
Liam dan Ling sudah masuk ke mobil. Sopirnya masih sama seperti yang tadi menjemput Ling.
"Paman, apakah para pelayan Keluarga Chen ada di dalam?" tanya Ling.
"Saat kami ingin masuk, pintunya diblokir," jawab sopir itu tak berani menatap mata Ling.
Ling tak berbicara kembali. Matanya melihat ke luar jendela.
*
"Apakah itu mobil pemuda itu?" tanya Xie Jin. Ia berada di ruang operator yang dikelilingi banyak orang berseragam. Ia dikelilingi oleh sekelompok anak muda sebelumnya.
"Benar, itu mobil pemuda itu," ucap pemuda yang berdiri di sampingnya. Ia sadar jika itu adalah mobil Ling.
Xie Jin masih menatap layar komputer. Tatapannya menjadi dingin dan ia dipenuhi aura permusuhan. Ia berkata, "Apa yang dia lakukan di sini? Bukankah jalan itu sudah diblokir?"
"Mereka hanya mencari kematian," ucap pemuda di samping Xie Jin.
Xie Jin memegang selembar kertas. Ia mengetuk meja dan menatap dalam kertas itu. Setelah beberapa lama diam, akhirnya ia berbicara, "Wakil Kepala Han, Xue Jun, jika kalian berdua keluar nanti, hentikan mereka."
"Apa? Apa yang akan kau lakukan?" tanya pemuda itu sambil melotot.
"Selamatkan dia," jawab Xie Jin sambil menatap Xue Jun.
Wakil kepala Han hanya diam dan melaksanakan perintah. Sedangkan Xue Jun mengepalkan tangannya erat sebelum ia mengikuti wakil kepala Han.
*
Saat ini, mobil Ling berada di tikungan. Saat berbelok, tiba-tiba dua orang asing muncul. Sopir itu menginjak rem dengan cepat.
"Injak gas dan aku yang akan mengemudi," ucap Ling dingin.
Dengan segera, ia membanting stir dan melewati dua orang itu.
Orang di ruang operator yang melihat ini merasa getaran aneh. Orang di samping Xie Jin, wakil asisten Wang berbicara, "Sialan, ini lebih keren daripada melihat mobil balap."
Xie Jin mengerutkan dahi. Ia kembali memberi perintah, "Suruh penjaga di depan menghentikan mereka."
Wakil asisten Wang berpikir mereka berempat hanyalah orang biasa. Namun ia tak menyangka jika ada pengemudi handal di antara mereka. Kini, ia tak ingin lengah lagi dan segera menyuruh orang untuk menghentikan mereka.
Sementara di jalan, Ling sudah menghentikan mobilnya. Ia keluar dan menatap dua orang itu. Kemudian ia berkata, "Jika kalian ingin mengatakan sesuatu, maka katakanlah."
"Nona Muda kami memerintahkan untuk menyuruh kalian pergi karena di tempat ini berbahaya," ucap wakil kepala Han sambil menatap Ling. Ia seperti sedang mengingat sesuatu.
Namun ia merasa tak pernah bertemu Ling. Jadi ia berpikir jika Ling hanya orang biasa. Ia tak mengerti mengapa Nona Mudanya menginginkan Ling.
"Jika hanya itu, maka minggirlah," ucap Ling.
"Wakil kepala Han, mengapa Anda membuang waktu? Langsung saja bawa mereka. Kita masih memiliki misi lain," ucap Xue Jun tak sabar.
Kemudian ia menatap tajam Ling dan berkata, "Jika bukan karena Nona Xie Jin, jika bukan karena kau meminjamkan ponsel pada kami, kami tak mungkin memperingatkan kalian."
"Misi? Kalian dari distrik mana?" tanya Ling dengan eskpresi serius. Ia bertanya hal ini karena ia ingat Zhuo Xia memiliki pasukan di beberapa wilayah. Namun kebanyakan pasukan elit telah dipindahkan ke Kota Bayangan. Hanya tersisa sedikit yang berada di luar.
"Kau tidak perlu tahu aku dari distrik mana. Yang perlu kau tahu, jika kau tidak pergi sekarang, konsekuensinya tak akan bisa kau bayangkan," ucap Xue Jun. Ia tak ingin bicara lagi dengan Ling karena ia menganggap hanya membuang waktu dengan orang bodoh.
Ling pun memasuki mobil. Di kursi belakang, Yuan sudah tak bisa menahan emosinya. Meski ia tahu Xue Jun berniat baik, tapi dari caranya bicara sangat sombong. Ia menganggap ia adalah Raja Hutan dan yang lain adalah semut.
Untungnya Yuan mengerti jika mereka tak bisa menyia-nyiakan waktu sekarang.
Melihat Ling masuk mobil, Xue Jun berpikir jika Ling mendengarkannya. Ia berkata, "Bagus, masuklah ke dalam mobil dan pergi jauh. Tempat ini bukanlah sesuatu yang bisa kau sentuh. Setelah kami menyelesaikan beberapa urusan, kalian masih bisa datang ke sini."
Di dalam mobil, ekspresi Ling datar. Ia berkata kepada sopir, "Lanjut jalan."
*
Di ruang operator, Xie Jin telah menghubungi Tuan Yu.
"Tolong suruh Komandan Yu untuk menungguku. Aku akan menemuinya secara pribadi," ucap Xie Jin. Kemudian ia memutuskan panggilan.
Setelah itu, bawahannya datang dengan tergesa-gesa dan memberi laporan, "Nona, CCTV di jalan itu telah dihancurkan. Kita tak bisa lagi melihat pergerakan Tuan Xue dan wakil kepala Han. Dan juga, orang yang Anda minta untuk ditahan telah pergi."
"Apa?" Xie Jin terlihat sangat terkejut.
"Katakan pada Komandan Yu aku akan menemuinya nanti," ucap Xie Jin. Ia segera mengambil jaketnya dan keluar menuju kediaman Chen.
Saat sampai di jalan tempat Ling dihentikan, Xue Jun dan wakil kepala Han sudah tergeletak di samping mobil mereka. Sedangkan Ling dan teman-temannya sudah menghilang.
"Wakil kepala Han, mengapa kalian bisa tak sadarkan diri? Di mana mobil tadi? Di mana orang-orang di dalam mobil itu?" tanya Xie Jin panik saat melihat wakil kepala Han bangun.
Ia tak melihat ada luka di tubuh Xue Jun dan wakil kepala Han. CCTV juga kelihatannya dihancurkan menggunakan senjata tajam. Namun ia tak menemukan senjata itu.
"Aku tidak tahu. Sepertinya orang-orang itu sudah pergi. Terakhir kali yang aku lihat adalah pria itu masuk mobil. Saat aku bangun, aku melihat kalian. Setelah itu aku tak ingat apa pun lagi," jawab wakil kepala Han yang terlihat linglung.
"Bagaimana mungkin itu terjadi? Wakil kepala Han, Anda adalah yang terbaik di antara kami. Bagaimana bisa Anda diserang tanpa sadar?" tanya orang-orang di samping Xie Jin.
"Ini semua karena pria itu! Aku memintanya untuk pergi tetapi dia keras kepala. Dia benar-benar berpikir ia hebat. Huh membuang-buang waktuku saja," ucap Xue Jun yang mulai sadar.
Yang lain hanya diam, tapi mereka setuju dengan Xue Jun.
"Menyelamatkan orang itu lebih penting," ucap Xie Jin sambil berjalan ke arah mobil.
Wakil kepala Han hanya menghela napas. Ia berbicara pada Xue Jun, "Mereka adalah target paling aneh selama aku menjalankan misi. Tuan Xue, aku dengar Anda dan Nona Xie pernah masuk ke Area Satu. Bagaimana di sana? Apa Anda pernah bertemu dengan orang-orang itu?"
Sedangkan anak muda lainnya bingung. Mereka hanya mahasiswa biasa di Universitas TOP. Mereka ikut dengan Xie Jin untuk melihat dunia luar. Memang mereka semua adalah anak pejabat, tapi pengalaman mereka sangat sedikit dibandingkan Xie Jin dan Xue Jun. Jadi mereka tak tahu apa itu Area Satu.
"Kalian tak tahu apa itu Area Satu? Biar aku beritahu kalian. Itu adalah area yang paling diimpikan oleh pasukan seperti kami. Untuk masuk ke sana harus melalui ujian yang sangat ketat. Bahkan aku gagal ditahap kedua," ucap salah satu pasukan.
"Nona Xie dan Tuan Xue sangat berbakat. Mereka bisa masuk ke Area Satu. Jadi, Tuan Xue, apa Anda pernah melihat orang-orang itu?" tanya wakil kepala Han.
"Aku ... pernah melihatnya sekali dari jauh," ucap Xue Jun. Bahkan Xie Jin sampai berhenti berjalan.
Tak lama setelah hening, ponsel Xue Jun berdering. Biasanya ia tak menerima panggilan saat menjalankan misi. Namun yang meneleponnya ini adalah ayahnya. Selain itu, panggilan ini lewat akses khusus.
Di seberang panggilan, Walikota Xue terdengar sangat gembira, "Jun akhirnya aku bisa menghubungimu."
"Ada apa Ayah? Aku sedang menjalankan misi penting," ucap Xue Jun sambil melihat ke arah CCTV. Xie Jin sendiri sudah mengeluarkan senjata.
"Xue Jun, kapan kau mengenal orang dari Area Satu? Aku baru saja menerima kabar jika orang dari Area Satu bergegas ke wilayahmu. Dengarkan aku, orang dari Area Satu sangat jarang ikut campur dengan urusan kita. Mereka semua sedang bergegas sekarang. Aku dan Komandan Xie juga akan ke sana sekarang. Kau mengenal orang-orang itu, tapi kau menyembunyikannya dari kami," ucap Walikota Xue.
"Orang-orang Satu? Apa maksudnya?" tanya Xue Jun bingung.
"Jangan menyembunyikan hal ini lagi. Baru saja asisten Area Satu memberitahu Komandan Xie jika kau mengirim pesan kepada mereka 20 menit lalu. Setelah menerima pesan itu, mereka langsung bergegas," jelas Walikota Xue.
"Pesan?" tanya Xue Jun bingung. Ia menekan tombol kembali dan mengecek kotak pesan. Ia membuka nomor asisten Area Satu. Ia memang pernah dikirim pesan untuk mendapat misi, tapi ia tak pernah mengirim pesan karena ia tak berani.
Namun sekarang memang ada pesan di sana, tapi hanya angka '2' yang dikirim.
Jantung Xue Jun hampir copot. Ia benar-benar merasa tercekat sekarang. Ia buru-buru berkata, "Ayah, sepertinya aku salah tekan saat aku tidak sadar."
"Jangan katakan itu. Jet kami hampir tiba," ucap Walikota Xue dengan suara bergetar.
"Tunggu di sana. Keselamatanmu lebih penting," ucap Walikota Xue melanjutkan.