
Ling, Liam, Yuan, dan Su Wen Ai sudah sampai di kediaman Chen. Mereka sedang berada di kamar Ling dan bermain dengan Chester, si kucing berbulu oranye.
"Ling, selanjutnya apa yang akan kau lakukan?" tanya Yuan. Ia hanya tiduran di tempat tidur Ling.
"Sepertinya sudah saatnya aku keluar," jawab Ling. Ia sedang melihat Chester yang ingin menerkam Liam. Sedangkan Su Wen Ai membaca buku pelajaran dengan santai.
"Keluar? Kau ingin keluar kemana? Kembali ke sekolah?" tanya Yuan yang tak mengerti.
Ling hanya tertawa kecil dan tak menjawab. Tentu saja Yuan tak tahu maksudnya. Keluar berarti menunjukkan identitasnya sebagai Ling X.
Ponsel Ling berdering.
"Halo, Ibu?" ucap Ling hangat.
"Apa benar semua berita yang beredar itu? Apa kau benar-benar mendapat nilai tertinggi di sekolah dan menjadi peringkat kedua dunia?" tanya Chen Lin bertubi-tubi dalam telepon.
"Ah, Ibu sudah tahu. Awalnya aku ingin memberitahumu sendiri. Ternyata berita itu begitu cepat tersebar," jawab Ling.
"Ibu, aku sudah berjanji padamu. Dan aku sudah menepatinya. Semua ini aku lakukan demi Ibu," lanjut Ling bicara.
Chen Lin sedang berada di Chen Company saat itu. Kemudian, Yuan Ming memutar video yang beredar di internet tentang hasil ujian di Sekolah Menengah Guxian.
Saat melihat Ling mendapat nilai tertinggi, bukan hanya dia yang terkejut, seluruh petinggi tak pernah menyangka ini. Melihatnya berada di peringkat sekolah saja sudah membuat mereka hampir pingsan. Apalagi melihat dia berada di peringkat global. Mungkin mereka bisa berhenti bernapas.
"Ling ... terimakasih," ucap Chen Lin lirih.
Sejak berita ini menyebar, saham Chen Company naik drastis. Banyak perusahaan ingin bekerjasama dengan mereka. Tentu saja mereka tahu jika peringkat dunia adalah yang paling sulit di dapatkan. Dia benar-benar jenius bisa mendapatkan itu.
Ini juga pertama kalinya Ling bergerak. Selama ini ia hanya diam menerima semua hinaan. Sekarang ia tak akan lagi membiarkan siapapun menyakiti keluarga dan teman-temannya.
Setelah berbicara beberapa saat, Ling mengakhiri panggilan. Ia membawa Chester di tangannya. Chester yang awalnya ganas, menjadi begitu manja di pelukan Ling.
"Lebih baik kalian belajar di bawah. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku," ucap Ling.
Liam, Yuan, dan Su Wen Ai langsung pergi bersama Chester yang berjalan angkuh.
Ling mengambil guci yang ia simpan. Ia menatap kagum pada guci itu. Benar-benar indah. Akhirnya ia bisa memilikinya.
Ia segera meletakkan guci di perapian yang sudah paman Qian siapkan sebelumnya. Ia mengeluarkan semua bahan obat yang dia dapat dari Keluarga Zhuo.
Malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi Ling untuk membuat banyak ramuan.
*
Saat Wuzhou dan Lu Yan sampai di kediaman Lu, mereka melihat seorang pria paruh baya berdiri di depan pintu masuk. Saat orang itu berbalik badan, mereka langsung mengenalinya.
"Guru! Selamat datang di rumah kami," ucap Wuzhou dengan penuh hormat. Mereka berdua membungkuk.
"Aku sudah mendengar berita yang beredar," ucap Tuan Han. Kini mereka sudah berada di ruang tamu.
"Aku sudah bertemu dengan para jenius di Kota Bayangan. Dia hanya mendapat peringkat kedua tapi sudah terlalu sombong. Tenang saja. Kita akan jatuhkan mereka satu persatu, khususnya Keluarga Chen. Setelah itu kita akan mulai menjatuhkan Keluarga Zhuo dan Keluarga Yu. Tidak ada yang perlu ditakuti selama aku ada," ucap Tuan Han begitu percaya diri.
Wuzhou menatap gurunya berbinar. Dia benar-benar beruntung memiliki dukungan yang kuat.
"Cih, hanya keluarga tungku api saja bangga. Aku memiliki yang lebih hebat dari mereka," ucap Tuan Han menyepelekan Keluarga Zhuo.
"Zhao Ran, masuk!" perintah Tuan Han.
Pintu terbuka. Masuk seorang pria muda yang terlihat sangat tampan. Dia memiliki wajah putih, tatapannya sayu, dan aroma yang khas dari tubuhnya.
"Tuan Han," dia membungkuk hormat pada Tuan Han.
"Dia adalah murid temanku. Dia bisa membantu kita menghancurkan Keluarga Zhuo," ucap Tuan Han.
Wuzhou dan Yuan yang melihat ini semakin gembira. Mereka tidak pernah melihat ahli ramuan sebelumnya, kecuali Chen Sin. Mereka tahu betul bagaimana hebatnya ahli ramuan. Apalagi di jaman modern ini, ahli ramuan sudah sangat langka.
"Apa rencana Anda, Guru?" tanya Wuzhou pada Tuan Han.
"Kita akan membuat pengobatan gratis. Dan setiap orang yang berobat akan mendapat ramuan tingkat menengah dengan kemurnian 30%. Tentu saja kemampuan Zhao Ran lebih hebat dibandingkan Keluarga Zhuo itu," ucap Tuan Han. Ia mengangkat bibirnya yang keriput dan tersenyum.
Zhao Ran menyerahkan tiga botol yang berisi ramuan.
"Tuan Muda, Nona, kalian bisa mencampurkan ramuan ini dengan air agar menjadi lebih banyak. Tenang saja, walau khasiatnya berkurang, aku yakin kualitas ramuan ini belum pernah ada di Kota Urban. Selama ada aku, jangan takut akan kekurangan ramuan," ucap Zhao Ran tanpa ekspresi. Meski begitu, dia juga membungkuk hormat pada Wuzhou dan Lu Yan.
"Baiklah. Aku akan mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan hal ini. Kau bisa memakai bangunan di sebelah rumah ini untuk membuka praktek," ucap Lu Yan. Ia tak dapat menahan ekspresi gembiranya.
Setelah percakapan itu, mereka mulai mempersiapkan konferensi pers untuk besok.
Saat Wuzhou sampai di rumah, ia melihat Luo Feng dan ibunya. Ibu kandungnya, Liang Qing. Ibu yang baru ia ketahui saat berumur 17 tahun. Ibu yang selama ini selalu disembunyikan oleh ayahnya.
"Ayah," sapa Wuzhou.
"Ibu," suaranya sedikit tertahan saat mengatakan kata ini.
Ia memikirkan perkataan Ling tentang 'ibu'. Sejak saat itu, ia mencaritahu apa maksud Ling. Ternyata benar saja, ia memiliki ibu kandung.
"Wuzhou, aku sudah mendengar beritanya. Mengapa kau begitu gegabah membuang kesempatan untuk masuk ke Universitas Internasional Kota Bayangan?" tanya Luo Feng sedikit emosi.
"Tenanglah. Wuzhou-ku pasti tidak melakukan hal secara sembarangan," ucap Liang Qing menenangkan Luo Feng.
Wuzhou tersenyum miris. Apa katanya barusan? Wuzhou-ku? Apa selama ini dia menganggap Wuzhou? Jika ya, mengapa dia terus bersembunyi? Lagipula Wuzhou tak pernah bertemu dengannya sebelumnya, bagaimana ia bisa menyimpulkan sifat Wuzhou?
Satu sisi ia bahagia akhirnya memiliki ibu kandung. Satu sisi dia marah karena ibunya tak menemaninya sejak kecil. Ia malah harus bekerja keras untuk mendapat perhatian Chen Lin. Namun nyatanya, setelah dia sampai di titik ini, ibunya datang dan Chen Lin lebih memilih Ling.
Lagi lagi ia kalah dari Ling.
"Aku sudah menjadi murid Tuan Han. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami juga sudah menyiapkan rencana," jawab Wuzhou sedikit dingin.
Ini adalah saat-saat penting mereka untuk bersatu. Ia tak ingin berdebat dengan Luo Feng dulu. Ia mencoba bersabar lebih jauh.
"Ayah juga harus segera menikahi Ibu," ucap Wuzhou melanjutkan. Ia kemudian memasuki kamar dan meninggalkan dua orang itu.
Sekarang ia tak peduli dengan perkataan orang tentang keluarganya. Yang dia ingin adalah membalaskan dendam dan menghancurkan kehidupan Ling yang telah merebut semua miliknya.