
"Kakek, aku sudah mendapatkan bom dari Ahli Bom Mei," ucap Chen Namgung pada kakeknya.
"Benarkah? Dari siapa kau mendapatkannya?" tanya kakeknya penasaran.
"Aku sudah bilang aku memiliki teman yang mempunyai nomor telepon Ahli Bom Mei," jawab Chen Namgung sombong.
"Oh, ya, Kakek, apa keluarga kita masih memiliki busur kecil warisan itu? Aku ingin memakainya," tanya Chen Namgung pada kakeknya.
"Busur kecil itu milik si bocah pembawa sial. Dia sudah mati. Semua barangnya sudah aku buang," ucap kakek Chen Namgung dengan raut wajah marah. Ia sangat sensitif jika membahas hal ini.
"Bukankah itu harta warisan? Mengapa bisa menjadi miliknya?" tanya Chen Namgung lagi.
"Dia sangat licik. Senjata itu mengakui dirinya. Jadi tidak ada lagi yang bisa memakai senjata itu selain dirinya walau ia sudah mati," jelas kakek Chen Namgung dengan emosi.
"Dasar, Kakak sialan! Sudah mati juga masih membuat susah!" seru Chen Namgung yang juga ikut marah.
*
Di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya.
Chen Namgung berdiri di barisan paling depan. Ia mendongakkan kepala dan menatap dengan angkuh. Saat ini, ia di kelilingi oleh banyak orang yang mendukungnya. Sebagian besar dari mereka adalah kultivator dengan level tinggi.
"Jika kalian masih ingin hidup, kalian keluar!" teriak Chen Namgung. Ia sudah mengepung seluruh markas. Namun sejak tadi, tidak ada satu orangpun yang keluar.
"Tuan Muda Chen, di mana mereka? Mengapa sejak tadi tidak keluar?" tanya salah satu orang. Menunggu lama seperti ini sangat membosankan.
"Kalian tenang saja. Kita harus memberikan ancaman pada mereka," ucap Chen Namgung begitu percaya diri.
Ia kembali berteriak, "Jika kalian tidak keluar, kami akan mengebom markas kalian dengan bom dari Ahli Bom Mei. Jika kalian masih ingin hidup, segera keluar!"
Setelah itu, keluar sekelompok pasukan. Mereka memegang senjata terbaru dari Mei Mengyi. Pulau saat ini sangat ramai. Getaran-getaran sangat terasa.
Mereka akan menepati janji untuk menjaga Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya.
"Siapa kau?" tanya salah satu orang. Ia mengarahkan senjatanya ke arah Chen Namgung.
Saat ini, Chen Namgung sangat tenang. Bagaimanapun ia memiliki kultivator di belakangnya. Belum lagi bom dari Ahli Bom Mei yang ia dapat dari temannya.
Saat ini, Organisasi Tempur tidak memiliki Raja Legendaris.
Namun yang tidak Chen Namgung ketahui, semua anggota tahu jika Raja Legendaris sudah kembali. Mereka sudah ramai membicarakan di forum. Belum lagi dengan bukti siaran langsung.
Apa Chen Namgung begitu kuno hingga tidak tahu hal ini?
"Aku memberimu waktu satu menit. Jika kalian tak ingin mati, kalian harus pergi," ucap salah satu orang yang dipilih oleh A Shui, yaitu Shi Guang. Ia adalah pria yang sangat setia pada Organisasi Tempur.
"Kalian sudah kekosongan pemimpin. Jika kalian menyerahkan organisasi secara baik-baik, maka kalian akan selamat. Namun jika kalian melawan, bersiaplah untuk menemui malaikat kematian," ucap Chen Namgung masih dengan kepercayaan dirinya.
Semua anggota yang memegang senjata tertawa. Mereka benar-benar menganggap Chen Namgung bodoh. Jika dibandingkan jumlah maupun kekuatan, mereka akan kalah. Namun jika dibandingkan dengan skill, mereka sudah ahlinya.
"Apa kau tidak tahu jika Raja Legendaris telah kembali?" tanya Shi Guang sambil tertawa meremehkan.
Chen Namgung sedikit terkejut. Beberapa hari terakhir ia sibuk mengumpulkan kekuatan dan mengimpor bom ilegal. Ia pergi ke sana sini untuk mendapat aliansi. Selain itu, ia juga sedikit kesusahan untuk mengumpulkan mereka semua.
"Jangan menipu. Raja Legendaris telah mati. Dia tak mungkin hidup kembali," ucap Chen Namgung membantah keras ucapan Shi Guang.
Namun orang-orang yang mengikutinya sedikit terpengaruh oleh pernyataan Shi Guang. Mereka sendiri melihat siaran langsung itu. Mereka melihat bagaimana sosok bertopeng hitam itu beraksi dengan sangat kerennya. Bahkan beberapa di antara mereka ikut mengirim spam ke siaran langsung itu.
"Raja Legendaris kembali. Organisasi Tempur akan bangkit!" ucap Shi Guang keras. Ucapannya diikuti oleh anggota yang lain.
Chen Namgung sedikit panik dengan hal ini. Ia menatap para aliansinya yang mulai goyah. Beberapa dari mereka berbisik-bisik tentang Chen Namgung.
Dengan mengepalkan tangan erat, Chen Namgung berkata, "Jika dia masih hidup, dia juga tak bisa berbuat apa-apa. Kami memiliki bom paling mengerikan yang dibuat oleh Ahli Bom Mei."
Anggota Organisasi Tempur semakin menertawakannya. Padahal jelas-jelas Mei Mengyi ada di ruangan bersama A Shui. Ia merupakan kepercayaan Raja. Bagaimana mungkin dia menjual senjata pada musuh?
Kecuali jika ada yang mengaku sebagai dirinya.
"Menyerahlah kalian!" teriak salah satu pengikut Chen Namgung. Mereka kembali ke kesadaran mereka setelah mendengar pernyataan Chen Namgung. Semua orang tahu jika semua senjata yang dibuat oleh Mei Mengyi adalah yang paling hebat.
"Turunkan senjata kalian!" teriak Chen Namgung pada mereka. Ia memberi kode pada kendaraan tempur di belakangnya. Sekarang, semua mulut kendaraan itu mengarah ke anggota Organisasi Tempur.
Namun tiba-tiba deru jet tempur terdengar di langit. Mulut jet itu juga mengarah ke mereka.
"Apa-apaan ini?" tanya Chen Namgung sedikit frustasi.
"Kalian jangan macam-macam," ucap Chen Namgung lagi.
Salah satu orang berasal dari keluarga militer di luar negeri. Ia bernama Feng Jun. Ia mencoba menghentikan Chen Namgung.
"Jangan panik. Jika mereka melawan, maka kita akan melawan. Namun kita harus memikirkan jika banyak kerugian yang akan dialami," nasihat Feng Jun. Ia tahu ia tak berada di wilayahnya. Sebagai anggota keluarga militer, ia tahu jika ada seorang wanita tangguh yang dapat membalikkan dunia. Bahkan mengusir mereka yang berasal dari luar negeri adalah hal mudah.
Satu kata yang keluar dari mulutnya dapat menghancurkan mereka.
Mereka tahu bahwa ada siaran langsung Raja Legendaris. Namun apakah mereka tahu itu asli atau tidak? Jadi mereka tak begitu takut saat memikirkan hal ini.
Bom!
Satu ledakan berasal dari jet tempur di atas.
Pasukan bagian belakang Chen Namgung tak sempat menghindar. Sepertinya mereka terkena ledakan itu.
"Kalian ingin bermain denganku?" tanya Chen Namgung dengan emosi yang semakin memuncak. Baginya, anggota Organisasi Tempur tak sehebat ahli-ahli yang ada di belakangnya.
Namun yang tidak ia ketahui, mereka bisa dengan mudah menghancurkan dunia dan seisinya.
Chen Namgung begitu sombong. Ia mengeluarkan bom yang sejak tadi sudah ditahannya.
"Apa kalian tahu jika ledakan bom ini dapat menghancurkan satu pulau?" tanya Chen Namgung dengan senyum meremehkan.
"Pasukan, mundur!" teriak Chen Namgung secara tiba-tiba. Para ahli itu yang memiliki refleks bagus, mereka segera mundur.
Chen Namgung sudah siap dengan bomnya.
Kemudian ia melempar bom itu ke arah anggota Organisasi Tempur.