Kali ini senyumnya sangat hangat. "Bibi jangan terlalu memujiku," ucap Ling. Ia tak menjawab pertanyaan Zhuo Jia.
Zhou Jia paham. Ia tahu Ling tidak mungkin memberitahu orang besar yang ada di belakangnya. Mulai sekarang mereka akan menjaga hubungan baik dengan Ling karena orang besar di belakangnya pasti sangat hebat.
"Baiklah berhenti berbicara. Ayo nikmati makanan ini," ucap ayah Liam, Zhuo Fan.
Mereka makan dengan nikmat. Hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan piring. Liam menatap orangtuanya sedikit malu. Dulu mereka juga menjadi salah satu pendukung Wuzhou. Namun sekarang mereka dengan cepat berubah haluan.
Zhuo Jia berkali-kali mencuri pandang ke arah Ling. Ia berharap Ling akan menyukai jamuan mereka. Namun ekspresi Ling sama sekali tak dapat dibaca. Ia hanya makan dengan santai.
Acara makan berjalan dengan khidmat. Zhuo Fan ingin mengajak Ling berbicara tentang bisnis, tapi dia tahu bahwa Ling tak paham dengan hal itu. Ling bukanlah Wuzhou yang cerdas. Dia juga ingin berbicara mengenai ramuan, tapi dia sadar bahwa Ling bukanlah orang yang membuat resep. Ada guru senior di belakangnya. Jadi mereka hanya menikmati makanan tanpa berbicara.
Ling sudah menghabiskan makanan penutup. Ia menyeka mulutnya dengan tisu. Kemudian ia memainkan ponselnya sejenak sambil menunggu yang lain selesai makan. Keluarga Zhuo yang melihat ini menganggap tak sopan. Namun karena dia adalah tamu jadi mereka hanya diam.
Saat melihat yang lain sudah selesai makan, Ling mengeluarkan sesuatu dari sakunya. "Paman aku punya hadiah untuk Tuan Tua Zhuo. Aku harap dia tidak akan menderita lagi setelah ini," ucap Ling menyerahkan sebuah botol kecil dengan cairan bening di dalamnya.
Zhuo Fan menerimanya ragu-ragu. Mereka selama ini selalu menutupi penyakit kakek Liam karena mereka tidak ingin di anggap lemah. Namun bagaimana Ling bisa tahu? Ah! Ling punya guru senior. Mungkin guru senior itu yang memberitahunya. Betapa hebatnya orang di belakang Ling.
"Terimakasih," ucap Zhuo Fan sambil tersenyum hangat.
Ayah Liam menyerahkan ramuan itu ke tetua keluarga. Tetua yang ragu melihat ramuan itu langsung mencium aromanya. Tiba-tiba ia membelalakkan mata. Tangannya yang semula diam menjadi bergetar dan hampir saja menjatuhkan ramuan.
Ramuan tingkat tinggi!