
"Apa kau bermain ini?" tanya Ling sambil memberikan kartu kepada Han Shuangfu.
Walau Han Shuangfu mengatakan dia tidak ingin main, tapi ia tetap menerima kartu itu.
"Mengapa kau terlihat seperti telah disiksa kehidupan? Padahal kau baru saja duduk beberapa menit," ucap Ling. Ia memegang kartunya dan duduk menghadap Han Shuangfu.
Han Shuangfu hanya menghela napas.
"Beritahu kami jadi kami bisa membantu," ucap Ling lagi.
Han Shuangfu ingin bercerita. Ia ingin menyebut nama Zhuo Xia dan Bai Xiaoqi. Namun ia mengurungkan niat. Ia merasa curiga karena Ling terlihat baik padanya.
"Apa kau mengalami beberapa masalah akhir-akhir ini?" tanya Liam. Setelah beberapa hari bersama mereka, ia sedikit tahu tentang latar belakang Bai Xiaoqi dan Han Shuangfu. Lagipula, mereka adalah teman Ling. Tidak mungkin mereka tidak menceritakannya.
"Tidak bisakah kalian tidak ikut kami?" tanya Han Shuangfu. Ia merasa hanya Liam yang tulus.
"Mengapa?" tanya Liam. Ia meminum air dari botolnya.
Saat melihat ini Han Shuangfu sadar jika Su Wen Ai dan Yuan juga memiliki botol yang sama. Awalnya ia pikir itu adalah anggur. Namun ketika melihat Su Wen Ai minum, ia tahu itu hanya air.
Ia tidak tertarik dengan botol minum itu.
Melihat Han Shuangfu terus-menerus menatap botolnya, Liam bertanya, "Kau ingin seteguk?"
Han Shuangfu dengan cepat menolak. Ia segera kembali ke topik pembicaraan, "Jika kalian bisa pergi, pergilah sekarang. Aku serius. Misi kali ini benar-benar berbahaya."
"Bahaya apa yang akan terjadi?" tanya Liam. Wajar saja ia menganggap hal ini biasa saja. Ia dan teman-temannya telah menghadapi ribuan binatang mutasi. Apalagi yang lebih berbahaya dari itu?
Melihat jawaban Liam, Han Shuangfu tersenyum pahit. Ia tahu jika mereka adalah siswa dari Kota Urban yang baru saja masuk ke Kota Bayangan. Mereka adalah orang biasa yang memiliki latar belakang keluarga biasa saja juga.
Mereka memiliki aturan di luar negeri bahwa mereka tidak akan menggangu tataan wilayah lain. Jika dia mengatakan pada Liam akan ada monster yang memakannya, Liam tentu tidak akan percaya. Lagipula, Liam bukan anak kecil lagi.
Ia melihat Zhuo Xia dan Bai Xiaoqi tidak peduli dengan keselamatan 4 orang ini. Apa mereka pikir 4 orang biasa bisa bertahan? Jika bukan karena Zhuo Xia, Han Shuangfu juga tidak berani pergi ke misi ini sendiri. Namun jika orang biasa bisa bertahan, bukankah itu lucu?
Han Shuangfu masih merasa jika hidup dan mati 4 orang itu tergantung padanya. Jadi, sebelum jet itu mendarat, ia menemui Ling.
"Apa? Ada iblis yang sangat kuat?" tanya Ling sambil melebarkan mata. Ia melotot ke arah Han Shuangfu.
"Itu benar. Lebih baik kalian kembali ke rumah karena ini sangat berbahaya. Saat kami sudah menyelesaikan urusan kami, kami akan menjemput kalian," ucap Han Shuangfu melanjutkan. Melihat reaksi Ling, ia merasa ada sedikit kesempatan. Ia tahu jika Liam, Yuan, dan Su Wen Ai patuh dengan Ling.
Bahkan Zhuo Xia juga mengizinkannya memanggang di jet. Padahal saat Han Shuangfu pernah memanggang di halaman belakang Zhuo Xia, ia dipukuli selama seminggu.
Tanpa diduga, Ling hanya menatap Han Shuangfu seolah dia orang bodoh. Ia tak menjawab dan memilih menghidupkan televisi.
Tak lama, Yuan datang dengan segelas air.
"Ling, di mana Chester? Dia tidak ikut?" tanya Yuan sambil meminum airnya.
"Eh, kita hampir sampai di Kota Urban," ucap Yuan berbinar saat melihat ke arah luar.
"Aku menitipkannya pada Lingxi," jawab Ling santai. Setelah selesai membodohi Han Shuangfu, ia memainkan game di ponselnya.
Bai Xiaoqi mencari Han Shuangfu. Saat ia melihat Han Shuangfu dibodohi oleh mereka berempat, ia hanya bisa menggelengkan kepala.
"Teknologi di Kota Bayangan sangat maju. Bahkan bisa bermain game dengan internet yang begitu lancar. Di luar negeri, masih sangat lambat," ucap Bai Xiaoqi yang melihat mereka sangat santai memainkan game.
"Begini saja sudah maju? Teknologi kalian sangat menyedihkan," gumam Ling.
Sebenarnya ini adalah jet lama. Teknologinya lebih kuno dari yang biasa dipakai. Bahkan laju jet ini termasuk lama. Jet ini juga dipakai agar tak terlalu menarik perhatian.
Jika Bai Xiaoqi saja sudah sangat kagum melihat ini, bukankah teknologi mereka berarti kuno?
*
Saat mereka turun, sekelompok orang datang untuk menyambut Zhuo Xia. Kelompok itu dipimpin oleh seorang pria tua dan dua orang pemuda serta satu wanita. Pemuda dan wanita itu terlihat seumuran dengan Ling.
Pakaian mereka tidak modern. Di sebelah kanan mereka ada sabit. Mereka tampak seperti suku pedalaman. Ling mendengar Han Shuangfu memanggilnya sebagai "Ketua Su".
Saat mendengar ini, Ling melirik Su Wen Ai. Kemudian ia berpikir sejenak.
Ini adalah pertama kalinya Yuan dan yang lainnya berada di dekat pegunungan. Jelas sekali wilayah ini dikelilingi gunung. Jadi mereka sibuk melihat sekeliling karena ingin tahu.
Saat itu, keadaan semakin gelap karena hari sudah cukup malam.
"Apa kau merasa familiar dengan tempat ini?: tanya Yuan. Ia memiliki ingatan yang buruk.
Sedangkan Su Wen Ai, ia menjadi lebih dingin dari sebelumnya sejak turun dari jet. Terutama saat melihat Ketua Su dan sabit yang dia bawa.
Namun saat mendengar Yuan menanyakan hal ini, hawa dingin di sekitarnya mereda. Ia mengamati sekeliling dan segera mengenali tempat ini.
"Kita pernah ke sini tahun lalu," ucap Su Wen Ai.
Mendengar ini, Liam dan Yuan langsung ingat. Mereka ingat jika mereka pernah ke sini untuk latihan. Ling memaksa mereka untuk berlatih ke sini. Bahkan mereka sudah membunuh beberapa orang dari Kota Bayangan yang menyusup ke Kota Urban.
Mendengar Liam dan Yuan yang sangat sombong mendengar pengalaman mereka, dua pemuda yang ada di belakang mereka mengejek.
"Dasar tak tahu malu. Hanya tahu membual saja. Apa kalian pernah ke sini sebelumnya? Apa kalian tidak tahu jika wilayah ini dikelilingi oleh binatang buas? Bahkan di udara terdapat pasukan yang menjaga. Bahkan kami tidak bisa keluar kecuali ada pemimpin kami. Lalu bagaimana kalian bisa masuk? Jangan terlalu banyak berbohong," ucap salah satu pemuda penuh dengan nada ejekan.
Ekspresi Ling berubah saat mendengar ini. Ia masih memasukkan satu tangannya ke saku, tapi hawa di sekitarnya menjadi dingin.
Tidak hanya itu, Han Shuangfu dan Bai Xiaoqi juga merasa tidak nyaman saat mendengar ini.
Apalagi Zhuo Xia. Sekarang matanya sangat dingin.
"Su Hua, jaga bicaramu. Jangan tidak sopan seperti itu," ucap Ketua Su pada pemuda yang tadi bicara.
"Nona Zhuo, tolong maafkan Su Hua. Ia tidak tahu jika mereka juga temanmu. Aku sangat menyesal," ucap Ketua Su.
Saat mendengar ini, Zhuo Xia hanya diam. Ekspresinya juga tidak bisa dibaca. Tidak ada yang tahu dia sedang marah atau tidak.
"Kalau begitu, ayo kita lanjut jalan," ucap Ketua Su.
Liam dan Yuan berjalan paling belakang. Saat mereka melihat jalan pegunungan yang terjal, mereka tercengang. Sebenarnya mereka telah mengunjungi banyak pegunungan, tapi mereka tidak pernah melewati jalan terjal seperti ini. Apalagi tidak ada pagar pembatas di sepanjang jalannya.
"Jika ada kesempatan lagi, aku akan meminta Ahli Bom Mei untuk membuat kereta gantung di sini," ucap Liam sambil berpikir keras. Yuan mengangguk. Ia juga setuju dengan pendapat Liam karena akan membuang-buang waktu memanjat seperti ini.
Sedangkan Su Hua dan Su Hao yang ditempatkan di paling belakang mencibir. Mereka merasa itu adalah ide terbodoh yang pernah mereka dengar. Padahal nenek moyang mereka sengaja membuat jalan seperti ini agar keturunannya bisa berlatih lebih keras.
Sebagai seorang kultivator, mereka ingin naik kereta gantung?
Mereka hampir saja tertawa. Jika mereka tidak diperingatkan oleh Ketua Su, mungkin mereka akan kembali berkomentar.
Di tengah jalan, Ketua Su tiba-tiba menerima pesan.
"Apa? Mereka semua sudah datang?" Ketua Su sangat tercengang.
Ia berkata kepada Zhuo Xia, "Nona Zhuo, tolong selamatkan suku kami."
Zhuo Xia tidak menjawab. Ia hanya memandang Ketua Su dengan tenang.
Melihat ini, Ketua Su kembali berbicara, "Kami berjanji, jika kalian menolong kami, maka kami akan memberikan hadiah."
Setelah itu, Zhuo Xia mempertimbangkan sebentar. Ia mengukur untung dan rugi yang akan dia dapatkan. Pada akhirnya, ia mengangguk. Ketua Su yang sudah berharap, merasa sangat bahagia saat Zhuo Xia menyetujui hal ini.
Wajah Ketua Su menjadi sumringah, tidak muram seperti sebelumnya. Ia berkata, "Mereka ada di batas garis pertahanan. Ayo kita ke sana."