Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Tidak Berani Langsung Mengaku


Ketika memikirkan ini, Ling tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa. Ling mengambil amplop itu dan berjalan keluar sambil memijat pelipisnya.


"Tuan Muda Chen, apakah Anda baik-baik saja?" tanya seseorang yang menunggunya di luar. Ketika melihat Ling begitu pucat, ia tidak bisa tidak bertanya.


Ling tidak memijat pelipisnya lagi dan menyimpan amplop itu, "Tidak apa-apa. Bagaimana kau bisa datang ke sini?"


Mereka berdua berjalan menuju halaman Ling.


Melihat ekspresi Ling sudah kembali normal, Shi Jiu tidak bertanya lagi. Ia mengamati orang-orang di sekitarnya. Ada banyak orang di sini. Ada Zhan Yu dan saudara-saudaranya, serta Su Wen Ai yang terlihat sedang berdiskusi bersama yang lainnya.


Ling tahu jika Shi Jiu takut, "Katakan di sini saja. Tidak apa-apa."


Tak ada yang perlu disembunyikan dari mereka.


Kemudian, Shi Jiu mengeluarkan sebuah kotak kayu.


Ling tersenyum dan berkata, "Aku akan mengingat ini."


"Tidak apa-apa. Jika bukan karena Anda, Keluarga Shi kami pasti sudah hancur," ucap Shi Jiu mengejek dirinya sendiri.


Ling tidak mengatakan apa-apa lagi dan akan mengingat kebaikan Shi Jiu. Shi Jiu juga tidak ada yang ingin dibicarakan lagi. Setelah menyerahkan barang itu pada Ling, Shi Jiu kembali ke keluarganya untuk menyelesaikan urusan.


*


Ling mengunci dirinya di kamar dan mengeluarkan beberapa potongan peta kuno. Ia mulai menyatukan mereka untuk menemukan lokasi yang tepat.


Ling baru keluar pada malam hari.


Selama ia di sini, banyak orang dari Keluarga Bo yang datang, tetapi Ling hanya bertemu dengan tetua pertama.


Ling mengucapkan beberapa patah kata kepada tetua pertama sebelum menyuruhnya kembali.


Ia melirik Yuan yang berdiri di dekat pintu. Ia memijat pelipisnya dan berkata, "Ayo pergi."


Namun, Yuan tidak bergerak.


"Kenapa?" Ling mengerutkan keningnya.


Yuan tidak berbicara dan hanya menunjuk ke arah belakang.


Ling membalikkan badan dan melihat sosok yang berdiri membelakanginya. Tetua pertama juga melihat orang itu. Ekspresinya langsung berubah, "Nona Zhuo? Mengapa Anda di sini?"


Zhuo Xia membalikkan badannya dan menatap Ling. Ia berkata, "Aku di sini untuk mencarinya. Kau tak perlu mempedulikan keberadaanku."


Tetua pertama langsung tahu siapa yang dia bicarakan. Tetua pertama tidak mengatakan apa-apa dan dia tidak ingin peduli dengan urusan mereka. Ia pun pergi.


Ling sedikit menghela napas dan memberi isyarat kepada Su Wen Ai. Kemudian, ia berjalan menghampiri Zhuo Xia.


Zhuo Xia mengangkat ponselnya yang berdering dan meraih tangan Ling. Orang ditelepon mengatakan sesuatu dan dia menjawab dengan santai, "Tak perlu menahan orang ini. Jika para penjaga keberatan, biarkan mereka mencarinya lagi nanti."


Ling tahu siapa yang dibicarakan Zhuo Xia. Saat ia membuka mulut dan ingin mengatakan sesuatu, Zhuo Xia menjawab lagi, tapi dengan suara dingin, "Dia menggangguku. Apa aku tidak bisa menyentuhnya?"


"Bukankah sudah kubilang biarkan saja dia?" Ling tahu jika Zhuo Xia sedang membicarakan Long Hua.


Zhuo Xia menutup telepon dan menatapnya.


Ling ingin menghela napas, tapi kepalanya sakit lagi. Ia tahu jika Zhuo Xia ingin membalaskan dendam untuknya. Namun, tetap ada satu hal yang tidak bisa dia sangkal. Jika bukan karena Long Hua, hasilnya pasti tidak akan seperti ini. Ia mungkin tidak bisa keluar dari pintu itu.


"Aku baru saja bertemu Bibi Chen," Zhuo Xia sudah menyelesaikan masalah ini. Ia tidak ingin membuang waktu untuk membicarakan hal tidak penting. Jadi, ia mengubah topik pembicaraan.


"Kau pergi menemui ibuku?" Ling tercengang.


Dalam waktu singkat, ia sudah tiba di jet pribadi Zhuo Xia.


Saat Zhuo Xia melihat Ling memijat pelipisnya lagi, matanya meredup. Ujung jarinya dengan santai menyapu pergelangan tangan Ling dan akhirnya mendarat di kepalanya, "Apakah itu sangat menyakitkan?"


"Tidak," Ling menggelengkan kepalanya.


"Apakah Lingxi mencarimu?" tanya Ling.


"Aku sudah mengatur tentang ramuan. Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu. Zhuo Shiaonian dan yang lainnya juga tidak berada di luar negeri. Tidak ada yang akan terjadi," jawab Zhuo Xia. Ia tahu apa yang ingin dibicarakan Ling.


Ling memang merasa lega setelah mendengar ini. Ia paling takut Zhuo Shiaonian dan yang lainnya akan bergerak ketika dia kembali ke Kota Urban. Sekarang, mereka tidak berada di luar negeri, ia bisa sedikit lebih tenang pergi ke Kota Urban.


Karena ia merasa sedikit lelah, ia bersandar di kursi dan tertidur. Zhuo Xia menatapnya lama, sebelum memindahkan kepalanya ke sisinya.


*


Saat larut malam, Zhuo Xia masih berdiskusi dengan sekelompok orang di ruang kerjanya. Kemudian, pintu tiba-tiba terbuka.


Orang-orang yang ada di sana semuanya adalah anggota Keluarga Zhuo. Setelah Zhuo Chun mati, Zhuo Xia yang sebelumnya tidak pernah peduli dengan masalah keluarga mereka, sekarang ia lah yang mengambil alih Keluarga Zhuo. Orang-orang didalam adalah bawahan terpercaya Zhuo Xia. Semua orang tahu, jika mereka sedang mendiskusikan masalah, orang biasa tidak boleh mengganggu mereka.


Jadi, mereka penasaran siapa yang berani mengganggu mereka saat ini.


Ketika mereka menoleh, mereka melihat wajah tampan.


Kebanyakan dari mereka tidak mengenal Ling. Ini yang membuat mereka merasa aneh. Benar-benar ada seorang pria di tempat Zhuo Xia?


Zhuo Xia juga terkejut melihat Ling. Ia berjalan ke sisinya dan menghalangi tatapan semua orang kepadanya. Kemudian, satu tangan menggandeng Ling dan tangan lainnya melambai, "Ketua Dai yang akan menyelesaikan masalah ini nanti. Kalian bisa pergi dulu."


Kemudian, ia berjalan bersama Ling.


Pria tua berjanggut putih yang masih duduk di kursi merasa sangat terkejut. Walau ia sudah tua, matanya belum kabur. Ia bisa melihat sedikit kehangatan dari Zhuo Xia ketika bersama pria itu.


"Siapa pria itu?" tanya tetua yang tadi berdiri di samping Zhuo Xia.


Mendengar pertanyaan ini, tetua Zhuo menghela napas pelan dan menjawab, "Dia? Dia adalah nyawa Zhuo Xia."


*


Ling menyipitkan mata. Ia benar-benar tidak berdaya, "Mengapa aku tertidur?"


Ekspresi Zhuo Xia tetap tenang. Ia membuka laci dan mengeluarkan laptopnya, "Kau terlalu lelah. Aku bertanya pada Su Wen Ai. Katanya, kau belum beristirahat selama beberapa hari terakhir."


Ling melirik Zhuo Xia, bingung apakah kata-katanya dapat dipercaya. Namun, karena ia baru bangun, pikirannya masih berantakan.


Ia turun dan mengambil satu botol anggur dari meja bar. Ia duduk di kursi dan melihat lampu luar. Ia tenggelam dalam pikirannya.


"Ada yang membuatmu tidak nyaman?" Zhuo Xia berjalan menghampirinya.


"Tidak," Ling menggeleng dan menyesap anggurnya. Ia pikir ia tak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia akan langsung pergi saat fajar. Jika tidak, tidak akan ada waktu.


Zhuo Xia ingin mengambil gelas anggurnya. Namun, melihat wajah lelahnya, ia hanya bisa menghela napas dan mengurungkan niatnya.


Ling kembali minum, tapi matanya menjadi merah. Barulah saat itu Zhuo Xia merebut gelas anggur dari tangannya. Ia berkata dengan lembut, "Jangan minum lagi."


Awalnya, Zhuo Xia ingin dia minum anggur agar tidur nyenyak. Namun, melihat keadaannya seperti ini, Zhuo Xia tak akan membiarkannya.


Ling hanya mengikuti gerakan tangan Zhuo Xia ketika merebut gelas anggurnya. Ia tidak mengambil gelas anggur itu kembali dan hanya berkata dengan suara pelan, "Aku tidak menyangka Long Hua akan mengambil bom itu dan aku tidak menyangka Mo Xiayi menghianatiku. Xia, dua orang yang paling ku percaya saat itu ...."


Pengkhianatan yang mengorbankan nyawa.


Zhuo Xia merasakan panas di lehernya. Ia sedikit mendongak dan menatap Ling. Namun, matanya agak dingin.


Ia berkata dengan suara yang sangat lembut, "Tidak apa-apa. Itu semua hanya masa lalu."


"Xia ...," gumam Ling.


Hati Zhuo Xia sakit melihatnya seperti ini, tapi ia tidak tahu harus berkata apa. Ia menarik napas dalam-dalam dan berkata dengan suara paling lembut, "Ini salahku karena terlambat menemukanmu. Ini tidak akan pernah terjadi lagi."


Sejak Ling tertidur di jet pribadi, ia sudah merasa ada yang tidak beres. Ada sesuatu yang tampaknya mempengaruhi emosinya, tapi ia sendiri tidak tahu apa itu. Sebagai seorang dokter, seharusnya ia paling mengerti dengan kesehatannya sendiri. Namun, ia bahkan tidak dapat mengetahui penyebab sakit kepalanya.


Perasaan ini sangat menyakitkan sehingga membuatnya merasa tidak nyaman. Ia merasa telah melupakan sesuatu, tetapi Zhuo Xia tidak pernah memberitahunya apa-apa. Sial, untuk beberapa alasan, ia mempercayai Zhuo Xia.


"Tidak apa-apa," Zhuo Xia mengaitkan jari-jari tangan mereka. Ia sedikit menjinjit dan mencium bibirnya. Ia mencoba menghiburnya.


Ling hanya menatapnya. Matanya yang biasanya dingin, sekarang terlihat bingung. Bibirnya juga mulai kembali ke warna aslinya.


Zhuo Xia menatap orang di depannya, orang yang telah lama dia cari. Setiap kali dia menemukannya, orang itu akan segera menghilang lagi. Ia mencarinya begitu lama dan selalu memikirkannya. Bahkan, ia tidak berani langsung mengaku ketika dia sudah menemukannya. Ia takut aturan sialan itu akan menimbulkan masalah lagi ketika mereka saling mengenali.


Sekarang, dia sudah sangat dekat. Masalah ini akan segera bisa diselesaikan.


"Jangan khawatir. Kali ini, hal itu akan benar-benar terselesaikan," Zhuo Xia mengalungkan tangan ke lehernya dan menunduk. Suaranya tidak sedingin sebelumnya, tetapi ada suara serak yang tertahan.


Dalam keadaan linglung, Ling samar-samar hanya bisa mendengar satu kalimat.


"Chen Ling ... tunggu aku kembali," suara itu terdengar sedikit tidak nyata di telinga Ling atau mungkin di pikirannya.


Ia ingin membuka matanya, tapi matanya seperti di lem. Ia tak bisa membuka mata bagaimanapun caranya. Akhirnya, ia kembali tenggelam ke dalam kegelapan.