
Ling dan ketiga temannya pergi ke hutan untuk mencari bahan obat. Mereka membawa beberapa pasukan untuk melindungi mereka. Yuan dan Su Wen Ai tak terlalu tertarik karena mereka tak mengerti hal ini. Liam pun begitu. Namun ia ingat dengan keadaan kakeknya, jadi ia juga mau mencarinya.
Ling juga ingin fokus naik ke level 9. Level 9 berbeda dengan level sebelumnya. Ia takut akan menimbulkan keributan jika dia berada di tempat umum. Jadi dia mencari hutan yang tenang dan sepi.
Hutan di sini terlihat sangat terawat, bukan hutan liar pada umumnya. Bahkan beberapa binatang terlihat hidup dengan damai. Mereka makan dengan sumber daya yang ada di hutan.
Menurut peta yang didapat oleh Ling, mereka harus masuk lebih dalam lagi jika ingin menemukan bahan obat. Namun mereka sudah diperingatkan jika semakin ke dalam semakin berbahaya. Jadi mereka diberi beberapa senjata oleh pemandu.
"Berhenti. Diam," ucap Ling singkat. Semua orang yang mengikutinya langsung mengikuti instruksi.
Mereka bersembunyi di balik pohon yang cukup besar. Pohon itu mampu menutupi mereka semua.
Ketika itu, terdengar bunyi berisik. Kedengarannya seperti orang yang berbincang-bincang tentang sesuatu. Namun mereka tak bisa mengerti bahasa ini.
Kecuali Ling. Ini bahasa kuno.
Meski ia tak bisa memahami semuanya, tapi ia tahu inti pembicaraan mereka.
Mereka bicara tentang sihir.
Dan tentang Zhuo Xia.
Ling keluar dari persembunyiannya. Ia mendatangi dua orang yang ada di depan. Saat merasa ada seseorang, orang itu berbalik.
"Kau Chen Ling?" tanyanya.
"Kau Peramal Wang Yuqin?" tanya Ling santai. Ia tahu Wang Yuqin adalah salah satu peramal dari klan penyihir yang ada di Kota Bayangan. Walau klan penyihir terus menyembunyikan diri, tapi beberapa diantara mereka ada yang memakai identitas palsu.
Keturunan klan penyihir tidak hanya peramal, tapi ada yang lebih hebat dari itu.
Kemudian semua teman-teman dan pasukannya keluar. Mereka melihat seorang wanita yang sangat cantik. Ia memakai gaun putih yang terlihat besar untuknya. Rambut hitamnya yang panjang terurai begitu saja. Pipinya semerah bibirnya. Kesempurnaan yang tiada tara.
Semua yang melihat pasti langsung terpesona, baik pria maupun wanita.
"Aku sudah memesan hutan ini. Mengapa kalian bisa ada di sini? Pergi kalian! Aku ada urusan rahasia di sini," ucap Wang Yuqin yang terlihat meremehkan teman-teman dan pasukan Ling. Ia melihat seolah mereka adalah rakyat jelata.
"Kami bisa datang ke sini kapanpun kami mau," ucap Su Wen Ai ketus. Ia merasa wanita di depannya memiliki niat jahat.
"Kau jangan terlalu galak. Wanita lemah sepertimu tak pantas bicara denganku," ucap Wang Yuqin sambil mengangkat dagu Su Wen Ai. Dengan segera, Su Wen Ai menghempas tangannya.
Namun wanita itu hanya tertawa kecil.
"Kau mau mencari masalah rupanya," ucap Yuan penuh emosi. Dia maju untuk bersiap menyerang Wang Yuqin. Namun dalam jarak satu meter, seperti ada dinding batu di depannya, Yuan terpental jauh.
Liam yang melihat ini ikut maju. Namun yang terjadi sama. Liam terpental seolah ada yang menghalanginya.
"Aku sudah bilang kalian terlalu lemah," ucap Wang Yuqin meremehkan.
Su Wen Ai tak menyerang. Ia tahu itu tak akan membuat perubahan. Yang ada dia juga terluka. Maka ia memilih memberi Liam dan Yuan ramuan yang selalu mereka bawa.
Pasukan yang mengawal mereka juga ingin menyerang, tapi dengan satu lambaian tangan Ling, mereka berhenti.
Ling mengerutkan keningnya. Ia tadi melihat bahwa itu bukan manusia, itu adalah boneka sihir yang dapat dipanggil kapanpun. Wanita itu juga tidak secantik yang mereka lihat. Di mata Ling, dia adalah wanita tua yang keriput.
"Jadi benar kau adalah Peramal Wang Yuqin?" tanya Ling lagi.
"Ya, aku Peramal Wang Yuqin. Tidak disangka kau dapat mengetahui identitasku," ucap Wang Yuqin sombong. Dengan identitas palsunya, ia terkenal sebagai model paling cantik di Kota Bayangan. Padahal kecantikannya karena tipu muslihat sihir.
"Kalau begitu kau harus minta maaf pada mereka," ucap Ling dingin.
Wang Yuqin bergidik mendengarnya. Ia tak pernah merasakan sensasi seperti ini kecuali dengan Zhuo Xia.
"Aku tidak akan pernah meminta maaf pada orang yang lebih lemah dariku!" ucap Wang Yuqin setelah mengumpulkan keberaniannya.
Ling berjalan mendekatinya. Tanpa sadar, Wang Yuqin mundur selangkah. Dengan gerakan cepat, Ling memutar lengannya dan menekan punggungnya. Wanita itu tertunduk dan terbatuk.
"Siapa yang mengizinkan kau menyentuh orang-orangku?" tanya Ling dingin. Suaranya terdengar begitu menusuk telinga.
"Minta maaf," ucap Ling menekan setiap suku kata yang dia ucapkan.
"Tuan Muda!" seru Ketua Dai yang tiba-tiba datang.
"Mohon ampuni Nona Wang," ucap Ketua Dai lagi. Dia membungkuk penuh hormat.
"Kau yang membawanya?" tanya Ling. Ketua Dai mengangguk-angguk keras. Ia masih membungkuk.
Ling melepaskan Wang Yuqin. Karena tak siap, ia tersungkur ke tanah.
"Nona Wang, kau tidak dengar apa kata Tuan Muda Chen? Kau harus minta maaf," ucap Ketua Dai. Ia membiarkan Wang Yuqin yang kesusahan bangun.
"Ma-maaf. Maafkan aku," ucap Wang Yuqin yang masih terduduk di tanah. Ia membungkuk dengan hormat pada ketiga orang yang sudah berdiri tegak di sebelah Ling.
"Kau jangan menganggap dirimu hebat. Di atas langit masih ada langit. Jika kau terus sombong, kau hanya akan mendapat kematian," ucap Ling. Kemudian ia lanjut pergi ke bagian hutan paling dalam.
Setelah Ling pergi, Wang Yuqin berteriak marah pada Ketua Dai.
"Mengapa kau sangat takut dengannya? Aku adalah tamu tapi kau tak melindungiku!" ucap Wang Yuqin marah. Ia bangkit dan membersihkan gaun putihnya yang sudah putih kecoklatan.
Ia tak menyangka bawahan Zhuo Xia bisa takut pada orang selain Zhuo Xia. Bahkan Zhuo Xia menyuruh mereka untuk menurutinya. Wang Yuqin merasakan keanehan.
"Lawan saja dia jika Nona Wang begitu kuat. Aku hanya menuruti perintah komandan untuk selalu menuruti perkataan Tuan Muda Chen. Aku lupa memberitahumu bahwa dia adalah pemilik pulau ini. Jadi aku tertawa terbahak-bahak tadi saat mendengar kau mengusir mereka," jawab Ketua Dai tak terlihat takut dengan Wang Yuqin.
Setelah itu, keluar sekelompok orang dari pepohonan. Itu adalah Zhuo Xia, Yu Bin, dan pasukannya.
"Apa kau berani Yuqin?" tanya Zhuo Xia. Ia menatap tajam ke arah Wang Yuqin.
Wang Yuqin menatapnya ketakutan. Ia melihat sosok Zhuo Xia yang begitu mengintimidasi. Ia tak tahan untuk terus berada di tempat ini. Rasanya ia ingin kembali jatuh dan pura-pura pingsan saja.