Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Aula Leluhur


"Sepertinya aku harus kembali," ucap Zhuo Xia bangkit dari kursinya. Bo Minghao ingin menahannya tapi memang urusan ini adalah urusan pribadi.


"Ling, antar Zhuo Xia," ucap Chen Lin. Ia juga merasa tidak enak dengan Zhuo Xia.


"Baik, Ibu," jawab Ling patuh. Ia berjalan bersama Zhuo Xia.


Mereka berjalan beriringan. Saat ini Zhuo Xia tidak diikuti siapapun. Bawahannya sudah kembali. Mungkin hanya ada Ketua Dai yang membawa mobil.


"Jangan ambil harta karun itu," ucap Zhuo Xia saat mereka tiba di depan pintu utama.


"Bagaimana kau tahu?" tanya Ling. Menurut apa yang ditulis Bo Shin, dia juga baru mengetahui hal itu.


"Apa menurutmu Bo Shin begitu cerdas hingga ia tahu hal itu? Apa ia begitu baik memberikan informasi pada anggota keluarga baru?" Zhuo Xia bertanya balik. Walau begitu Ling tetap mengerti maksud tersiratnya.


"Mengapa aku tidak boleh mengambilnya? Itu hakku," ucap Ling lagi.


Zhuo Xia membalikkan tubuhnya dan menatap Ling. Mata mereka beradu cukup lama. Kemudian Zhuo Xia tersenyum tipis.


"Aku hanya tidak ingin kau tahu isi kertas itu," ucap Zhuo Xia lagi. Setelah mengatakan itu, ia masuk ke dalam mobil hitam dengan simbol phoenix.


Ling menatap kepergiannya. Ia menatap lekat simbol phoenix itu. Di kehidupannya yang dulu, ia tak pernah melihat simbol itu.


Kemudian ia mengambil ponsel dan mengirim pesan pada A Shui.


[Beri aku informasi paling detail tentang keluarga yang memiliki simbol phoenix.]


Saat pesan itu sampai, A Shui langsung membalas.


[Butuh beberapa jam. Aku akan segera mengirimkannya.]


Ling tak membalas pesan itu lagi. Sepertinya simbol itu bukan hal sederhana.


Ia kembali ke ruang makan. Di sana Bo Minghao dan Chen Lin masih menunggu.


"Ayo ke aula leluhur," ucap Bo Minghao. Ekspresinya lebih serius daripada tadi. Ling dan Chen Lin mengikuti di belakangnya. Chen Lin menggenggam tangan Ling seolah yang akan mereka hadapi adalah hal bahaya.


Mereka berjalan semakin jauh. Mereka menuju kamar Bo Minghao.


"Ayo, aula leluhur ada di bawah tanah," ucap Bo Minghao. Ia berjongkok dan membuka lantai. Di bawah lantai itu terdapat tangga yang terlihat sangat dalam.


"Sedikit jauh," ucap Bo Minghao. Ia menarik lengan Chen Lin dan membiarkannya masuk lebih dulu.


"Jaga Ibuku," ucap Ling yang melihat Bo Minghao melirik ke arahnya. Bo Minghao pun masuk lebih dulu untuk menuntun Chen Lin.


Setelah memastikan mereka aman, Ling ikut turun. Saat ia memijak anak tangga ke-5, ia menutup kembali ruangan bawah tanah itu.


Keadaan semakin gelap. Tak ada penerangan di sini. Meski begitu, Ling masih bisa melihat dalam gelap.


Tangga ini masih sangat baik. Ling bisa merasakan jika kayu untuk tangga ini berasal dari kayu yang berusia ratusan tahun. Jadi dia bisa memastikan Chen Lin akan aman.


"Itu adalah pintu utama," ucap Bo Minghao sambil merangkul Chen Lin.


Pintu itu sangat besar. Terdapat ukiran yang tidak dapat dimengerti oleh Ling. Bo Minghao maju lebih dulu. Ia menyayat tangan dan meneteskan darahnya ke dalam guci di depan patung. Perlahan, pintu itu terbuka.


Cahaya emas berkilau begitu cerah. Selain itu, bau obat-obatan juga menyeruak.


Di sebelah kanan terdapat ruangan dengan jeruji yang berisi tumpukan kotak emas. Di sebelah kiri terdapat ruangan dengan jeruji yang berisi rak-rak yang dipenuhi ramuan dan bahan obat. Sedangkan di depan mereka, para tetua sudah menunggu dengan muka masam.


"Dia sudah datang. Aku akan membuktikan jika dia adalah darah murni," ucap Bo Minghao tegas. Kali ini ia tak akan membiarkan para tetua menghalangi jalannya.


"Tuan Besar, Anda begitu percaya diri. Walau darahnya berwarna ungu, belum tentu dia merupakan keturunan murni," ucap pimpinan tetua yang masih saja ingin melawan. Walau ia sudah melihat sendiri Bo Hongyun dijatuhkan oleh Ling, tapi ia tetap menganggap Ling lemah.


"Kita akan melihatnya sebentar lagi. Jika dia memang berdarah murni, kalian tidak punya hak melarangnya mewarisi ini semua. Jika kalian melawan, sama saja kalian melawan leluhur," ucap Bo Minghao masih dengan nada tegas. Ia sengaja membawa nama leluhur agar mereka semua semakin takut.


"Baik. Jika dia memang berdarah murni, aku tidak akan ikut campur," ucap pimpinan tetua begitu percaya diri.


Bo Minghao berbalik ke arah Ling. Ia menarik lengan Ling ke sebuah altar yang ada di sana.


"Apa kau siap uji darah lagi?" tanya Bo Minghao sambil memegang telapak tangan Ling.


"Siap," jawab Ling santai. Ia hanya ingin cepat-cepat hidup dengan tenang.


Bo Minghao menggores tangan Ling dengan jarum emas. Kemudian ia mengambil tetesan darah itu dengan tujuh jarum. Setiap jarum dimasukkan ke air suci yang ada di guci.


Air suci itu mulai bereaksi. Air itu bergetar hingga terkena Ling. Saat ini Bo Minghao telah menyingkir. Sedangkan Ling masih ada di altar. Cahaya dari air suci mulai terlihat. Cahaya putih itu berubah menjadi merah, kemudian jingga, kemudian kuning, hijau, biru, dan ungu. Setelah beberapa saat berhenti di cahaya warna ungu, cahaya itu kembali berubah menjadi warna putih.


Ini menandakan Ling memiliki darah dengan garis keturunan paling murni. Ia mampu menyentuh warna ungu dan kembali ke warna putih.


Tidak hanya tetua, bahkan Bo Minghao juga sangat terkejut. Saat ia melakukan tes ini untuk mengambil alih Keluarga Bo, darahnya hanya berhenti di cahaya warna biru dan kembali ke cahaya putih.


Jika warna cahaya kembali putih, itu menandakan sebagai darah murni. Sedangkan warna lainnya menandakan seberapa kuat kemurnian itu.


Setelah melihat ini, para tetua langsung sujud ke arah Ling. Mereka tunduk pada keturunan yang memiliki garis keturunan paling murni. Jika benar begini, mereka tak bisa berkata apapun lagi. Kalau mereka ingin melarang Ling, mereka akan dijatuhi hukuman oleh leluhur.


"Selamat datang Tuan Muda," ucap pimpinan tetua.


"Selamat datang Tuan Muda," ucap tetua lainnya mengikuti. Mereka semua masih bersujud.


Ling hanya mengangguk tersenyum. Ia cukup puas pada dirinya sendiri. Namun ia juga sedikit heran bagaimana ia bisa sampai ke tahap ini.


Padahal ramuan darah yang ia buat tak pernah disentuh.


"Kemarilah, Nak," ucap Bo Minghao dengan mata berkaca-kaca. Ia menepuk bahu Ling. Saat ini dia sangat bangga dengan kemampuan Ling untuk membuktikan bahwa dia memang pewaris Keluarga Bo.


"Ling, kau sangat hebat," ucap Chen Lin yang ikut berkaca-kaca. Mereka berdua menatap Ling dengan ekspresi bangga dan kagum.