Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Setuju Mengembalikan Senjata Nuklir


Jun Ye Li melihat kepergian Ling, kemudian ia menatap Su Wen Ai. Ia bertanya, "Mengapa kau tidak menghentikan Ling?"


Su Wen Ai menatapnya datar.


Menghentikan Ling? Ia ragu ada orang yang bisa menghentikannya. Walau ia juga khawatir, tapi dia memilih mempercayai Ling.


*


Sekarang sudah gelap. Ling mengirim pesan pada Gao Feng dan berjalan menuju gerbang akademi. Saat dia keluar, ia melihat mobil putih terparkir tak jauh dari sana. Ia mengenali mobil itu. Pasti Mei Mengyi yang mengirimkannya.


Saat ia sudah mendapatkan kunci, ia segera melaju ke bandara.


*


Gao Feng akhirnya menerima pesan yang selama ini ia tunggu. Ia segera pergi ke bandara bersama tetua dan orang yang sudah disumpah mati.


Saat ia tiba, jalan ke bandara sudah diblokir. Tak banyak orang di luar negeri yang bisa menutup jalan.


Hanya ada satu.


Memikirkan ini, Gao Feng sangat terkejut. Namun, ia segera menekan keterkejutannya dan turun dari mobil menuju tempat yang telah ditentukan. Kemudian, ia melihat jika Ling telah tiba.


"Tuan Muda Chen," ucap Gao Feng berbisik.


Saat itu ia sedang bermain game di ponsel. Ketika ia mendengar suara Gao Feng, ia melirik ke samping, "Barang sudah sampai. Ambil ke sana."


Ucap Ling santai sambil menunjuk Ketua Dai.


Gao Feng mengangguk. Ia berjalan menuju Ketua Dai, "Tuan, aku ...."


Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, seorang pria dengan bekas luka di wajahnya muncul di samping Ketua Dai. Ia merasa itu bukan orang biasa. Bahkan auranya terasa asing. Yang lebih penting, ada tanda phoenix di bahunya.


"Anda adalah Kepala Keluarga Gao, kan?" tanya Ketua Dai. Ia melihat Ling berdiri tak jauh dari sana dan langsung mengenalinya.


"Ya, benar," jawab Gao Feng tersadar dari lamunannya.


Ketua Dai kembali berkata, "Semua barang ada di mobil itu. Suruh seseorang segera membawanya."


Saat Gao Feng tiba di mobil itu, ia melihat senjata yang tak terhitung jumlahnya diletakkan begitu saja. Sebenarnya, saat Ling mengirim informasi itu, ia juga mengatakan tentang senjata. Oleh karena itu, ia setuju mengembalikan senjata nuklir.


Gao Feng pun segera menyuruh orang yang disumpah mati untuk memindahkan senjata dari mobil itu ke mobil Keluarga Gao.


Semuanya dipindahkan kurang dari 10 menit.


"Sudah selesai?" tanya Ling.


"Ya," jawab Gao Feng pelan.


Ling merasa aneh dengan nada Gao Feng. Namun, ia tak memikirkannya, "Oke, ayo pergi."


Ketika ia ingin pergi, seseorang muncul di depannya.


Ling mengerutkan kening dan menyadari itu adalah orang yang tadi di samping Ketua Dai. Ia belum pernah melihatnya sebelumnya. Ia berpikir itu adalah bawahan Zhuo Xia.


"Apa ada lagi?" tanya Ling acuh.


"Tidak. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu," ucap orang itu. Ia menyerahkan amplop kepada Ling dengan hormat.


Setelah itu, Ling masuk ke mobil.


Gao Feng menganggap pria yang memiliki bekas luka di wajahnya adalah orang hebat dan harus dihormati. Jadi, saat melihat Ling memperlakukan orang itu dengan santai, ia terkejut.


Kesan awalnya tentang Ling adalah pemuda berbakat. Namun, melihatnya yang sekarang sangat dihormati oleh banyak orang, ia semakin penasaran dengan Ling.


Padahal ia dan yang lainnya sudah menyelidiki Ling, tapi tidak ada yang tahu tentang ini.


"Semoga selamat sampai tujuan, Tuan Muda," ucap pria dengan bekas luka di wajahnya. Dia telah mendengar tentang aksi heroik Ling dari Ketua Dai. Ling bahkan bisa menghancurkan sekelompok binatang mutan. Karena itu ia tak berani menyinggung Ling. Apalagi Zhuo Xia berada di pihaknya.


*


Saat Gao Feng masuk ke mobil, ia menelepon Ling, "Tuan Muda Chen, apa kau kenal dengan pria tadi?"


Ling yang sedang mengemudi tersenyum. Ia tak berkata bohong pada Gao Feng, "Tidak."


"Hmm ... sepertinya dia sedikit takut padamu," ucap Gao Feng.


"Mungkin aku terlihat garang," jawab Ling.


Ia pun tak bisa bertanya apa-apa lagi. Ia memutuskan panggilan dan menatap semua senjata itu dengan mata berbinar.


Ia pergi ke pusat bisnis Keluarga Gao.


*


Ucapan Nyonya Gao yang mengatakan jika Keluarga Zhuo dan yang lainnya yang akan meminta maaf pada keluarga mereka telah tersebar. Namun, semua orang hanya menganggap ini sebagai lelucon dan menganggap Nyonya Gao gila.


Ada pun Gao Feng dan Nyonya Gao tak merespon apa pun. Mereka juga masih santai datang ke acara-acara kaum elite. Bahkan Nyonya Gao juga sering berbelanja bersama pelayan-pelayannya.


Mereka terlihat seperti tidak mengalami sesuatu.


Keluarga Cheng juga sedang membicarakan mereka.


"Nona, bukankah aneh? Padahal Keluarga Gao benar-benar dalam masalah besar," ucap Cheng Lan melapor pada Cheng Rui.


Cheng Rui membolak-balikkan dokumen yang diberikan Cheng Lan. Ia menjawab, "Gao Feng bukan orang yang bodoh, tapi masalah ini memang agak aneh."


"Ini semua karena Chen Ling. Walau ia berbakat, tapi ia sedikit bodoh. Jelas sekali dia adalah keturunan Keluarga Chen. Mengapa ia tak secerdas Chen Kai? Jika dia menggunakan sedikit otaknya, hal seperti ini tak akan terjadi," ucap Cheng Lan mengeluarkan keluhannya.


"Kau mengatakan jika Gao Feng pergi ke akademi dan kediaman Keluarga Chen?" tanya Cheng Rui tiba-tiba.


"Ya, aku telah menyelidiki ini. Chen Ling benar-benar merugikan banyak orang. Contohnya Gao Yu Xi yang lumayan berbakat. Jika saja dia meminta maaf, Keluarga Zhuo pasti tak akan melanjutkan masalah ini," jelas Cheng Lan.


"Keluarga Gao telah berada di luar negeri selama bertahun-tahun. Walau posisi mereka tidak terlalu tinggi, tapi mereka tak akan begitu bodoh. Bukankah aneh jika Gao Yu Xi tiba-tiba membela orang yang tidak ia kenal sama sekali?" Cheng Rui menganalisis hal ini lagi.


Cheng Lan tertegun. Ia tak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Namun, bukankah Keluarga Gao memang dalam bahaya? Jadi, bagaimana bisa menjelaskan hal ini?


Cheng Lan mengerutkan dahi, "Murid baru ini mengenal cukup banyak orang. Bai Chengsi, Chen Kai, Zhuo Shiaonian ... dia hampir tahu semua orang berpengaruh di akademi."


Apalagi saat itu ia pernah melihat Bai Chengsi berbicara dengan Ling. Walau Bai Chengsi kelihatan marah, tapi ia tak melakukan apa pun. Pria mana lagi selain Chen Kai yang dapat membuat Bai Chengsi sabar?


"Dari Kota Bayangan ...," Cheng Rui mengetuk meja dan berpikir keras.