Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Apakah Itu Hal yang Sopan?


"Kami akan pergi," ucap Bo Minghao.


"Pergi?" tanya Ling menyeringai. Dia melambaikan tangannya dan satu kursi berada tepat di belakang Chen Lin. Kemudian ia menekan Chen Lin untuk duduk.


"Kalian belum minta maaf pada Ibuku tapi sudah akan pergi? Apakah itu hal yang sopan Tuan Besar Bo?" tanya Ling lagi. Ia tak akan melepas begitu saja orang yang menindas Chen Lin.


Wajah Nyonya Tua Bo menjadi tambah suram. Ia bukan hanya sudah kehilangan kehormatannya. Ia juga sudah kehilangan harta dirinya.


"Dasar kau tidak tahu malu! Kau pikir kau siapa jadi aku harus minta maaf padamu? Jangan bermimpi!" ucap Nyonya Tua Bo murka.


"Tuan Muda Chen, Nenekku adalah orang terhormat dalam Keluarga Bo. Kau yang tidak sopan menyuruhnya meminta maaf," ucap Bo Yunxing membela neneknya.


"Anak muda, jangan terlalu arogan. Kau tahu kami Keluarga Bo, kan?" tanya Bo Minghao.


"Tuan Besar Bo, apa aku terlihat bercanda?" tanya Ling. Ia masih menekan punggung Chen Lin agar ia tak bangun.


"Aku harap kalian patuh," ucap Ling lagi. Ia menatap Nyonya Tua Bo karena kata-kata itu khusus untuknya.


Brak!


Pintu didobrak. Sekelompok pasukan Ling sudah tiba. Mereka dengan rapi berbaris di belakang Ling. Mereka memegang sebuah tabung yang berisi cairan.


Wajah Bo Minghao menjadi pucat ketakutan. Ia tahu tabung itu berisi cairan yang sangat berbahaya. Cairan itu ilegal jika dimiliki dalam jumlah banyak. Lagipula cairan itu hanya dimiliki oleh beberapa orang militer.


Ini adalah senjata yang sudah ditekan pemerintah untuk dimusnahkan keberadaannya. Ini adalah buatan Ahli Bom Mei. Ini diberi nama Gas VX. Ia tahu meskipun dilarang, tapi tetap saja sulit untuk mendapatkannya.


Lalu bagaimana Ling bisa mendapatkannya?


Kini Bo Minghao tahu, Ling memang tidak bercanda.


"Apa kalian pikir Keluarga Bo kami lemah? Hanya menggunakan cairan begitu saja kalian sudah begitu sombong," ucap Nyonya Tua Bo yang sebenarnya tak mengerti apapun.


Namun Bo Minghao tetap diam. Ia masih menatap lekat ke arah Ling. Wajahnya mirip dengan Chen Lin. Namun matanya mirip dengan seseorang.


"Mengapa kau begitu berani mengeluarkan senjata ilegal?" tanya Bo Minghao pada akhirnya.


"Aku akan melakukan apa saja untuk Ibuku," jawab Ling.


"Sekarang aku tidak akan memaksa kalian untuk meminta maaf. Kalian bisa memilih," ucap Ling melanjutkan. Ia memutar-mutar pisau dengan indah.


Bo Minghao berpikir sejenak. Ia bisa saja lari dari senjata itu. Namun masih banyak orang lain di restoran.


"Baiklah," jawab Bo Minghao.


"Ibu, segera minta maaf pada Nyonya Chen," ucap Bo Minghao.


Mata Nyonya Tua Bo langsung melotot. Ia menatap tak percaya pada Bo Minghao. Ia berkata, "Minghao, apa yang kau lakukan? Mereka menindasku tapi aku juga yang harus minta maaf? Aku terhormat dan mereka hanya keluarga biasa."


"Ibu! Aku yang memberimu status terhormat. Aku juga bisa melepaskan status itu kapanpun aku mau. Status itu bukan digunakan untuk menindas orang biasa. Ibu aku tidak ingin berita di luar tersebar jika Keluarga Bo memandang kasta," jawab Bo Minghao tenang.


Nyonya Tua Bo memiliki ketakutan sendiri terhadap Bo Minghao. Ia pasti akan dengan patuh menuruti Bo Minghao. Ia menatap sinis ke arah Chen Lin.


"Maaf, Nyonya Chen. Aku mengakui kesalahanku hari ini," ucap Nyonya Tua Bo sambil mengepalkan tangan.


"Ibu, apa kau menerima permintaan maafnya? Jika tidak, aku akan menggunakan cara lain," ucap Ling. Walau ini tak ada dalam rencananya, tapi ini harus dia lakukan. Ia bisa saja menyemprotkan gas itu sekarang.


"Ya, aku sudah menerimanya. Ling, ayo kita pergi," jawab Chen Lin. Ia sudah mulai lebih tenang. Ia sedikit lega saat Ling selalu membelanya.


Chen Lin berjalan mendahului. Ia bahkan tak menatap pada Bo Minghao. Sedangkan Bo Minghao ragu untuk menahan Chen Lin. Jadi ia memilih bicara dengan Ling.


"Aku mengenalnya. Jika tidak, bagaimana aku bisa mendapat senjata itu?" jawab Ling. Ia melanjutkan jalannya dan keluarga cafetaria. Ia diikuti oleh puluhan pasukan bersenjata.


*


Zhuo Xia berada di Kediaman Zhuo sekarang. Ia kembali karena kakeknya mencarinya. Saat ia masuk, semua lampu masih hidup. Kemudian, ia langsung menuju ruangan kakeknya.


"Kakek," ucap Zhuo Xia sambil membungkuk.


"Kau masih menganggapku Kakek?" tanya kakek Zhuo Xia.


"Tentu saja," jawab Zhuo Xia dengan tenang. Ia kemudian duduk dengan santai di sofa yang ada di sana.


Jawaban Zhuo Xia membuat Zhuo Haocun semakin kesal dengannya.


"Jika itu benar, buang saja lentera ini. Putuskan semua hubunganmu dengan Tuan Muda Chen," ucap kakeknya memegang sebuah lentera. Cahaya di lentera itu sedikit redup.


Zhuo Haocun sudah sangat tidak mengerti cucunya. Zhuo Xia selalu saja melakukan hal tidak masuk akal jika sudah menyangkut Tuan Muda Chen itu. Bahkan kesehatannya juga tidak dipedulikan lagi.


Namun Zhuo Haocun tidak menyangka ia melewati batas. Ia lupa jika ia tak bisa menyinggung Tuan Muda Chen dihadapan Ling. Jika tidak, akan seperti ini jadinya.


Ruangan menjadi sedingin es.


"Kakek, apa tadi? Putuskan semua hubunganku dengannya?" tanya Zhuo Xia. Ekspresinya masih tenang seperti biasa. Namun tatapan matanya sangat tajam seolah bisa membunuh orang yang ia lihat.


Zhuo Haocun merasakan tekanan yang begitu nyata. Ia merasa membeku sekarang. Kini ia ragu Zhuo Xia sebenarnya sedang sakit atau tidak.


"Baiklah aku tidak akan melarangmu. Kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan," ucap Zhuo Haocun setelah susah payah keluar dari tekanan Zhuo Xia.


"Bagus kalau begitu," jawab Zhuo Xia. Ia menurunkan mata. Keadaan sudah tidak sedingin tadi.


Zhuo Xia pergi setelah mengatakan beberapa hal penting.


*


Ling membatalkan niatnya untuk pulang ke asrama. Ia akan menjaga keadaan di Keluarga Chen lebih dulu beberapa hari ini. Saat ia sedang duduk di sofa, seseorang masuk.


Itu adalah Bo Minghao.


Chen Lin menyambutnya. Ia melakukan hal yang biasa dilakukan saat ada tamu. Ia menyajikan teh dan beberapa makanan.


"Ada apa Tuan Besar Bo? Apa Anda ingin menemui Ibuku?" tanya Ling secara langsung.


"Aku memang ingin bertemu dengannya. Namun aku juga ingin bertemu denganmu. Aku mengundang kalian untuk datang ke kediaman Keluarga Bo," jawab Bo Minghao.


"Lin, bisakah kau menjelaskan hal yang selama ini kau sembunyikan?" tanya Bo Minghao. Ia tak akan berbasa-basi lagi.


Chen Lin terkejut. Ia tak menyangka Bo Minghao akan menanyakan hal ini dengan cepat. Ia melirik Ling secara terang-terangan. Ia ingin meminta Ling melakukan pembelaan.


"Jangan memaksa Ibuku," ucap Ling yang mengerti maksud Chen Lin.


Sedangkan Bo Minghao hanya menghela napas pasrah.


***


Author mohon maaf karena akan ada keterlambatan untuk dua bab selanjutnya. Mohon menunggu dengan sabar🥰✌️