
Pelajaran biologi adalah waktu tidur siang terbaik bagi Yuan. Namun selama pelajaran berlangsung, ia bahkan tidak tidur tanpa peringatan Ling. Ia memilih melihat pria di sampingnya.
Ling menatap ke depan dengan menopang dagu. Ia memainkan pena di tangan kanannya. Yuan belum pernah melihat seseorang memutar pena dengan begitu fantastis.
Beberapa saat kemudian, Ling berhenti. Ia membuka tutup pena dan menulis sesuatu di kertas putih. Setelah itu, ia memasukkan kertas itu ke tumpukan buku.
Ia menatap Yuan dan tertawa kecil. "Proyek L?" tanya Ling sambil menunjukkan kertas yang tadi dia ambil.
"Apakah ini layak disebut sebagai sebuah proyek? Bagaimana bisa dia begitu percaya diri menunjukkan ini dengan orang Kota Bayangan?" tanya Ling dengan suara rendah. Hampir seperti gumaman.
Namun, Yuan masih mendengarnya. "Ling, jangan katakan hal itu jika kau bersama orang lain. Itu adalah Proyek L yang dibuat Wuzhou bersama dengan Lu Company. Aku tahu kau kecewa dengan pemutusan pertunanganmu, tapi aku mohon jangan lakukan hal-hal bodoh," ucap Yuan memperingatkan.
Saat mendengar itu, senyum dinginnya perlahan memudar.
Sebuah Proyek L belaka benar-benar bisa membuat Keluarga Lu memutuskan pertunangan dengan Keluarga Chen. Juga membuat sebagian besar keluarga bangsawan berada di pihak Keluarga Lu.
Jika orang Kota Bayangan melihat proyek ini, mereka akan tertawa terbahak-bahak.
Namun sebenarnya proyek ini tetap saja menempatkan Chen Company dalam posisi yang dirugikan. Karena mereka tidak berada di Kota Bayangan sekarang.
Srek!
Ling menggeser kursinya. Ia bangkit dan bersiap pergi.
"Ling kau mau ke mana?" tanya Yuan yang ikut berdiri.
"Makan," jawab Ling cuek. Ia berjalan keluar kelas menuju cafe. Saat itu Yuan baru menyadari bahwa kelas sudah berakhir dan mereka bisa istirahat. Dia sangat fokus memperhatikan Ling sampai tak peduli waktu.
Saat sampai di cafe, Yuan berhenti sejenak.
"Kenapa?" tanya Ling menatapnya heran.
"Tidak bisakah makan di tempat biasa saja?" tanya Yuan ragu.
Di Sekolah Menengah Guxian, ada kantin umum yang bisa didatangi siapapun, karena harga makanan di sana terjangkau. Ada juga cafe yang biasanya hanya didatangi anak-anak kaya, karena harga makanan setinggi langit. Kebanyakan anak kaya makan di sana hanya untuk memenuhi gengsi.
"Tenang saja," Ling mengeluarkan kartu segitiga. Ia menunjukkan itu pada Yuan.
Yuan yang melihatnya melotot. Ia lupa jika Ling adalah seorang tuan muda.
"Tapi ...," ucap Yuan terjeda.
"Tidak ada tapi tapi. Cepat masuk!" ucap Liam dari belakang sambil mendorong Yuan masuk ke cafe. Saat ia melihat Ling dan Yuan tadi, ia langsung mendatangi mereka.
Cafe itu bernuansa putih dan cokelat. Suasana di sini lumayan ramai. Ketika Yuan masuk, orang yang ada di cafe menjadikannya sorotan. Ia tertunduk malu.
"Aku sudah memesan tiga set makanan," ucap Liam. Mereka duduk bertiga di dekat jendela. Tepat di sebelah meja Wuzhou.
Meskipun suasana cafe cukup berisik, tapi mereka duduk terpisah dalam kelompok. Jadi tidak ada yang bisa menguping pembicaraan satu sama lain. Termasuk pria di dekat Wuzhou yang berbicara dengan berbisik.
Namun karena tingkatan kultivasi Ling sudah tinggi, kelima inderanya lebih peka dari orang biasa. Ia dapat mendengar obrolan di meja Wuzhou.
Awalnya ia tak ingin menanggapi karena mereka hanya membicarakan tentang sesama mereka. Hanya obrolan anak muda labil. Namun tiba-tiba dia bangkit. Ia membanting sumpitnya.
Wuzhou duduk di sebelah pria berkacamata. Mereka mengobrol, "Buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya. Seluruh keluarga mereka tak tahu malu. Mereka tahu bahwa Nona Lu Yan menyukai Wuzhou. Namun mereka malah merebut Lu Yan darimu! Sepertinya ia benar-benar belajar dari ibunya. Nyonya Chen dan Tuan Luo juga dijodohkan. Keluarga Chen mengatakan bahwa reputasi mereka lebih tinggi, jadi Keluarga Luo harus menerima pertunangan. Aku belum pernah melihat orang yang tak punya malu seperti itu sebelumnya. Tuan Luo tak mungkin menyukai wanita seperti itu."
"Fu Zhu," suara seorang pria terdengar di sebelahnya.
Walau suara itu lembut, itu tetap membuat Fu Zhu menghentikan obrolannya. Saat mengangkat kepala, matanya bertemu dengan sepasang mata hitam pekat yang menatapnya dingin.
"Aku pikir semua teman Wuzhou bijak. Namun ternyata ada juga yang suka bicara sembarangan sepertimu. Apakah mulutmu tercipta di belakang?" kini Ling berkata dingin.
Ia memasukkan satu tangan ke saku, sedangkan satu lagi mengambil piring berisi mie yang akan dia makan tadi. Seketika, ia menuangkan mie itu ke kepala Fu Zhu.
Semua orang menatapnya kaget. Suasana berubah menjadi menegangkan. Keributan itu sudah menjadi pusat perhatian di cafe sekarang.
"Kakak, apa ... apa yang kau lakukan?" tanya Wuzhou yang lebih dulu tersadar.
Ling menatap Wuzhou. Ia memberinya senyum sedingin es, kemudian berkata, "Tidakkah kau melihat aku sedang memberi pelajaran etika pada seseorang?"
Ia melemparkan piring kosong ke meja. Ia sedikit menggulung lengan bajunya.
"Tuan Muda Fu, kau bisa menjelekkanku di belakang kapanpun. Jika kau belum puas, kau bisa menantangku secara langsung. Walau aku tahu kau tidak mungkin menang," ucap Ling dingin.
"Tapi ...," ia mengulurkan tangan dan mencengkram pipi Fu Zhu. "Siapa yang memberimu keberanian untuk menjelekkan Ibuku?"
Fu Zhu yang ketakutan, sedikit memberanikan diri. Ia mencoba berkata dengan jelas, "Aku mengatakan fakta. Ibumu menggunakan kekuasaan untuk menikahi orang lain. Kau pikir kau siapa tanpa Keluarga Chen?"
Kini Ling mengalihkan pandangannya ke arah Wuzhou. Ia menghempaskan tangannya dari pipi Fu Zhu.
"Kau dan Ayahmu unik. Mungkin Ibumu juga," ucap Ling yang tak dimengerti Wuzhou.
Apa maksudnya dengan kata 'ibu'. Bukankah ibunya adalah ibu dia juga? batin Wuzhou.
"Mengapa kau tidak membicarakan tentang cara mengembangkan Luo Company walau memiliki sedikit uang? Benarkah uang yang sedikit itu dapat membuat Luo Company menjadi sebesar ini? Apakah barang dan pakaian yang kau pakai selama ini bukan dari Keluarga Chen? Kau menggunakan itu semua secara terang-terangan. Dan bagaimana bisa kau bersikap begitu terhormat pada saat bersamaan? Sedangkan tentang Ibuku dan Ibumu, hanya Luo Feng yang mengetahui kebenarannya. Jika memang kau begitu hebat, berhentilah memakai uang dari Keluarga Chen," ucap Ling. Suaranya tidak terlalu keras, tapi semua orang di cafe bisa mendengarnya. Mereka semua terdiam.
Ia mengambil tisu yang ada di meja kemudian menyeka tangannya yang kotor. Ia menundukkan kepala.
"Aku akan memberi kalian sebuah saran. Jika kalian tak puas menjelekkanku dari belakang, kalian bisa langsung mendatangiku," ucap Ling sambil membuang tisu ke tempat sampah.
"Tapi itu jika kalian punya cukup nyali," ia mengangkat kepala dan tersenyum meremehkan.
"Apakah kalian mengerti?" tanya Ling. Ia menyapu pandangannya ke seluruh cafe. Saat matanya bertemu dengan mata Wuzhou, ia menajamkan pandangannya.