Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Mengontrol dari Jauh


Wajah Tuan Yue menjadi suram. Ia melihat manajernya yang terkapar di lantai. Kemudian ia mengalihkan pandangan ke pria tampan di depannya.


Pria itu memakai seragam sekolah. Satu tangan memegang tas dan satu lagi dimasukkan ke saku. Saat pandangan mereka bertemu, pria itu memberi tatapan sedingin es padanya.


"Kau ingin berjudi denganku?" tanya Tuan Yue. Ia berpura-pura mengelus pistolnya karena tak tahan dengan tatapan intimidasi Ling.


"Tidak sembarangan orang bisa berjudi denganku," lanjut Tuan Yue.


Saat dia menyelesaikan kalimatnya, dua penjaga yang sudah sadar segera mengeluarkan senjata.


Ketika Su Wen Ai dan yang lain sudah bersembunyi, dua suara tembakan menggema di telinga mereka.


Ling mengangkat tas dan melempar ke dua pria berbadan kekar itu.


Brak! Brak!


Tidak ada yang tahu seberapa cepat gerakannya. Saat mereka tersadar, Ling sudah berada di meja judi.


Dua pria yang tadi terjatuh karena lemparan tas Ling, mereka kembali mengarahkan senjata pada Ling. Ketika itu, masuk juga sekelompok pria yang tadi terlempar keluar.


"Tuan Yue!" mereka berteriak.


Pemandangan yang dilihat mereka sangat mengerikan. Ling memegang pistol di satu tangan dan mengarahkannya ke kepala Tuan Yue. Sedangkan satu tangan lagi dimasukkan ke saku.


Rambutnya sedikit menutupi wajahnya saat ia menunduk. Ia terlihat tampan.


"Bisakah aku berjudi denganmu sekarang?" suaranya tegas, jelas, dan tak terbantahkan.


Tuan Yue sedikit memundurkan tubuhnya. Ia melirik ke arah Su Jiang yang bersembunyi.


"Su Jiang, aku tidak menyangka kau memiliki dukungan yang sangat hebat," ucap Tuan Yue.


"Kau ingin bertaruh apa?" tanya Tuan Yue pada Ling.


Ling menarik kursi. Liam dan Yuan segera keluar dari persembunyian dan berdiri di sebelah Ling.


"Aku ingin taruhan paling besar di kasino ini," jawab Ling.


"Taruhan terendah di sini adalah 10 juta. Kau mampu membayarnya?" tanya Tuan Yue meremehkan.


Ling tak menjawab. Ia hanya mengeluarkan kartu bintang hitam-emasnya. Semua yang melihat ini tahu, jika kartu itu memiliki saldo lebih dari sepuluh juta. Mereka diam dan segera membelikan chip untuk Ling.


Anggota bandar mengocok kartu. Mereka mendapat kartu yang tidak boleh diperlihatkan pada lawan.


"Satu juta. Apa kau ikut?" tanya Tuan Yue mengeluarkan kartu as sekop hitam.


Ling mengambil beberapa chip dan menggesernya.


"Ikut," jawab Ling. Ia bersandar santai dan menatap dingin pada Tuan Yue.


Kartu terakhir. Tuan Yue mengeluarkan kartu sembilan hati merah.


"Lima puluh juta dan tubuh Su Wen Ai. Apa kau ikut?" tanya Tuan Yue. Senyum liciknya semakin mengembang.


"Tentu saja," jawab Ling santai. Dia mendorong semua chip di depannya.


"Jangan!" teriak Su Jiang.


"Kenapa?" Liam dan Yuan terlihat bingung. Karena diantara mereka hanya Su Jiang yang mengerti judi.


"Jika ingin mengalahkan Tuan Yue, temanmu harus memiliki kartu as hati merah. Namun dari semua kartu yang sudah mereka keluarkan, Tuan Yue memiliki semua kartu as. Kasino ini adalah wilayahnya. Kartu yang dia inginkan pasti ada di tangannya. Dia juga raja judi di sini. Aku belum pernah melihat dia kalah. Wen Ai, pergilah sekarang. Jangan pedulikan Ayah," ucap Su Jiang menjelaskan.


"Tidak," jawab Su Wen Ai. Ketegasan di wajahnya menambah kecantikannya.


Su Jiang mengacak rambutnya frustasi.


"Tuan Muda, kau tak bisa mengalahkanku. Bawa Su Wen Ai ke kamar VIP," ucap Tuan Yue percaya diri.


Dua penjaga pria segera mendekati Su Wen Ai.


"Tunggu," ucap Ling. Dia masih bersandar santai di kursinya. Jarinya dengan lembut membalik kartu itu.


Kartu as hati merah!


"Tuan Yue, Anda kalah. Akui kekalahan Anda," ucap Ling.


Dengan gemetar, Tuan Yue membuka kartu terakhirnya.


Ia membelalakkan mata tak percaya.


"Aku meremehkanmu," ucap Tuan Yue.


"Kau harus melepaskan mereka," ucap Ling. Ia berdiri dan siap untuk pergi.


"Walau begitu, tetap akan ada orang yang mengincar Su Wen Ai," ucap Tuan Yue.


"Terimakasih," ucap Ling. Ia pergi dengan keempat orang lainnya mengikutinya.


"Tuan, apa kita membiarkan mereka pergi begitu saja?" tanya penjaga yang baru sadar dari lamunannya.


"Kau bahkan tak bergerak saat dia bicara. Kau masih ingin menangkapnya?" ucap Tuan Yue yang membuat penjaga itu malu.


"Periksa dia," perintah Tuan Yue.


*


"Keren!" seru seorang wanita di sebuah ruangan di kasino.


Mata hazelnya menatap layar komputer yang menunjukkan adegan dimana seorang pria membalik sebuah kartu remi.


Yu Bin ingin mengintip apa yang dilihat A Shui. Namun dia menutupnya. Ia segera mengganti video saat teringat tugasnya.


"Satu rombongan menuju vila, satu lagi menuju ...," A Shui tampak kaget dengan apa yang dilihatnya.


"Kemana?" tanya Zhuo Xia dingin dari telepon.


"Tuan Muda Chen," jawab A Shui.


Zhuo Xia mengeratkan cengkramannya pada ponsel. Mata hitamnya menjadi lebih pekat.


"Mereka ada di gang 04. Aku sudah mengirim alamatnya," ucap A Shui.


"Baik. Tetap di tempatmu," ucap Zhuo Xia. Ia mematikan sambungan telepon dan mengambil jaketnya.


"Blokir gang 04," ucap Zhuo Xia pada wanita di sebelahnya. Wanita itu segera menghubungi polisi.


"Apa? Kami memerlukan izin? Misi kami sangat penting. Kami ...," wanita itu berhenti bicara. Zhuo Xia mengambil ponselnya.


"Aku Zhuo Xia. Aku akan mengirim beberapa orang untuk datang," ucap Zhuo Xia. Setelah itu ia kembali mematikan telepon.


Ia mengambil sebuah plakat di tas kecilnya. Plakat itu berwarna merah dengan ukiran phoenix di atasnya. Ia melemparkan itu pada salah satu orang. Ia berkata, "Pergi ke kantor polisi dan tunjukkan plakat itu. Lapor padaku jika ada yang melawan perintah militer."


Orang yang mendapat plakat itu segera menelepon Yu Bin.


"Nona Yu, aku akan menunjukkan plakat phoenix ini pada komandan. Anda pergilah lebih dulu," ucap orang itu.


"Apa? Plakat phoenix?" tanya Yu Bin tak percaya.


Bahkan Zhuo Xia sampai mengeluarkan itu. Ia semakin sadar bahwa misi ini sangat penting. Nyawa jutaan orang ada di tangan mereka, karena senjata yang dibuat oleh Profesor Luohai sangat berbahaya.


"Ayo pergi," ucap Yu Bin pada A Shui.


"Lebih baik aku mengontrol dari jauh. Sepertinya senjata mereka sangat kuat," jawab A Shui tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer.


"Baiklah," jawab Yu Bin.


Ia segera memasang earphone dan menyambungkan panggilan di jam tangan mininya. Ia juga terhubung dengan Zhuo Xia dan beberapa orang di tim.


"Nona Zhuo, mereka semakin dekat dengan mobil militer Nona Yu," ucap A Shui terdengar di telepon.


Yu Bin melihat peta di tangannya. Ia segera berbelok dan menuju ke gang 04.


Di gang 04, empat siswa dengan seragam sekolah terlihat berbincang satu sama lain. Dari empat tersebut, ada satu wanita yang cantik.


"Aku berterimakasih pada kalian karena mau membantuku. Aku akan selalu ingat jasa kalian. Orang yang dikatakan Tuan Yue mencariku, mereka sangat sadis. Lebih baik kita berpisah di sini," ucap Su Wen Ai murung.


"Apa? Jadi benar ada yang mengincarmu?" tanya Liam dan Yuan tak percaya.


"Su Wen Ai benar. Namun sepertinya kita sudah terlambat," jawab Ling.


"Apa? Terlambat?" Liam dan Yuan sudah membeku di tempat.