
Konferensi pers Keluarga Lu booming. Seluruh keluarga kaya berebut untuk datang. Kebanyakan dari mereka tidak benar-benar sakit. Namun bertransaksi ramuan.
"Nyonya Wang, ini adalah ramuan menengah dengan kemurnian 30%. Ramuan ini masih utuh, kami tidak menambahkan apa pun di dalamnya. Kami menjual ramuan ini dengan harga 50 juta. Jika Anda bersedia ...," ucapan Lu Yan terpotong.
"Aku akan mengambilnya," ucap Nyonya Wang. Dia adalah seorang wanita tua yang suka menghamburkan uang untuk keturunannya. Tak heran dia sangat tergiur meski harganya sangat mahal.
"Baik, terimakasih, Nyonya Wang. Semoga kerjasama kita menyenangkan," ucap Lu Yan menjabat tangannya.
Antrian hampir mencapai seribu. Meski katanya gratis, orang biasa benar-benar tidak bisa berobat di sini. Sudah menunggu lama tapi Keluarga Lu hanya mementingkan keluarga kaya.
Tujuan lain pengobatan gratis ini adalah untuk mengumpulkan dana dari penjualan ramuan. Dengan begini, bisnis Keluarga Zhuo juga akan terganggu. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.
"Tuan Linghu, apakah Anda juga ingin bertransaksi ramuan?" tawar Lu Yan saat keluarga kaya lainnya masuk.
"Tidak. Aku hanya ingin menyembuhkan anakku. Dia selalu mengeluh sakit perut. Kami sudah membawanya ke banyak dokter di setiap rumah sakit dan juga membawanya ke dokter tradisional, tapi semua dokter bilang dia hanya sakit perut biasa. Namun anehnya sakit perut itu tidak pernah sembuh," jelas Tuan Linghu.
Lu Yan melihat sekitar. Ia tak bisa menemukan ada anak kecil. Ia berkata, "Anda bisa membawa anak Anda besok. Jika penyakitnya memang parah, kita bisa menandatangani kontrak untuk kerjasama lebih lanjut."
Tuan Linghu mengangguk. Setelah itu, ia keluar dari ruangan.
*
Sedangkan di Kediaman Zhuo, para tetua dan petinggi perusahaan rapat.
Zhuo Fan berkata, "Ayah, Lu Company menjadi semakin maju sekarang. Mereka bahkan mendatangkan ahli ramuan entah darimana. Jika ini terus berlanjut, bisnis keluarga kita akan segera bangkrut."
"Benar, Tuan Tua. Kita seharusnya tidak mendengarkan bocah dari Keluarga Chen itu. Kita sudah kehabisan modal untuk mendanai pengobatan gratis. Dan sekarang tidak adalagi yang membeli ramuan kita karena kualitasnya kalah dengan miliki Lu Company," tambah salah satu petinggi perusahaan.
"Keluarga Zhuo kita sudah cukup dikeluarkan dari Kota Bayangan. Aku tidak ingin kita semakin hancur di sini," salah satu tetua angkat bicara.
"Cukup!" bentak Tuan Tua Zhuo. Tubuhnya bergetar karena marah. Ia menggenggam erat plakat kayu di tangannya.
"Aku yang paling tahu apa yang aku lakukan!" setelah mengatakan itu, ia pergi keluar.
"Ayah mau kemana?" tanya Zhuo Fan khawatir. Ia tahu kesehatan ayahnya kurang baik.
"Kediaman Chen," jawab Tuan Tua Zhuo. Ia pergi dengan mobil Keluarga Zhuo.
Saat di dalam mobil, Tuan Tua Zhuo berpikir keras. Ia tak tahu apa maksud plakat kayu pemberian Ling. Yang ia tahu, saat Kota Bayangan hampir melenyapkan seluruh keluarganya, muncul sebuah plakat kayu berukir phoenix. Sejak itu muncul, keluarga mereka masih selamat dan hanya dibuang ke Kota Urban.
Plakat kayu phoenix itu sangat mirip dengan plakat kayu naga pemberian Ling. Tuan Tua Zhuo juga pernah melihat lambang phoenix di mobil hitam Zhuo Xia saat Zhuo Xia menjemput Ling yang ada di rumahnya. Nama keluarganya juga Zhuo.
Ia sangat frustasi memikirkan ini.
*
Di kediaman Chen.
Kali ini, Su Wen Ai menjadi tutor untuk Liam dan Yuan. Ling menyuruh mereka untuk meningkatkan nilai akademiknya. Selain itu, ia juga masih rutin melatih mereka. Bahkan Su Wen Ai juga dengan senang hati ikut berlatih.
"Ah ... akhirnya selesai," ucap Yuan lega sambil meregangkan tubuhnya.
"Kau jangan mengingatkanku. Aku hanya ingin tenang sejenak," ucap Yuan ketus. Kemudian ia juga berpikir tentang tugas itu.
"Apa yang harus aku gambar? Temanya adalah senjata. Hmm ... apakah aku harus menggambar senjata yang dipakai di dalam game?" gumam Yuan.
"Kau sangat tidak kreatif. Lebih baik menggambar seperti yang ada di internet," sahut Liam yang duduk di sebelah Ling.
"Kau lebih tidak kreatif!" jawab Yuan mengejek. Tak sengaja, matanya menangkap apa yang sedang dilakukan Ling.
"Wow! Apakah kau menggambar di komputer? Aku tidak pernah memakai komputer sebelumnya. Bisakah kau mengajarkanku? Dan apa yang kau gambar? Apakah ini adalah granat? Apakah ini untuk tugas kesenian? Gambarmu sangat bagus dan detail. Ling kau sudah lulus di Universitas Internasional Kota Bayangan. Kau tidak perlu terlalu serius dalam belajar lagi," ucap Yuan panjang lebar.
"Berisik," ucap Ling merasa sedikit terganggu.
Saat mendengar kata granat, Su Wen Ai merasa tertarik. Kini mereka bertiga sudah mengamati gambar Ling.
"Su Wen Ai, buka pintunya," ucap Ling tiba-tiba. Walau sedikit terkejut, Su Wen Ai refleks membuka pintu.
Ia tahu bagaimana Ling. Jadi dia yakin jika Ling menyuruhnya membuka pintu, pasti akan ada yang datang. Benar saja. Saat dia membuka pintu, tangan paman Qian masih mengambang di udara kosong.
"Tuan Muda, Tuan Tua Zhuo mencarimu. Dia ada di bawah sekarang," ucap paman Qian hormat.
"Baik, Paman. Aku akan segera turun," ucap Ling. Dia memberi sentuhan terakhir di komputernya kemudian mematikannya.
"Kalian tetap belajar dan berlatih. Jangan terus-terusan bertengkar dengan Chester. Chester, kau jangan menganggu teman-temanku," ucap Ling memberi nasihat sebelum dia meninggalkan kamar.
Liam, Yuan, dan Su Wen Ai mengangguk. Sedangkan Chester hanya mengatakan 'miaw' dengan sangat lembut.
"Dasar kau kucing bermuka dua," ucap Liam kesal. Ia sudah mendapat geraman dari Chester sekarang. Wajah Chester seketika berubah saat melihat Ling sudah tidak di kamar.
Saat ia bertemu dengan Chester, tatapan Chester selalu tajam padanya. Sebenarnya ia juga begitu pada Yuan dan Su Wen Ai, tapi Liam yang paling emosi melihatnya. Sedangkan saat bersama Ling, ia menjadi kucing yang menggemaskan.
*
Di ruang tamu.
Ling dan Tuan Tua Zhuo duduk berhadapan. Wajah Tuan Tua Zhuo terlihat sangat muram. Sedangkan Ling terlihat tenang seperti biasa.
"Ada apa Kakek?" tanya Ling. Dia menuangkan teh ke gelas Tuan Tua Zhuo.
"Aku pikir kau sudah mendengar tentang konferensi pers Keluarga Lu. Mereka mencuri idemu dan juga membuat pengobatan gratis. Aku dengar mereka memiliki ahli ramuan yang dapat membuat ramuan tingkat menengah dengan kemurnian 30%. Aku tidak menyangka orang yang mendukung mereka semakin hebat," jelas Tuan Tua Zhuo murung.
"Aku mengerti. Apa Kakek membawa plakat kayu yang pernah aku berikan?" tanya Ling.
Tuan Tua Zhuo mengangkat tangannya dan menunjukkan isi genggamannya.
"Kakek, aku akan memberitahumu nama plakat ini. Ini adalah plakat Dewa Tabib," ucap Ling.
Tuan Tua Zhuo sedikit terkejut. Ia pernah mendengar nama Dewa Tabib. Ia adalah ahli ramuan terhebat. Namun orang itu ada di Kota Bayangan. Bagaimana Ling bisa mengenalnya? Apakah itu suatu kebetulan?