
Keesokan harinya, saat Su Hua ingin mengambil obat dari Ling, ia melihat Liam dan yang lainnya sedang bermain kartu di tanah. Melihat mereka yang santai, Su Hua jadi penasaran bagaimana bisa semua orang di desa bisa dipindahkan ke tempat aman dalam semalam.
Mengetahui jika mereka memang benar-benar membantu suku mereka, Su Hua tak ragu lagi. Ia merasa tak perlu menyembunyikan apa pun dari mereka.
"Tuan Agung kami telah kembali. Ia telah menemukan Keluarga Su pusat di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Tuan Besar dari keluarga itu akan datang besok. Kita mungkin bisa bertemu lagi di Kota Bayangan suatu saat nanti," ucap Su Hua memberi informasi.
Saat mendengar ini, Liam tersedak dan memuntahkan ramuan dari mulutnya. Sedangkan wajah Yuan menjadi muram.
Namun Su Wen Ai terlihat tak berubah.
Liam menyeka mulutnya dan meminta maaf. Su Hua hanya mengangguk. Ia lebih memikirkan, apa baru saja Liam memuntahkan ramuan tingkat tinggi? Berapa itu harganya?
Pintu terbuka.
Ling keluar dengan kemeja hitam dan celana putihnya. Ia memberikan sebungkus obat pada Su Hua dan tersenyum tipis.
Jika itu kemarin, mungkin Su Hua masih akan mengatakan sepatah dua kata pada Ling. Namun sekarang ia hanya membungkuk hormat. Aura Ling kali ini terlihat lebih mengerikan dari biasanya.
Su Hua pun segera pergi.
Melihat Su Hua pergi, Liam memandang Yuan dan Su Wen Ai. Ia bertanya, "Hey, apakah Tuan Besar Su yang dia bicarakan adalah yang kita kenal di Keluarga Su di pulau itu?"
Su Wen Ai terkejut. Namun ia segera menjawab, "Sepertinya begitu."
Liam dan Yuan heran melihat Su Wen Ai. Ia biasanya tenang, tapi kali ini reaksinya agak berlebihan. Mereka melirik Su Wen Ai dengan tatapan aneh.
"Su Wen Ai, mulai sekarang kau tidak boleh pergi sendirian. Ke mana pun kau pergi, kau harus ikut dengan kami," ucap Ling santai.
Meski Liam tak tahu mengapa Ling mengatakan ini, tapi ia tetap mengangguk setuju. Begitu juga dengan Yuan. Sedangkan Su Wen Ai diam sejenak. Ia menatap kosong ke arah kartunya. Tak lama, ia mengangguk.
Melihat Su Wen Ai mengangguk, Ling menjadi lega. Ia tahu jika Su Wen Ai adalah orang yang selalu menepati kata-katanya. Jadi, jika dia sudah mengangguk, artinya ia tak akan menarik kembali perkataannya. Ling pun masuk kembali ke kamarnya.
Sedangkan di kamar Tuan Agung.
"Apa? Mereka berempat tak pernah berpisah?" tanya Tuan Agung dengan marah. Ia melempar gelas yang ada di tangannya.
"Benar sekali," jawab penjaga itu dengan hormat.
"Di mana Nona Zhuo?" tanya Tuan Agung lagi.
"Nona Zhuo asa di kamarnya," jawab penjaga itu seadanya.
"Aku akan pergi mencarinya," ucap Tuan Agung bertekad. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum pergi menemui Zhuo Xia. Sangat jelas ia tak bisa membunuh Su Wen Ai diam-diam sekarang. Ia harus memisahkan mereka berempat. Ia tak takut dengan orang biasa itu, tapi ia takut dengan Zhuo Xia. Apalagi menurut informasi, Ling sangat dekat dengan Zhuo Xia.
Saat Tuan Agung tiba di depan kamar Zhuo Xia, Zhuo Xia dan Bai Xiaoqi sedang bermain catur. Bai Xiaoqi mengangkat bidak terakhirnya.
Ia berkata dengan nada pasrah, "Aku kalah. Aku akan menemuimu lagi nanti. Seseorang mencarimu di luar."
Setelah itu, Bai Xiaoqi pergi.
Saat Tuan Agung masuk, Zhuo Xia sedang menyusun bidak catur itu. Aura dinginnya sangat menusuk. Dengan mengumpulkan semua keberanian, Tuan Agung berkata, "Aku ingin tahu apakah Su Wen Ai dan Tuan Muda Chen adalah teman Nona Zhuo."
"Tempat itu miliknya," jawab Zhuo Xia dingin.
"Saat itu, ayahnya melanggar aturan keluarga," jawab Tuan Agung yang ekspresinya langsung berubah.
"Apa ini berarti Nona Zhuo ingin ikut campur dengan masalah kami? Nona Zhuo, aku ingin memberitahumu jika aku sudah membuat aliansi dengan Keluarga Su yang ada di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya," ucap Tuan Agung mengancam. Ia hanya bisa menggunakan ancaman ini sekarang.
Saat mendengar ini, ia mengangkat kepalanya dan melihat Tuan Agung. Kemudian, ia menjawab dengan lembut, "Jangan khawatir. Aku tidak akan ikut campur dalam masalah ini."
"Anda tidak akan membantu mereka? Benarkah?" tanya Tuan Agung dengan mata berbinar.
"Aku tidak akan membantu salah satu dari kalian," jawab Zhuo Xia tenang.
"Aku harap Nona Zhuo akan menepati janji. Terimakasih Nona Zhuo," jawab Tuan Agung dengan kegembiraan yang tak dapat disembunyikan. Ia keluar dari ruangan dengan raut wajah bahagia. Saat ia berpapasan dengan Bai Xiaoqi, ia menyapanya sambil tersenyum.
Tidak ada raut khawatir seperti pertama kali ia datang.
Bai Xiaoqi melihat ke arah Tuan Agung dengan bingung. Awalnya ia ingin pergi, tapi ia memilih masuk kembali.
"Tidak, tidak," jawab Bai Xiaoqi dengan cepat.
"Aku mendengar sedikit tadi. Kakak Xia, apa benar kau tidak akan membantu mereka?" tanya Bai Xiaoqi. Ia sudah menyeret kursi dan duduk di depan Zhuo Xia.
Wajahnya santai. Ia sama sekali tak merasa bersalah setelah menguping. Namun ia tahu betul, jika Zhuo Xia tak ingin dia mendengarnya, maka ia tak akan bisa mendengarnya.
Zhuo Xia hanya mengangguk ringan. Kemudian ia bangkit dan pergi tanpa penjelasan apa pun.
Saat melihat arah pergi Zhuo Xia, ia tahu Zhuo Xia bukan ingin menemui Ling. Ini sama sekali bukan terlihat seperti Zhuo Xia.
Bai Xiaoqi pun segera pergi ke kamarnya. Namun saat ia berjalan cepat, ia menabrak Han Shuangfu.
"Hey, ada apa denganmu?" tanya Han Shuangfu. Biasanya Bai Xiaoqi lebih tenang darinya, tapi sekarang ia terlihat cemas. Jadi Han Shuangfu merasa heran.
Bai Xiaoqi berhenti sejenak dan bersandar di dinding. Ia menjawab, "Aku merasa benar-benar ada yang salah dengan Kakak Xia. Saat itu kita masih bisa membiarkan mereka berempat naik gunung sendirian. Namun kali ini apa kita benar-benar tidak akan ikut campur?"
"Benarkah? Apa Tuan Agung itu memiliki niat buruk pada kakak ipar dan yang lainnya? Pasti ada yang salah. Kakak ipar dan yang lainnya hanya orang biasa. Mereka juga tidak pernah datang ke sini sebelumnya. Seharusnya mereka tidak membuat masalah, kan?" tanya Han Shuangfu yang sudah ikut panik.
"Aku juga tidak tahu," jawab Bai Xiaoqi. Ia selalu percaya dengan keputusan Zhuo Xia. Namun kali ini ia tak mengerti dengan apa yang dipikirkan Zhuo Xia.
"Lebih baik kita bertanya pada Yu Bin dan yang lainnya," ucap Han Shuangfu sambil mengeluarkan ponsel.
Saat menerima panggilan video dari Han Shuangfu, Yu Bin sedang berada di markas bersama Mei Mengyi. Ia sedang melihat senjata nuklir buatan Mei Mengyi.
"Nona Han? Nona Bai?" tanya Yu Bin saat melihat orang di video.
"Apa itu?" tanya Han Shuangfu. Ia ingin langsung bertanya, tapi fokusnya teralihkan ke senjata yang dipegang Mei Mengyi.
"Senjata tajam," jawab Yu Bin melihat ke arah senjata itu.
"Oh," jawab Han Shuangfu. Ia tak terlalu peduli dengan senjata itu. Bagaimana pun mereka adalah kultivator tingkat tujuh. Mereka tak akan mudah dilukai dengan senjata tajam.
Dia pun segera menanyakan tujuannya.
"Menurutmu apa yang dilakukan Kakak Xia? Dia bahkan berkata tak akan membantu kakak ipar," ucap Han Shuangfu.
"Dia berkata dia tak akan membantu?" tanya Yu Bin tercengang.
Han Shuangfu dan Bai Xiaoqi hanya mengangguk.
"Tuan Agung itu juga merasa senang?" tanya Yu Bin lagi.
Menurut Yu Bin, mereka tak mungkin menyinggung seseorang, kecuali orang itu sendiri. Contohnya adalah orang dari Pulau Bintang.
Namun Zhuo Xia sudah mengatakan jika dia tak akan membantu. Kota Urban adalah wilayahnya saat ini. Jika ada yang membunuh di wilayahnya, ia pasti akan turun tangan, tapi kali ini ia sudah berjanji langsung pada Tuan Agung.
Jika Zhuo Xia sudah berjanji, ia pasti benar-benar tak akan membantu.
Melihat kepribadian Tuan Muda Chen, pasti Tuan Agung itu akan dikuliti olehnya, batin Yu Bin.
Tuan Agung itu pasti tak tahu seberapa menakutkannya Ling dan gengnya. Namun Zhuo Xia tahu jika Tuan Agung itu tak perlu diberi peringatan. Bahkan Zhuo Xia sengaja menggali lubang untuk Tuan Agung itu.
"Kalian tidak perlu khawatir dengan hal itu," jawab Yu Bin sebelum menutup panggilan.
"Oh, jangan lupa siarkan langsung kepadaku jika ada hal menarik," ucap Yu Bin lagi. Kali ini ia benar-benar mematikan panggilan.
Kemudian ia berjalan ke arah Mei Mengyi. Jika saja Mei Mengyi tidak mempunyai projek untuk membuat senjata militer, ia pasti bisa pergi dengan Zhuo Xia. Hanya saja, ia kekurangan tenaga kerja di sini, jadi ia terpaksa tinggal.
Meski senjata nuklir memang mengesankan, tapi itu tak seseru saat ikut dengan Zhuo Xia dan Ling.
Han Shuangfu dan Bai Xiaoqi masih saling tatap. Tidak hanya Zhuo Xia yang tidak peduli, bahkan Yu Bin mengatakan untuk jangan khawatir dan memberikan siaran langsung padanya. Apa ia tak tahu apa artinya jika Ling dan gengnya dalam bahaya?
Apa yang harus disiarkan secara langsung?
Mereka berdua tak mengerti.