Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Belum Pernah Melihat Ramuan Seumur Hidup


Ketua Su melirik Ling dan yang lainnya. Ia berkata, "Su Hua, Su Hao, mereka berempat ini ... bawa mereka kembali."


Han Shuangfu melirik Zhuo Xia.


"Kak Xia, pergilah dengan Xiaoqi. Aku akan tetap di sini dan melindungi mereka," ucap Han Shuangfu. Ia melakukan apa yang dikatakannya tadi. Apalagi setelah menerima informasi terbaru, ia semakin yakin di sini sangat berbahaya.


Tanpa diduga, Zhuo Xia menjawab, "Kau akan ikut dengan kami."


Tidak hanya Han Shuangfu, Bai Xiaoqi juga melebarkan mata, "Apa kau bercanda?"


"Apa kau lihat aku sedang bercanda? Tenang saja, mereka berempat bisa mengatasi itu," jawab Zhuo Xia santai.


Han Shuangfu membuka mulutnya. Zhuo Xia memang tidak terlihat bercanda. Namun, apa dia yakin akan membiarkan 4 orang biasa mendaki gunung yang terjal di malam hari? Apalagi dalam keadaan berbahaya seperti ini.


Han Shuangfu ingin bicara lagi dan menolak. Namun melihat kegigihan Zhuo Xia, ia pun mengalah. Ia memberikan Ling senjata, "Bawa ini. Saat kau merasa dalam bahaya, jangan takut. Senjata ini akan melindungimu. Mengapa kau tidak mengatakan pada Kakak Xia agar aku melindungi kalian?"


"Kau harus pergi," jawab Ling. Ia hanya tersenyum pada Han Shuangfu.


Kali ini Han Shuangfu tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia tidak punya pilihan. Ketika ia memastikan Ling akan membawa senjata dengan benar, ia baru sedikit lega. Ia baru bisa melepaskan mereka setelah Ling berjanji akan selalu membawa senjata itu.


"Aku sangat mengkhawatirkan mereka," ucap Han Shuangfu saat berjalan bersama Bai Xiaoqi.


"Kali ini Kakak Xia tidak bodoh, kan? Jika menang ada bahaya, apa yang bisa mereka lakukan? Dan juga Chen Ling. Aku mengatakan padanya jika hal ini sangat berbahaya. Jika saja dia meminta pada Kakak Xia agar aku tetap tinggal, pasti Kakak Xia akan mendengarkannya," ucap Han Shuangfu melanjutkan.


"Jangan khawatir. Kapan Zhuo Xia melakukan hal yang tidak dia yakini? Saat ini ia pasti yakin jika tidak ada bahaya di sekitar mereka," ucap Bai Xiaoqi. Walau ia khawatir pada awalnya, tapi ia menjadi sedikit lega saat melihat wajah tenang Zhuo Xia.


"Apa maksudmu tidak ada bahaya? Apa kau tidak merasa sejak tadi banyak pasang mata yang mengawasimu sepanjang jalan?" tanya Han Shuangfu kesal.


"Jangan khawatir Nona-Nona. Mereka tidak akan berani berbuat macam-macam di gunung ini. Su Hua dan Su Hao adalah anak yang paling berbakat dalam suku kami. Jadi tidak perlu dikhawatirkan lagi keselamatan mereka," ucap Ketua Su.


Saat mereka bertiga berbicara, Zhuo Xia hanya diam. Meski begitu, jika orang melihatnya lebih dekat, wajah Zhuo Xia sangat dingin.


Terutama seringaiannya.


Sedangkan di kelompok Ling.


Su Hua dan Su Hao menatap empat orang di depannya dengan jijik. Su Hao berkata, "Jika bukan karena mereka berempat, pasti kita bisa ikut orang dewasa itu. Kita juga bisa melihat adegan besar."


Su Hua menjadi muram. Ia berkata, "Baiklah, jangan dibahas lagi."


Su Hao mengutuk empat orang itu dengan suara pelan. Ia menatap dingin ke arah mereka.


"Ling, dua orang di belakang kita tidak terlalu suka dengan kehadiran kita," ucap Liam berbisik sambil mendekatkan dirinya ke arah Ling.


Saat ini sudah malam. Gunung ini sangat gelap. Aura di sekitarnya juga sangat mencekam. Orang biasa akan takut dalam keadaan ini. Namun enam orang itu bersikap biasa saja.


Karena tidak ada penerangan, Su Wen Ai menghidupkan lampu dari ponselnya dan memimpin jalan.


"Ayo kita lanjut jalan. Sebentar lagi kita sampai," ucap Ling sambil tersenyum.


Di belakang mereka, Su Hua dan Su Hao masih menghina mereka dalam suara pelan. Mereka berdua mengira empat orang di depan mereka hanya orang biasa dan tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. Jadi, pembicaraan mereka semakin menjadi-jadi.


Su Hao melihat Ling yang berada di tengah-tengah Yuan dan Liam. Ia berbicara dengan kesal, "Apa kau mendengar Nona Bai memanggilnya Kakak Ipar? Namun bagaimana mungkin orang biasa sepertinya cocok untuk Nona Zhuo Xia? Tuan Muda Bo Hongyun yang datang bersama Nona Zhuo Shiaonian ke suku kita beberapa hari lalu, ia terlihat lebih cocok daripada orang biasa ini."


"Apa kau pikir dia pantas dibandingkan dengan Tuan Muda Bo Hongyun?" tanya Su Hua sambil tersenyum meremehkan.


Namun setelah satu jam berjalan, mereka berempat masih memimpin di depan. Bahkan dua orang itu tidak memberi petunjuk. Jadi, mereka berempat hanya jalan lurus mengikuti jalur. Mereka tidak hanya jalan lurus, mereka juga tidak terlihat takut.


"Apa kau tahu? Tuan Muda Bo Hongyun sedang dalam fase membuat ramuan tingkat tinggi. Dia juga sangat baik padaku. Pagi ini, ia memberiku sebotol ramuan tingkat menengah," ucap Su Hao dengan mata berbinar.


Su Hao melihat jijik ke arah Ling yang diapit oleh Liam dan Yuan. Ia berkata, "Lihatlah dia! Dia bahkan masih butuh perlindungan temannya. Sepertinya dia juga tidak tahu apa itu ramuan. Ia pasti belum pernah melihat ramuan seumur hidupnya, kan? Bagaimanapun ia hanya orang biasa."


Su Hua hanya menatap Ling tanpa mengatakan apa pun.


Saat ini, Yuan dan Liam berhenti.


Apa maksud perkataan mereka barusan? Ling selalu memperlakukan mereka dengan baik. Bahkan mereka bisa minum ramuan tingkat tinggi seperti minum air biasa. Setelah mendengar ini, Yuan tidak bisa menahan diri. Ia tidak masalah jika mereka berdua membicarakan dirinya, tapi ia tidak terima jika Ling yang mereka hina.


Yuan pura-pura lemas dan berkata, "Aku tidak bisa berjalan lagi."


Yuan sebenarnya hanya ingin mencari masalah dengan mereka.


Melihat ini, Su Hao tidak bisa menahan diri lagi. Ia berkata dengan marah, "Jika kau tidak bisa berjalan, maka tetaplah di sini. Beraninya orang manja datang ke sini."


Su Hua memelototinya. Jika dia tidak ingat jika mereka adalah orang Zhuo Xia, ia pasti juga tidak akan peduli. Namun jika mereka mengabaikan mereka berempat, seluruh suku mereka akan terancam.


Ia pun menatap Ling yang terlihat lebih normal, "Tuan Muda, kita harus cepat kembali. Jika tidak, akan berbahaya untuk kita."


Ling tertawa kecil. Ia menjawab, "Aku takut ... sepertinya kita memang harus tinggal di sini."


Sstelah itu, Ling pun duduk di tanah. Su Wen Ai mencari beberapa ranting dan menghidupkan api unggun. Dengan cahaya itu, wajah mereka sedikit bersinar.


Su Hua tidak habis pikir. Ling yang ia kira paling waras, malah ikut menjadi tidak masuk akal. Ini adalah hal yang paling tidak mereka harapkan. Jadi sekarang mereka berdua hanya melihat empat orang itu duduk di depan api unggun.


Su Wen Ai mengeluarkan ikan kering dari tasnya. Ia memberikan tas lainnya kepada Ling dan yang lainnya.


Mata Su Hao hampir keluar. Bagaimana bisa mereka masih begitu santai saat ini?


"Su Hua, lihat mereka ...," ucap Su Hao sambil melihat mereka. Ia mencengkram erat baju Su Hua karena ia sangat emosi.


Namun saat ini wajah Su Hua pucat. Ia berkata kepada Su Hao, "Su Hao ... mereka ... mereka di sini ...."


Setelah mendengar perkataan Su Hua, wajah Su Hao juga menjadi pucat. Ia berbalik dan melihat sosok seperti mayat hidup sedang jalan perlahan ke arah mereka.


"Cepat! Cepat beritahu ketua," ucap Su Hao yang sangat panik.


Su Hua pun mengeluarkan walkie-talkienya. Namun saat ingin berbicara, ia berhenti. Ia berkata, "Percuma saja. Sudah terlambat."


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Su Hao yang sudah sangat panik.


Ia melihat Ling dan yang lainnya masih makan ikan kering di depan api unggun dengan santai. Emosinya semakin memuncak. Ia berkata dengan nada tinggi, "Apa kalian mencari mati? Apa kalian tidak melihat makhluk-makhluk itu mendekat? Apa kalian tidak akan melarikan diri?!"


"Apa? Aku tak melihat apa pun," jawab Liam bingung sambil melihat Su Hao.


"Percuma. Tidak ada satu pun dari kalian yang bisa lari. Enam anak muda yang masih memiliki daging segar. Hmm ...," ucap salah satu orang seperti mayat hidup itu.


Kini Su Hua dan Su Hao semakin panik. Mereka merasa tidak bisa lagi menggunakan kekuatan kultivasi mereka. Mereka saling pandang dengan putus asa.


Kemudian, Su Hua teringat Han Shuangfu. Ia berkata, "Bukankah Nona Han memberimu senjata? Cepat keluarkan itu."


Ling mengeluarkan pisau. Ia bertanya dengan bingung, "Apa kau membicarakan ini?"


Sedikit harapan yang dimiliki Su Hua dan Su Hao pupus. Mereka yang awalnya bersemangat, kini sudah tak memiliki niat lagi untuk bertarung. Mereka juga sudah sangat panik.