Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Siapa yang Akan Melindungi Ling?


Ling masih santai merakit robot mini. Ia mengeluarkan banyak bahan kimia dari tasnya. Ia tak melihat ke depan, kanan, kiri, atau belakang. Ia tak mengatakan apa pun. Ia melakukan dengan santai dan mempercayai Zhuo Xia.


Yu Bin dan para ilmuwan lainnya sesegera mungkin meninggalkan vila.


Zhuo Xia mengangkat cakarnya. Cakar itu berkilau di antara percikan api. Manusia titan mendatanginya dari segala arah. Ia segera melompat menerjang mereka. Ia memutarkan tubuhnya di udara dan mencakar para manusia titan itu.


Barisan depan manusia titan tumbang.


Ling selesai merakit robot mini. Ia mengambil sebotol bahan kimia di tasnya. Ia juga mengambil timer di tasnya.


Yu Bin melihat tiga orang yang masih diam tak jauh dari Ling. Ia berkata dengan kesal, "Mengapa kalian masih di sini? Lebih baik kalian pergi."


Su Wen Ai menatapnya tajam.


"Pergi? Jika kami pergi, siapa yang akan melindungi Ling?" tanya Su Wen Ai. Ia tahu posisi mereka menyulitkan Ling. Namun teman tetaplah teman. Mereka pergi bersama, maka mati bersama.


Bagi Yu Bin, kata teman adalah hal tersulit baginya. Karena untuk membuktikannya, tak perlu ucapan, tapi tindakan.


"Apa yang dilakukan Ling?" tanya Yuan bingung.


"Membuat bom," jawab Su Wen Ai santai, seolah itu adalah hal biasa.


Masih ada botol terakhir. Ia meletakkannya di dalam robot, kemudian memperkirakan posisi yang tepat untuk robot itu. Akhirnya ia meletakkan robot di titik perkiraannya.


Ia berjalan ke arah Zhuo Xia dan memegang timer. Saat itu, di belakang mereka berdua, puluhan manusia titan masih mengikuti. Namun keduanya tak takut sama sekali.


Satunya terlihat keren, satunya terlihat santai.


"Ayo pergi," ucap Ling begitu sampai di rombongan.


"Manusia titan di belakang itu ...," ucapan Liam terhenti.


Bom!


Ledakan terjadi. Mereka dapat melihat bangunan itu hancur, tapi jalan keluar mereka masih baik-baik saja.


Yu Bin melihat ngeri ke arah Ling. Ia membuat bom mini dalam satu menit. Dalam satu menit pula ia memperkirakan posisi yang tepat dan tebakannya akurat. Yu Bin bersyukur Ling ada di pihaknya. Jika tidak, mungkin tidak ada yang bisa menandinginya. Bahkan ahli bom internasional sekalipun.


Ling mengangkat kepalanya dan melihat CCTV. Ia berkata, "Permainan berakhir."


*


Di sebuah markas bawah tanah.


Seorang pria berkacamata hitam sedang memutar videonya beberapa kali. Dia melihat Ling merakit bom mini.


Tadi ia sempat mencuri kendali kamera CCTV dari A Shui di vila. Namun hanya satu menit. Dan dalam satu menit itu ia melihat Ling merakit bom dengan bahan kimia di tasnya. Sedangkan ia melihat ngeri ke arah Zhuo Xia. Ia sampai mengeluarkan senjatanya dan membunuh manusia titan itu dengan satu kedipan mata. Namun ia tak dapat melihat jelas senjata itu. Zhuo Xia terlihat seperti menggunakan tangan kosong.


Ia mengetik sesuatu di keyboard untuk mencari informasi tentang senjata yang digunakan Zhuo Xia. Namun tentu ia tak menemukan apa pun karena informasi Zhuo Xia dilindungi dengan sangat ketat.


"Buat rencana baru," ucap pria berkacamata hitam itu.


"Kedua orang ini sangat kuat. Yang satu bisa membuat bom, yang satu menggunakan senjata aneh," ucapnya lagi. Ia sedikit frustasi karena tak menemukan informasi apa pun.


*


Di luar vila.


Yu Bin menyuruh bawahannya untuk membersihkan kekacauan. Ia juga menyuruh mereka memeriksa jejak yang tertinggal.


Sekarang Yu Bin melihat ke arah Zhuo Xia yang sudah duduk santai di mobil. Tangannya bersih dan halus seolah ia tak habis membunuh monster. Senjatanya juga sudah hilang.


"Nona Yu, kemampuan Anda meningkat pesat. Bom itu tidak meninggalkan jejak apa pun. Kepala pemimpin mengatakan Anda dapat segera bergabung dalam Kota Bayangan," ucap seorang bawahannya melapor.


"Itu bukan ...," Yu Bin ingin menyangkal, tapi ucapannya terpotong.


Yu Bin segera mengambil plakat itu di tasnya. Ia memberikannya pada Zhuo Xia. Ia tak mengerti mengapa Zhuo Xia tak ingin ia memberitahu mereka bahwa Ling yang membuat bom itu.


Sedangkan Ling hanya berdiri santai di sebuah pohon. Ia menyilangkan tangan dan menatap sekitar. Ia sedikit risih mendengar celotehan Yuan.


Saat itu, ia melihat Zhuo Xia menerima plakat. Plakat dengan ukiran phoenix.


Tak lama, ia merasa sesuatu yang lembut menyentuh kakinya. Ia melihat ke bawah dan melihat seekor hewan dengan bulu oranye.


Itu adalah kucing.


Kucing itu mengeluskan kepalanya ke celana Ling. Sesekali ia menjilati sepatu Ling.


Ling mengangkat kucing itu dan dan mengelus kepalanya. Ia berkata, "Apa kau tahu sedang berhadapan dengan siapa?" tanya Ling santai menatap kucing itu.


Mata besar kucing itu hanya menatapnya balik.


Ia memberi kucing itu ke Su Wen Ai.


"Bawakan itu untukku," ucap Ling.


Setelah itu, ia berjalan ke arah Yu Bin.


"Nona Yu, bisakah kalian meminjamkan mobil untuk kami pulang?" tanya Yu Bin.


"Ah panggil saja dengan namaku," ucap Yu Bin canggung. Ia melirik ke arah Zhuo Xia.


"Ayo pergi. Kau bawa mobilnya," ucap Zhuo Xia. Ia bergeser dari kursi kemudi ke kursi penumpang di sebelah.


Orang yang ada di luar vila menatap kepergian mereka. Profesor Luohai memakai kembali jubah putihnya.


"Nona Yu, apa Anda kenal dengan pria tadi?" tanya Profesor Luohai.


"Itu adalah Tuan Muda Chen, Chen Ling. Apa ada yang salah?," jawab Yu Bin.


Mendengar ini, Profesor Luohai tertegun sejenak. Pikirannya tiba-tiba kosong. Beberapa saat kemudian, ia pun menepis pikiran negatifnya. Pengaruh orang itu padanya masih sangat besar sampai sekarang walau dia hanya mendengar namanya dan walau ia sudah meninggal.


"Tidak ada. Hanya saja nama ini mirip seperti orang yang aku kenal," jawab Profesor Luohai.


Setiap orang di Kota Bayangan patuh terhadap Ling X. Mereka bisa menjilat Ling X tanpa malu. Mereka juga tak akan ragu jika Ling X meminta kekuasaan mereka. Yang mereka tahu hanya Ling X.


Mereka tidak tahu nama aslinya adalah Chen Ling.


*


Su Wen Ai adalah orang yang turun terakhir. Kemudian ia menyerahkan kucing oranye pada Ling. Dengan begitu, Zhuo Xia kembali mengambil alih kemudi.


Zhuo Xia sedikit melirik Ling yang ada di sebelahnya. Ia memangku kucing oranye dan mengelus-elus kepalanya. Zhuo Xia memperlambat kecepatan mobilnya.


Begitu mobil terhenti, Ling turun. Ia melihat ke jendela yang terbuka.


"Tentang vila itu ...," ucapannya tertahan.


Zhuo Xia menatapnya balik. Ia menyelam ke dalam mata hitam pekat itu. Ia berkata, "Tenang saja. Aku akan menutup berita tentang itu."


Dengan begitu, Ling mengangguk. Ia masuk ke kediaman Chen dengan cara memanjat tembok.


Zhuo Xia tak pernah memikirkan ini. Saat Ling melompat, gerakannya seperti ahli yang pernah berlatih militer.


Kemudian ponselnya berdering. Itu adalah A Shui.


"Nona Zhuo, Anda bisa memberitahuku alasannya sekarang," ucap A Shui di telepon.