Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Itu Tak Akan Mengubah Keadaan


Beberapa hari kemudian di Sekolah Menengah Guxian.


Ini sudah pelajaran terakhir di kelas Ling. Su Wen Ai mengumpulkan kertas ulangan kimia seluruh siswa.


Saat ia melihat kertas Yuan, ia dapat memperkirakan bahwa kebanyakan jawabannya salah. Namun saat ia melihat kertas Ling, ia malah tak menuliskan apa pun.


Su Wen Ai tertawa kecil. Bagaimana bisa Ling tak mengisi kertas ujian sedangkan ia bisa membuat bahan peledak? Ia pasti tak terlalu memikirkan sekolah.


Ling menatap tulisan di kertas itu sebelum diambil Su Wen Ai. Hanya ada nama dan kelasnya yang ditulis oleh Yuan. Ia tertawa kecil. Haruskah ia menjawab pertanyaan-pertanyaan ujian? Ia bahkan bisa menghapalnya luar kepala.


Apakah ia perlu pengakuan dari orang lain? Tentu tidak. Jika orang meremehkannya, ia akan tetap berada di puncak kesuksesan. Sebenci apa pun mereka padanya, itu tak akan mengubah keadaan jika dia adalah seorang Raja Legendaris.


"Cepat kumpulkan kertas itu. Kami akan menunggumu di kelas saat semua orang sudah pulang," ucap Yuan.


Su Wen Ai mengangguk. Ia mempercepat jalannya.


Setelah bel berbunyi dan semua orang di kelas telah pulang, Liam masuk ke kelas Ling. Ia segera menuju ke meja bagian belakang. Ia menatap Ling dengan tatapan aneh.


"Apakah Su Jiang yang merupakan Ayah Su Wen Ai juga Ayah Su Qiang?" tanya Liam pada Ling.


Saat ia pulang dari kasino, ia memikirkan hal ini. Namun karena saat itu mereka dalam keadaan hidup dan mati, ia jadi melupakannya sejenak.


"Kau tanya saja pada orangnya," ucap Ling mengangkat dagu ke depan. Liam refleks menoleh ke belakang dan melihat Su Wen Ai berdiri di sana.


"Ya, Su Qiang adalah adikku. Ayah tak punya uang untuk membiayainya masuk ke sekolah ini, jadi dia bersekolah di sekolah biasa," jawab Su Wen Ai. Ia sudah duduk di samping Liam.


"Apa kalian mengenal Su Qiang?" tanyanya lagi.


"Tidak," jawab Yuan.


"Kenal," jawab Liam.


Mereka menjawab dalam waktu bersamaan.


"Kami bertemu di arena pelatihan," jawab Ling.


Su Wen Ai dan Yuan mengangguk. Yuan memang teka mengenal siapa itu Su Qiang jadi dia hanya mengangguk mencoba mengerti.


"Ah, arena pelatihan. Saat itu Su Qiang sangat ingin pergi ke sana. Jadi aku membujuk ayah untuk mengirimkannya saja dan bukan aku. Pagi, siang, sore, malam Su Qiang sibuk berlatih. Akhirnya Ayah luluh dan mengizinkannya," jelas Su Wen Ai.


"Mengapa aku tak tahu jika dia adalah adikmu?" tanya Liam semakin penasaran.


"Kami jarang bersama. Orang-orang juga tak mempedulikan kami saudara atau bukan karena kami awalnya keluarga biasa," jawab Su Wen Ai mengangkat bahu.


Liam dan Yuan mengangguk paham. Sedangkan Ling masih duduk santai sambil menyilangkan tangan.


"Oh ya Ling. Ini jaketmu. Terimakasih," ucap Su Wen Ai menyerahkan jaket Ling.


Ling mengangguk. Ia langsung memakai jaket itu tanpa mengatakan apa pun.


Liam yang sedang memainkan ponsel, saat itu tangannya tiba-tiba bergetar karena marah.


"Ada apa?" tanya Yuan segera melihat isi ponsel Yuan. Setelahnya, wajahnya juga merah padam karena marah. Sedangkan Su Wen Ai mencoba tenang saat itu.


"Ada apa?" tanya Ling. Ia menatap Liam di depannya. Namun sepertinya, mereka tak ingin menjawab.


Dengan segera mereka meminum susu. Ketenangan mulai mengalir mengikuti setiap tegukan yang mereka telan.


"Suah tenang? Bisa katakan sekarang?" tanya Ling.


Liam mulai tenang. Emosinya mulai reda. Ia menunjukkan video yang tadi tak sengaja ia lihat. Padahal dia sudah melihatnya beberapa hari lalu. Ia segera menunjukkan video itu pada Ling.


Ada Lu Yan yang sedang diwawancarai di sana.


"Aku adalah pewaris Lu Company. Kini aku akan menegaskan pada kalian jika aku tak akan menikahi sampah seperti Chen Ling. Jangan bertanya lagi tentang hubungan kami," ucap Lu Yan. Nadanya begitu arogan.


Memang benar Lu Yan adalah pewaris. Wajar saja jika dia sombong. Dan lagi, mereka mendapat dukungan Tuan Han. Mereka sudah sangat percaya diri bisa memasuki Kota Bayangan.


Saat video ini diposting, banyak netizen yang berkomentar. Kebanyakan dari mereka menghina Ling.


Apalagi perceraian Chen Lin dan Luo Feng sudah tersebar, netizen semakin tajam mengetikkan komentar.


Bagaimanapun mereka tahu dua keluarga itu saling bersaing sengit.


Ling hanya menyeringai. Ia berkata dengan santai, "Sungguh percaya diri."


"Ling! Mereka berlebihan! Mengapa mereka bisa begitu berani melakukan ini?" Yuan berteriak dengan emosi.


Ling hanya tersenyum. Tentu saja mereka berani. Mereka membanggakan Tuan Han mereka. Bagi mereka, Keluarga Chen hanyalah bahan tertawaan. Namun Ling tak peduli. Bagaimanapun mereka menghina, ia tak akan menganggap serius. Ini hanyalah masalah sepele.


Setelah mendiskusikan itu, Ling berdiri dan keluar kelas. Tiga orang yang masih di dalam kelas mengikutinya.


Suasana sekolah masih cukup ramai padahal mereka sudah cukup lama di kelas. Sekarang anak kelas tiga masih diizinkan mengikuti ekstrakurikuler. Jadi tak heran sekolah belum sepi.


Saat Ling melihat kumpulan pria di lapangan, ia mengernyit heran. Para pria itu terlihat menatap kasihan ke arah Wuzhou. Ling semakin bingung dengan hal ini. Biasanya Wuzhou akan dikelilingi banyak teman. Namun sekarang hanya Fu Zhu yang setia menemaninya.


Su Wen Ai tak heran melihat kebingungan Ling. Ia tahu Ling tak terlalu peduli dengan internet. Jadi dia tak akan mengetahui apa pun.


Ia mencoba menjelaskan, "Liam dan Yuan sudah tidak tahan dengan sikap sombong Wuzhou. Dia adalah anak haram yang tak tahu berterimakasih. Dia menghianati Keluarga Chen dan bekerjasama dengan pihak lain. Jadi Liam dan Yuan yang gegabah, mereka mencari informasi tentang selingkuhan Luo Feng. Kemudian mereka menyuap satu media dan menyuruh mereka menyebarkan berita ini di sekolah."


Sudah beberapa hari Wuzhou mendapatkan tatapan ejekan dari semua orang. Mereka juga tak ragu untuk menjauhinya. Siapa yang tahu jika Wuzhou akan mengkhianati mereka juga?


Hanya Fu Zhu yang masih di sisinya.


"Wuzhou, jangan larang aku lagi. Aku akan memberi mereka pelajaran karena telah memfitnahmu," ucap Fu Zhu. Ia segera menarik lengan Wuzhou dan mendatangi Ling.


"Chen Ling! Wuzhou sangat baik, tapi kau dengan licik memfitnahnya. Aku tak akan membiarkan hal ini begitu saja," ucap Fu Zhu. Ia melancarkan serangan ke arah Ling.


Dengan gesit, Ling menahan serangannya sebelum Liam sempat melakukannya.


"Biarkan dia bicara," ucap Ling.


Fu Zhu menghempaskannya dari tangan Ling. Ia segera berkata, "Apa kau tahu mengapa kau begitu berbeda dengan Wuzhou? Apa kau tahu mengapa kau begitu bodoh? Ini karena kau bukan darah daging Paman Luo. Kau adalah anak haram yang dibawa oleh Ibumu. Ibumu adalah pelacur yang menikahi Paman Luo setelah dia hamil. Apa kau bisa begitu bangga sekarang karena memfitnah Wuzhou sebagai anak haram? Semua orang takut pada Keluarga Chen, tapi aku tidak!"


Semua yang mendengar ucapan Fu Zhu membeku. Mereka kini tahu alasan Ling menjadi orang tak berguna. Ternyata ia tak memiliki bakat dari Luo Feng dan tak mendapat sifat dari Chen Lin. Mungkin ayah kandungnya yang bodoh yang menurunkan sifat bodohnya.


Ling tetap tenang. Saat itu, ponselnya berdering. Itu adalah panggilan dari paman Qian yang menyuruhnya segera pulang karena Chen Sin menunggunya.


Ia menundukkan kepala dan berkata di telepon, "Aku akan pulang sebentar lagi. Masih ada dua orang yang harus kuselesaikan."