Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Menghargai Orang Cerdas dan Berbakat


Seketika forum langsung ramai dengan komen para anggota. Beberapa hari lalu ramai karena kembalinya A Shui, kali ini ramai karena Ling mengatakan hal itu.


Memang sejak kepergian Ling, A Shui lah yang memimpin Organisasi Tempur. Dia memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi. Selain itu ia juga mampu secara mental. Ia sudah terlatih sejak menjadi bawahan Ling.


Sebenarnya semua anggota memiliki sifat kepemimpinan. Ling melatih mereka untuk hal itu agar mereka bisa ditempatkan di manapun dan tetap menjadi pemimpin. Namun A Shui lebih cakap untuk memimpin mereka semua.


[Kami menunggu Raja kembali!]


[Raja sangat hebat!]


[Raja tak pernah meninggalkan kita!]


Kebanyakan dari mereka mengetik seperti itu. Kerinduan mereka dengan Ling sangat jelas. Sudah lama mereka tidak melihat pemimpin mereka.


Ling segera keluar dari situs itu. Ia mengangkat kepalanya lagi. Di layar proyektor, Ling melihat foto Chen Namgung. Di sana tertulis beberapa misinya. Ia seperti sedang berkampanye.


Saat acara hampir selesai, Chen Namgung kembali berdiri di depan podium.


"Kalian tentu tahu jika Raja Legendaris pemimpin Organisasi Tempur telah meninggal. Kalian tahu organisasi itu sangat kuat dan tidak memiliki pemimpin saat ini. Aku, Chen Namgung, sangat menghargai orang cerdas dan berbakat. Kalian adalah orang-orang terpilih. Aku yakin kalian semua berkualitas. Jadi, aku ingin merekrut kalian untuk menjadi aliansi dalam pengambilan alih Organisasi Tempur. Jika kalian ingin mendaftar, kirimkan ke e-mail yang ada di depan kalian," ucap Chen Namgung panjang lebar. Ia melihat semua wajah orang di dalam sana dengan percaya diri.


"Aku yakin jika kita berhasil memiliki Organisasi Tempur, keamanan kita akan terjamin. Organisasi itu berisi pasukan elit yang sangat terlatih. Jika kita menggabungkan bakat kita, aku yakin mereka akan tunduk," ucap Chen Namgung untuk lebih meyakinkan mereka.


Orang-orang itu mulai terpengaruh. Mereka sedikit berdiskusi dalam kelompok. Sepertinya mereka mulai tertarik dalam kegiatan ini.


Apa mereka sudah lupa siapa Raja Legendaris?


Mereka terlalu berani.


Ling menyeringai tipis. Aura di sekitarnya semakin dingin.


"Bagaimana jika mereka tidak tunduk?" tanya salah satu orang.


Chen Namgung tersenyum. Ia menjawab dengan nada angkuh, "Apa kalian tahu Ahli Bom Mei? Aku telah membeli bom darinya."


Semua orang langsung terkejut. Walau kebanyakan dari mereka dari luar negeri, tapi siapa yang tak mengenal Ahli Bom Mei? Ia adalah ahli bom paling mengerikan. Ia buronan nomor satu. Namun jik tidak ada dia, mereka tidak akan memiliki bom ataupun senjata lain.


Mereka semakin percaya dengan Chen Namgung. Satu persatu dari mereka mulai mengirim e-mail kepada Chen Namgung.


Ling melihat keadaan ini dengan bosan. Ia ingin segera kembali ke Kota Bayangan dan datang ke Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya.


"Apa kau ingin naik jet pribadiku?" tanya Zhuo Xia yang tiba-tiba muncul dari belakang.


"Tidak perlu. Aku akan mengajak dosen pulang sekarang," jawab Ling. Ia menembus kerumunan dan mencari Dosen Wan di antara banyak orang.


"Dosen Wan, apa kita bisa pulang sekarang?" tanya Ling setelah menemukan Dosen Wan.


"Kita harus membawa barang berharga untuk universitas. Semakin berharga barang yang kita bawa, maka universitas kita juga akan semakin terkenal," ucap Dosen Wan. Ia memimpin jalan menuju acara bazar yang masuk ke dalam bagian acara ini.


Di sini sangat ramai pedagang. Mulai dari souvernir sampai ramuan.


Ling segera menuju stan ramuan saat melihat satu barang yang menarik perhatiannya.


"Kau ingin kemana?" tanya Dosen Wan heran.


"Aku akan membawa barang berharga untuk universitas," jawab Ling santai. Ia berhenti sejenak untuk menunggu Dosen Wan mengimbanginya.


"Tentu saja , Dosen," jawab Ling. Ia melanjutkan jalannya.


Kini ia berdiri di salah satu stan yang berada di paling pojok. Tidak banyak yang dijual di sini. Kebanyakan adalah tanaman obat. Jumlah ramuan juga bisa dihitung jari.


"Berapa harganya?" tanya Ling pada penjual.


"Semua barang yang ada di sini tidak dijual. Jika kalian ingin membawanya, maka kalian tinggal memilih. Karena tugas kalian hanya untuk memilih barang paling bagus," jawab penjual. Raut wajahnya terlihat kurang ramah.


"Kalau begitu aku akan ambil yang ini," ucap Ling mengambil satu buah tanaman obat.


Penjual itu menaikkan alis. Ia berkata, "Kau yakin? Bukankah itu hanya tanaman biasa?"


"Aku yakin," jawab Ling santai. Namun berbeda dengan reaksi Dosen Wan. Ia sudah sangat panik.


"Ling segera letakkan itu kembali. Kau tak bisa membawa barang yang biasa saja," ucap Dosen Wan panik.


"Tenang saja, Dosen," jawab Ling. Ia sangat yakin dengan pilihannya.


"Kau dari mana?" tanya penjual itu kepada Ling.


"Universitas Internasional Kota Bayangan," jawab Ling. Ia memasukkan tanaman itu ke dalam saku dimensinya.


Setelah itu, ia mengajak Dosen Wan pergi.


*


Zhuo Xia kembali ke tempat yang sudah disediakan untuknya. Ia datang ke sini karena diundang oleh Chen Namgung untuk mengambil alih Organisasi Tempur. Padahal Zhuo Xia sendiri tahu jika pemimpin organisasi itu masih hidup.


"Nona, Chen Namgung ingin menemui Anda," ucap Ketua Dai sambil membungkuk hormat.


Zhuo Xia tak banyak berekspresi.


"Biarkan dia masuk," jawab Zhuo Xia dingin.


Pintu terbuka. Masuk sosok pria yang memiliki wajah sama seperti orang yang selalu ia rindukan. Namun ia tak peduli dengan tampilan fisik. Ia hanya ingat sifat orang itu.


"Langsung ke inti," ucap Zhuo Xia saat melihat Chen Namgung membuka mulut.


"Baik, Nona," jawab Chen Namgung penuh hormat. Ia sudah mencari informasi tentang Zhuo Xia. Dia adalah kandidat paling cocok untuk menjadi aliansi.


"Nona, tujuanku adalah mengajak Anda untuk bekerjasama dalam pengambilan alih Organisasi Tempur. Tentu Anda sangat tahu jika anggota Organisasi Tempur sangat hebat. Selagi mereka kekosongan pemimpin, ini adalah waktu yang tepat," ucap Chen Namgung menjelaskan dengan bersemangat. Ia berharap banyak pada Zhuo Xia.


"Bagaimana kau tahu mereka kekosongan pemimpin?" tanya Zhuo Xia.


"Karena Raja Legendaris sudah meninggal," jawab Chen Namgung. Ia dnegan ringan mengatakan hal itu.


Tatapan Zhuo Xia sangat tajam. Kali ini ekspresi Chen Namgung berubah. Ia sedikit mengeratkan genggamannya di sofa. Ia tak pernah bertemu dengan wanita yang memiliki pengaruh besar seperti ini.


"Aku akan bertanya satu hal lagi," ucap Zhuo Xia. Ia bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah jendela. Ia menundukkan kepala.


"Bagaimana jika Raja Legendaris masih hidup?" tanya Zhuo Xia yang membuat Chen Namgung merinding. Zhuo Xia seperti bertanya dan memberi jawaban dalam waktu bersamaan.