Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Membelikan Beberapa Pakaian


"Tuan Cai, dengarkan Pamanmu. Jika kau meminta maaf, dia pasti akan memaafkanmu. Aku pikir saat kau bekerjasama dengan Chen Company kau tidak akan terpengaruh. Namun sekarang kau telah masuk perangkap mereka. Matamu menjadi buta. Lihat sekarang. Jangankan untuk makan, kau saja tidak tahu harus tinggal di mana," ucap salah satu orang di sebelah Paman Cai Hao.


"Meminta maaf? Aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Aku memiliki partner kerja yang kuat, mengapa aku harus bergabung bersama kalian?" tanya Cai Hao sambil tertawa meremehkan.


"Kau ...," ucap Paman Cai Hao yang merasa geram.


Semua orang di sini tahu jika Cai Hao memang sudah tidak memiliki apa pun. Selain sisa sahamnya dari Bronze Company, semua uangnya telah dikeluarkan untuk bekerjasama dengan Chen Company. Awalnya kerjasama ini sangat diimpikan semua orang. Namun sekarang tidak ada yang menginginkan ini lagi.


"Baiklah. Aku juga tidak bisa melakukan apa pun jika kau tetap keras kepala. Sekarang aku hanya ingin membuka matamu. Kau lihat semua pebisnis di distrik B-1 ada di sini. Kami sedang menjalin kerjasama dengan orang dari luar negeri. Kaitanmu dengan Chen Company akan berpengaruh terhadap keberhasilan kami. Jika kau masih tetap keras kepala, kau benar-benar tidak akan dianggap lagi di Bronze Company," ucap Paman Cai Hao yang sudah pasrah.


"Tuan Cai, tolong putuskan hubunganmu dengan kami. Kami tidak ingin kalian mengambil keuntungan dari kami," ucap orang lainnya.


"Baik. Aku akan memutus hubungan dengan kalian," ucap Cai Hao. Ia tanpa ragu mengatakan itu.


Mendengar ini, Paman Cai Hao berbinar. Ia segera meminta seseorang untuk membawa kontrak pemindahan saham dan pemindahan perusahaan. Ia tak ingin Cai Hao berubah pikiran.


Tentu saja dia telah menyiapkan ini sebelumnya. Jika tidak, mereka tak akan mendapat kontrak secepat ini.


Cai Hao mengambil kontrak itu. Ia membacanya sebentar dan merasa tidak ada yang salah. Kemudian, ia menatap Ling.


Ling memegang segelas anggur di tangannya. Ia merasakan tatapan Cai Hao, jadi ia berbalik. Ia berkata, "Tanda tangani itu."


Setelah itu, Cai Hao tanpa ragu menandatangani kontrak itu.


Paman Cai Hao yang melihat ini merasa sangat senang. Kemudian ia mengikuti arah pandang Cai Hao sebelumnya. Ketika matanya bertemu dengan mata orang itu, ia merasa ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.


"Cai Hao, aku bingung darimana kau mendapat keberanian untuk menandatangani kontrak itu. Aku lihat kau membawa dua teman yang aneh. Kau masih punya uang, kan? Mengapa kau tidak membelikan beberapa pakaian untuk temanmu?" tanya Paman Cai Hao melihat jijik ke Ling dan Mei Mengyi yang memakai pakaian biasa.


Kontrak selesai ditandatangani. Cai Hao benar-benar putus hubungan dengan mereka.


"Membelikan mereka pakaian?" tanya Cai Hao. Ia hampir saja tertawa saat mendengar ini.


Apa dia tidak tahu jika kedua orang di depannya adalah orang hebat? Salah satunya adalah ahli bom terkuat di Kota Bayangan. Ia selalu menjual bom dan senjata ilegal ke luar dan dalam negeri. Sedangkan satu orang lagi adalah Ling. Seorang yang bahkan tak bisa lagi dideskripsikan kekayaannya.


Membelikan mereka beberapa pakaian?


Apa mereka butuh itu?


Ia telah berada di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Beberapa waktu itu ia tahu jika pakaian Mei Mengyi terbuat dari bahan-bahan yang sangat mahal, bahkan bisa menahan peluru dan ledakan. Bagaimana itu bisa disebut pakaian biasa?


Dan untuk Ling ... siapa yang berani memberinya pakaian? Seseorang pasti akan ditertawakan karena hal ini.


Paman Cai Hao melirik Cai Hao yang hanya diam. Awalnya ia berpikir Cai Hao bisa begitu sombong karena ia memiliki partner hebat di belakangnya. Namun, saat melihat dua orang dengan pakaian biasa itu, ia menepis pikirannya. Mana mungkin orang besar mau berteman dengan Cai Hao. Ia tersenyum meremehkan. Pikirannya terlalu jauh.


Paman Cai Hao berbinar saat melihat orang itu. Ia buru-buru menghampiri dan berkata, "Tuan Jansen yang terhormat, Anda akhirnya datang."


Jansen adalah salah satu karyawan dari perusahaan luar negeri yang bekerjasama dengan Bronze Company. Ia memiliki mata biru cerah. Ia juga membawa pengawal yang perawakannya sangat berbeda dengan orang-orang di sini.


Padahal, ia datang tidak sesuai hari yang disepakati. Ia datang keesokan harinya. Namun, Paman Cai Hao tetap menyambutnya dengan hormat. Bahkan ia tidak marah sama sekali.


Siapapun yang melihatnya akan merasa sangat hormat.


"Sekarang kami memiliki kerjasama dengan Bronze Company. Perusahaan luar negeri kami membutuhkan partner kerja lagi. Jika ada yang tertarik, maka kalian bisa mengajukan diri kepada sekretaris saya. Saya akan memilih beberapa perusahaan. Dan kami hanya menerima perusahaan yang bergerak di bidang kimia. Sedangkan hal-hal yang berhubungan dengan kontrak kerjasama Bronze Company bersifat rahasia," ucap Jansen sambil menegakkan kepala. Ia tidak heran dengan orang-orang yang menatapnya dengan hormat.


Setelah ia selesai berpidato, kerumunan itu menjadi meledak. Siapa yang tidak ingin berdiri di puncak? Siapa yang tidak semangat saat mereka diberi kesempatan untuk melesat jauh?


Beberapa dari mereka ingin berbicara langsung dengan Jansen, tapi saat melihat dua pengawal dengan aura membunuh, mereka mengurungkan niat.


Saat ini, hanya Paman Cai Hao yang bisa bicara dengan mereka. Ia berdiri dengan bangga di depan. Ia membusungkan dada menunjukkan kesombongannya.


Semua orang sadar jika Jansen suka hening. Jadi, mereka tidak berdiskusi apapun lagi. Mereka hanya mengirim bahan agar mereka bisa terpilih untuk bekerjasama. Pada saat yang sama, mereka juga merasa iri dengan Paman Cai Hao.


Melihat ini, Ling menunduk dan tertawa kecil.


"Tuan Muda Chen, apa yang Anda tertawakan?" tanya direktur di sebelah Paman Cai Hao. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


Ling meletakkan gelas. Ia dengan santai menjawab, "Hanya sebuah lelucon. Aku menertawakan sebuah lelucon."


Orang-orang di sini tidak mengerti, termasuk Cai Hao. Lelucon apa yang dimaksud Ling?


Mei Mengyi juga meletakkan gelasnya. Ia berkata sambil tertawa kecil, "Aku melihat beberapa orang palsu. Beberapa hal bisa dipalsukan dan ditiru, tapi tidak semua."


Semua orang masih tidak mengerti.


Dari awal Jansen masuk, tidak ada yang berani berbicara dengan keras. Jadi, saat mendengar suara Ling dan Mei Mengyi, perhatiannya teralihkan.


Ia melirik Ling dan Mei Mengyi. Ia mengerutkan kening merasa tidak asing. Ia bertanya pada Paman Cai Hao, "Siapa itu?"


Paman Cai Hao membeku. Ia merasa sangat gugup sekarang. Ia menyesal karena tidak langsung mengusir Cai Hao.


Meski ia memaki Cai Hao dalam hati, ia tetap manatap hormat ke arah Jansen. Ia berkata, "Tuan Jansen, mereka hanya orang biasa yang menerobos masuk. Maafkan kelalaianku."


Setelah itu, ia berkata pada penjaga, "Penjaga! Mengapa kalian tetap diam? Cai Hao tidak punya hubungan lagi dengan Bronze Company. Ia juga tidak berhak bertemu dengan Tuan Jansen. Ia tidak memiliki uang lagi. Bahkan untuk melihat ujung rambut Tuan Jansen saja dia tidak berhak. Dua orang biasa itu juga tidak pantas datang ke acara ini. Cepat usir mereka!"