Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Mata Kalian Buta


Tiga jam berlalu. Bel berbunyi sebagai tanda selesainya tugas hari ini. Para murid berkumpul di dalam ruangan karena saat ini sudah tengah hari. Matahari di luar sangat panas.


Tim Ling sedang minum ramuan Ling. Mereka kelelahan karena tadi keliling lapangan sambil menunggu tugas berakhir. Setelah meminum ramuan, tenaga mereka kembali pulih.


Tim Wuzhou sudah bubar. Raut wajah mereka terlihat sangat suram. Sepertinya kerjasama mereka tidak berjalan lancar.


Tuan Yuan memasuki kelas. Ia sudah berganti pakaian menjadi formal. Ia menatap para siswa di depannya dengan senyum hangat. "Ada berapa siswa yang mendapat token emas?" tanyanya lembut.


Tidak ada yang menjawab. Mereka hanya memutar mata malas.


"Apakah ada masalah?" tanya Tuan Yuan heran.


"Tuan. Tim kami hanya mendapat 10. Sedangkan kami ada puluhan orang. Ini tidak adil. Bagaimana bisa kalian hanya menyiapkan sedikit?" seorang siswa protes.


Tuan Yuan mengernyit heran. "Kami sudah menyiapkan 100 token. Seharusnya paling sedikit kalian mendapat setengahnya. Mengapa kalian hanya mendapat 10?" tanya Tuan Yuan balik.


"Apa? Seratus? Kami sudah mencari ke bagian depan, belakang, di dalam ruangan, di segala sudut, setelah 10 token terakhir kami tidak menemukan satu pun token lagi, Tuan," jawab seorang siswa.


"Tentu saja kalian tidak menemukan token lagi. Mata kalian buta," cerca Liam. Ia mengeluarkan 30 token dari saku dimensinya. Su Qiang yang duduk di belakang juga mengeluarkan 30 token miliknya.


Semua mata membulat. Apakah itu benar-benar token asli? Token sebanyak itu dari mana mereka mendapatkannya? Mereka sedang tidak bermimpi kan? Padahal tadi tim Ling sudah tertinggal satu jam.


"Tuan, token itu palsu. Aku bersumpah melihat mereka hanya duduk-duduk saja," ucap seorang siswa tak terima. Tim Wuzhou yang lain mengangguk setuju. Mereka semua juga tahu bahwa Tim Ling hanya duduk santai di bawah pohon.


Tuan Yuan pun menjadi bingung. Ia juga tahu bahwa tim Ling hanya duduk saja selama satu jam. Setelah itu ia tidak tahu apa yang mereka lakukan.


Yuan Ming menghampiri Liam. Ia memeriksa token itu.


Asli, batin Yuan Ming.


Ia kini bergerak ke meja Su Qiang untuk memeriksa tokennya juga. Ia menyentuh satu token itu dan memandang sisanya. Ia tahu betul mana asli dan palsu dalam sekali lihat. Ia hanya ingin lebih memastikan lagi.


Kini ia menghampiri Ling. "Di mana tokenmu?"


Ling mengeluarkan saku dimensi birunya. Semua orang terkejut melihat ini. Saku dimensi level 5 sangat jarang ditemui. Hanya orang kaya yang memiliki itu.


Namun mereka lebih terkejut lagi saat Ling mengeluarkan 29 token. Ia melepas satu token yang ada di celananya. Token itu terlihat lebih bersinar daripada yang lain.


"Kau bisa menjawab pertanyaan tersulit ini?" tanya Yuan Ming kaget saat melihat token emas paling cerah. Ia menatap Ling intens.


Ling bergidik bahu acuh.


Yuan Ming pun kembali ke depan kelas. "Baiklah yang mendapatkan token silahkan maju ke depan. Setiap token akan mendapat 5 bintang," jelas Tuan Yuan.


Mereka semua kembali terkejut. Lima bintang? Bukankah Ling dan teman-temannya akan mendapat 150 bintang? Bintang sebanyak itu membuat mereka gila saat memikirkannya.


Tiga belas orang yang mendapat token segera maju ke depan. Wajah mereka berbinar. Sedangkan yang duduk di kursi berwajah suram.


Tuan Yuan membagikan satu per satu bintang. Untuk Ling, Liam, dan Su Qiang agak lama karena Tuan Yuan harus menghitung lagi jumlah bintang sebanyak 150.


Setelah pembagian bintang selesai, mereka kembali duduk.


*


Ling sudah sampai rumah. Ia diantar Liam tadi. Para penjaga yang melihatnya menunduk hormat. Ia pun melangkah masuk dengan santai. Matanya fokus pada ponsel.


"Ling," seorang wanita menghamburkan tubuhnya ke pelukan Ling. Wanita itu adalah Chen Lin. Ia memeluk Ling erat.


Ling membalas pelukan Chen Lin. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Chen Lin. Ia cukup lelah sekarang. Memeluk Chen Lin memberinya tambahan tenaga.


"Ada apa, Bu?" tanya Ling melepas pelukannya.


"Apa benar kau mendapat 150 bintang?" tanya Chen Lin dengan mata berbinar. Ia sangat senang tadi saat mendengar kabar dari Yuan Ming bahwa Ling menjadi yang terbaik dan mendapat 150 bintang.


"Ya, benar," jawab Ling apa adanya.


Chen Lin menjijit. Ia mencium kedua pipi Ling. "Terimakasih. Terimakasih," ucap Chen Lin berkali-kali. Ia kembali memeluk Ling.


Sedangkan Ling hanya mengernyit heran.


"Terimakasih kau telah membuatku bahagia," ucap Chen Lin. Ucapan Ling kemarin membekas jelas di hatinya. Munafik jika ia tidak berharap dibahagiakan oleh putranya. Kini Ling telah membuktikan ucapannya.


"Tidak perlu berterimakasih. Itu sudah kewajibanku," ucap Ling mengelus punggung Chen Lin lembut.


"Ayo makan. Nanti aku akan mengantarmu ke arena pelatihan untuk mengambil hadiah. Sekalian aku ke kantor," ucap Chen Lin. Ia berjalan duluan. Tangannya terlihat seperti menyeka air mata.


Ling mengikuti dari belakang. Sudah ada Chen Qi di sana. Ia tak berkata apapun, hanya mengangguk. Mereka mulai makan bersama.


Dulu Ling tinggal dengan keluarganya hanya saat sampai awal remaja. Karena ia jenius, ia sibuk bersekolah dan berguru ke sana kemari. Setelah itu ia sibuk memimpin organisasi dan berperang, jadi dia tidak bisa pulang.


Ia sangat rindu dengan kehangatan sebuah keluarga. Ia sudah menganggap Keluarga Chen sebagai keluarganya sendiri.


Setelah selesai makan, Ling berpamitan ke kamar. Ia akan pergi mandi dan berkultivasi. Di depan pintu kamar, ia bertemu dengan paman Qian.


"Paman Qian, bantu aku mendaftarkan akun di bank bursa," ucap Ling sambil mengeluarkan kartu identitasnya dan memberikannya pada paman Qian. Nadanya sedikit lemah, tapi perintahnya seperti terdengar mutlak.


Sebelum paman Qian sempat menjawab, Ling masuk ke kamar.


Di dalam kamar, Ling menyiapkan ramuan untuk berendam. Tak lupa juga ia memasuki liontin giok kunonya. Namun sebelum dimasukkan, ia memandang liontin itu lekat.


Saat dekat seseorang kemarin, liontin itu terasa menghangat. Saat orang itu menjauh, liontin itu kembali seperti biasa. Ia juga merasa sesuatu yang tidak asing saat dekat dengan orang itu. Sayangnya Ling tidak tahu jelas apa itu.


Akhirnya ia memutuskan berendam dan menenggelamkan kepalanya.


Setelah mandi, ia berpakaian. Ia memakai jeans dan kemeja. Rambutnya dibiarkan berantakan. Ia duduk bersila untuk berkultivasi.


Sepertinya dia sudah mencapai tingkat tujuh menengah. Ia merasakan lonjakan energi yang familiar masuk tak terhitung, hingga dia hampir kewalahan. Ia tersenyum tipis kemudian membuka mata.


"Sedikit peningkatan," gumamnya.


Ia bangkit dan duduk di meja belajarnya. Ia menuliskan sesuatu di sana untuk di bawa nanti sore.