Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Apakah Ling Akan Merebut Lu Yan?


Lu Yan sedang duduk dihadapan Ling. Ia meluruskan kaki hingga rapat dengan kaki Ling. Kemudian ia meraih tangan Ling dan mulai membungkukkan badan. Wajahnya semerah tomat sekarang. Walau ia hanya memegang ujung jari Ling, itu sukses membuatnya deg degan parah.


Untungnya ia memilih untuk ganti pakaian tadi pagi. Jika tidak, bukankah mereka akan semakin terlihat seperti pasangan?


"1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8," Tuan Yuan menghitung.


"Selanjutnya bergantian," lanjut Tuan Yuan.


Kini Ling yang membungkukkan badan, sedangkan Lu Yan memegang erat tangannya.


"1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8," Tuan Yuan kembali menghitung.


"Sekarang lakukan sit-up. Tahan kaki pasangan kalian," ucap Tuan Yuan memberi arahan.


Ling memegang kaki Lu Yan. Saat mendengar aba-aba Tuan Yuan, Lu Yan menaikkan tubuhnya. Seketika matanya bertemu langsung dengan mata Ling, ia langsung menunduk. Ia tak siap dengan tatapan tajam Ling. Sedangkan Ling hanya berekspresi datar.


"Ganti," ucap Tuan Yuan.


Sekarang giliran Ling yang melakukan sit-up. Sebenarnya ia bisa melakukan sendiri tanpa bantuan Lu Yan. Namun karena ini perintah, jadi ia hanya menurut.


Hati Wuzhou sedang membara melihat kedekatan Ling dan Lu Yan. Ia sudah bersama Lu Yan sejak lama. Mereka juga sudah saling mengungkapkan perasaan satu sama lain. Mengapa sekarang Lu Yan terlihat tertarik dengan kakaknya? Apakah Ling akan merebut Lu Yan?


Ye Xuang di depannya menatap Wuzhou lekat. Baru kali ini ia menatap wajah Wuzhou terlalu dekat. Ia merasa sangat beruntung karena Wuzhou terlihat lebih tampan dari dekat. Mukanya sama merahnya seperti Lu Yan.


Setelah itu, mereka melakukan beberapa aktivitas lagi. Tiga puluh menit berakhir. Mereka pun beristirahat. Mereka kembali ke ruangan.


Ling dan Liam melangkah santai ke meja mereka. Ling segera minum ramuan yang sudah siapkan. Berolahraga selama satu jam sebenarnya tidak cukup untuk menguras keringatnya. Ia hanya haus saja.


Liam juga minum minuman dingin yang ia beli di kantin. Ia tersedak saat melihat Ling menghabiskan satu botol air dalam sekali teguk. Apakah itu juga ramuan tingkat tinggi?


Untuk menjawab rasa penasarannya, ia memilih bertanya, "Apakah itu ramuan tingkat tinggi?" Liam sedikit mengecilkan suaranya.


"Ya," jawab Ling singkat. Sekarang ia sudah menidurkan kepalanya. Beberapa saat kemudian, ia sudah terlelap.


*


Wuzhou sedang memegang erat bahu Lu Yan. Ia menatap tajam wanita di depannya. Sedangkan wanita itu hanya meringis kesakitan karena Wuzhou memegang bahunya terlalu erat.


"Apa kau jatuh cinta pada Kakak?" tanya Wuzhou. Nadanya tak sehangat biasanya. Ia juga tak memakai kata 'kamu' lagi.


"Wuzhou lepaskan. Kau menyakitiku," jawab Lu Yan sedikit memberontak.


"Jawab," bentak Wuzhou sambil menahan Lu Yan yang memberontak.


Jatuh cinta? Apakah tidak boleh? Ling adalah tunangannya. Apakah salah jika ia mulai jatuh cinta? Memang dulu Lu Yan mencampakkannya karena Ling adalah sampah. Namun sekarang Ling sudah menjelma menjadi orang jenius. Siapa yang tidak bisa jatuh cinta padanya?


Lu Yan segera menepis pikirannya. Mengapa ia bisa berpikir seperti itu?


"Kenapa?" alih-alih menjawab, ia malah bertanya.


"Apanya kenapa? Tatapan kau ke dia sama seperti kau menatapku," ucap Wuzhou masih dengan nada membentak.


Lu Yan kembali memikirkan hal ini. Ia tahu ia mencintai Wuzhou, tapi saat berhadapan dengan Ling, ia merasa hatinya bergetar. Apakah itu termasuk cinta? Ia meremas tangannya gelisah.


"Aku tidak mencintainya. Ya, aku hanya mencintaimu," jawab Lu Yan. Ia menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Wuzhou. Ia ingin menenangkan Wuzhou, sekaligus dirinya.


"Percaya padaku. Aku hanya mencintaimu. Tidak ada yang lain," ucap Lu Yan lagi, meyakinkan Wuzhou ... atau ternyata meyakinkan dirinya sendiri.


Wuzhou membelalak saat Lu Yan memeluknya tiba-tiba. Memang mereka sedang berada di tempat yang sunyi. Namun bisa saja tiba-tiba ada orang yang memergoki mereka.


"Lu Yan, kamu jangan menangis. Maafkan aku membentakmu," ucap Wuzhou. Ia membalas pelukan Lu Yan dan mengelus lembut rambut wanita itu.


Mengapa aku menangis? Apa yang aku tangisi? Apakah kebodohanku karena bisa berpikir bahwa aku mencintai Ling? Atau karena aku tidak bisa jujur pada perasaanku? batin Lu Yan masih sesegukan.


Tanpa mereka sadari, ada seorang wanita bermarga Ye sedang memperhatikan mereka di balik pohon. Wanita itu menutup mulut berusaha meredam suara tangisannya.


*


"Aku akan membagi dua tim. Tujuan tugas kali ini adalah mencari token emas yang sudah tersebar di sekitar arena pelatihan. Silahkan bagi tim kalian menjadi dua," ucap Tuan Yuan menjelaskan.


Para siswa segera menyebar. Mereka sudah jelas ingin satu tim dengan Wuzhou. Pembagian tim itu terlihat sangat mencolok. Beberapa puluh anak ada di tim Wuzhou, sedangkan di tim Ling hanya ada dua orang selain dia, yaitu Liam dan Su Qiang.


"Kalian harus membagi rata," ucap Tuan Yuan memperingatkan.


"Tuan, kami tidak ingin bergabung dengan sampah," ucap salah satu siswa.


"Benar. Dia hanya akan merepotkan kami, Tuan," tambah anak lainnya.


"Kalau kami harus bersama dia, kami akan pergi sekarang," yang lain semakin menolak.


Ling menatap mereka malas. Ia menyilangkan tangan. "Aku juga tidak menerima kalian dalam timku," ucap Ling santai. Ia tersenyum sinis.


Tuan Yuan bernapas lega. Awalnya ia ingin menolak usul mereka karena mengetahui Ling sangat berpotensi. Namun karena melihat Ling tak keberatan, ia mulai setuju.


"Baiklah kalau begitu. Timnya biarkan seperti ini saja. Token itu berbentuk persegi dan tentunya berwarna emas. Token itu tersembunyi dengan baik. Jika kalian menemukan token itu, juga akan mendapat rintangan. Saya akan memberi waktu 3 jam. Apakah sudah mengerti?" tanya Tuan Yuan setelah selesai menjelaskan.


"Mengerti Tuan," jawab para murid serempak. Mereka segera pergi berkelompok. Kelompok Wuzhou pergi ke area depan, sedangkan kelompok Ling pergi ke area belakang.


*


Ling, Liam, dan Su Qiang sedang duduk santai di bawah pohon rindang. Mereka duduk bersila sambil memejamkan mata. Ling menyuruh mereka untuk berkonsentrasi dan berkultivasi. Setelah itu ia memberi mereka ramuan.


"Ling kita sudah satu jam hanya duduk saja," ucap Liam sambil menerima ramuan Ling. Ia meneguk sedikit ramuan itu dan mengembalikannya pada Ling.


"Mengapa hanya sedikit?" tanya Ling heran.


"Aku tidak berani," jawab Ling sambil mengusap sisa ramuan di bibirnya.


"Habiskan. Kalau tidak, kubuang saja," ucap Ling acuh. Sedangkan Su Qiang di sampingnya sudah meminum habis satu botol.


"Kau tentu tahu aku tidak bercanda," ucap Ling lagi. Liam buru-buru mengambil botol di tangan Ling dan meneguk habis seluruh isinya.


"Kau gila? Kau ingin membuang ramuan tingkat tinggi begitu saja?" tanya Liam berusaha mengatur napas.


"Apa? Ramuan tingkat tinggi?" Su Qiang membelalak kaget. "Maaf Ling, maaf, aku tidak tahu. Aku akan mengembalikannya," lanjut Su Qiang sambil berulang kali membungkuk.


Ling menghela napas pelan. "Ramuan itu untuk penglihatan kalian agar lebih jernih. Selain itu kalian tak akan mudah lelah," jelas Ling.


"Kita satu tim. Tak perlu sungkan," lanjut Ling yang masih melihat mereka terdiam.


Liam mencerna ucapan Ling. Ia memandang lurus ke depan. Benar saja. Burung kecil yang ada di ujung pohon pun dapat ia lihat. Ia masih belum percaya. Ia menelusuri lebih jauh.


Apa itu? Semut? Ia dapat melihat semut diantara rerumputan? Wow! Ramuan tingkat tinggi benar-benar hebat.


"Ayo kita mencari token!" ucap Liam semangat. Ia bangkit dan mengepalkan tinju ke atas.