
Ling pergi bersama perwakilan dosen. Di luar negeri, mereka disambut bersama perwakilan lainnya. Mereka juga akan tinggal di hotel yang sudah disiapkan.
Di pagi harinya, ia dan Dosen Wan menghadiri pertemuan itu. Mereka menaiki jet pribadi universitas. Di sana, mereka disambut dengan lebih mewah lagi.
Karpet merah terbentang luas. Dekorasinya sangat elegan. Setiap orang memakai pakaian formal. Ling juga memakai pakaian formal.
Di dalam aula ini, ia melihat beberapa orang yang tidak asing saat kehidupannya dulu. Mereka berdiri gagah di atas podium. Mereka diperlakukan dengan sangat hormat. Padahal, Ling tahu sebagian dari mereka bergabung dengan Pegasus.
Ling tersenyum miris.
"Ayo kita cari urutan kita," ucap Dosen Wan dengan lembut. Ia adalah wanita yang sebaya dengan Chen Lin. Wajahnya mirip dengan Rektor Xiang. Ia adalah istri Rektor Xiang.
Ling berjalan bersamanya melewati kerumunan orang-orang kaya. Dosen Wan berkata, "Kebanyakan dari mereka adalah orang besar. Sebaiknya jangan membuat masalah di sini."
Ling hanya mengangguk patuh. Ia tahu jika Dosen Wan sudah pernah mendengar tentangnya dan semua aksinya.
"Dari sumber yang aku dapat, hari ini mereka akan membahas tentang kepemimpinan. Aku harap kau dapat menampilkan yang terbaik," ucap Dosen Wan lagi.
"Baik, Dosen," jawab Ling singkat. Orang-orang di sekitarnya yang mendengar suaranya refleks menoleh ke arah Ling. Mereka seketika terpana saat melihat wajah Ling yang begitu tampan. Selain itu, auranya juga berwibawa.
Ling duduk di barisan paling depan khusus mahasiswa. Sedangkan Dosen Wan pindah ke barisan khusus dosen. Mereka duduk terpisah.
Acara akan di mulai. Ling melihat pembawa acara adalah orang dari Kota Bayangan. Lalu, segala pertunjukan juga dari Kota Bayangan. Sepertinya Kota Bayangan mendominasi luar negeri.
Saat satu narasumber dipanggil, Ling sedikit tertegun. Ia membeku melihat pria yang berdiri di sana.
Itu adalah adik kembarnya di kehidupan yang dulu.
Saat ia melamun cukup lama, seseorang dari arah belakang menepuk pundaknya. Ling refleks menangkap tangan itu.
Namun saat ia balik badan, itu adalah Zhuo Xia.
"Ada apa?" tanya Ling.
"Ingin ke rooftop?" tanya Zhuo Xia. Ia berdiri di tengah mahasiswa dan tak ada yang melarangnya.
"Boleh," jawab Ling. Ia bangkit dari duduknya. Saat ini belum masuk acara inti. Adik kembarnya tadi hanya memperkenalkan diri.
Ling dan Zhuo Xia berjalan beriringan. Mereka menaiki lift untuk menuju rooftop. Ternyata pemandangan rooftop sangat indah. Dekorasinya tak kalah mewah seperti di aula.
"Ingat dia?" tanya Zhuo Xia secara langsung.
"Iya," jawab Ling jujur.
"Tapi tidak ingat aku?" tanya Zhuo Xia lagi. Pertanyaannya sederhana, tapi cukup menampar Ling.
Ia memang tidak ingat. Jadi ia tak tahu harus menjawab apa.
"Baiklah," ucap Zhuo Xia sambil menghela napas. Ia bersandar di dinding pembatas sambil melihat ke bawah. Ling tak dapat membaca ekspresi Zhuo Xia. Namun ia terlihat lelah.
"Sakitmu bagaimana?" tanya Ling.
"Aku baik-baik saja," jawab Zhuo Xia masih belum mengalihkan pandangannya.
"Aku akan mencari obatnya," ucap Ling lagi. Memang sampai sekarang ia belum tahu pasti penyakit apa itu. Ia pernah menyimpulkan itu adalah sihir. Namun ia akan tetap berusaha mencari obat medis.
"Terimakasih," jawab Zhuo Xia. Ia menyembunyikan senyum tipisnya.
Ling mengecek ponselnya. Ia menerima panggilan dari Tuan Tua Zhuo.
"Apa benar kau memiliki akademi ramuan di Kota Bayangan? Siapa yang kau kenal di sana?" tanya Tuan Tua Zhuo penasaran.
"Hanya beberapa orang hebat," jawab Ling.
"Jadi bagaimana perkembangan akademi di sana?" tanya Ling.
"Sangat bagus. Banyak murid yang tertarik. Bahkan ada juga beberapa dari Kota Bayangan," jawab Tuan Tua Zhuo. Dari nada suaranya ia terdengar sangat bersemangat.
"Terimakasih, Kakek," ucap Ling tulus. Ia tersenyum.
"Jangan sungkan. Aku akan segera mengirim guru ke akademi itu. Aku sendiri yang akan memastikan jika mereka adalah guru terbaik," ucap Tuan Tua Zhuo.
"Mengapa tidak Kakek saja yang datang ke sini?" tanya Ling yang membuat Tuan Tua Zhuo terkejut.
"Aku belum siap untuk datang ke tempat itu lagi," ucap Tuan Tua Zhuo. Nada suaranya berubah.
"Aku mengerti Kakek. Namun aku akan menunggumu," ucap Ling lagi. Ia langsung mematikan panggilan telepon karena menerima pesan dari A Shui tentang Keluarga Zhao.
[Keluarga Zhao Ran hampir mengalami kehancuran kembali. Perang keluarga masih terjadi. Kali ini Keluarga Zhao musuh mendapat bantuan dari Pegasus lagi.]
Ling meremas erat ponselnya. Ia mengetik balasan dengan emosi yang memuncak.
[Siapkan pasukan pelindung. Lindungi mereka diam-diam sampai aku kembali.]
Zhuo Xia merasakan perubahan Ling. Ia tahu ada yang tidak beres. Jadi ia mengajak Ling kembali. Lagipula acara inti sebentar lagi akan dimulai.
"Mereka membicarakan tentang kepemimpinan. Chen Namgung sebagai narasumber akan menyinggung sedikit tentang kepemimpinan Ling X. Aku sudah membaca naskahnya," ucap Zhuo Xia sambil berjalan.
"Aku juga dengar mereka menyiapkan rencana untuk mengambil alih Organisasi Tempur," lanjut Zhuo Xia memberi informasi.
"Terimakasih," ucap Ling. Ia semakin mengeratkan genggamannya pada ponsel.
Zhuo Xia hanya tersenyum tipis. Menurutnya Ling banyak berubah. Biasanya Ling akan langsung menghabisi orang-orang yang melawannya. Namun sekarang ia lebih dewasa. Ia lebih memperhatikan tempat dan keadaan. Ia juga lebih memilih mana yang lebih penting ataupun tidak.
Ling banyak belajar dari pengalamannya dengan Mo Xiayi.
Ia hanya tak ingin apa yang dia lindungi malah menghancurkan dirinya sendiri.
Saat masuk ke aula, mereka berpisah. Ling kembali duduk di kursinya, sedangkan Zhuo Xia tidak tahu kemana.
Ling melihat Chen Namgung di atas podium, adik kembarnya dulu.
"Secara umum, pemimpin memiliki keahlian memberi pengaruh pada orang-orang di sekitarnya. Contohnya Ling X. Siapa yang tidak mengenalnya? Dia adalah orang licik yang suka memanipulasi orang-orang sehingga banyak yang tunduk padanya," ucap Chen Namgung. Ia tidak berperan sebagai narasumber yang baik.
"Ia memiliki Organisasi Tempur yang mendominasi Kota Bayangan. Tidak banyak yang tahu hal ini. Itu adalah organisasi pribadi. Pemerintah tidak diizinkan ikut campur dalam urusan mereka," ucap Chen Namgung lanjut menjelaskan.
"Jadi jika kalian ingin menjadi pemimpin, kalian harus mampu memberi pengaruh besar pada orang-orang. Jika kalian ingin ikut atau mempelajari lebih lanjut tentang hal ini, kalian bisa datang ke Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Aku akan menjadi pemateri dan memberi kalian akses masuk," ucap Chen Namgung mengakhiri pidatonya.
Semua orang yang mendengar ini sangat terkejut, terutama orang yang berasal dari Kota Bayangan. Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya tidak bisa dimasuki sembarangan. Chen Namgung sangat hebat bisa memberi mereka akses.
Ling hanya menyeringai.
Ia membuka situs web khusus Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya dan mengetikkan sesuatu di forum.
[Aku akan kembali.]