
Pulau Keluarga Zhuo memiliki keamanan tingkat tinggi. Orang biasa tidak bisa masuk sembarangan kecuali izin dari Keluarga Zhuo.
Zhuo Chun sedang duduk di ruang kerjanya. Ia menatap walkie-talkie disampingnya dengan frustasi.
Dengan sebatang rokok di tangannya, ia mencoba kembali menghubungi orang-orang dari walkie-talkie itu.
Namun, tak ada yang mengangkat.
Seseorang mengetuk pintu tiga kali.
Tapi hal itu sangat mengganggu telinga Zhuo Chun. Ia berdecak dan berteriak, "Enyah!"
Suara ketukan itu langsung menghilang, tapi pada detik berikutnya seseorang mendobrak pintunya hingga terbuka.
Zhuo Chun menghisap rokoknya dalam-dalam dan berdecak. Saat ia akan bersiap menendang pelayan bodoh yang mendobrak pintu itu, tiba-tiba bayangan hitam menutupinya. Kemudian, sesuatu yang dingin menekan tenggorokannya.
Orang itu bergerak terlalu cepat sehingga Zhuo Chun tak dapat melihatnya dengan jelas. Jari-jarinya gemetar dan rokoknya jatuh ke tanah, "Siapa kau? Apa kau tidak tahu kau sedang berada di mana sekarang?"
Ia mengangkat kepalanya ketika berbicara. Walau nada suaranya bergetar, ia tetap memberanikan diri.
Saat penyusup itu juga mengangkat kepalanya, Zhuo Chun bisa melihat sepasang mata dingin. Namun, pada saat ini, Zhuo Chun tak berminat untuk mengagumi mata itu.
Ketika angin yang sejuk bertiup melalui jendela dan melewati penyusup itu, Zhuo Chun bisa mencium bau samar-samar darah dari tubuhnya.
Walau baunya tidak pekat, tapi orang yang menciumnya akan langsung merasakan suasana mencekam. Zhuo Chun bertanya, "Itu kau?"
Akhirnya ia bisa bicara dan mengenali orang di depannya. Matanya membelalak dan dia ketakutan. Justru karena dia mengenalnya, dia semakin takut.
Ling tak membuang waktu untuk menjawab pertanyaannya. Ia hanya menatapnya dan bertanya dengan lembut, "Penyakit Xia direncanakan oleh kalian juga, kan? Katakan padaku, siapa yang ada di balik ini?"
"Bagaimana kau bisa masuk? Aku benar-benar meremehkanmu, Chen Ling," ucap Zhuo Chun memandang Ling dan menyeringai.
"Aku tanya ... siapa orang dibalik ini?" Ling mengulangi pertanyaannya dengan tenang.
Kesabaran Ling sudah mencapai ujung, tapi Zhuo Chun tidak tahu tentang hal ini. Ia masih saja berbicara tentang Ling, "Karena kau bisa melarikan diri dari orang-orang itu, setidaknya kau berada di tingkat ketujuh, kan?"
"Kalau begitu, tak ada salahnya aku memulainya darimu," Ling bukan orang yang begitu sabar.
Dia menggerakkan tangannya yang ada di leher Zhuo Chun tanpa emosi sama sekali. Ia tetap tenang seperti tadi.
"Tunggu! Aku akan memberitahumu!" melihat Ling akan segera menghabisinya, Zhuo Chun segera angkat bicara untuk mempertahankan hidup.
"Oh," Ling menyeringai ke arahnya.
"Sayangnya ... sudah terlambat," Zhuo Chun hanya mendengar tiga kata itu sebelum dia terjatuh ke tanah.
"Mengapa ...," Zhuo Chun merasa tidak terima. Ia tidak percaya jika akhirnya ia akan mati dengan mudah di tangan Ling.
Setelah ia selesai melakukan itu, Ling membuang belati itu ke samping dan melirik ke arah Zhuo Chun, "Karena kalian semua sangat ingin aku dan Xia mati sebelum kalian merebut sumber daya di Kota Bayangan kami, aku tak hanya bisa berdiri diam. Ngomong-ngomong, aku harus berterimakasih padamu."
Setelah itu, ia berbalik pergi.
Zhuo Chun masih berada di sana. Tak ada seorang pun dari Keluarga Zhuo yang bisa menemukannya. Zhuo Chun masih mencoba bertahan hidup. Ketika ia melihat dua kata di tanah, matanya membelalak dan wajahnya menegang hingga uratnya terlihat.
Di bawah sinar matahari terik yang masuk melalui jendela, dua kata itu bersinar.
Ling X!
*
A Shui masih bekerja dengan laptop di pahanya. Tak jauh darinya, orang-orang lainnya juga sedang sibuk.
Saat ini, Su Wen Ai meletakkan telepon dan menatap A Shui, "Nona A Shui, terjadi hal gila di luar negeri."
A Shui berhenti menatap laptopnya. Mendengar laporan Su Wen Ai, ia hanya tersenyum, "Karena mereka terus memaksanya keluar, maka mereka harus menanggung sendiri akibatnya. Sekarang, saatnya bagi kita untuk bergerak."
"Bergerak?" Su Wen Ai mengerutkan keningnya tidak mengerti apa yang dipikirkan A Shui.
A Shui tak menjelaskan apapun dan hanya memberi perintah pada bawahannya. Organisasi Tempur dengan cepat mengerti. Karena Ling telah mengambil langkah awal, maka merekalah yang harus mengambil langkah selanjutnya. Namun, satu hal yang sangat disayangkan adalah Kota Seribu Dharma belum berdiri. Jika tidak, orang-orang itu pasti tak akan berani bergerak.
*
Pada waktu bersamaan.
Di kediaman Wu Shao, para bawahannya sedang melaporkan berita ini padanya. Suara penjaga itu agak gemetar, "Zhuo Chun dan dua pewaris keluarga menengah di luar negeri terbunuh secara misterius."
"Para pelakunya benar-benar bisa masuk dan meninggalkan Keluarga Zhuo seolah tak pernah ada penyusup di sana? Apa ada bukti yang kau temukan?" tanya Wu Shao dengan ekspresi muram.
"Iya. Di samping mayat mereka bertiga hanya ada dua kata," jawab penjaga itu.
"Tuan Muda Wu, seluruh institusi di luar negeri sedang mendiskusikan masalah ini. Orang-orang itu benar-benar berani melawan Keluarga Zhuo secara terang-terangan," ucap penjaga itu dengan gelisah. Hanya sedikit orang luar negeri yang berani melakukan hal seperti ini.
Bahkan, Wu Shao sendiri tidak yakin jika dia bisa memasuki pulau Keluarga Zhuo dan keluar dengan keadaan baik-baik saja. Apakah para penjaga di Keluarga Zhuo itu bodoh?
"Raja Legendaris ini memang lawan yang sangat kuat. Tak peduli apapun harganya, kita harus bisa menemuinya sebelum orang lain," ucap Wu Shao. Ia mencengkram cangkirnya dengan erat.
"Lalu ... tentang Chen Ling ...," penjaga itu ragu-ragu.
"Saat ini tak perlu pedulikan dia. Zhuo Xia juga akan kembali, tapi jangan beritahu dia. Dan juga biarkan Zhuo Shiaonian mengerjakan apa yang sudah kuberikan padanya. Yang paling penting sekarang adalah menemukan Raja Legendaris," ucap Wu Shao bertekad.
Ketika orang-orang di luar negeri begitu cemas, mereka tidak menyadari jika wilayah tandus di utara sedang berkembang dengan tenang dan cepat.