Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Batu Terpilih


"Wah, banyak sekali batu di sini," ucap Han Shuangfu. Ia memandang semua batu, mulai dari sekecil telur, sampai sebesar bola.


"Ling, apa kau menyukai batu itu?" tanya Han Shuangfu sambil menunjuk satu batu.


"Tidak tahu," jawab Ling. Ia mengulurkan tangan dan menyentuh batu itu. Namun, gioknya tak bereaksi jadi dia melepaskannya.


Tua Luo menggelengkan kepalanya saat melihat cara Ling. Ia bertanya, "Tuan Muda, bagaimana menurutmu batu ini?"


"Hm ... batu ini ...," Ling kembali mengulurkan tangan. Kali ini, liontin gioknya sedikit menghangat. Ia pun mengingat isi buku yang ia baca tadi. Setelah itu, ia bicara seolah ia adalah master judi batu.


Zhuo Ai sedikit kaget.


"Dia bisa melakukannya? Tuan Muda Chen berbohong lagi pada kita!" seru Zhuo Kira. Zhuo Nan juga mengangguk.


Namun, Zhuo Ai menggeleng.


"Tuan Muda tidak berbohong. Ia memang tak bisa berjudi batu," ucap Zhuo Ai.


"Jika tidak bisa, mengapa semua ucapannya masuk akal?" tanya Zhuo Kira tak percaya.


"Kata-kata yang dia ucapkan berasal dari buku yang kuberi. Aku sudah hafal isi buku itu," jawab Zhuo Ai.


"Bukankah ... dia baru saja mengembalikannya padamu? Bukankah dia hanya membolak-balikkan saja?" tanya Zhuo Kira. Jantungnya berdegup kencang.


Zhuo Ai mengangguk.


"Jadi, ia bisa menghafal isinya hanya dengan membolak-balikkan beberapa kali?" tanya Zhuo Kira lagi. Nada suaranya sedikit meninggi.


Zhuo Ai menarik napas dalam-dalam dan mengangguk lagi. Awalnya ia juga tidak percaya, tapi bukti sudah di depan mata. Mereka bertiga saling pandang dan memiliki pemikiran yang sama.


Ling menakutkan.


Sedangkan Tuan Luo sedikit puas padanya. Ia berkata, "Cari batu lain."


Ling segera berkeliling melihat-lihat. Ia memilih batu sesuai reaksi liontin gioknya. Cukup lama untuk menemukan batu yang bagus. Setelah itu, ia mengambil satu batu.


"Tuan, ini pilihanku," ucap Ling.


Tuan Luo menghela napas saat melihat pilihannya.


"Kau memilih batu begitu lama, tapi ini yang kau pilih?" tanya Tuan Luo melihat ekspresi serius Ling. Kemudian ia memberitahu beberapa informasi dasar.


Namun, Ling terlihat tak serius mendengarkannya.


Tuan Luo berpikir Ling memiliki sedikit kemampuan karena ia berani menerima tantangan Chen Kai dan melawannya. Namun, harapannya pupus.


Tuan Luo berbalik memandang Bai Xiaoqi, "Nona Bai, bukannya saya tidak ingin membantu, tapi Anda telah melihatnya sendiri."


Ling sebenarnya memang tidak mengerti. Ia hanya memilih batu berdasarkan reaksi di liontin gioknya. Tapi ia tak bisa menjelaskan hal ini. Jadi ia hanya mengangguk pada Bai Xiaoqi.


Bai Xiaoqi melirik Ling dan menghela napas. Ia berkata, "Aku paham. Terimakasih, Tuan Luo. Maaf telah merepotkanmu."


"Tidak masalah. Jika Anda butuh hal lain, cari saja saya. Saya akan siap kapan pun Anda butuh," ucap Tuan Luo. Ia sangat menghormati Bai Xiaoqi karena sebelumnya Bai Xiaoqi memberi ramuan tingkat tinggi untuk menyelamatkan putranya.


Tua Luo kemudian pergi dan melirik Ling terakhir kalinya.


"Kakak Ipar, kau sangat hebat! Kau berhasil membuat seorang master marah," ucap Han Shuangfu tersenyum.


"Sudahlah, Tuan Luo juga sudah pergi. Ling, apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Bai Xiaoqi.


"Tenang saja. Aku tahu apa yang kulakukan. Aku akan berkeliling lagi," jawab Ling acuh.


Dia menggenggam liontin gioknya dan mengelilingi seluruh halaman. Tak lama, gioknya bereaksi. Kali ini tak hanya panas, tapi juga terasa terbakar.


Ling menyipitkan mata mencari batu itu. Untuk membuat gioknya seperti ini, pasti itu bukan batu biasa.


*


"Tuan Luo, kudengar Anda mengajari orang yang akan bersaing dengan Master Chen?" tanya salah satu master di tempat para master batu berkumpul.


Mendengar pertanyaan ini, Tuan Luo tersenyum pahit, "Orang itu tak tahu apa-apa dan tak bisa diajari sama sekali. Ia mengatakan akan melawan master Chen? Sepertinya itu akan mempermalukan dirinya. Tidak, aku juga akan dipermalukan karena pernah mengajarinya. Padahal dia yang tak mau belajar."


"Jadi, Anda benar-benar marah? Ini pertama kalinya seorang master di sini marah. Namun memang benar. Master Chen tak mungkin dikalahkan," ucap master itu tertawa.


Chen Kai yang ada di antara mereka, ia menunduk dan menyembunyikan senyum mengejeknya. Siapa di sini yang tidak mengakuinya sebagai master batu?


Para master di sini juga mengakui Chen Kai. Bahkan mereka saja tak berani melawannya.


"Mereka akan bertanding? Mengapa kita tak bertaruh saja siapa yang akan menang?" ucap salah satu orang.


Yang lain tertarik.


"Aku pilih Master Chen!"


"Aku juga!"


"Aku Master Chen!"


Saat mereka berdebat, Zhuo Xia, Tuan Tua Cheng, dan Cheng Rui berjalan ke arah mereka. Melihat itu, Zhuo Xia mengerutkan kening. Sedangkan Cheng Rui menyuruh Cheng Lan untuk melihat apa yang terjadi.


Setelah mendapat informasi, Cheng Lan melapor, "Mereka membuat taruhan antara Tuan Muda Chen Kai dan Tuan Muda Chen Ling."


"Nona Cheng, apa Anda tidak salah? Anda yakin?" tanya petugas itu.


"Tentu saja. Ingat, Chen Ling," ucap Cheng Rui. Ia melempar kantong koinnya.


Mereka tahu Cheng Rui sangat kaya. Taruhan 1.000 koin itu setara dengan batu tingkat kelima. Namun sayang sekali ia sedikit bodoh kali ini.


"Nona, jangan menghamburkan uang dengan cara seperti ini," ucap Cheng Lan.


"Apa kau pikir aku tak mempertimbangkannya? Kau tahu mengapa Zhuo Hu mencari masalah dengan Chen Ling?" tanya Cheng Rui.


"Tidak," jawab Cheng Lan.


"Dulu, pernah ada rumor penemuan batu level tujuh. Kau ingat?" tanya Cheng Rui.


"Tentu saja," jawab Cheng Lan.


"Apa kau masih ingat nama keluarga orang itu dalam rumor?" tanya Cheng Rui lagi.


Saat mengingat ini, ia terkejut. Cheng Lan meragukan dirinya sendiri.


*


Zhuo Ai, Zhuo Nan, dan Zhuo Kira datang ke petugas taruhan untuk bertaruh untuk Ling. Tentu saja mereka tak ingin mempermalukan Ling.


Petugas itu sampai tiga kali memastikan apakah mereka benar-benar memilih Ling. Saat terus-menerus ditanya begitu, ingin sekali rasanya Zhuo Ai menarik kembali koinnya.


Lagipula siapa Ling di mata orang-orang? Mereka hanya tahu Chen Kai.


Mereka pun pergi dan mencari Ling.


Saat itu, mereka melihat Ling berdiri di sebelah batu. Zhuo Ai kaget, "Tuan Muda, jangan bilang Anda memilih batu ini?"


"Memangnya kenapa batu ini?" tanya Ling. Ia menopang dagunya.


"Baiklah, aku pilih yang ini," ucap Ling. Ia menempelkan kertas namanya. Kemudian ia mendaftar ke staf.


"Apa ada yang salah dengan batu yang kupilih?" tanya Ling. Kini ia sedang berjalan bersama staf untuk ke area pemotongan batu. Namun, sepanjang jalan semua orang melihatnya aneh.


"Yah, Tuan Muda, lakukan saja apa yang membuatmu bahagia," ucap Zhuo Ai. Ia tak bisa bicara lagi dan hanya menghela napas.


Saat ini Zhuo Xia kembali. Ia berjalan menuju Ling.


Melihat itu, Tuan Tua Cheng melirik Ling.


"Xia, sepertinya semua orang tak menyukai batu yang kupilih," ucap Ling menghela napas. Namun, reaksi gioknya yang seperti terbakar tak mungkin hanya ilusi.


"Tuan Muda, batu itu hanya sampah," ucap Zhuo Nan.


Kemudian Zhuo Xia melihat ke arah batu itu. Ia berkata, "Belum tentu."


Ling menyeringai, "Seleramu bagus."


Zhuo Xia menatapnya, "Tentu saja. Dan akan selalu seperti ini."


"Kalian bertiga benar-benar bertaruh untuk Ling?" tanya Han Shuangfu dan Bai Xiaoqi yang baru saja tiba. Mereka tertawa.


Ling memutar matanya, "Apa kalian tak bisa percaya sekali saja?"


Han Shuangfu menepuk bahu Ling, "Tenang saja, Kakak Ipar! Kami akan selalu mendukungmu!"


Ling menatapnya datar.


*


Semua master telah memilih batu mereka. Melihat pilihan Chen Kai, para orang tua itu menghela napas, "Sepertinya ia akan juara lagi tahun ini."


"Batu Nona Cheng juga terlihat bagus," ucap master lain.


Chen Kai melirik orang-orang di sekelilingnya. Kemudian ia bertanya pada Tuan Luo, "Tuan, batu mana yang dipilih Chen Ling?"


Tuan Luo menggeleng. Ia menunjuk ke arah belakang, "Apa Anda lihat itu? Itu batu yang akhirnya dia pilih."


Chen Kai tenang saat melihat batu itu. Ia berpikir Bai Xiaoqi akan membantunya, ternyata tidak.


"Tapi anehnya Nona Cheng malah bertaruh untuknya," ucap Tuan Luo menggeleng.


Chen Kai mengerutkan kening.


Saat melihat Cheng Rui dan Tuan Tua Cheng mendekat, ia tak dapat menahan diri. Ia berkata, "Nona Cheng, saya tidak tahu apa yang dikatakan Chen Ling pada Anda, tapi ia tak bisa judi batu. Ia ingin bersaing dengan saya karena harga dirinya dipertaruhkan. Jangan terpengaruh dengan kepercayaan dirinya."


Cheng Rui tersenyum dan berkata, "Menurutku batu yang dipilih Tuan Muda Chen sangat luar biasa."


Setelah itu, Cheng Rui terus berjalan.


Tatapan Chen Kai semakin dingin.


Luar biasa? Batu sampah seperti itu luar biasa? Tunggu saja Cheng Rui ini akan memohon pada Chen Kai.


Tidak lama kemudian, acara puncak dimulai. Acara pemotongan batu yang sudah ditunggu oleh semua orang.