
A Shui mengendarai mobil. Ia berjalan menuju Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Kemudian sayu panggilan masuk, ia mengangkatnya.
"Ada apa?" tanya A Shui.
"Mereka berhasil menemukan jika orang itu adalah Anda," jawab salah satu bawahan A Shui.
"Lagipula mereka sudah tahu. Untuk apa lagi dilacak? Hanya membuang-buang waktu," ucap A Shui santai. Ia memainkan laptop dan memasang mode otomatis pada mobil.
Saat itu, mobilnya berhenti di depan sebuah gerbang. Ia sudah sampai di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Ia tersenyum tipis.
A Shui melihat jam tangan. Ia bergumam, "Sudah waktunya."
Tidak lama setelah dia melangkah, terdengar suara deru jet tempur. Jet itu mendarat dengan mulus di tanah.
Para anggota Organisasi Tempur sudah berbaris. Mereka siap untuk menyambut Raja mereka. Tangan mereka dingin..Tubuh mereka sedikit bergetar. Bahkan jantung mereka sudah berdetak tak karuan.
Dalam keheningan itu, sosok pria tinggi dan tegap melompat keluar dari jet. Ia menopang tangannya dan mendarat dengan akurat. Kemudian ia mengangkat kepalanya dan menatap orang-orang ini.
Ia tersenyum.
Setiap orang dapat merasa jika ini adalah senyum Ling X.
A Shui yang lebih dulu sadar, dia memberi penghormatan militer kepada Ling.
"A Shui! Anggota Organisasi Tempur!" ucap A Shui tegas.
"Fu Hiang! Anggota Organisasi Tempur!" ucap seorang pria bernama Fu Hiang.
"Shen Du! Anggota Organisasi Tempur!" teriak pria lain yang bernama Shen Du.
Setelah tiga orang itu, anggota lain juga ikut memberi hormat militer.
"Selamat datang kembali, Raja!" teriak mereka semua. Saat mengatakan ini, semua orang merasakan sengatan aneh di tubuh mereka.
Mereka telah menunggu saat ini tiba. Mereka adalah yang bertahan sampai akhir. Perasaan seperti ini tak bisa diabaikan.
Mereka terlempar kembali ke ingatan dimana mereka pertama kali mendengar tentang kabar kepergiannya. Jangan tanyakan seberapa hancur mereka.
Namun tekad mereka tetap kuat. Mereka diam-diam berjanji pada diri sendiri akan menjaga Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Mereka tidak menyerah setelah beberapa bulan terakhir.
Tidak ada yang tahu dia akan kembali atau tidak. Namun semua orang sudah memutuskan satu hal yang sama. Yaitu menunggu sampai akhir.
Sampai hari ini mereka melihatnya lagi, ternyata penantian itu sepadan. Dia kembali.
Ling berdiri dengan tegak. Dia berbicara dengan santai, "Organisasi Tempur akan kembali muncul ke permukaan Kota Bayangan. Apakah kalian takut?"
Perkataan Ling menggema di telinga mereka.
A Shui adalah orang pertama yang menjawab, "Aku telah menunggu sampai hari ini tiba."
Ia yang paling tahu jika orang di depannya ini sudah meninggal. Ketika mendengar kata kematian, ia merasa sangat emosi. Apalagi setelah mendengar rekaman tentang Mo Xiayi.
Mengingat Mo Xiayi, matanya mengeluarkan tatapan haus darah.
Ling tertawa kecil. Ia berkata dengan lantang, "Hidup Organisasi Tempur!"
*
Bahkan Liam, Yuan, dan Su Wen Ai datang ke sini. Mereka ikut membantu Lingxi dalam pengobatan.
"Ling! Kau darimana saja?" tanya Yuan saat melihat Ling turun dari tangga.
"Aku baru saja bangun," jawab Ling berbohong. Ia turun ke bawah setelah mengganti pakaiannya.
"Kau tidur? Kau sangat rugi karena baru saja melewatkan kejadian paling bersejarah!" ucap Liam yang tak habis pikir dengan Ling.
"Oh," jawab Ling santai. Ia duduk di sofa dan meminum jusnya.
"Oh? Raja Legendaris baru saja muncul! Apa kau tidak tahu siapa dia?" tanya Yuan yang geleng-geleng melihat sifat Ling.
"Mengapa aku harus tau tentang dia?" tanya Ling cuek. Ia mengembalikan gelas dan melihat keadaan Zhao Ran.
"Jangan bicara lagi. Obati mereka semua," ucap Ling saat melihat Liam dan Yuan membuka mulut.
Saat mendengar ini, mereka berdua bernapas pasrah. Mereka lanjut mengobati anggota Keluarga Zhao.
"Kakak Chen, aku dengar kau berasal dari Keluarga Bo. Bagaimana bisa?" tanya Zhao Ran yang sudah sadar. Walau masih banyak luka di tubuhnya yang belum diobati, ia tetap bisa bicara.
"Ceritanya panjang," ucap Ling sambil mengobati luka Zhao Ran. Ia meneteskan beberapa antiseptik. Kemudian membalut luka Zhao Ran dengan kain yang sudah direndam ramuan.
Chen Lin menghampiri mereka berdua. Ia mendengar dari Bo Minghao jika mereka adalah Keluarga Zhao, keluarga ramuan yang legendaris. Chen Lin melihat jika Ling akrab dengan salah satunya. Jadi dia sedikit penasaran.
"Ling, bagaimana keadaannya?" tanya Chen Lin yang melihat Zhao Ran sangat menyedihkan.
"Dia akan segera sembuh," jawab Ling masih mengobati bagian luka yang lain.
"Halo, Bibi," sapa Zhao Ran. Ia sedikit mengernyit saat merasakan sakit saat tersenyum.
"Kau sangat kuat, Nak," ucap Chen Lin menatap tulus pada Zhao Ran.
"Tentu saja, Bibi. Aku akan kuat seperti Kakak Chen," jawab Zhao Ran antusias. Sepertinya ia sangat senang bertemu dengan Chen Lin.
"Anak pintar," ucap Chen Lin sambil mengelus lembut rambut Zhao Ran.
Mereka berbincang cukup lama. Sedangkan Ling hanya mengobati Zhao Ran dalam diam. Ia menggunakan ramuan rahasia dari akademi ramuan untuk mempercepat penyembuhan Zhao Ran.
"Istirahat," ucap Ling datar. Ia membereskan peralatannya dan beralih ke Nyonya Zhao.
Sebelumnya, Nyonya Zhao telah diperiksa oleh Lingxi. Ia juga sudah diberi pertolongan oleh Lingxi. Jadi saat ini keadaan Nyonya Zhao sudah membaik.
Ling beralih lagi ke Tuan Tua Zhao. Saat ini, ia juga belum sadar. Selain karena racun, ia juga terkena serangan fisik.
"Tuan Tua, ayo minum ini," ucap Ling pada Tuan Tua Zhao yang belum sadar.
"Bagaimana bisa kalian diserang?" tanya Ling pada Zhao Ran yang masih membuka mata.
"Ini semua karena keserakahan Zhao Du. Ia ingin menjadi pewaris. Jadi dia berkhianat dan menemui pembunuh bayaran. Kami semua dikepung. Sebenarnya pembunuh bayaran itu bersembunyi bukan karena takut, tapi karena ada Kakak Zhao Nuan. Dan juga pembunuh bayaran itu tidak hanya dibayar dengan uang, tapi mereka mengincar harta karun keluarga. Zhao Du lah yang membocorkan tentang itu," jawab Zhao Ran sambil menggertakkan gigi. Ia sedikit tidak terima karena Zhao Du mati dengan mudah.
Walau ia sempat sekarat, tapi ia tetap bertekad ingin membalas dendam. Ia tak terima melihat Ibu dan Kakeknya terbaring lemah dan tak sadarkan diri seperti ini. Ia ingin membuat mereka yang melakukan ini merasakan hal yang sama.
"Harta karun apa itu?" tanya Ling yang sebenarnya sudah memiliki jawaban di kepalanya.
Zhao Ran menarik napas dalam. Ia ingin mengontrol emosinya. Kemudian ia menjawab, "Itu adalah kertas coklat kusam. Menurut kabar, itu adalah peta harta karun."