
Lu Yan dan Tuan Linghu sedang berada di kediaman Linghu untuk membahagiakan masalah kontrak kemarin.
"Tuan Linghu, dimana anak Anda?" tanya Lu Yan sambil memegang setumpuk dokumen. Dia sudah menyuruhnya membawa anaknya hari ini.
"Ah ... maaf Nona Lu aku tidak jadi menandatangani kontrak denganmu," jawab Tuan Linghu.
"Apa? Mengapa? Bukankah Anda ingin anak Anda sembuh? Keluarga kami mempunyai dokter yang hebat," ucap Lu Yan. Ekspresi yang sebelumnya ramah sudah berubah.
"Aku memang ingin anakku sembuh. Namun anakku sudah disembuhkan oleh Keluarga Zhuo. Mereka tidak meminta biaya apalagi meminta kontrak. Mereka benar-benar memberi pengobatan gratis," jawab Tuan Linghu.
Sebenarnya Tuan Linghu adalah salah satu bangsawan besar. Tentu ia tak akan menolak untuk meluangkan banyak uang untuk anaknya. Hal ini membuat Lu Company mengambil kesempatan. Mereka akan mengatakan sakit anaknya parah sehingga mereka bisa terus bekerjasama.
"Bukankah Anda bilang dia tak bisa sembuh? Hanya dokter keluargaku yang bisa menyembuhkannya," ucap Lu Yan lagi. Ia sudah menggenggam erat dokumen di tangannya.
Bisa bekerjasama dengan Tuan Linghu dapat dengan cepat meningkatkan Lu Company. Namun jika begini, semua langkah yang sudah ia pikirkan akan sia-sia.
"Sepertinya hanya dokter dari Keluarga Zhuo kami yang bisa menyembuhkannya," ucap seseorang dari arah belakang. Lu Yan membalikkan badan. Ia melihat Tuan Tua Zhuo berjalan ke arah mereka.
"Apa kau tahu apa ini?" tanya Tuan Tua Zhuo sambil menunjukkan plakat kayu. Ia berdiri di sebelah Tuan Linghu.
Lu Yan hanya diam. Jantungnya berdegup cepat.
"Ini adalah plakat Dewa Tabib," ucap Tuan Tua Zhuo.
Kau ingin menghancurkan Keluarga Zhuo, kan? Kau juga ingin menghancurkan Keluarga Chen dan Keluarga Yu, kan? Kau baru mulai menghancurkan Keluarga Zhuo saja Ling sudah marah besar. Apalagi jika kau menyentuh Keluarga Chen. Mayat keluargamu mungkin tak tersisa lagi. Jika saja kau tahu orang di balik ini adalah Chen Ling, kau pasti menyesal telah memutuskan pertunangan dengannya, batin Tuan Tua Zhuo sambil menatap kasihan pada Lu Yan.
*
Pengobatan gratis Keluarga Zhuo kembali ramai saat plakat Dewa Tabib dikeluarkan. Selain itu, mereka juga sudah menyembuhkan penyakit keras banyak keluarga bangsawan.
Walau mereka pernah berobat, tetapi mereka tak pernah tahu siapa Dewa Tabib itu. Bahkan Keluarga Zhuo juga tidak tahu. Hanya Tuan Tua Zhuo yang tahu orang itu. Yang mereka tahu, cara pengobatan Dewa Tabib itu sangat aneh dan misterius. Tidak seperti dokter tradisional pada umumnya.
Bisnis Keluarga Lu merosot. Para keluarga kaya tak mampu lagi membeli ramuan mereka. Dan juga kemunculan plakat Dewa Tabib membuat semua orang berpaling.
Mereka dari awal sudah sangat sombong untuk menimbun bahan obat. Kini bahan obat itu sia-sia. Mereka juga tidak tahu harus menjual kepada siapa, karena di Kota Urban hanya Keluarga Zhuo yang mengerti ramuan.
Tidak hanya itu, karena dana mereka sebelumnya sudah habis untuk menimbun bahan obat, perusahaan mereka jadi terganggu. Sedikit demi sedikit, perusahaan yang bekerjasama dengan mereka mengundurkan diri. Hal ini tentu membuat pukulan besar bagi Lu Company.
Wuzhou dan Lu Yan sedang berada di ruang tamu. Wajah Wuzhou sama suramnya seperti Lu Yan.
"Apakah Tuan Han belum menghubungimu?" tanya Lu Yan. Ia memijat pelipisnya karena merasa sangat pusing.
"Belum. Mungkin dia sedang bekerja di balik layar untuk membantu Lu Company," jawab Wuzhou.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Itu adalah panggilan dari Tuan Han. Mereka langsung semangat.
"Halo, guru," sapa Wuzhou hormat.
"Bawahanku ada di depan rumahmu untuk mengantar kartu bintang hitam-emas. Gunakan kartu itu sebagai modal terakhir Lu Company untuk ikut seleksi Kota Bayangan," ucap Tuan Han. Setelah itu ia langsung mematikan telepon.
"Guru sangat kaya," ucap Wuzhou bahagia melihat kartu itu.
*
Di kamar Ling. Ia sedang duduk di depan komputernya. Hari ini ia hanya sendirian karena dia ingin fokus bekerja.
Ia sedang memeriksa dokumen Chen Company. Perkembangan Chen Company cukup pesat. Walau beberapa minggu ini hanya ada beberapa perusahaan kecil yang bergabung, tapi itu sudah sedikit cukup. Akhir-akhir ini semakin banyak perusahaan besar yang ingin bekerjasama. Ia mengamatinya dan mempertimbangkan sesuatu.
"Tuan Muda Chen, bagaimana?" tanya Yuan Ming dalam telepon.
"Apakah kita ikut seleksi Kota Bayangan?" tanyanya lagi.
Saat itu, notifikasi muncul di komputernya. Ia menyeringai lebar.
"Ikut," jawab Ling singkat.
Sedangkan Yuan Ming sudah sangat senang. Akhirnya setelah sekian lama menunggu, Chen Company bisa muncul ke permukaan dan menyerang.
Ling mematikan panggilan dengan Yuan Ming. Kini ia menelepon Tuan Tua Zhuo.
"Kakek, apa sudah menemukan informasi tentang ahli ramuan itu?" tanya Ling.
"Aku akan mengirim filenya padamu," jawab Tuan Tua Zhuo.
Setelah beberapa saat menerima file, dia segera membaca secara keseluruhan. Ini adalah informasi tentang ahli ramuan milik Keluarga Lu.
Ling yakin orang ini dari Kota Bayangan juga. Karena Keluarga Lu pasti mendapat orang ini dari Tuan Han.
"Zhao Ran?" gumam Ling bingung. Ia mendalami ingatannya. Ia tak mungkin salah mengenali orang. Foto Zhao Ran juga sangat jelas. Foto ini diambil seolah memang Zhao Ran tahu bahwa dia akan difoto.
Saat melihat lokasi yang sering didatangi Zhao Ran, Ling segera bersiap. Ia mengambil saku dimensinya dan membawa beberapa peledak. Tak lupa juga dia membawa satu belati kecil.
Ia menyelinap keluar dari kediaman Chen. Ia memanggil taksi dan melesat menuju alamat yang diberikan.
Hari sudah cukup gelap. Ia menatap matahari yang hampir hilang sepenuhnya. Keluarga Zhuo sangat mudah mendapatkan informasi dan alamat ini. Ling merasa ada yang aneh dengan Zhao Ran. Dia selalu berjalan sendiri tanpa perlindungan dan secara terang-terangan. Seolah ia tidak peduli dengan hidup dan matinya.
Kini ia sudah tiba di sebuah jalanan sepi. Ia sudah membayar taksi dan taksi itu segera pergi saat melihat lokasi ini begitu menyeramkan.
Ia melihat sebuah rumah kosong di depannya. Di pintu masuk, terukir gambar seperti kuda yang memiliki sayap.
Ini adalah markas Pegasus.
Walau hari semakin gelap, penglihatan Ling masih sangat jelas. Ia dapat merasakan seseorang mendekat ke arahnya. Ling tetap diam sampai orang itu tepat di belakangnya.
Angin berhembus sedikit kencang di belakang Ling. Dengan cepat, ia melemparkan tasnya dan memukul orang itu dengan akurat.
"Diam!" ucap Ling sambil mengapit leher orang itu. Belati kecil hampir menebas orang itu.