
Ling akan kembali ke asrama keesokan harinya. Liburannya sudah cukup. Lagipula jika ia terus berada di rumah, ia akan selalu dibayangi oleh percakapannya dengan Zhuo Xia.
Ketika ia sedang menunggu taksi, ponselnya berdering. Itu dari Yuan Ming.
"Ada apa?" tanya Ling setelah mengangkat telepon.
"Aku baru saja akan menemui Nyonya Chen. Namun belum sempat kami bicara, sebuah mobil membawanya. Sangat jelas itu adalah mobil Keluarga Bo," ucap Yuan Ming.
Mendengar ini, Ling segera mematikan panggilan. Ia langsung menelepon Chen Lin. Namun sayangnya teleponnya ditolak. Chen Lin tak pernah menolak panggilannya. Jika dia tidak bisa, dia pasti mengirim pesan. Namun saat ini sama sekali tak ada pesan.
Ia pun mengirim pesan kepada A Shui.
[Lacak nomor telepon ini.]
Ling menyeringai. Ia memberhentikan taksi.
*
Di sebuah ruangan pribadi di cafetaria yang berada di hotel mewah, di Kota Bayangan.
Nyonya Tua Bo duduk dengan angkuh. Di sampingnya berdiri Bo Yunxing. Ia menatap wanita di depannya dengan tatapan meremehkan.
"Apa kau adalah Chen Lin?" tanya Nyonya Tua Bo. Nadanya begitu tidak bersahabat.
"Benar. Ada apa Nyonya membawaku ke sini?" tanya Chen Lin. Ia duduk menghadap wanita tua itu dengan anggun. Walau tadi ia dibawa secara paksa, ia tetap mempertahankan ketenangannya.
"Hanya untuk membicarakan beberapa hal. Kau tahu siapa aku?" ucap Nyonya Tua Bo angkuh.
"Tidak," jawab Chen Lin terus terang.
"Aku adalah Ibu dari Bo Minghao," jawab Nyonya Tua Bo semakin angkuh.
Chen Lin sedikit terkejut. Namun ia segera mengembalikan ketenangannya.
"Aku dengar kau punya seorang putra. Apa itu benar?" tanya Nyonya Tua Bo. Ia berniat menghina Chen Lin.
"Itu adalah urusan pribadi. Jika Anda hanya ingin membicarakan hal itu, aku tidak punya waktu," jawab Chen Lin mematahkan kesombongan Nyonya Tua Bo.
Wajah Nyonya Tua Bo segera muram. Ia menatap Chen Lin dengan jijik.
"Chen Lin, kau adalah seorang janda yang memiliki anak berumur 18 tahun. Aku tahu apa niatmu saat mendekati putraku. Kau tentu juga tahu bagaimana Keluarga Bo itu. Kau harusnya sadar kau ini siapa. Jangan melebihi batasanmu. Tidak seharusnya kau bermimpi hal-hal yang mustahil untuk kau dapatkan. Sangat mustahil bagimu untuk masuk ke Keluarga Bo yang merupakan keluarga kelas atas," ucap Nyonya Tua Bo. Ia berhenti sejenak sekedar untuk memperhatikan ekspresi Chen Lin.
"Lagipula kau menjadi janda pasti karna kau tidak cukup baik untuk suamimu sebelumnya. Aku juga tahu anakmu itu adalah anak di luar nikah. Janda sepertimu dan anak harammu itu tak layak untuk putraku. Lebih baik kalian sadar diri dan pergi dari Kota Bayangan. Jika tidak, kau akan tahu konsekuensinya," ucap Nyonya Tua Bo melanjutkan. Ia menatap jijik pada Chen Lin.
Ketika dia menyelesaikan kata-katanya, ruangan cafetaria terbuka. Muncul sosok pria jangkung yang tampan. Rambut hitamnya terlihat berantakan. Namun itu menambah pesonanya. Ia berjalan perlahan ke arah mereka. Matanya tajam dan hitam. Satu tangannya memegang ponsel dan satu lagi dimasukkan ke saku.
"Nyonya Tua Bo, coba ulangi semua omong kosongmu," ucap Ling menatap tajam ke arahnya.
Nyonya Tua Bo menatap lekat wajah Ling. Ia mirip dengan Chen Lin. Ia sudah bisa menebak siapa pemuda di depannya.
Kemudian Ling tersenyum, "Nyonya Tua Bo."
"Apa kau ingin menjilatku sekarang? Aku tidak akan berubah pikiran," ucap Nyonya Tua Bo angkuh.
Ling tak menjawab ucapan Nyonya Tua Bo. Ia mengambil gelas berisi air di depannya dan menumpahkannya tepat di wajah Nyonya Tua Bo. Kemudian dengan satu genggaman, ia memecahkan gelas itu. Pecahannya berterbangan kemana-mana.
Awalnya Ling tak ingin berurusan dengan Keluarga Bo lagi. Ia sudah melepaskan mereka tentang masalah perusahaan. Namun mereka malah mengirim pembunuh untuk mengincarnya. Dan sekarang mereka malah menculik ibunya.
Sebenarnya Ling hanya ingin kedamaian. Ia ingin mengembangkan Chen Lin dengan tenang. Kemudian ia akan perlahan membuka identitasnya. Setelah selesai melakukan itu semua, ia akan kembali ke tanggungjawab awalnya, yaitu Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya.
Namun jika ini sudah terjadi, ia tak bisa bersembunyi lagi.
Wajah Nyonya Tua Bo menjadi muram. Keriputnya bertambah karena ia marah. Rambutnya yang telah ditata menjadi lepek karena air.
"Dasar kau anak haram! Beraninya kau melawanku! Apa Ibumu yang seorang pelacur ini tak pernah mengajarimu etika? Penjaga! Tangkap anak haram ini! Buat di merasakan bagaimana rasanya setelah berani melawan Keluarga B- ...," ucapan Nyonya Tua Bo terpotong.
Plakkk!
Nyonya Tua Bo memegang pipinya yang memerah. Ia dapat merasakan nyeri di pipinya karena tamparan itu begitu keras. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Chen Lin yang baru saja menamparnya.
Auranya terlihat marah. Namun ekspresinya tetap tenang dan anggun seperti biasanya. Bahkan saat dia menampar, ia terlihat sangat elegan.
Ia menahan suaranya yang sedikit bergetar. Ia berkata dengan menatap tajam ke arah Nyonya Tua Bo, "Aku tidak masalah jika kau menghinaku. Namun nika kau menghina putraku, aku tidak akan melepaskanmu. Walau Keluarga Bo begitu hebat dan kuat, aku tidak takut pada kekuatan kalian. Jika aku mati, kalian juga akan mati bersamaku."
Nyonya Tua Bo sangat marah saat mendengar perkataan Chen Lin. Mukanya memerah dan tubuhnya bergetar.
"Penjaga! Apa kalian tuli? Cepat tangkap mereka!" teriak Nyonya Tua Bo.
Penjaga itu segera bergerak. Mereka sudah mengeluarkan senjata dan mengangkat senjata ke arah Ling dan Chen Lin.
"Diam di tempat," ucap Ling. Nadanya mendominasi, sehingga para penjaga itu tanpa sadar berhenti.
Ling mengambil tumpukan piring yang masih kosong. Ia melemparkan satu persatu piring itu ke arah penjaga. Namun piring itu jatuh saat tepat di depan mata mereka. Piring itu pecah dengan suara yang sangat keras.
Mereka tahu jika piring itu bisa memecahkan kepala mereka jika tadi mengenai mereka.
"Jika kalian masih ingin nyawa Nyonya Tua Bo, jangan mendekatiku," ucap Ling santai. Ia menatap para penjaga itu masih membeku di tempatnya.
Tatapannya tenang, tapi penuh dengan aura membunuh.
Setelah memastikan para penjaga itu patuh, ia menyeringai ke arah Nyonya Tua Bo.
"Nyonya Tua Bo, aku akan memberitahumu beberapa hal. Aku tidak suka kau mengganggu Ibuku, aku tidak suka kau mengganggu orangku, dan aku tidak suka kau ikut campur dalam urusanku," ucap Ling sambil menyeringai.
"Jika kau masih berani melakukan itu ...," Ling menjeda ucapannya. Ia mengeluarkan pisau kecilnya dan menancapkan pelan pada meja itu. Dengan satu ketukan, meja itu hancur dan semua benda di atasnya terjatuh pecah.