
Setelah pelelangan selesai, MC mengundurkan diri. Rumah lelang juga mulai ditutup. Para keluarga juga bubar dan mengosongkan ruangan.
Pemilik rumah lelang menemui Ling di rumah rahasia. Namun ia sangat terkejut saat melihat Ling, tapi ia tak berani banyak bicara. Ia hanya membungkuk dan menyerahkan beberapa kartu.
"Senior, ini adalah komisi lelang hari ini," ucap pemilik lelang dengan sangat hormat.
Ling menerima kartu itu. Ia memperdalam suaranya. Sekarang saat ia bicara, suaranya menjadi besar, "Baik, bagus untuk hari ini. Selanjutnya, kalian akan terus bekerjasama dengan Chen Company. Aku harap kita akan bekerjasama dengan baik."
Pemimpin lelang itu sedikit linglung. Ia tidak tahu siapa Chen Company. Namun saat tahu jika mereka akan terus bekerjasama, ia merasa sangat senang.
Dengan mata berbinar, pemimpin lelang itu menjawab, "Rumah lelang kami merasa sangat terhormat. Senior, aku akan mengantarmu keluar."
Ia mengikuti Ling dari belakang. Ia terlihat sangat hormat.
Saat ini mereka berjalan bersama para keluarga yang belum keluar. Keluarga yang menawar barang-barang bagus berjalan perlahan.
Bo Shin dan pimpinan tetua berjalan perlahan. Ia berjalan di sisi kiri. Saat ia mengangkat kepalanya, ia membeku.
Begitu pula dengan orang lainnya. Mereka mengikuti arah pandang Bo Shin. Saat mereka melihatnya, mereka juga berhenti berjalan.
Di depan mereka, berjalan satu kelompok. Dalam kelompok itu, ada seorang pria berjubah hitam dengan topeng hitam. Jubahnya yang berkibar membuatnya terlihat sangat keren.
Namun sebenarnya bukan hal ini yang membuat Bo Shin berhenti. Orang di belakang pria itu yang membuatnya bingung.
Itu adalah pemilik lelang.
Pemilik lelang bukan orang biasa. Ia juga bisa mendapatkan barang-barang berharga bukan hanya dengan uang. Ia memiliki satu kemampuan menarik seseorang.
Semua orang mengetahui hal ini. Bahkan untuk Keluarga Bo, mereka tidak berani berbuat macam-macam dengan pemilik lelang. Mereka sangat menghormatinya.
Jadi, saat mereka melihatnya berjalan dengan hormat di belakang pria bertopeng itu, pasti orang di depannya sangat penting.
Mereka masih bingung. Pria bertopeng itu kelihatannya masih sangat muda. Bahkan jika Bo Minghao yang datang ke sini, pemilik lelang tidak akan bersikap begitu hormat.
Lalu siapa pria bertopeng itu?
"Tunggu ..., bukankah itu ...," ucap pimpinan tetua sedikit terkejut. Saat melihat jubah dan topeng, ia teringat seseorang.
"Apakah dia pemimpin Organisasi Tempur?" tanya pimpinan tetua lagi.
"Tidak mungkin," ucap Tuan Shi ikut maju ke depan. Ia menatap pria bertopeng lekat dan menggelengkan kepala.
"Pertama, tidak ada cap di topengnya. Kedua, Tuan Jun tidak mungkin menghormati orang lain, kecuali orang dari Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Namun tetap saja pria bertopeng itu bukan pria yang ada di pikiran kita," jelas Tuan Shi.
Tuan Jun adalah pemilik rumah lelang.
Pimpinan tetua setuju dengan pernyataan Tuan Shi. Sebenarnya siaran langsung yang tersebar itu sangat mengguncang dunia. Jadi banyak orang yang ketakutan saat ini.
Namun alasan Tuan Shi logis. Jadi pimpinan tetua hanya bisa melirik ke arah Bo Shin.
Bo Shin juga terlihat sangat serius. Ia menatap pria bertopeng hitam itu. Ia paling tahu hal ini. Pria itu bukan dari Kota Bayangan. Hanya orang dari Kota Bayangan yang dapat membuat Tuan Jun menjadi sangat hormat seperti ini.
"Tuan Jun ... ia ...," ucap pimpinan tetua. Ia mendekati Tuan Jun.
"Mohon tunggu sebentar, Tuan Bo. Aku akan mengantar tamuku lebih dulu," ucap Tuan Jun. Ia tak terlihat ingin mengobrol lebih lama.
Saat ini, pimpinan tetua sangat tercengang. Tuan Jun kelihatannya memang benar-benar memperlakukan pria bertopeng itu dengan sangat hormat.
Sebenarnya siapa pria bertopeng itu?
Jadi, pimpinan tetua hanya bisa mundur.
"Lalu siapa dia?" tanya Bo Hongyun. Ia melihat pria itu sangat keren. Baru kali ini ia melihat secara langsung dan ia benar-benar terpana.
"Sepertinya ramuan itu berasal darinya," jawab Bo Shin setelah mengamati beberapa hal.
Setelah mendengar hal ini, semua orang akhirnya juga paham satu hal. Kini mereka paham mengapa Tuan Jun sangat menghormatinya. Jika dia adalah ahli ramuan, ia pasti sangat hebat.
Apalagi dia adalah orang yang mengeluarkan ramuan tingkat tinggi.
Ia pasti sangat hebat hampir sama dengan dewa.
Kini semua orang berebut ingin bekerjasama dengannya.
Di sisi lain, Ling keluar dari rumah lelang. Namun ia tidak langsung pulang. Ia bersembunyi dan melepas topeng dan jubahnya. Ia memasukkan topeng dan jubah ke dalam ransel.
Ling bersandar di sisi mobil. Ia bertemu dengan Paman Qian.
"Simpan kartu ini, Paman. Penuhi kebutuhan semua siswa di akademi ramuan. Beli bahan obat tambahan dan perbaiki beberapa fasilitas yang rusak," jelas Ling. Ia menyerahkan kartu yang ia dapat dari lelang.
Ling tidak memilih Paman Qian tanpa alasan. Ia tahu Paman Qian bukan orang biasa. Ia sudah mengamati Paman Qian selama beberapa tahun.
"Tuan Muda, kau sudah sedikit berubah," ucap Paman Qian. Ia tersenyum tipis.
"Baiklah aku akan membantumu kali ini," ucap Paman Qian melanjutkan.
"Terimakasih, Paman," ucap Ling. Ia sebenarnya tidak terlalu terkejut dengan jawaban Paman Qian.
"Aku akan memasukkanmu ke dalam daftar di akademi ramuan," lanjut Ling. Ia masih tersenyum hangat.
Paman Qian sedikit terharu. Dia terdiam sesaat. Apakah Ling akan benar-benar bisa membawa Keluarga Chen ke puncak?
Saat ini, Bo Shin telah sampai di mobil. Saat dia tiba, Paman Qian sudah menghilang. Awalnya, Ling ingin kembali ke Keluarga Chen. Namun Bo Minghao mengirimnya pesan untuk pulang ke rumah Keluarga Bo.
Semua anggota Keluarga Bo diam. Mereka tidak membicarakan apapun lagi. Yang ada dalam pikiran mereka adalah pria bertopeng hitam.
Ling langsung masuk ke dalam mobil. Ia bersandar dan menutup mata.
Bo Minghao menyuruhnya pulang untuk pembagian ramuan yang tadi di beli. Lima set ramuan itu akan dibagi kepada murid-murid yang berbakat.
Namun pimpinan tetua kali ini mulai kembali melawan. Ia tidak terima jika Ling yang diberi ramuan. Padahal masih banyak murid berbakat lainnya.
Apalagi Ling belum pernah melakukan pelatihan.
"Tuan Besar, aku tidak setuju dengan hal ini. Masih banyak murid lain yang lebih membutuhkan daripada Tuan Muda. Sebaiknya jangan berikan kepada Tuan Muda," ucap pimpinan tetua saat mereka sudah sampai di rumah Keluarga Bo.
"Anakku juga butuh sumberdaya. Sebentar lagi dia akan bergabung ke acara kultivasi tahunan di Universitas Internasional Kota Bayangan. Jadi aku akan tetap memberikannya pada Ling," ucap Bo Minghao dengan tegas. Ia tak ingin penolakan dari siapapun.
***
Mohon maaf, sepertinya author hanya akan up satu bab hari ini, dikarenakan hari ini benar-benar sangat sibuk.
Daripada up dipaksa, menurut saya lebih baik tidak up.
Terimakasih🥰
Semoga kalian sehat selalu❤️