
Satu guci besar ramuan telah selesai. Ling mengurung diri di kamar semalaman. Sekarang ia tertidur di mejanya.
"Tuan Muda, kau harus ke universitas," ucap Paman Qian. Ia mengetuk pintu Ling sejak tadi tapi tidak ada balasan.
"Tuan Muda ...," ucap Paman Qian lagi.
Ling terbangun. Ia menggeliat sebentar. Ia mendengar panggilan Paman Qian sejak tadi. Namun ia tak segera membuka mata karena ia ingin menghilangkan lelahnya lebih dulu.
"Aku akan keluar satu jam lagi, Paman," jawab Ling. Ia menguap dan pindah ke kasur. Ia kembali menidurkan tubuhnya.
*
Bo Hongyun sampai di penjara. Penjara ini sangat besar. Namun hanya namanya saja penjara. Padahal isi di dalamnya sangat mewah. Bahkan para narapidana diperlakukan dengan sangat spesial.
"Aku ingin bertemu dengan Nona Shi," ucap Bo Hongyun kepada resepsionis.
"Tidak ada Nona Shi di sini," jawab resepsionis itu sinis.
"Ah maaf. Aku ingin bertemu Nona Racun," ucap Bo Hongyun lagi. Namun kali ini ia sedikit berbisik.
Resepsionis itu sedikit terkejut. Namun kemudian ia menyuruh penjaga untuk mengantar Bo Hongyun ke tempat yang dia maksud.
"Silahkan," ucap penjaga. Bo Hongyun dibiarkan masuk ke dalam penjara.
"Nona Shi," ucap Bo Hongyun sambil membungkuk hormat. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya.
"Duduk," ucap Shi Xiaofei.
Bo Hongyun duduk di depan Shi Xiaofei.
Shi Xiaofei adalah seorang wanita keturunan Keluarga Shi. Ia adalah anak haram dalam keluarga itu. Ibunya adalah seorang ahli ramuan, karena itu ia bisa membuat ramuan.
Ibunya meninggal setelah menikah dengan ayahnya. Kabarnya, ibunya meninggal karena seorang kultivator menyerangnya. Kultivator itu sangat mencintai ibunya tapi ibunya menolak.
Sejak saat itu, Shi Xiaofei lebih memilih menjadi ahli ramuan daripada kultivator. Walau ayahnya sudah memaksanya, ia tetap bertekad.
Karena hal itu pula yang membuat Shi Xiaofei melakukan banyak eksperimen mengerikan. Ia membuat dan mencoba berbagai racun. Namun ia juga mampu membuat ramuan tingkat tinggi.
Bo Hongyun melihat Shi Xiaofei sedang duduk bersila. Ia memurnikan ramuan di tangannya. Bo Hongyun hanya diperintahkan untuk duduk.
"Aturan menjadi muridku," ucap Shi Xiaofei. Suaranya membuat Bo Hongyun sedikit terkejut.
Bo Hongyun pun mendengarkan dengan seksama.
"Jangan pernah tanyakan apa yang sedang aku lakukan. Jangan tanyakan mengapa aku memerintahkan suatu hal. Jangan lakukan hal yang tidak aku perintahkan. Lakukan semua perintahku tanpa bertanya dan tanpa menolak. Sekali saja hal ini kau langgar, aku akan meracunimu. Namun jika kau memenuhi hal ini, kau dapat menjadi ahli ramuan senior. Apa kau mengerti?" tanya Shi Xiaofei setelah menjelaskan panjang lebar.
"Mengerti, Guru," jawab Bo Hongyun. Ia mencatat semua yang dikatakan Shi Xiaofei dalam otaknya.
"Satu hal lagi. Panggil aku Guru jika kita hanya berdua. Di luar itu, panggil aku Nona Shi," ucap Shi Xiaofei melanjutkan.
"Baik, Guru," jawab Bo Hongyun patuh.
"Potong akar ini sepanjang ruas jari," ucap Shi Xiaofei. Ia memberikan satu tong besar yang penuh dengan akar obat.
"Baik, Guru," jawab Bo Hongyun. Meski ia sangat terkejut, ia tetap mengerjakannya. Meski tangannya masih belum pulih sepenuhnya, ia tetap mengerjakannya.
Shi Xiaofei masih meracik ramuan. Di tangannya ada ramuan biru langit yang didapat oleh Keluarga Shi. Keluarga Shi mengirim padanya untuk melihat apa saja resep obat ini.
Hingga ia dapat satu bahan obat.
Ia segera mencatatnya.
Setelah itu ia kembali menyaring ramuan itu.
Bo Hongyun yang sedang memotong akar sangat kaget melihat ramuan itu. Itu adalah incaran setiap orang. Setiap tetesnya sangat berharga, tapi Shi Xiaofei dengan santai seperti memainkan ramuan itu.
Namun Bo Hongyun tak bisa berbuat apapun. Dia hanya diam dan tetap memotong akar. Ia hanya memotong sambil memperhatikan teknik Shi Xiaofei.
Shi Xiaofei selesai menyaring ramuan itu. Kini ramuan itu telah terpisah menjadi beberapa bagian. Jadi, Shi Xiaofei tahu apa saja komposisi ramuan itu. Sekarang, tugas Shi Xiaofei adalah melihat teknik pembuatannya.
Ia mencerna semua bahan yang tersedia. Tak lupa, ia juga merasakan seteguk ramuan itu untuk membandingkan dengan hasil buatannya nanti.
Setelah menelannya, tubuhnya mengalami hal luar biasa. Segala lelah dan sakitnya hilang. Segala beban pikiran dan kecemasannya hilang. Pikiran dan tubuhnya sangat ringan sekarang.
Wajahnya juga terlihat lebih muda dan cerah. Aura di sekitarnya bersinar.
"Guru ...," Bo Hongyun bergumam pelan. Ia sangat terkesan dengan perubahan Shi Xiaofei.
Shi Xiaofei juga takjub pada perubahannya. Ia melihat ke arah cermin yang ada di dinding. Benar-benar berubah. Ia menjadi lebih berenergi dari sebelumnya.
"Pembuat ramuan ini sangat hebat," puji Shi Xiaofei saat merasakan efek ramuan biru langit.
Dengan bersemangat, Shi Xiaofei mempelajari teknik pembuatan ramuan itu. Ia meneliti semua bahan dan mempelajari sifat-sifatnya. Ia ingin tahu teknik apa yang digunakan untuk menyatukan semua bahan itu.
Bo Hongyun masih belum selesai memotong akar. Karena sudah banyak sekali akar yang ia potong, sekarang ia jadi terbiasa. Ia bahkan bisa memotong dengan tepat tanpa melihat.
"Letakkan akar itu. Kupas kulit buah ini," ucap Shi Xiaofei. Ia menggeser tong akar yang tinggal setengah. Kini ia menggantinya dengan tong yang penuh dengan buah.
"Baik, Guru," ucap Bo Hongyun. Ia kembali mengupas buah dengan teliti. Ia benar-benar niat berguru dengan Shi Xiaofei.
*
Setengah jam kemudian, Ling bangun dari tidurnya. Setelah itu, ia langsung menuju meja kerjanya. Saat ini, ia sedang membuat desain bom yang ada di otaknya.
Ia sudah pernah memberikan gambaran kasar bom ini kepada Mei Mengyi. Saat Mei Mengyi sudah mendapat semua bahannya, Ling membuat gambar detailnya.
Saat ini, ia menguras pikirannya. Ia melihat semua detail yang ada di otaknya. Mulai dari pola, bentuk, dan teknik satu dengan yang lain. Semua tergambar jelas di otaknya.
Ini adalah bom yang pernah ia buat. Ia membuat rakitannya tapi tidak selesai. Sekarang, ia akan menyelesaikannya.
Ling sangat fokus saat menggambar di komputernya. Meski gambarannya jelas, tapi ia tetap tidak jelas saat melihat seseorang yang juga membuat bersamanya.
"Siapa dia?" gumam Ling yang merasa kesal dengan ingatannya. Masih saja ada ingatan samar yang tidak bisa ia pecahkan. Padahal ingatan ini sangat penting.
"Tuan Muda, satu jam sudah berlalu. Apa kau sudah bangun sekarang?" tanya Paman Qian dari luar.
Ling masih menatap komputernya. Dengan satu klik lagi, ia menyelesaikan semua desainnya.
"Ya, Paman. Bawakan makananku ke dalam," ucap Ling masih belum beranjak dari kursinya.
Ling kembali memeriksa desainnya. Ia memperhatikan semua detail yang sudah dibuatnya. Sekarang, ia memasukkan desain itu ke dalam flashdisk. Ia akan menyerahkannya pada Mei Mengyi.