
Kota Urban sudah banyak berubah dibandingkan tahun lalu. Sebenarnya Keluarga Chen sudah berada di Kota Bayangan, tapi ada beberapa yang masih ditempatkan di sini. Bahkan Keluarga Yuan, Liam, dan Su Wen Ai juga masih ada di sini.
Liam adalah orang yang pulang paling awal. Namun ia tak menemukan siapa pun di rumah. Akhirnya ia bertanya pada pelayan, "Di mana Kakek dan orangtuaku?"
*
Di tempat lain, Keluarga Yu sedang dikelilingi oleh beberapa orang berseragam militer. Di sana juga ada orang tua Liam.
"Bagaimana? Apa kau sudah menghubungi Tuan Muda Chen dan yang lainnya?" tanya Tuan Yu.
Tuan Zhuo menggeleng. Ia menjawab, "Mereka sangat kuat. Bahkan salah satu dari mereka bisa melompat dari atap tanpa rasa takut. Orang biasa seperti kita bukanlah tandingan mereka. Jika Tuan Muda Chen dan yang lainnya kembali, kita juga tidak bisa melibatkan mereka."
Dia tahu jika Ling dan yang lainnya berada di Kota Bayangan. Namun dia juga ingat jika mereka masih muda.
"Orang-orang ini ... memang kuat. Lain kali jika kalian diserang lagi, datanglah ke Keluarga Yu. Walaupun kami belum bisa melindungi kalian, setidaknya di sini ada peninggalan Nona Zhuo," ucap Tuan Yu.
"Baiklah. Tuan Yu, apa Anda tahu mengapa orang-orang itu datang ke Kota Urban?" tanya ayah Liam, Tuan Zhuo.
Pandangan Tuan Yu terlihat kosong. Ia menjawab, "Kejadian ini pernah terjadi 10 tahun lalu. Saat itu, Nona Zhuo sebagai penerima plakat phoenix menyelamatkan kota kita."
"Nona Zhuo menyelamatkan kota kita? Kalau begitu ayo kita cari Nona Zhuo," ucap Tuan Zhuo.
"Aku juga berpikir seperti itu. Namun ingatlah, Nona Zhuo tidak berasal dari Kota Urban. Saat itu ia kebetulan datang dan membantu kota ini. Ia tak mungkin datang lagi untuk kedua kali. Ia bukan orang sembarangan," jawab Tuan Yu sambil menggelengkan kepalanya.
Mereka berdua kembali berdiskusi. Namun setelah beberapa lama, mereka tak mendapat hasil apa pun.
"Bisnis Keluarga Zhuo cukup besar. Aku tidak akan masalah memberikannya pada mereka. Lagipula Liam ada di Kota Bayangan sekarang. Namun aku tidak bisa diam saja saat melihat Keluarga Chen diperlakukan seperti itu," ucap Tuan Zhuo.
*
Tuan Zhuo kembali ke kediaman Zhuo.
Saat ia masuk rumah, ia sadar jika tetua yang selama ini selalu berada di aula leluhur, mereka semua duduk di meja rapat. Saat pandangannya diedarkan, ia melihat Liam menyeret kursi dan duduk di antara mereka.
"Ayah memecat pekerja Keluarga Zhuo, menutup toko ramuan, dan membubarkan tempat lelang. Tidak ada tetua yang berani menjawab jujur. Jadi, Ayah katakan padaku, ada apa sebenarnya?" ucap Liam langsung. Wajahnya seperti tersenyum, tapi sebenarnya ia tak tersenyum sama sekali.
"Liam? Mengapa kau bisa ada di sini? Bukankah kau berada di Kota Bayangan?" tanya Tuan Zhuo kaget.
"Mengapa aku di sini? Aku dan Ling memiliki hal yang harus diselesaikan. Kami kembali bersama," jawab Liam.
"Apa? Tuan Muda Chen kembali? Di mana dia sekarang?!" tanya Tuan Zhuo yang reflek menarik kerah baju Liam. Wajahnya terlihat lebih pucat sekarang.
"Tentu saja ke kediaman Keluarga Chen," jawab Liam sambil mengerutkan alis. Ia tak mengerti mengapa ayahnya bereaksi berlebihan.
"Keluarga Chen? Liam, cepat hubungi Tuan Muda Chen! Kita tidak bisa membiarkannya datang ke Keluarga Chen sekarang!" ucap Tuan Zhuo panik.
Meski Liam masih heran, ia tetap menelepon Ling.
Saat itu, Ling tahu jika di Keluarga Chen hanya ada beberapa orang. Jadi, ia memutuskan untuk mengunjungi gurunya terlebih dahulu. Ketika mendengar jawaban ini, ayah Liam menghela napas lega.
*
Dalam perjalanan, Ling heran saat menerima panggilan Liam, tapi ia tak terlalu memikirkan hal ini. Saat ia berbelok untuk menunggu jemputan Keluarga Zhuo, tiba-tiba ia dihentikan oleh beberapa pemuda. Pemuda-pemuda itu seumuran dengan Ling.
Mereka semua terlihat kelelahan. Namun saat salah satu pemuda melihat Ling, matanya berbinar. Ia berlari kecil untuk menghampiri Ling.
"Bolehkah aku meminjam ponselmu untuk menelepon?" tanya pemuda itu.
Sebelum Ling menjawab, seorang gadis lainnya kembali berbicara. Ia menggunakan mantel berbulu dan pakaiannya terlihat lebih rapi. Wajahnya terlihat lebih bijaksana dari yang lainnya.
"Maaf, kami ini berasal dari Universitas TOP. Kami datang ke sini untuk liburan musim dingin. Karena suatu alasan, kami baru saja turun dari gunung dan tiba di sini setelah dua hari dua malam. Namun tidak ada sinyal di ponsel kami. Kami juga sudah bertanya pada beberapa orang, tapi kami tidak berhasil menelepon kota kami," ucap gadis itu.
Bagaimana mungkin seorang mahasiswa bisa terlihat begitu berenergi setelah berjalan dua hari dua malam? Jelas Ling tak mempercayai mereka, tapi ia tetap tenang. Jadi ia tak mengeluarkan ponselnya dan hanya memberikan walkie-talkie.
Perangkat komunikasi Kota Bayangan sudah lebih maju. Walkie-talkie itu tak terlalu besar dan cukup ringan. Hanya ada tombol angka dan tombol panggilan di sana.
"Nona Xie, jangan buang waktumu untuk ponsel tua itu," ucap pemuda tadi dengan nada menghina.
Ling menyimpan kembali benda itu. Ia membenarkan jaket putihnya dan tersenyum tipis. Berpakaian seperti ini saat musim dingin terlihat keren di tubuhnya.
Nona Xia sedikit tertegun melihat Ling.
"Tuan Muda, Anda bukan orang lokal, kan? Kota Urban tidak aman sekarang. Jika Anda bersedia, Anda bisa ikut dengan kami," ucap Nona Xie dengan ramah.
"Tidak perlu, aku orang lokal," ucap Ling. Ia melihat mobil Keluarga Zhuo sudah tiba. Ia maju beberapa langkah. Kemudian, ia pergi meninggalkan rombongan mahasiswa itu.
*
Ling tiba di kediaman Keluarga Zhuo.
Di sana, ia melihat para tetua dan Tuan Yu sudah menunggu. Bahkan Yuan dan Su Wen Ai lebih dulu tiba.
"Tuan Muda Chen, akhirnya kau datang!" ucap Tuan Zhuo bernapas lega.
"Paman, apa yang terjadi?" tanya Ling menatap lekat Tuan Zhuo.
"Aku tahu! Sebelum aku ke sini, aku dengar dari ayahku jika Keluarga Chen telah ditundukkan. Saat aku ingin tahu lebih jauh, kebetulan sekali Liam datang. Jadi, aku mengajak Su Wen Ai dan kami pergi ke sini," jawab Yuan.
Tuan Zhuo masih diam. Ia mengajak Ling dan yang lainnya ke dalam rumah. Setelah memastikan cukup aman, ia menutup beberapa jendela.
"Tuan Muda Chen, kau ingat dengan ramuan yang kau tinggalkan sebelum pergi? Orang-orang itu berjubah hitam dan mengincar ramuan. Mereka berhasil mendapatkannya. Mereka memanjat tembok dan melompat dari atap," ucap Tuan Zhuo dengan nada sedikit dingin.
"Mengapa mereka bisa ada di sini?" tanya Ling.
"Aku juga tidak yakin. Saat mereka menempati Keluarga Chen, aku dan Tuan Yu sudah mencoba mengirim pesan ke Kota Bayangan. Namun pesan itu selalu disadap tanpa alasan. Pasti ada ahli di belakang mereka. Maka dari itu aku tidak ingin kau kembali ke kediaman Keluarga Chen. Saat ini kediaman itu sudah menjadi wilayah mereka. Aku tidak berharap kau kembali sekarang," jawab Tuan Zhuo sambil tersenyum pahit.
"Melompat dari atap?" tanya Yuan dengan nada mengejek. Baginya itu hal mudah. Bahkan orang yang baru masuk ke Kota Bayangan bisa melakukan hal itu. Jangan bicarakan Ling, dia saja bisa menghancurkan mereka tanpa menggerakkan tangan.
"Apa Anda sudah pernah datang ke kediaman Keluarga Chen?" tanya Ling dengan suara lembut.
Tuan Zhuo hanya mengangguk lemah.
"Saat tidak ada raja rimba di hutan, seharusnya para ikan tidak naik ke daratan," ucap Ling dingin.
Kota Urban adalah wilayah Zhuo Xia dan tempat kelahiran Ling. Tidak ada yang berani menyinggung wilayah itu saat tahu tentang hal ini.
"Baiklah, kalau begitu aku akan pulang," ucap Ling lagi.
"Pulang?" tanya Tuan Zhuo kaget.
Itu berarti Ling akan ke kediaman Keluarga Chen?
Wajah Tuan Zhuo berubah. Ia tak bisa mengejar Ling yang sudah berjalan jauh. Jadi ia hanya bisa menarik tangan Liam yang juga akan pergi.
"Liam, dengarkan aku. Aku tahu Tuan Muda Chen sangat kuat, tapi kita bukan tandingan mereka sekarang. Belum lagi di Kota Urban banyak orang biasa. Jika sampai tindakan kita membahayakan orang biasa, kita bisa ditangkap oleh Kota Bayangan. Kita akan berada dalam masalah besar," ucap Tuan Zhuo yang sudah sangat panik.
Liam menepuk pelan bahu ayahnya, "Jangan khawatir, Ayah. Kami tidak akan membahayakan orang biasa."
"Bagus kalau kau mengerti. Sekarang cepat hentikan Tuan Muda Chen," ucap Tuan Zhuo sedikit lega.
Namun Liam sekarang mengingat bagaimana orang-orang dari keluarganya tak bekerja lagi. Ia ingat bagaimana semua toko dan pelelangannya ditutup. Belum lagi saat ia melihat raut wajah para tetua yang terlihat sangat ketakutan.
Saat ini, matanya memancarkan kilatan membunuh.
Ia menjawab dengan emosi, "Menghentikannya? Mengapa aku harus menghentikannya? Mereka pikir orang biasa seperti kita mudah diganggu? Mereka disiksa di Kota Bayangan dan tidak berani mengganggu lagi. Namun ternyata, mereka malah memilih wilayah terpencil dan ingin mendominasi. Tapi sayang sekali, mereka memilih wilayah Ling."
"Liam! Jangan pergi!" Tuan Zhuo teriak dan berusaha menggapai Liam yang sudah berlalu.
***
Halo, readers, ada yang masih bangun ga? Up kemalaman karena tubuh memang belum fit😁
Terimakasih atas saran-saran dan dukungannya🥰 semoga doa baik kembali kepada kalian🥰 stay healthy❤️